
Pagi hari seperti biasa, keluarga Gino berkumpul jadi satu dalam ruang makan untuk sarapan bersama. Hanya Agus yang tidak ikut gabung hari ini, katanya sedang keluar kota diajak temannya kemarin sore.
Suasana menjadi hening saat sarapan bersama, hanya terdengar denting sendok garpu yang berbunyi. Tetapi Gino melihat Putra, anak Agus yang paling besar, nampak makan dengan tidak berselera.
Wulan mendekat kepada Gino dan berdiri tepat disamping Gino duduk. Wanita itu dengan santainya menawarkan lauk lainnya kepada Gino.
"Ini loh, Gi, dicoba masakanku," tawarnya pede sekali.
"Tidak, terimakasih, Mbak," tolak Gino dengan menegaskan kalimat mbak kepada Wulan yang sebagai kakak iparnya.
Wajah Wulan langsung berubah pias. Sudah sering wanita itu meminta Gino memanggilnya dengan namanya saja. Entahlah maksud wanita itu memintanya begitu. Tetapi Gino tetap ingin menghormatinya sebagai kakak iparnya yang semestinya memanggilnya dengan sebutan mbak.
"Gino tidak mau nggak usah dipaksa." Nani ikut bersuara dengan ketus.
Semakin ke sini sikap menantu barunya itu semakin mengesalkan menurut Nani. Apalagi Wulan bersikap seperti itu ketika Agus tidak ada di rumah. Sedangkan ketika Agus ada di rumah, sikap Wulan biasa saja terhadap Agus. Bahkan sering terlihat dingin dengan Agus.
"Mm... Aku sudah mau berangkat," kata Gino seketika mengakhiri makannya.
Pria itu lantas berdiri dan mendekati ibu ayahnya untuk bersalaman, pamit berangkat kerja.
"Ini masih terlalu pagi loh, Gi. Kok keburu sekali?" Wulan bertanya yang bukan urusannya. Karena biasanya Gino berangkat kerjanya pukul setengah delapan pagi. Ini masih mau setengah tujuh, tetapi Gino sudah pamit berangkat kerja.
Gino tidak merespon. Hanya tersenyum kecil kepada Wulan.
"Ayo, Put, Roby, berangkat bareng sama om," ajak Gino kepada kedua ponakannya yang nampak baru menyelesaikan sarapannya.
"Yeiiiy...." Roby, anak Agus yang paling kecil memekik girang.
Kemudian Putra dan Roby bersalaman kepada kakek neneknya, lalu kepada Wulan juga. Sedangkan Gino lebih dulu beranjak keluar rumah untuk memanasi mesin mobilnya.
Wulan ikut pergi ke teras depan. Untuk apalagi kalau bukan untuk melihat Gino. Bukan untuk melepas keberangkatan kedua anak sambungnya.
__ADS_1
Nampak Putra dan Roby sudah masuk ke dalam mobil Gino. Setelah itu Gino langsung melajukannya keluar dari rumah.
"Hati-hati di jalan, Gino," pekik Wulan sambil melambaikan tangannya.
Gino sebenarnya melihat itu, tetapi ia memilih acuh. Terus melajukan mobilnya tanpa membunyikan klakson mobilnya sebagai isyarat pamit pergi.
"Tuh, lihat istrinya Agus. Aku makin geddeg sama dia. Kapan sih kepergok nya dia begitu sama Agus. Aku sudah tidak tahan punya mantu gatal kayak dia!" umpat Nani sangat kesal, sambil mengintip Wulan dari dalam rumahnya.
"Hus, ngomongnya yang baik-baik, Nan! Apa kamu mau Agus salah paham sama Gino?" Suryo langsung menegur Nani.
Nani tetap menatap nyalang kepada Wulan yang masih betah ada di teras depan.
"Do'akan saja Agus sama Gino supaya dijauhkan dari orang-orang yang berniat tidak baik dengan mereka. Jangan malah mendoakan rumah tangga Agus lekas bubar. Wulan itu menantu kita, sama saja seperti anak kita sendiri," kata Suryo memperingati Nani agar bisa bersikap dengan tenang.
