Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 30


__ADS_3

Keesokan harinya rumah Naya mendadak heboh dengan ueforia Riki dan Farhan setelah tahu Naya memiliki handphone baru.


"Enak tuh, Mbak, tukar punyaku dong mbak," rengek Riki ingin memiliki handphone keluaran terbaru seperti punya Naya.


Handphone milik Riki sudah sering lowbet tanpa sebab. Bisa jadi karena terlalu sering dibuat main game sama Riki. Dan lagi dulu Abdul membelikan handphone Riki itu sudah bekas pakai, bukan baru seperti milik Naya.


"Iya, mbak Naya sekarang keren. Sudah kaya ya, Mbak?" celetuk Farhan seenaknya bicara, maklum masih bocil.


Naya yang melihat kedua adiknya heboh sendiri cuma bisa senyam-senyum.


"Kalian ini bicara apa sih! Mbakmu itu dapat di kasi sama mas Gino. Jadi nggak boleh ditukar atau dipinjem-pinjem sama kalian." Rahma ikut berbicara.


Riki yang sudah tahu siapa Gino hanya bisa mencebik manyun, tetapi sebenarnya senang memiliki calon kakak ipar yang baik seperti Gino. Sedangkan Farhan yang masih belum tahu kabar apa-apa mulai bertanya penasaran.


"Mas Gino itu siapa, Buk? Nanti aku mau minta juga ah sama dia," katanya santai sekali.


"Hus! Jangan senang jadi orang peminta. Mau apa-apa itu harus usaha dulu, jangan suka menengadahkan tangan sama orang. Nggak baik!" pesan Rahma kepada Farhan.


Farhan hanya mengangguk. Anak-anak Abdul sudah dididik dari kecil untuk tidak menjadi orang yang suka meminta kepada orang. Bila menginginkan sesuatu harus berusaha sekuat mungkin.


Saat ini keluarga Abdul sedang duduk di ruang tengah sambil menunggu sarapan pagi selesai. Kecuali Fifi yang masih ada di kamarnya. Entah apa yang masih dilakukan oleh anak gadis itu di kamarnya.


Menu sarapan pagi sederhana sudah tertata di meja makan. Rahma yang melihat Fifi masih betah di kamarnya mendadak resah. Ia jadi kepikiran dengan handphone milik Fifi yang masih disita oleh Abdul.


"Pak, hape nya Fifi kapan mau dibalikin?" tanya Rahma merasa Fifi berubah lebih banyak diam karena sedang merajuk soal handphone.


"Nay, kamu nanti coba tanya sama gurunya Fifi kapan jadwal ujian?" Abdul malah bicara sama Naya, tidak menjawab pertanyaan Rahma.


"Ah, kamu, Pak! Aku tanya malah dicuekin!" protes Rahma yang kemudian berjalan ke kamar Fifi untuk memanggilnya sarapan bersama.


Padahal maksud Abdul menyuruh Naya bertanya kepada guru kelas Fifi ialah karena ingin mengembalikan handphone Fifi disaat yang tepat dan benar-benar sangat dibutuhkan oleh Fifi.


Rahma mengetuk pintu kamar Fifi. Tak lama kemudian gadis itu keluar tetapi wajahnya terlihat agak pucat.


"Kenapa, Fi, kok pucet gitu?" tanya Rahma cemas.


"Lagi dapet, Buk," seru Fifi.


Memang Fifi akan selalu tersiksa seperti itu tiap datang bulan. Biasanya Fifi rutin absen tidak masuk sekolah pada awal-awal menstruasi karena tidak kuat merasakan nyeri perutnya. Tetapi kali ini gadis itu kuat-kuatin untuk masuk, karena minggu depan ia akan memasuki ujian tengah semester.


"Kalau nggak kuat jangan masuk, Fi, nanti biar mbakmu yang ijinin ke sekolah," usul Rahma.


"Nggak, Buk, nggak usah," tolak Fifi.


"Lagian kalau cuma mau ijin sebenarnya gampang kalau ada hape. Tinggal kirim pesan ke teman nanti pasti diijinkan."


Rahma yang mendengarnya merasa kasihan dengan Fifi. Mungkin nanti ia harus ekstra membujuk Abdul supaya mau mengembalikan handphone Fifi.

__ADS_1


Lalu mereka semua berkumpul jadi satu di ruang tengah untuk menikmati sarapan, sebelum nanti semuanya disibukkan dengan aktifitas masing-masing.


"Mbak Naya, nanti aku mau foto ya pake hape barunya? Mau buktiin aja sebagus apa kameranya IPhone, kata teman-temanku hasilnya bagus loh mbak." Riki mulai mengoceh soal handphone Naya lagi.


"Iya." Naya hanya menyahut setuju.


Fifi yang baru tahu kalau Naya sudah punya handphone baru langsung menatap senang kepada Naya.


"Mbak beli hape?" peliknya girang.


"Nggak beli, tapi dibelikan," jawab Naya.


Aura wajah Fifi langsung berubah pias. Tanpa dijelaskan ia sudah bisa menebak kalau Naya pasti dibelikan oleh Gino.


"Nomornya berapa, Mbak?" tanya Fifi sudah tidak sabar.


