Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 20


__ADS_3

Keesokan harinya Naya tidak pergi bekerja karena warung tempat ia bekerja sedang tutup atau libur dua hari. Ibu Sugeng, pemilik warung bakso tempat Naya bekerja sedang memiliki hajatan di rumahnya. Dan seperti biasanya Naya setiap hari pergi mengantar Fifi ke sekolahnya. Entah mengapa sedari naik motor itu Fifi diam saja, tidak banyak bicara kepada Naya seperti biasanya yang selalu ceriwis.


Tak lama kemudian Fifi sudah tiba di sekolahnya.


"Nanti pulang jam berapa, Fi?" tanya Naya karena berencana akan menjemput pulangnya Fifi nanti.


"Mungkin telat, Mbak. Aku masih ada tugas kelompok." Fifi langsung memasang alasan yang sudah ia rencanakan dari semalam.


Naya hanya mengangguk paham. Setelah itu Fifi masuk ke sekolahnya, dan Naya melanjutkan perjalanannya yang rencananya hari ini ia akan pergi ke rumah Yuli.


Sepuluh menit kemudian Naya sudah tiba di rumah Yuli. Ia disambut dengan reaksi Yuli yang kegirangan melihat kedatangannya.


"Ehem! Ciyeeee.... Yang habis dilamar ayang," goda Yuli kepada Naya.


Wanita itu tahu kabar Gino yang meminta tolong Arif untuk melamarkan Naya dari suaminya semalam. Sebenarnya Gino tidak memberitahu Budi, tetapi karena Budi yang menelponnya lebih dulu dan menanyakan tentang Naya kepada Gino, maka akhirnya Gino menceritakan soal lamarannya itu.


"Yuli, aku mau curhat," ucap Naya sungguh-sungguh. Ia tidak peduli kerlingan mata Yuli yang terus menggodanya.


"Iya, iya, mau curhat apa, Nay? Mm.... Pasti lagi galau nih? Soal lamaran Gino ya?"


Karena tebakan Yuli benar semua, Naya pun hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Yuli tersenyum senang melihatnya. Lalu dua wanita itu memilih tempat yang nyaman untuk saling mengobrol, yaitu sambil duduk selonjoran di atas karpet yang ada di ruang tengah rumah Yuli. Tak lupa Yuli membuatkan Naya minuman segar terlebih dahulu, juga mengambilkan Naya cemilan. Dan kemudian meletakkannya di depan Naya duduk.


"Di minum dulu, Nay, biar adem," kata Yuli mempersilahkan Naya meminum minumannya.


Naya meminumnya sedikit, kemudian wajahnya kembali sendu. Semalaman wanita itu tidak bisa tidur nyenyak. Pikirannya terus tersita tentang Gino dan Gino. Naya akui, hatinya memang belum merasakan apa-apa kepada Gino. Tetapi entah mengapa hinaan pak lek Sholeh itu terus saja terngiang begitu saja. Membuat Naya merasakan hal yang sama seperti yang dipikirkan kedua orang tuanya, yaitu sayang jika harus menolak lamaran Gino itu.


Tetapi jika Naya menerima lamaran Gino hanya karena panas dengan omongan orang, apakah ini adil untuk Gino? Karena itulah Naya ingin curhat masalah ini dengan Yuli. Karena secara tidak langsung Yuli lah yang membuat Naya dan Gino saling kenal.

__ADS_1


"Aku bingung, Yul. Di sisi lain aku belum siap berumah tangga lagi, tapi kalau aku terus jadi janda aku kasihan bapak ibu." Naya memulai curhatnya.


"Apa yang membuatmu merasa tidak siap? Apa karena kamu masih belum yakin dengan Gino?"


"Entahlah! Aku sendiri memang tidak tahu Gino seperti apa sikap aslinya. Tapi-- aku melihat wajah bapak ibu tadi senang. Sepertinya mereka mengharapkan aku menerima lamaran itu."


Naya berkata seperti itu karena tadi saat selesai sholat subuh tak sengaja mendengar obrolan kedua orang tuanya yang mengharapkan Naya mau menerima lamaran Gino.


"Begini, Nay, ini cuma sekedar masukanku saja. Kamu boleh setuju boleh tidak. Kenapa kamu tidak coba dulu, mm... Maksudku terima lamaran Gino tapi jangan keburu menikah. Kalian bisa saling mengenal dulu, tapi positifnya kalian sudah memiliki ikatan resmi sebagai tunangan. Jadi kalaupun kamu sama dia nanti keluar kencan, maka tidak akan menjadi omongan orang karena dia sudah jadi tunanganmu. Setelah itu, setelah kalian saling kenal dan misalnya tidak menemukan kecocokan, kamu bisa minta batal tunangan," kata Yuli dengan serius.


