
Gino pulang ke rumah dengan perasaan yang berdebar. Andai seluruh keluarganya merestui hubungannya dengan Naya, pastilah yang dirasakan pria itu kali ini adalah rasa bahagia yang luar biasa. Akan tetapi kali ini yang harus dihadapi adalah ibunya. Entah mengapa Nani begitu alot untuk mau menerima Naya. Bukan karena Nani belum mengenalinya, karena Nani sudah tidak sudi berkenalan dengan Naya karena statusnya yang janda.
"Ini dia baru pulang," sambut Suryo dengan riang melihat Gino datang.
Seluruh keluarga Gino kebetulan malam ini sedang kumpul semua. Ada Agus dan anak-anaknya. Ada Vita juga dengan sang suami. Tak ketinggalan Wulan yang langsung memasang senyum andalan setelah melihat kedatangan Gino.
"Kok baru pulang, Kak?" tanya Vita kepada Gino. Wanita itu saat ini ikut suaminya atau tinggal bersama suaminya. Kedatangan Vita ke rumah akan menjadi momen spesial bagi keluarga.
"Iya," sahut Gino singkat.
"Ayo langsung gabung, Gi. Kamu pasti masih belum makan kan?" ucap Suryo mengajak Gino untuk langsung gabung makan bersama.
Sedangkan Nani tetap dingin kepada Gino. Hanya sekilas melirik, lalu kembali menikmati makanannya.
"Iya, Ayah. Tapi aku mau ganti kaos dulu," kata Gino karena memang baju yang dipakainya belum ganti dari saat berangkat kerja tadi.
Lalu Gino berlalu begitu saja masuk kamar. Hatinya kembali bergetar melihat ibunda tercinta tetap acuh kepadanya. Dalam kamarnya Gino tak lekas mengganti bajunya, melainkan duduk termenung di bibir ranjangnya. Tetapi selagi keluarganya kumpul semua, inilah waktu yang tepat untuk Gino bermusyawarah dengan keluarganya tentang rencana melamar Naya ke rumahnya.
Setelah merasa tenang dan yakin, barulah Gino melepas kemejanya mengganti dengan kaos tipis yang nyaman digunakan. Setelah itu Gino keluar dari kamarnya untuk bergabung dengan keluarganya.
Sesaat keadaan menjadi hening saat semuanya sedang menikmati makanannya. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang saling berbunyi. Tetapi bila sudah selesai makan, mereka semua tak langsung beranjak dari tempatnya. Seperti biasa akan ada obrolan kecil yang akan selalu mereka obrolkan bersama.
"Ayah, Ibu, Mas Agus, dan Vita, aku ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan sama kalian," ucap Gino setelah merasa waktunya sudah tepat.
"Bicaralah, Gi," kata Suryo yang diam-diam menunggu kelanjutan hubungan Gino dengan wanita pujaannya itu.
"Aku sudah melamar Naya. Dan-- dia menerimaku."
Brakk!!!
Nani langsung berdiri dari tempatnya sambil mendobrak mejanya. Sorot matanya penuh dengan amarah menatap Gino. Rasa kecewa itu kentara sekali pada Nani.
__ADS_1
"Waw!" Agus malah berdecak kagum melihat apa yang terjadi didepan matanya. Rupanya anak kesayangan Nani bisa membangkang juga.
"Naya? Melamar?" Vita yang tidak tahu kabar apa-apa wajar jika bertanya.
Sedangkan Wulan tersenyum sinis melihat Nani yang tetap angkuh dengan pendiriannya. Rasanya sangat puas melihat Gino diperlakukan seperti itu. Kalau Gino tidak bisa ia dapatkan, maka jangan harap wanita manapun bisa mendapatkannya. Begitulah sumpah janji Wulan. Apalagi statusnya sama-sama janda seperti dirinya sebelum menikah dengan Agus. Wulan menyesal. Andai tahu Gino sukanya dengan janda, mungkin ia dulu memilih Gino saja daripada menerima lamaran Agus.
"Nani!" Suryo menegur Nani sambil mencoba menyentuh tangan Nani, tapi ternyata langsung ditepis dengan kasar oleh Nani.
"Sampai kapanpun, jangan harap aku akan merestui!" ancam Nani sambil kemudian berlalu dari tempatnya.
Gino ikut berdiri dari tempatnya, ia ingin menyusul ibunya, tapi langsung dicegah oleh Suryo.
"Biar saja. Biar ayah nanti yang bicara sama ibumu," kata Suryo mencoba menenangkan kegelisahan Gino.
