Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 18


__ADS_3

Arif tercekat sejenak mendengar pernyataan Abdul. Ia sudah menduga jika Abdul akan kecewa setelah tahu yang sebenarnya. Semoga saja setelah mendengar alasannya setelah ini Abdul bisa mempertimbangkannya kembali.


"Sebelumnya saya minta maaf, pak Abdul. Saya tidak bermaksud membohongi anda. Tapi-- ini semua permintaan Gino," kata Arif kemudian.


"Apa alasannya?" tanya Abdul to the point.


Lalu Arif menceritakan alasannya sesuai yang diceritakan Gino kepadanya semalam. Abdul yang mendengarnya mulai gamang. Karena apa yang menjadi tujuan utama Gino berbohong itu adalah demi kebaikan Gino juga. Bukan bertujuan untuk keburukan. Karena memang mencari wanita yang mau menerima lelaki yang tidak punya apa-apa itu sudah sulit di jaman sekarang.


"Jadi seperti itu alasannya, Pak," kata Arif memungkasi ceritanya.


Abdul menghela nafasnya sejenak.


"Yaa... Walau alasannya masuk akal juga, tapi yang namanya berbohong tetap berbohong. Seharusnya ustadz tahu lah bagaimana ganjarannya orang berbohong," seloroh Abdul membuat Arif kembali ketar-ketir sendiri. Jangan sampai karena ini Abdul akan menolak lamaran Gino.


"Maka dari itu saya minta maaf, Pak. Saya juga mewakili Gino minta maaf yang banyak juga pada keluarga pak Abdul," ucap Arif penuh sesal.


Abdul kemudian berdiri dari tempatnya. Pria itu menepuk pelan pundak Arif. Lantas memilih pamit pulang, tanpa memberi keputusan apapun perihal lamaran Gino.


Arif menatap kepergian Abdul dengan perasaan sangat menyesal. Ia di kampung ini berprofesi sebagai ustadz, tetapi malah mendukung contoh yang tidak baik soal berbohong. Semoga saja Tuhan masih bisa mengampuni dosanya, karena dibalik kebohongannya itu ada niat baik yang benar-benar tulus dari seorang Gino untuk mempersunting Naya.


Abdul tiba di rumahnya langsung disambut oleh Rahma yang penasaran kemana saja perginya suaminya itu.


"Dari mana sih, Pak? Pergi dari tadi kok baru datang?" cerca Rahma mengikuti Abdul yang masuk ke kamarnya.


"Nanti aku ceritakan, Buk. Aku mau mandi dulu, belum sholat ashar soalnya."


Rahma menghentak nafas kecewa.


"Tolong buatkan aku kopi, Buk," ucap Abdul lagi, sebelum kemudian beranjak masuk ke kamar mandi.


Walau merasa sebal dengan suaminya yang tidak mau cerita, tetapi Rahma tetap jalan ke dapur untuk membuatkannya kopi hitam kesukaan Abdul.


Setelah selesai dibuat, lalu Rahma membawanya ke teras samping rumah. Di sana ia menunggu Abdul selesai mandi dan sholatnya sambil melihat Lala yang bermain dengan riang bersama Farhan. Akhirnya tak lama kemudian Abdul sudah selesai dengan kegiatannya. Ia pun menghampiri Rahma yang sedang duduk di teras samping rumah.

__ADS_1


"Kopinya, Pak," kata Rahma mempersilahkan Abdul meminumnya.


Abdul hanya tersenyum sebagai tanda terimakasih. Kemudian pria itu ikut duduk disamping Rahma dan mulai menikmati kopinya sedikit demi sedikit.


"Kamu kelihatannya lagi banyak pikiran. Mikirin yang tadi?" tanya Rahma setelah Abdul meletakkan kopinya ke atas meja di dekatnya.


"Aku tadi pergi ke rumah Gino, Buk," aku Abdul.


"Ngapain?" Rahma langsung kaget tak percaya.


"Untuk cari tahu saja," sahut Abdul dengan santai.


"Trus kamu nemuin fakta apa?" Rahma sudah kepo.


Abdul tersenyum getir. Tatapannya menyorot sendu pada cucunya yang dari tadi tertawa riang. Rahma mengikuti tatapan mata Abdul. Seketika merasa was-was sendiri, ada apa gerangan yang membuat Abdul menatap seperti itu?


