
Kondisi tubuh Nani tiba-tiba drop. Suhu tubuhnya sangat tinggi, mengharuskannya segera di bawa ke UGD rumah sakit sebelum sempat dibawa periksa ke dokter langganannya periksa. Tentu Gino kerepotan seorang diri, karena di rumah itu hanya ada Mila dengan kondisinya yang tidak mungkin Gino meminta bantuannya. Sedangkan Suryo setelah dihubungi langsung otw pulang dari rumah kerabatnya. Dan Agus sendiri kebetulan sedang diajak keluar nyopir ke luar kota siang tadi.
Dan saat ini Gino sudah ada di rumah sakit. Keputusannya Nani harus dirawat inap untuk beberapa hari ke depan. Diagnosa dari dokter masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Tetapi dilihat dari gejala yang dialami Nani, sepertinya wanita itu terkena sakit typus.
Saking paniknya karena memang hanya seorang diri di rumah sakit itu, Gino sampai lupa tidak memberi kabar kepada Naya. Hingga sampai Suryo datang saat lewat jam tujuh malam, di situlah Gino baru ingat jika ia belum memberitahu Naya tentang kondisi ibunya.
"Assalamu'alaikum, Dek," sapa Gino melalui panggilan telpon kepada Naya. Suara pria itu terdengar seperti kelelahan.
"Wa'alaikum salam. Sudah otw ya, Mas?" tanya Naya mengira suaminya akan memberitahu jika sedang bersiap berangkat menjemputnya dari rumah Rahma.
"Aku-- Nggak bisa pulang malam ini, Dek," kata Gino kemudian.
"Kenapa, Mas?"
"Ibu dibawa ke rumah sakit."
Naya tercekat kaget mendengarnya. Sejujurnya Naya ingin segera berlari menyusulnya ke sana, menengok bagaimana kondisi ibu mertuanya sekarang juga. Cuma-- Apakah kedatangannya akan membuat Nani bahagia? Ah, Naya selalu minder sendiri jika berurusan dengan Nani.
"Iya, tidak apa-apa, Mas. Kamu bermalam lah di sana, temani ibu," ucap Naya kemudian. Sampai lupa tidak menanyakan sakit apa yang diderita Nani sekarang.
"Maaf ya, Dek," ucap Gino dengan sendu.
Sejujurnya pria itu dilema sendiri. Antara khawatir dengan kondisi ibunya, tetapi ia juga mencemaskan kondisi Naya yang sewaktu-waktu kesehatannya juga bisa ambruk karena bawaan hamil muda.
"Nggak usah minta maaf, Mas. Sudah seharusnya seorang anak berbakti kepada orang tuanya. Termasuk kamu merawat ibu begini, itu sikap yang sangat mulia."
Naya mengatakannya sambil mengusap perutnya sendiri. Berharap kelak janin yang ada dalam perutnya memiliki sikap yang baktinya besar seperti Gino kepada kedua orang tuanya.
"Mas sudah makan belum?"
"Belum, Dek," jawab Gino sejujurnya.
Mana sempat Gino makan. Sedangkan dari tadi ia hanya seorang diri yang menjaga Nani.
"Apa kamu di sana sendirian, Mas?" tanya Naya karena heran suaminya sampai jam segini belum juga makan.
__ADS_1
"Tidak. Di sini juga ada ayah."
"Kalau gitu kamu pamit cari makan dulu lah sama ayah, Mas harus tetap jaga tenaga, nggak boleh lapar."
"Iya, Dek. Selesai sholat isya aku mau makan."
Setelah itu Naya terpaksa mengakhiri sambungan telponnya lebih dulu, karena mendengar suara Lala yang menangis di teras depan. Tak tahunya bocah itu kesandung batu kecil saat berjalan, sehingga lututnya tergores dan membuat Lala histeris setelah melihat ada darah di lututnya.
***
Pagi menjelang. Rahma curiga kenapa Gino semalam tidak datang menjemput Naya. Memang Naya belum sempat menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, karena keburu disibukkan dengan menenangkan tangis Lala yang memang sangat takut jika melihat ada darah yang menetes dari lukanya.
"Gino nginep di rumah ibunya, Nay?" tanya Rahma saat seluruh keluarganya saat ini kumpul semua bersiap sarapan bersama.
"Iya, Buk," sahut Naya singkat.
"Kenapa nginep?" tanya Abdul.
"Ibu dibawa ke rumah sakit."
"Ya Allah!" seru Rahma karena kaget mendengar berita itu.
