
Usai makan malam bersama, seperti biasa Gino dan Naya masih akan main bersama menemani Lala sambil asyik menonton televisi. Hingga saat bocil itu sudah mulai mengantuk, barulah Naya mengajaknya untuk tidur.
"Lala tidur di kamar Lala apa mau tidur sama mama papa?" tanya Gino tiba-tiba.
Naya langsung melirik aneh kepada Gino. Pikiran wanita itu langsung menjurus kepada yang lainnya mendengar pertanyaan Gino kepada Lala. Padahal sebenarnya tujuan Gino bertanya seperti itu karena tidak ingin memisahkan antara ibu dan anak balitanya, Gino sebatas bertanya saja, tidak bermaksud apa-apa.
"Yaya tidung di sana," tunjuk Lala pada kamarnya sendiri.
Memang semalam meski Lala terbangun seorang diri dari tidurnya, bocah itu tidak rewel saat tahu dirinya tidur sendirian di kamarnya. Entah karena suka dengan desain kamarnya yang memang khas anak cewek, atau karena bocah itu sedang belajar mandiri, intinya Lala tidak masalah tidur sendiri di kamarnya.
Sekilas Gino melirik kepada Naya. Ia ingin memastikan adakah sorot mata tidak rela dari Naya saat Lala mengatakan itu, rasa tidak rela seperti saat masih kumpul di rumah ibu Rahma.
"Memangnya Lala berani tidur sendiri?" Naya akhirnya bertanya juga, mewakili kecemasannya membiarkan Lala tidur seorang diri.
Lala menggeleng kepala.
"Yaya suka. Di kamang Yaya banyak bonetanya," seru Lala dengan riang.
Gino tersenyum tipis. Kemudian pria itu mengangkat tubuh Lala dalam gendongannya, membawa Lala masuk ke kamarnya. Naya turut mengikutinya dari belakang.
"Kelonin dulu, Dek, kasihan Lala," ucap Gino setelah selesai membaringkan Lala di kasurnya.
Jujur, Gino sendiri sebenarnya tidak tega melihat bocah berusia dua setengah tahun itu tidur sendiri di kamarnya. Walau kebanyakan para artis sudah mengajarkan bayinya tidur di kamarnya sejak dini, tetapi Gino selalu tidak tega melihat yang seperti itu. Tetapi setelah melihat sorot mata Lala yang tidak ada pemaksaan karena memancarkan aura senang, maka Gino akhirnya membiarkan itu.
Naya sendiri sebenarnya merasa jauh tidak tega. Apalah daya, ucapan Rahma saat itu selalu terngiang di benaknya, membuatnya mau tidak mau harus merelakan Lala tidur sendiri dalam kamarnya. Tetapi itu masih lebih baik untuk kemandirian Lala, daripada harus tidur bareng kakek neneknya.
Akhirnya Naya ikut berbaring disamping Lala tidur. Tangannya mulai mengusap lembut pada punggung Lala, karena dengan seperti itu bocah itu bisa segera terlelap. Sedangkan Gino tetap diam di tempatnya. Pria itu memandangi Naya dan Lala penuh rasa haru. Rasa cinta dan sayang nya kepada dua perempuan itu menjadi bertambah besar. Sungguh, Gino merutuk diri dalam hatinya, terlebih kepada ayah kandung Lala, karena telah tega menelantarkan bocah cerdas sepertinya tanpa merasakan kasih sayang dari ayah kandungnya sendiri.
Tak lama kemudian Lala sudah terlelap dengan nyaman. Perlahan Naya beranjak dari tempatnya. Sebelum itu, Naya merapikan selimut yang dipakai oleh Lala, kemudian mencium kening Lala cukup lama.
Bergantian Gino juga mencium pipi Lala, sebelum kemudian mereka keluar dari kamar itu.
"Lala pinter sekali ya, Dek," seru Gino saat mereka sudah ada di luar kamar Lala.
Naya hanya merespon dengan tersenyum tipis. Baginya, kepintaran Lala itu adalah anugerah dari Tuhan yang patut disyukuri juga dikembangkan dengan baik.
"Kamu sudah ngantuk nggak, Dek?" tanya Gino.
__ADS_1
"Belum," sahut Naya.
"Ngobrol bentar dulu yuk, aku juga masih belum ngantuk," kata Gino kemudian.
"Di mana? Di sini apa di kamar?" Naya menunjuk pada sofa di ruang tengah dan ke arah kamarnya.
"Sebenarnya enak di kamar sih," sahut Gino sambil menyeringai aneh.
"Ya ayo, kenapa malah nyengir nggak jelas. Mm... mau modus ya, ngaku deh?"
Wajar saja kalau pikiran Naya mengira Gino lagi pasang modus untuk nantinya begituan.
"Nggak modus, aku beneran serius," ucap Gino sudah memasang wajah serius.
Naya hanya mengangguk kecil. Akhirnya mereka berdua masuk kamar, setelah itu sama-sama mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, setelah itu berbaring di kasurnya dengan nyaman.
"Mas mau ngomong apa?" tanya Naya lebih dulu. Wanita itu saat ini berbaring sambil memeluk hangat pada tubuh Gino.
"Aku mau tanya, tapi kamu jangan tersinggung ya," kata Gino wanti-wanti.