"Ternyata Gino bukan kerja jadi tukang kebun, Buk. Dia sebenarnya pegawai B#I," tutur Abdul kemudian.


"Beneran, Pak?" Rahma bertanya kaget. Sorot matanya sedikit berbinar. Merasa kagum rupanya anaknya yang janda dilamar oleh bukan pria sembarangan.


"Bagaimana menurut kamu? Apa kita mau menerima lamaran dia?" tanya Abdul kepada Rahma.


"Kita harus serahkan semuanya sama Naya, Pak. Kalau aku sih mau. Punya mantu bujang dan kerjanya kantoran, cakep lagi. Apalagi kata ustadz Arif dia bisa menerima Lala juga kan?" kata Rahma tanpa harus berpikir lagi.


Abdul hanya mengangguk setuju. Biar nanti keputusannya apa kata Naya. Lalu Rahma beranjak dari tempatnya untuk mengambil Lala, karena sudah saatnya bocil itu untuk mandi sore.


Malam hari setelah isya, seperti biasa seluruh keluarga Abdul kumpul santai di ruang tengah sambil menonton tivi. Kecuali Naya yang masih ada di kamarnya karena sedang menemani Lala tidur. Abdul dan Rahma sengaja menunggu Naya keluar dari kamarnya untuk membicarakan hal yang tadi.


"Fi, lihat mbakmu di kamarnya, takut malah ikut tidur, belum sholat isya soalnya," titah Rahma kepada Fifi untuk mengecek Naya di kamarnya.


Fifi langsung beranjak ke kamar Naya. Mengetuk pelan pintunya, kemudian membukanya setelah mendapat sahutan dari Naya.


"Apa, Fi?" tanya Naya sedikit memelankan suaranya karena Lala sudah terlelap nyenyak.

__ADS_1


"Suruh ibu buat lihat mbak," sahut Fifi apa adanya. Gadis itu hanya berdiri sebatas ambang pintu saja.


Setelah itu Naya turun dari ranjangnya. Ia menduga Rahma menyuruh Fifi itu karena ada sesuatu hal. Lalu ia pun keluar dari kamarnya.


Rahma yang melihat Naya keluar kamar langsung melambaikan tangannya meminta Naya mendekat. Setelah Naya mendekat, Rahma meminta Naya duduk di sebelahnya. Sudah ada Abdul yang juga duduk di sana.


"Fi, kamu ada PR tidak?" tanya Rahma karena melihat Fifi masih ada di ruang yang sama dengan mereka.


"Ada, Buk," sahut Fifi dengan malas.


"Ya sudah, kerjakan PR nya sana!" titah Rahma dengan tegas.


Dari ini Fifi tahu jika sebenarnya ada yang ingin Rahma dan Abdul bicarakan dengan Naya. Mungkin sesuatu yang penting menurut Fifi. Akhirnya Fifi masuk ke kamarnya juga, walau sebenarnya sangat malas mengerjakan PR sekolahnya yang sebenarnya masih akan dikumpulkan lusa.


"Naya," sapa Abdul dengan serius.


"Iya, Pak," Naya mulai resah melihat sorot kedua orang tuanya yang sangat serius malam ini.


"Tadi siang itu ada ustadz Arif datang ke sini nemuin bapak. Dia menyampaikan kalau ada seseorang yang ingin melamar kamu," kata Abdul memulai pembicaraannya.


Naya tertunduk sambil mendengarkan.


"Kamu sudah tahu siapa orang yang melamar kamu itu, Nay," ucap Rahma kemudian.


"Siapa, Buk?" Naya bertanya penasaran.


"Gino," kata Rahma singkat padat dan jelas.


Deg.


Detak jantung Naya seakan berhenti berdetak begitu mendengar kalau Gino yang datang melamarnya. Padahal mereka baru kenal kemarin sore. Apakah secepat ini do'anya terkabulkan? Karena setelah pak lek Sholeh menghinanya kemarin lusa, Naya meminta dengan tulus melalui do'anya supaya segera dipertemukan dengan jodoh yang terbaik untuknya.


Dan jika dibandingkan dengan orang yang datang bersama pak lek Sholeh itu, Naya pikir lebih baik ia memilih Gino. Sungguh, Naya telah benar-benar lupa dengan Wahyu. Malam ini pikirannya tiba-tiba penuh tentang Gino. Hanya Gino seorang.

__ADS_1


*


__ADS_2