
"Serius, Nay, kamu tahunya Gino kerja jadi tukang kebun?"
Bukannya menjawab pertanyaan Naya, Yuli malah balik bertanya.
Naya mengangguk. "Iya serius. Buat apa aku bohong?"
"Kalau aku katakan pekerjaan Gino yang sebenarnya, kamu tidak kecewa kan? Janji jangan marah ya?" pinta Yuli merasa was-was takut Naya marah dan malah langsung membenci Gino karena ketidakjujurannya itu.
"Asal bukan bekerja kriminal aja," sahut Naya sedikit jengah. Dan ia pun kembali meminum minumannya.
"Dia sebenarnya kerja di B#I, Nay," ucap Yuli dengan mantap.
Naya langsung tersedak minumannya saat mendengar ucapan Yuli.
"Pelan-pelan dong, Nay, sampai tersedak gitu," ucap Yuli yang kemudian beranjak untuk mengambilkan Naya tissue.
"Aku itu kaget, Yul." kata Naya kemudian mengelap dagu juga bajunya yang sedikit basah menggunakan tissue.
"Maksud kamu dia berarti kerja di B#I jadi tukang kebunnya kan?" Naya masih percaya Gino bekerja sebagai tukang kebun.
"Bukan, Naya. Dia itu pegawainya, bagian CS." jelas Yuli yang sebenarnya.
Naya melongo di tempat. Apa ia tidak salah dengar? Benarkah pria yang datang melamarnya kali ini adalah seorang pegawai Bank?
"Apa jangan-jangan bapak ibu kamu juga tahunya dia jadi tukang kebun ya, Nay?"
Naya menghedikkan bahunya entah.
"Kenapa dia tidak jujur tentang pekerjaannya itu ya, Yul?" Naya sangat penasaran alasan utama Gino menyembunyikan pekerjaan aslinya.
Yuli ikut menggeleng kepala. "Soal itu kamu tanyakan langsung sama orangnya. Karena dia ngaku begitu pasti ada alasannya."
Entahlah, Naya sudah tidak bisa lagi harus menanggapinya seperti apa setelah tahu semuanya. Kecewa ada, tetapi sama sekali tidak membuat Naya membenci karena sudah membohonginya. Bayangan wajah sumringah Abdul dan Rahma tiba-tiba terlintas begitu saja. Membuat Naya merasa curiga, jangan-jangan sebenarnya kedua orang tuanya sudah tahu dengan pekerjaan Gino yang sebenarnya.
"Yuli, aku pamit pulang," kata Naya sambil beranjak berdiri.
"Keburu amat, Nay? Mumpung libur ayok lah santai-santai di sini. Aku juga lagi sendirian, mas Budi datangnya masih malam katanya," ucap Yuli seperti tidak rela ditinggal Naya pulang.
"Aku kepikiran Lala, Yul. Kasihan dia. Mumpung libur begini aku pingin puas-puasin main sama Lala."
Wajah Yuli langsung terlihat sendu mendengar ucapan Naya. Ia yang sangat mendamba datangnya seorang anak, tentu merasa terharu mendengar ucapan Naya itu.
"Ya sudah, kalau begitu hati-hati, Nay," kata Yuli kemudian.
Lalu Naya pulang dari rumah Yuli.
__ADS_1
Tiba di rumah, Naya melihat Lala sedang bermain dengan teman-teman sebayanya. Bocah berusia dua tahun itu sedang aktif-aktifnya mengeksplor dunia mainnya. Ada beberapa ibu-ibu juga yang duduk santai di teras rumah Naya, sambil menjaga anak balita mereka yang bermain bersama Lala.
"Nggak kerja, Nay?" sapa salah satu ibu berusia tiga puluhan kepada Naya.
"Libur, Mbak," sahut Naya singkat. Lalu kemudian masuk ke rumahnya, tidak jadi gabung dengan ibu-ibu itu khawatir nemu omongan yang tidak mengenakkan.
Terdengar ibu-ibu itu mulai mengobrol lagi bersama Rahma yang juga ikut bergerombol bersama mereka.
"Mbakyu Rahma, aku lihat kemarin Sholeh bawa orang ya ke sini?" CCTV mulut tetangga mulai mencari gosip.
Rahma hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Jadi kapan Naya menikah lagi?" Satu ibu lainnya mulai kepo. Langsung mengira orang yang dibawa Sholeh tempo hari adalah calon suami Naya.
"Masih belum tahu. Masih belum dapat jodohnya," jawab Rahma apa adanya.
"Loh, emang nggak jadi sama yang dibawa Sholeh itu, mbakyu? Aku kira jadi."
Rahma menggeleng kepala.
"Laaah.... Padahal sayang loh mbakyu, aku dengarnya orang itu katanya mau jadi kades. Kenapa ditolak sih, mbakyu? Nggak menyesal?"
Rahma memilih diam, ia mulai mencari alasan untuk bisa masuk ke rumahnya, sudah tidak minat nimbrung sama tetangga kepo seperti mereka.
"Ya ampun, Lala!" pekik Rahma pura-pura shock melihat baju Lala yang penuh dengan tanah.
"Aku mandiin Lala dulu ya?" pamit Rahma yang kemudian langsung masuk ke rumahnya lewat pintu samping.
Ibu-ibu itu masih betah duduk di teras rumah Naya. Halaman rumah Naya yang rindang membuat ibu-ibu betah duduk di sana, seperti sudah menjadi tempat favorit mereka untuk berkumpul dan bergosip ria.
"Lala kenapa, Buk?" tanya Naya melihat Rahma membawa Lala ke kamar mandi.
"Badannya kotor, Nay. Ibu mau mandiin, biar entar lagi seger dan bisa bobok siang dengan anteng."