Gino kembali duduk.
"Kak Gino, siapa Naya? Kok aku tidak pernah tahu kalau kakak punya pacar lagi?" Vita bertanya.
"Ayah harap kalian bisa ikut ke rumah Naya minggu depan," ucap Suryo dengan tegas.
Vita dan sang suami langsung mengangguk patuh. Sedangkan pasangan Agus dan Wulan terlihat cuek.
"Gino, katakan sama orang tua Naya, kita akan datang minggu siang," ucap Suryo dengan serius, tanpa perlu menunggu persetujuan dari Nani tentang keputusan ini.
Suryo bukannya tidak mau menghargai Nani sebagai istrinya. Tetapi jika menuruti kemauan Nani, akan sampai kapan Gino bisa menikah. Sedangkan Suryo bisa melihat dengan jelas bagaimana rona wajah Gino yang sedang kasmaran kepada wanita yang bernama Naya itu. Dan lagi Nani sepertinya perlu flashback dengan masalalunya, seperti kisah dimana Nani dan Suryo menikah dahulu. Perlahan, Suryo akan mengungkit kisah itu. Agar Nani bisa menerima pilihan Gino.
Agus ikutan beranjak dari tempatnya. Entahlah, kenapa Agus ikut-ikutan seperti tidak suka dengan kabar ini. Wulan pun ikut beranjak menyusul suaminya pergi.
"Mas Agus," sapa Wulan setelah berhasil mengikuti suaminya yang ternyata masuk ke kamarnya.
Lalu Wulan duduk disamping Agus.
__ADS_1
"Nggak nyangka ya kalau Gino akan membantah sama ibu. Padahal kan setahuku dia penurut sekali, Mas. Aku yakin kalau Gino lagi kena pelet sama janda gatal itu." Wulan mulai menyalakan kobaran api perang.
Agus hanya berdecak kecil menanggapi ucapan Wulan.
"Apa kamu setuju dengan pilihan adikmu itu, Mas? Masa iya kamu setuju adikmu yang tampan dan punya kerjaan mapan nikah sama janda. Mana sudah punya anak lagi! Huh!" Wulan memancing rasa penasarannya akan pendapat Agus.
"Bukan karena itu yang aku pikirkan, Sayang. Masalah Gino mau menikah sama nenek-nenek sekalipun aku tidak peduli. Aku cuma mikir kalau Gino akan lupa dengan tanggungjawab nya setelah menikah," sahut Agus sangat ambigu bagi Wulan yang mendengarnya.
"Tanggungjawab? Tanggungjawab apa maksudnya, Mas?"
Agus menghentak nafasnya dengan kasar.
"Selama ini Gino kan yang sering biayain Putra dan Robby. Kalau Gino menikah aku takut dia tidak bisa bantu bayar sekolah mereka. Mana masih panjang lagi masa sekolah mereka."
Wulan yang mendengar pernyataan Agus hanya melongo heran. Jadi selama ini Agus hanya menganggap Gino sebagai sumber uangnya. Pelepas tanggungjawab nya kepada anak-anaknya, dan mengalihkan tanggungjawab itu kepada Gino yang hanya sebagai om nya. Dasar!
Rasa penyesalan Wulan semakin menjadi setelah mendengar pernyataan Agus yang sangat mengabaikan tanggungjawab nya sebagai ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung segala kebutuhan anak-anaknya. Bersyukur Wulan sampai sekarang masih belum diberikan momongan setelah menikah dengan Agus. Dan Wulan sudah merasa enggan untuk memiliki keturunan dari ayah yang abai dengan tanggungjawab nya.
"Kamu kenapa bengong gitu?" tanya Agus melihat Wulan yang tiba-tiba diam.
"Ooh... Aku ikut prihatin, Mas," kata Wulan sudah tidak nyambung dengan yang dibahas sebelumnya.
"Sayang, ayo tidur!" ajak Agus sambil merangkul pundak Wulan dan kemudian menuntunnya untuk berbaring di kasur.
Wulan sudah memasang ancang-ancang menolak kalau Agus mengajaknya bercinta malam ini. Dan benar saja, begitu Wulan sudah tidur di bagiannya Agus langsung mendaratkan ciumannya di bibir Wulan. Satu ciuman berhasil Agus dapatkan. Tetapi setelah mencoba lebih dalam lagi, Wulan langsung beranjak duduk dari tempatnya.
"Aku-- lagi dapet, Mas," dusta Wulan.
Agus melongo mendengarnya.
*
__ADS_1