Sejujurnya pria itu mulai kepikiran dengan ayah kandung Lala. Ia bukannya kepo ingin dikenalkan, sama sekali tidak. Hanya ada satu pesan yang ingin ia sampaikan kepada Naya, yang belum pernah ia ucapkan sebelumnya. Anggaplah itu sebagai permintaannya kepada Naya yang menyangkut hidup Lala ke depannya.
"Apakah ayah kandung Lala pernah menjenguk Lala? Mm... Misalnya ngajak main gitu?" tanya Gino waspada, takut malah menyinggung perasaan Naya, atau malah membuka luka lama yang dirasa Naya sebelumnya.
Naya langsung menggeleng cepat.
Lalu wanita itu menceritakan semuanya kepada Gino. Intinya mulai dari Naya bercerai, hingga pada detik ini, ayah kandung Lala tidak pernah menemui Lala ke rumahnya. Bahkan menanyakan kabar Lala saja itu tidak pernah.
Mendengar itu, sudut hati Gino merasa seperti ada yang tercubit. Ia sama sekali tidak menyangka jika ada lelaki yang lepas tanggungjawab seperti orang itu.
"Dek," sapa Gino setelah beberapa saat sempat termenung.
"Aku ingin kamu berjanji kepadaku," katanya lagi.
Naya hanya diam, menunggu apa yang akan dikatakan Gino setelah ini.
"Mau Lala sakit, bahkan sampai berobat ke rumah sakit sekalipun, apapun kebutuhan hidup Lala, sekolahnya, semuanya, tolong kamu jangan pernah meminta kepada ayahnya Lala. Aku sanggup membiayai itu semua!" kata Gino dengan tegas.
__ADS_1
Naya tercengang mendengar ucapan Gino. Jauh dalam lubuk hati Naya, wanita itu sangat bersyukur telah dipertemukan sosok lelaki yang mau bertanggungjawab padahal itu bukanlah kewajibannya. Kedua mata Naya mulai mengembun, terharu sekali rasanya. Gino yang melihat itu semakin merapatkan pelukannya. Membiarkan Naya menumpahkan tangisannya ke dalam pelukannya.
"Terimakasih, Mas, kamu sudah mau menerima aku dan anakku setulus hati kamu. Aku akan menepati permintaanmu. Aku tidak akan meminta-minta kepada dia, apapun itu," ucap Naya sambil terisak-isak.
Gino menghela nafas beratnya. Tangannya terus saja mengusap pada kepala Naya untuk menenangkannya.
"Aku meminta seperti itu bukan berarti aku menghalangi Lala untuk bertemu dengan ayahnya. Kalau suatu saat nanti ayahnya pergi menemui Lala, maka pertemukan mereka. Dia ayahnya, dia memiliki hak yang sama kepada Lala. Yang aku minta cuma soal materi. Jangan pernah mengemis kepadanya. Jika Lala adalah anak kamu, dia juga anakku. Kamu milikku! Aku bisa menanggung semua kebutuhan kalian!" kata Gino lebih mempertegas lagi.
Naya mengangguk dalam dekapan Gino. Dalam hati sudah banyak do'a kebaikan yang ia panjatkan untuk Gino. Kesehatannya, juga kesejahteraannya. Karena pria inilah yang telah menjadi pahlawan kehidupannya dari rasa sakit hati yang selama ini ditanggung sendiri oleh Naya karena perlakuan mantan suaminya yang tak becus.
"Tidurlah," seru Gino sambil membelai lembut kepala Naya.
Wanita itu mengangkat wajahnya, beralih menatap wajah Gino lekat-lekat.
"Sudah, jangan menangis. Nanti mata kamu bisa bengkak loh," kata Gino sambil nengusapi linangan air mata Naya di pipi mulusnya.
"Aku menangis bahagia, Mas, karena telah dipertemukan dengan lelaki seperti kamu untuk menjadi milikku, imamku, pahlawanku," kata Naya kemudian.
Mendengar itu Gino hanya tersenyum tipis. Siapa sangka ternyata Naya mendaratkan ciumannya di bibir Gino, membuat pria itu kaget karena tidak menyangka.
Karena respon Gino yang hanya diam, maka Naya mengulangi hal yang sama. Mencium bibir Gino dengan lebih dalam.
"Dek, kamu yakin?" tanya Gino ingin memastikan suasana hati Naya sebelum lanjut mengimbangi pancingan yang dipasang Naya.
"Kalau nggak mau ya sudah!" Naya pura-pura merajuk sambil balik memunggungi Gino.
Gino merapatkan pelukannya dari belakang tubuh Naya.
"Nggak gitu, Dek, barusan kamu habis nangis, aku pikir mood kamu pastinya nggak enak. Tapi kalau kamu mau ya ayo, aku sih oke!" kata Gino penuh semangat.
"Sudah lah, nggak jadi!" Naya masih kuat drama merajuk.
"Sayang..." Gino mulai mengendus-endus nakal pada area telinga Naya.
Tapi ternyata perlakuan Gino berhasil membuat Naya membalik badan. Pria itu sudah tahu di mana letak titik kelemahan Naya. Cukup di endus telinganya, pasti akan menggeliat geli dengan sendirinya.
Maka kemudian mereka berdua kembali menyusuri nikmatnya surga pernikahan.
__ADS_1
*