Tujuan Fifi bertanya nomor telpon Naya tak lain tak bukan hanya untuk diberikan kepada Wahyu nanti. Gadis itu masih tidak terima Naya meninggalkan Wahyu tanpa pesan apapun.


"Nanti saja, Fi, sekarang makan dulu," kata Rahma kepada Fifi.


Usai sarapan bersama, seperti biasa Naya selalu mengantar Fifi ke sekolah. Dalam perjalanan itu Fifi terus memaksa Naya menyebutkan nomor telponnya. Dan akhirnya Naya memberikan nomor telponnya itu setelah mereka tiba di sekolah Fifi, dan gadis itu mencatatnya di kertas.


"Hape kamu masih disita bapak?" tanya Naya melihat Fifi mencatat nomor telponnya di kertas.


"Iya, mbak bantu bujuk bapak dong... Aku sering ketinggalan info dari sekolah kalau nggak ada hape. Aku nggak bisa seperti mbak Naya yang betah nggak punya hape."


"Janji apa?"


"Harus rajin belajar, jangan pacaran mulu sama Irwan."


Fifi tertawa mendengar syarat dari Naya.


"Yaelah mbak... Kayak dulu nggak pernah muda aja."


"Iya, mbak memang juga pernah muda, Fi, dan juga tahu rasanya cinta monyet itu seperti apa. Tapi jangan sampai karena cinta monyet kamu itu akan merusak nilai kamu di sekolah," pesan Naya.


"Iya, iya, mbakku yang cantik. Aku akan ingat pesan baikmu itu," kata Fifi sambil senyum pepsodent.


"Sudah, buruan masuk sana. Mbak mau berangkat kerja, Fi," ucap Naya menyuruh Fifi segera masuk ke kelasnya.


"Iya, Mbak. Mbak hati-hati ya..."


Lalu Fifi mulai masuk ke sekolahnya, dan Naya lanjut jalan menuju tempat kerjanya.


***


Pulang sekolah Fifi masih betah duduk di halte depan sekolah sambil menunggu kedatangan Irwan. Mereka berdua lagi-lagi membuat janji temu.

__ADS_1


"Mau jalan-jalan nggak?" tanya Irwan setelah mereka duduk berdampingan, menduga Fifi ingin pindah tempat buat pacaran.


"Nggak, Yang, di sini aja. Lagian aku mau pulang cepat, nanti anter sampai depan gang ya?" kata Fifi kepada Irwan.


Wajah Irwan tiba-tiba manyun.


"Jadi kapan mau begini terus, Yang? Berasa aku pacar ilegal mu saja. Aku juga ingin kenal sama keluarga kamu. Bisa antar jemput kamu ke rumah, nggak harus ngerepotin mbak Naya terus," protes Irwan merasa bosan dengan hubungannya yang backstreet.


"Ya sabar dong... Aku maunya juga pingin ngenalin kamu sama keluarga aku. Cuma masalahnya yang mau jadi pembelaku sudah milih orang lain daripada milih bang Wahyu." Fifi tak kalah cemberut saat mengatakannya.


"Maksud kamu, Yang?" Irwan langsung kepo.


"Mbak Naya minggu ini mau lamaran. Dia jadi sama yang aku ceritain kemarin itu," tutur Fifi dengan lesu.


"Serius, Yang? Kamu nggak lagi bercanda kan?"


Fifi mengangguk meyakinkan. Dan Irwan mulai garuk-garuk kepala, bingung sendiri pastinya.


Pria itu kemarin mendengar kabar jika Wahyu sedang pergi bekerja ke luar kota. Tujuannya hanya untuk menabung agar bisa segera melamar Naya. Tapi jika kenyataannya seperti ini, bagaimana dengan Wahyu?


"Sayang, apa kamu sudah ada kabar bang Wahyu?" tanya Fifi.


Irwan mengangguk lemah. Kemudian pria itu juga menceritakan ke mana Wahyu pergi kepada Fifi. Membuat gadis itu tiba-tiba merasa sedih, seakan merasakan ada di posisi Wahyu saat ini.


"Gimana aku ngomongnya entar, Yang? Duuh... Bingung aku, Yang. Tolong bantu carikan ide dong biar enak ngomongnya sama bang Wahyu," kata Irwan kemudian.


"Kalau menurut aku lebih baik mereka bicara sendiri, Yang."


"Masalahnya mau bicara lewat mana? Coba mbak Naya punya hape."


"Eh, mbak Naya sudah punya hape loh!" Kemudian Fifi mengeluarkan carikan kertas yang tadi untuk mencatat nomor telpon Naya.


"Ini nomor telpon mbak Naya."


Lalu Irwan mencatat nomor telpon Naya di handphone nya. Tak lupa pria itu juga langsung mengirimnya kepada Wahyu. Tetapi sepertinya saat ini Wahyu sedang offline, mungkin nanti bisa dilihat oleh Wahyu.


"Sudah aku kirim ke bang Wahyu, Yang."


Fifi mengangguk kecil.


"Eh, btw-- mbak Naya beli hape baru emang?" tanya Irwan masih kepo.


"Katanya dibelikan sama calon tunangannya. Mana IPhone lagi. Aaah.... Aku kan jadi pingin dibelikan ayang seperti itu."


Irwan yang mendengarnya hanya bisa garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. IPhone? Minta dibelikan? Alamaaaakkk....


*

__ADS_1


__ADS_2