Akan tetapi Naya menghedikkan kedua bahunya pertanda tak tahu.
"Gimana sih, Nay! Kamu nggak tanya sama Gino ibu mertua kamu sakit apa?" kesal Rahma heran sendiri dengan sikap Naya.
"Lupa!" sahut Naya enteng sekali.
Abdul menghentak nafas jengah menatap Naya.
"Setelah ini kita jenguk ke rumah sakit, Buk," ucap Abdul kepada Rahma.
Rahma mengangguk patuh. Biar bagaimana pun Naya tidak diterima baik oleh Nani, tetapi Abdul dan Rahma tidak ingin membalas sikap mereka dengan jelek juga. Setidaknya tali silaturrahmi antar besan tetap terjalin baik.
Meski mendengar Abdul dan Rahma akan pergi menjenguk Nani di rumah sakit, tetapi Naya sama sekali tidak tertarik untuk ikut. Biar saja lah tetap seperti ini. Naya sudah terbiasa dengan posisinya yang seperti ini dengan Nani.
__ADS_1
Akhirnya setelah siang tiba, Abdul dan Rahma berangkat menuju rumah sakit tempat Nani dirawat. Beruntungnya saat mereka tiba di rumah sakit di sana ada Suryo, jadinya pertemuan mereka tidak canggung-canggung amat. Sedangkan Gino kata Suryo kebetulan sedang pulang ke rumah. Katanya mau mengambil baju ganti untuk berangkat bekerja besok di rumahnya. Karena Gino berencana akan menginap lagi di rumah sakit. Sekalian langsung berangkat kerja dari sana.
"Istri sakit apa pak Suryo?" tanya Abdul kepada Suryo.
"Hasil laboratorium diagnosa nya typus," jelas Suryo.
Abdul manggut-manggut mendengarnya.
Sedangkan Rahma terlihat bercakap-cakap dengan Mila, karena kebetulan Nani sedang tidur semenjak mereka datang.
"Naya tidak ikut?" tanya Suryo yang tidak melihat adanya istri Gino untuk datang menjenguk Nani.
"Tidak, Pak. Kebetulan di rumah tidak ada orang yang mau jaga Lala, jadi Naya nggak bisa ikut," alasan Abdul mengatasnamakan Lala yang memang tidak baik diajak ikut ke rumah sakit.
Suryo tersenyum kecewa mendengarnya. Ia sendiri tidak tahu, akan sampai kapan hubungan antara Nani dan Naya terlihat normal seperti hubungan mertua dan menantu pada umumnya.
"Pak Suryo, kita tidak bisa lama-lama di sini. Di rumah Naya hanya berdua sama Lala. Aku khawatir mereka ada apa-apa di sana," kata Abdul kemudian.
Sejenak Suryo menghela nafas beratnya. Ia ingat jika saat ini Naya sedang mengandung cucunya, cucu pertamanya. Wajar saja jika Abdul keburu pamit pulang, mengkhawatirkan kondisi Naya yang suka ringkih jika sedang hamil muda.
"Semoga kehamilan Naya membawa hikmah yang besar untuk Nani," ucap Suryo dengan wajahnya yang sendu. Tangannya menepuk ringan pada bahu Abdul untuk sama-sama menguatkan.
"Aamiin." Abdul mengamini dengan tulus ucapan Suryo.
"Sayangnya sampai sekarang istriku tidak tahu kalau Naya sudah hamil," ucap Suryo lagi.
"Hah?" Abdul tentu kaget mendengarnya.
Akan tetapi kemudian Suryo tersenyum hangat kepada Abdul.
"Gino minta untuk jangan beritahu Nani dulu. Mungkin-- mereka menyiapkan surprise untuk Nani."
Abdul menggeleng-geleng heran mendengar semua ini. Tak tahunya dalang dibalik Gino tidak memberitahu Nani adalah karena permintaan Naya sendiri.
"Baiklah, pak Suryo, saya pamit pulang. Salam sama istri, semoga lekas sehat kembali," ucap Abdul.
__ADS_1
Kemudian Abdul dan Rahma pulang dari rumah sakit itu. Di perjalanan, Abdul menyampaikan kepada Rahma tentang Nani yang masih tidak tahu dengan kehamilan Naya. Tanggapan Rahma malah terkesan cuek, tidak ada kaget-kagetnya, membuat Abdul bertambah heran dengan sikap dua wanitanya yang sulit ditebak. Dua wanita itu adalah Rahma dan Naya.
*