Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 115


__ADS_3

Keesokan harinya, Naya bangun lebih lambat dari biasanya. Sengaja Gino tidak membangunkan Naya saat menjelang subuh tadi. Mengingat semalam dirinya sudah dipuaskan oleh Naya, membuat pria itu tidak tega membangunkan istrinya yang masih tidur dengan lelap saat subuh sudah lewat lebih lama.


Saat ini Naya sudah masuk lagi ke kamarnya dengan rambut yang dibungkus handuk kecil. Sejujurnya Naya agak malu jika ketahuan keramas pagi-pagi setelah tinggal bersama orang tuanya lagi. Seandainya ini di rumah sendiri, no problem buat Naya.


"Kenapa nggak bangunin aku kayak biasanya sih, Mas?" protes Naya kepada Gino, efek malu ketahuan bapak ibu keramas pagi-pagi.


Memang sudah sama-sama dewasa dan sama-sama berumah tangga, tetapi tetap saja Naya malu sendiri kepada kedua orang tuanya. Padahal Abdul dan Rahma biasa saja dan memaklumi itu.


"Aku lihat tidurmu nyenyak sekali, Dek, pasti kecapean karena semalam ya?" ucap Gino mengatakan alasannya.


Naya tak lagi menyahut. Mulutnya masih nampak manyun, tetapi menggemaskan menurut Gino. Kemudian Naya segera melaksanakan kewajiban dua rakaatnya didalam kamarnya, dengan Gino yang duduk sambil berselonjor kaki di kasur, memandangi Naya yang sedang beribadah.


Sedangkan Lala semalam tidur dengan kakek neneknya. Biasanya Lala tidur bersama Naya dan Gino setelah mereka tinggal di sini lagi. Entah kenapa semalam itu Rahma mengajak Lala tidur bersamanya. Bocah itu pagi ini masih belum bangun dari tidurnya.


Tak lama kemudian Naya sudah selesai dengan sholatnya. Wanita itu segera merapikan diri di depan cermin, setelah itu keluar dari kamarnya untuk bantu-bantu Rahma di dapur.


Rupanya Rahma sudah membuatkan Gino kopi pagi itu.


"Berikan sama suamimu, Nay," ucap Rahma.


"Biasanya aku yang buat, sekarang keduluan ibu, jadi nggak enak sendiri," sahut Naya.


"Nggak pa-pa, Nay. Tadi ibu sekalian buat kopinya bapakmu, ada air lebih jadi ibu buatkan juga buat Gino," balas Rahma.


Kemudian Naya membawa kopi itu kepada Gino yang masih betah berdiam diri dalam kamar.


"Kopinya, Mas," ucap Naya yang kemudian meletakkan kopi itu diatas meja kecil yang ada dalam kamarnya.


"Terimakasih, Sayang," ucap Gino yang kemudian beranjak dari tempatnya untuk mencicipi kopinya.


"Itu ibu yang buat. Karena aku bangunnya telat," gerutu Naya masih tidak enak sendiri bangun lebih lambat, padahal mereka tinggal di rumah orang tua sendiri.


Gino memilih diam tanpa merespon lagi gerutuan Naya. Pria itu hanya tersenyum manis untuk menghibur istrinya yang lagi badmood karenanya.


Kemudian Naya keluar lagi dari kamarnya. Di dapur Naya mulai membantu Rahma. Wanita itu memilih mencuci piring kotor sisa semalam. Tetapi belum selesai pekerjaan itu, tiba-tiba perut Naya terasa mules. Ia pikir itu gejala BAB, makanya Naya lekas masuk dalam kamar mandi bermaksud ingin membuang hajatnya.


Tak lama kemudian Naya keluar dari kamar mandi dengan wajah yang masih meringis. Tetap mules tetapi BAB nya tidak keluar barusan.

__ADS_1


Naya kembali melanjutkan kegiatan cuci piringnya yang tertunda. Beberapa menit kemudian rasa mules itu kembali terjadi. Tetapi kali ini Naya sudah malas masuk kamar mandi. Dibiarkan saja rasa mules perutnya dengan menyelesaikan cuci piringnya.


Rahma yang diam-diam memperhatikan Naya, tentu mulai curiga.


"Kenapa, Nay?" tanya Rahma.


"Nggak pa-pa, Buk," sahut Naya sambil mulai menata piring yang selesai ia cuci.


"Perut kamu sakit?"


"Nggak, cuma mules-mules dikit doang."


"Mau lahiran kali," tebak Naya.