"Apalagi kata kamu bapak ibu kamu senang toh? Jadi kamu bisa membahagiakan mereka dengan cara menerimanya. Yaa... Walaupun sebenarnya hanya masih tahap percobaan," lanjut Yuli.


"Tahap percobaan? Ih, pikirmu dia barang apa pake coba-coba?" Naya kurang sreg dengan istilah tahap coba yang diucapkan Yuli.


"Ya... Apapun itu istilahnya, tapi maksudku kamu paham kan?"


"Atau apa mau aku telponkan Gino saja biar kamu bisa ngomong langsung sama dia?" tawar Yuli. Siapa tahu Naya ingin bicara masalah ini sama Gino dulu, sebelum akhirnya membuat keputusan.


"Jangan ah, aku malu!" tolak Naya langsung. Belum apa-apa degup jantung Naya kembali tak karuan. Ah, kenapa membayangkan mau bertemu Gino saja jantungnya sering berdetak aneh.


"Ciyee... Kenapa pipimu merah begitu? Mm... Aku tahu nih, sebenarnya kamu itu suka kan sama dia?" Tak henti-hentinya Yuli terus menggoda Naya. Apalagi setelah melihat reaksi Naya barusan, Yuli yakin sebenarnya Naya juga kepikiran untuk menolak Gino.


"Suka apanya! Aku tuh malah heran, Yul, kok bisa dia itu melamarku secepat ini? Apa nggak butuh saling kenal dulu? Dia kan juga tidak kenal aku?"


"Makanya daripada penasaran mending kamu terima dulu lamaran dia. Aku jamin seribu persen kamu tidak akan menyesal menerima dia. Kamu bisa potong lidahku kalau ucapanku salah!" tantang Yuli sambil jumawa memuji Gino agar Naya mau menerimanya.


"Trus bagaimana dengan Lala? Aku tidak mau dia hanya berkenan denganku, tapi tidak mau dengan anakku," ucap Naya penuh kekhawatiran.


Yuli menepuk-nepuk pundak Naya. "Soal itu jangan khawatir, Nay. Gino sudah terbiasa membiayai dua ponakannya, anak dari kakak tirinya. Apalagi kalau untuk membiayai anakmu aku rasa itu hal sepele buat Gino. Gino itu orangnya penyayang dan nggak pelit. Kalau ada dia mah ayo."

__ADS_1


"Tunggu, membiayai dua ponakan kamu bilang?" Naya bertanya penasaran.


Kalau benar Gino selama ini sering membantu biaya dua ponakannya, memang berapa sih gaji sebagai tukang kebun pikir Naya.


Yuli mengangguk mengiyakan. Ia dengar cerita itu dari Budi sebelumnya, kalau Gino sering kali membantu biaya sekolah dua anak kakak tirinya.


"Bukannya dia cuma tukang kebun, Yul? Emang cukup gajinya?"


Mendengar pertanyaan Naya, Yuli malah tertawa ngakak. Membuat Naya terheran-heran, apa ada yang salah dengan pertanyaannya barusan?


"Nay, yang bilang dia tukang kebun siapa?" Yuli masih tak berhenti tertawa.


"Dia sendiri kok yang ngomong kemarin di rumah."


"Masa sih? Serius dia ngaku kerja begitu sama kamu?" Tawa Yuli berangsur reda. Ia jadi menatap serius kepada Naya.


"Iya. Dia bilang sama aku. Ustadz Arif yang datang sebagai perantara juga bilang kalau dia kerjanya jadi tukang kebun," tutur Naya lagi.


Sejenak Yuli berpikir mengenai alasan Gino menutupi profesi aslinya. Apakah ini adalah ujian yang sengaja digunakan Gino untuk bisa mendapatkan wanita yang benar-benar tulus menerima dirinya apa adanya?


"Yuli, kok kamu malah bengong sih? Apa kamu tahu sesuatu yang tidak aku tahu tentang dia?"


"Tadi kamu kenapa ngakak pas aku ngomong pekerjaan dia? Apa itu salah? Atau apa aku kena bohong dia?" lanjut Naya.


"Duh, aku sendiri juga nggak habis pikir sih, kenapa dia nggak jujur aja soal pekerjaannya." Yuli bersuara agak samar, tetapi masih bisa didengar baik oleh telinga Naya.


"Memang apa pekerjaan dia yang sebenarnya, Yul?" tanya Naya sambil menatap tajam pada Yuli.


*

__ADS_1


__ADS_2