"Kamu mana peka, Wulan itu menyukai Gino," kata Nani yakin sekali.
Suryo menghentikan makannya. Sebenarnya pria tua itu juga punya feeling seperti itu terhadap Wulan. Tetapi kali ini semakin dipertegas dengan ungkapan Nani.
***
"Putra, om perhatikan dari tadi kamu murung terus, ada apa?" tanya Gino ditengah perjalanan menuju sekolah Putra.
"Aku belum bayar iuran ekstra Om," aku Putra dengan jujur.
"Berapa?"
"Seratus lima puluh," sahut Putra sedikit bergumam.
Gino manggut-manggut mendengarnya. Tak lama setelah itu, Gino sudah sampai di sekolah Putra. Pria itu mengeluarkan dompetnya sebelum Putra turun dari mobilnya.
"Nih, bayar iurannya," kata Gino sambil menyodorkan dua lembar uang kertas merah kepada Putra.
__ADS_1
"Tidak perlu, Om. Aku sudah ngomong ke ayah, tapi kata ayah tunggu dulu," tolak Putra sangat sungkan.
"Nggak pa-pa, nanti kalau ayah kamu ngasih bisa buat bayar yang lainnya. Ayo ambil!" Lalu dengan terpaksa Putra mengambil uang itu.
"Kembaliannya nanti ya Om," ucap Putra, melihat uang itu ada dua ratus ribu.
"Buat jajan kamu saja," sahut Gino.
"Belajar yang rajin, Put," pesan Gino sebelum kemudian Putra turun dari mobilnya.
"Makasih, Om," balas Putra dengan wajah yang sudah berseri.
Setelah itu Gino kembali melajukan mobilnya untuk mengantar Roby ke sekolahnya.
Tak lama kemudian Roby juga sudah sampai di sekolahnya. Gino juga menanyakan hal yang sama kepada Roby, apakah ada iuran atau hal lain di sekolah Roby. Tetapi bocah itu menjawab tidak ada iuran apa-apa untuk kali ini. Gino juga menambah uang jajan Roby. Walau nominalnya tidak sama dengan Putra, hanya dua puluh ribu saja. Tetapi dengan begitu sangat membuat Roby senang. Lalu setelah itu Roby juga masuk ke sekolahnya, dengan langkah kaki loncat-loncat happy sekali.
Gino kembali melanjutkan perjalanannya. Tak disangka ditengah perjalanan, Gino berpapasan dengan Naya yang sedang membonceng gadis SMA. Didepan Naya duduk ada bocah perempuan. Pasti itu anaknya Naya menurut Gino. Seketika itu dada Gino berdegup kuat lagi. Saat wajah ayu itu kembali melintas di depannya.
"Kenapa denganku? Jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat setelah melihatnya lagi," gumam Gino, sambil terus melajukan mobilnya dengan kecepatan yang berkurang sedikit.
Naya sendiri pagi itu sedang mengantar Fifi ke sekolahnya.
"Hati-hati, Mbak," kata Fifi setelah Naya mengantarnya hingga depan gerbang sekolah.
Naya mengangguk dengan tersenyum. Lalu kemudian kembali pergi melajukan motornya.
Tak disangka rupanya Gino sengaja menunggu Naya lewat lagi. Pria itu langsung membuntuti Naya saat melihat Naya melintas di sampingnya. Tujuan Gino membuntuti Naya karena ingin tahu di mana rumah Naya. Karena Gino sudah memutuskan ia akan mengenal Naya lebih dalam lagi.
Gino cukup membuntuti Naya hingga sampai gang kecil. Bukannya mobil tidak bisa masuk ke gang itu, cuma karena waktunya yang sudah tidak memungkinkan. Karena Gino harus segera berangkat menuju kantornya.
Besok atau lusa, Gino pastikan akan bermain ke rumah Naya. Lihat saja.
__ADS_1
*