"Nggak mungkin, Buk. HPL nya masih dua mingguan," elak Naya, meski pikirannya kali ini teringat dengan perkataan bidan kemarin pagi.


"Iya juga sih. Obat dari bidan kemarin sudah kamu minum belum?" tanya Rahma, mengira mules yang dirasa Naya karena diare nya yang kumat lagi.


"Dari semalam aku sudah tidak minum, Buk, kan diare nya sudah nggak lagi," sahut Naya.


"Nah trus sekarang ini kenapa? Pasti itu kamu mau lahiran, Nay," tebak Rahma dengan yakin.


Beberapa menit kemudian, ternyata rasa mules pada perut Naya semakin lebih sering. Dari ini Naya sudah feeling jika kemungkinan sudah akan melahirkan.


"Buk, aku mau ke bidan lagi," pamit Naya kepada Rahma.


"Iya, Nay, cepat diperiksakan. Tapi ibu yakin itu kamu pasti sudah mau lahiran," ucap Rahma.


"Sambung do'anya saja, Buk. Kalau memang iya, semoga aku dilancarkan," pinta Naya.


"Iya, Nay. Ibu selalu mendo'akan. Sudah, buruan sana kalau mau ke bidan," titah Rahma.


Terdengar tangisan Lala dari dalam kamar Rahma. Biasanya bocah itu kalau bangun tidur tidak pernah menangis, tumben juga pagi ini Lala bangun tidur langsung menangis.


Buru-buru Rahma pergi ke kamarnya untuk mengambil Lala. Sedangkan Naya masuk ke kamarnya untuk mengajak Gino pergi ke bidan. Tak tahunya Gino sendiri sudah tidak ada di kamarnya.


Kemudian Naya mengecek ke halaman depan, mungkin Gino lagi ada di sana. Tak tahunya ternyata Gino lagi asyik ngobrol dengan Arif di gardu depan. Tentunya Naya enggan untuk menghampirinya. Dan lagi perutnya sudah terasa semakin kencang dan mules luar biasa.

__ADS_1


Lala yang sedang menangis dibawa keluar rumah oleh Abdul. Pria itu bermaksud menenangkan tangisan Lala dengan mengajaknya main-main di luar. Dan Gino yang mendengar tangisan Lala, langsung menyudahi obrolannya bersama Arif. Gino mendekati Abdul, bermaksud ingin menggantikan bapak mertuanya yang sedang menggendong Lala. Tetapi Abdul menolaknya.


"Kamu temani Naya saja," kata Abdul yang mana Gino langsung beranjak masuk ke dalam rumah lagi, tanpa bertanya apa-apa pun kepada Abdul.


Saat ini Naya sedang ada di kamarnya. Wanita itu nampak mengemasi keperluan yang dibutuhkan ketika melahirkan.


"Dek, mau ke mana?" tanya Gino melihat Naya yang berkemas-kemas.


"Antar aku ke bidan, Mas," pinta Naya, seketika menghentikan berkemasnya yang sejatinya belum selesai.


"Kamu kenapa?" panik Gino setelah memperhatikan Naya yang terkadang meringis menahan sakit.


"Aku mau kontrol lagi."


"Perut kamu sakit?" tanya Gino memastikan.


Naya mengangguk.


Tanpa banyak bicara lagi, kemudian mereka berdua keluar dari kamarnya begitu saja. Lupa membawa perlengkapan yang sebelumnya sudah disiapkan Naya.


"Mas, kita naik motor saja," seru Naya ketika Gino akan membuka pintu mobilnya.


"Loh, kamu lagi begini lebih aman bawa mobil, Dek," heran Gino.


"Tapi lebih cepat naik motor, Mas."


"Nggak! Aku khawatir kamu kenapa-napa nanti di jalan."


"Aku mau naik motor! Naik mobil masih ribet, mana di jalan macet. Perut aku sudah sakit nih..."


"Justru karena itu, Sayang, aku takut kamu nggak kuat nanti di jalan," rayu Gino dengan menekan kesabarannya menghadapi Naya yang ngeyel nya minta ampun.


Perut sudah kontraksi begitu masih sempat-sempatnya berdebat dengan suami. Dasar Naya!


"Aku kuat! Ayo buruan bawa motor aja!"


Gino menghentak nafasnya dengan keras. Kemudian pria itu pun memilih menuruti kemauan Naya. Anggap saja sebagai bentuk ngidam bayinya yang terakhir kalinya sebelum lahiran nanti.

__ADS_1


"Pegangan yang erat, Dek," ucap Gino sebelum kemudian motor itu melaju pergi dari rumah itu.


*


__ADS_2