"Biar aku yang mandiin, Buk," kata Naya yang kemudian langsung mengambil alih kegiatan itu.
"Kamu nggak mau jemput Fifi, Nay?" tanya Rahma, melihat jam yang sudah siang.
"Fifi bilang pulang telat, Buk. Katanya ada tugas kelompok."
"Kok aku nggak percaya ya? Aku takut Fifi janjian lagi sama pacarnya. Bisa jadi kan, Nay?" ucap Rahma yang rasa kepercayaannya kepada Fifi sudah memudar karena insiden kemarin itu.
Naya terdiam. Pikirannya jadi ikutan curiga seperti Rahma. Tapi-- Biarlah! Naya lagi mode malas ngapa-ngapain hari ini. Entah Fifi benar-benar belajar kelompok atau hanya berbohong, urusan itu Naya tidak mau memusingkannya.
Setelah selesai memandikan Lala, Naya langsung membawa anaknya ke kamar. Hari ini ia hanya ingin tidur siang dengan nyaman. Setelah semalaman ia tidak bisa tidur nyenyak gara-gara memikirkan lamaran Gino.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan hampir pukul dua siang. Fifi dan Irwan sudah nongkrong di taman kota. Pria itu tadi yang menjemput Fifi pulang dari sekolah, setelah Fifi mengabarinya dengan pinjam handphone temannya.
Dua es jeruk dan dua porsi sempol ayam yang masih baru selesai di goreng sudah ada didepan mereka. Fifi dan Irwan menikmatinya dengan seru, sebelum kemudian Fifi akan menceritakan soal Naya kepada Irwan.
"Kira-kira hape kamu kapan mau dibalikin sama bapak?" tanya Irwan yang baru tahu kalau selama ini ponsel milik Fifi disita Abdul.
Fifi berwajah melow sambil menghedikkan bahunya entah.
"Nggak coba kamu minta, Sayang? Bilang aja kamu butuh buat info penting dari sekolah, bisa kan?" Irwan mencoba membantu dengan memberi alasan yang cukup masuk akal.
"Boro-boro minta, sekarang aja bapak masih kayak males gitu ngomong sama aku," adu Fifi sangat sedih.
Abdul yang selama ini sangat mengganti posisi sebagai bapak untuk Fifi, tentu sangat kecewa dengan tingkah Fifi yang sudah diluar batas menurut Abdul. Sebenarnya Abdul memaklumi jika anak muda pasti memiliki kisah asmara dengan lawan jenisnya. Tetapi jika sudah main pergi tanpa pamit, Abdul tidak mentolerir hal itu. Termasuk dengan anak-anak Abdul sendiri.
"Aku minta maaf, Sayang, karena aku kamu dapat hukuman seperti ini," kata Irwan sambil meraih tangan Fifi untuk ia genggam.
Fifi mengangguk pelan. Bagaimanapun, Fifi sangat menyayangi Irwan. Karena Irwan lah yang menjadi cinta pertama gadis itu, juga yang menjadi pacar pertamanya.
"Sayang, sebenarnya aku ada hal penting yang ingin aku bicarakan soal mbak Naya," ucap Fifi kemudian.
"Mbak Naya kenapa, Yang?"
"Mbak Naya dilamar orang kemarin. Tapi kayaknya bapak sama ibu suka dengan orang yang melamar mbak Naya," cerita Fifi.
Irwan masih menjadi pendengar serius. Ia menunggu Fifi melanjutkan ceritanya.
"Iih... Sayang! Kamu jangan diem aja dong? Kasi masukannya kek! Aku tuh bingung, gimana nasib bang Wahyu kalau mbak Naya jadi terima lamaran orang itu," kesal Fifi kepada Irwan.
"Mbak Naya nya mau nggak sama orang itu?" Irwan balik tanya. Menurutnya jika Naya tidak mau meski kedua orang tuanya mau, pasti lamaran itu akan ditolak oleh Naya. Dan akan aman untuk Wahyu tentunya.
"Aku nggak tahu. Tapi sepertinya mbak Naya kayak nggak keberatan gitu. Orang itu kemarin lusa datang ke rumah. Dan mbak Naya biasa aja tuh. Padahal kamu tahu kan kalau bang Wahyu sering bilang pingin main ke rumah tapi selalu dilarang sama mbak Naya. Aku jadi punya feeling nggak baik deh," seru Fifi.
Fifi memang sangat mendukung Naya berjodoh dengan Wahyu. Selain karena cocok menurut Fifi, lagi pula jika mereka berjodoh tentu akan berdampak baik juga untuk hubungannya bersama Irwan. Secara Fifi tidak perlu orang dalam lainnya untuk mendapatkan restu bersama dengan Irwan. Cukup meminta bantuan Naya dan Wahyu sebagai jurusan bicara merayu hati kedua orang tua Fifi nanti. Begitulah rencana yang sudah tersusun matang dari gadis yang masih labil seperti Fifi.
"Emang orang itu lebih keren ya, Yang, dibanding bang Wahyu?" tanya Irwan penasaran rupa dan wujud orang itu, sehingga membuat Fifi segelisah ini.
"Menurutku-- Lumayan!"
Fifi tidak menampik juga jika Gino tidak kalah cakep dari Wahyu. Bedanya Gino terlihat lebih dewasa daripada Wahyu.
"Lumayan gimana nih?"
"Yaa... Pokoknya macho lah, Yang. Kalau aku lihat sepertinya dia anak orang cukupan," jelas Fifi melihat penampilan Gino yang sederhana tetapi jenis pakaian dan celana yang dipakai Gino gadis itu tahu jika harganya tidak murah.
__ADS_1
Waduh!
*