Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 27


__ADS_3

Riki yang sedang perjalanan pulang dari rumah Irul sambil membawa Lala sampai dicegah oleh tetangga sebelah rumah yang kepo dengan pria bermobil yang tadi menjemput Naya.


"Tadi yang naik mobil itu pacar Naya ya, Ki?" tanya seorang ibu yang saat itu sedang duduk di teras rumahnya bersama dua ibu lainnya.


"Yang mana ya, Mpok?" tanya Riki tidak paham, tetapi malah membuat ibu-ibu itu salah tanggap.


"Ooh... Berarti Naya punya pacar banyak gitu? Ini Riki aja bingung yang mana?" celetuk satu ibu yang memang selalu julid dengan keluarga Abdul. Dan sifat julid nya semakin jadi setelah Naya menjadi janda.


Riki yang mendengar itu hanya bisa melongo. Mau membela Naya, nyatanya ia tidak tahu fakta apa yang barusan dilihat oleh ibu-ibu itu.


"Waah... Tapi kalau Naya jadi sama yang tadi, kamu bakal punya ayah yang kaya raya, La." ucap satu ibu lagi sampai-sampai mengajak bicara Lala yang tidak tahu apa-apa.


Riki yang mencium gelagat tidak baik tentang kakaknya, buru-buru ia pergi tanpa berpamitan kepada ibu-ibu itu. Meski salah satu ibu itu ada yang mengumpat kesal menganggap Riki kurang sopan karena main pergi saja, tetapi Riki tak peduli itu.


Saat ini Riki sudah tiba di rumahnya. Wajahnya nampak cemberut. Rahma melihat jelas itu. Ia langsung mengambil Lala dari Riki dan berganti menggendongnya, karena bocah itu sepertinya mulai mengantuk.


"Kenapa?" tanya Rahma khawatir terjadi apa-apa dengan urusan sekolahnya. Karena saat Riki pamit ke rumah Irul tadi alasannya karena ingin mengerjakan tugas sekolah.


"Mbak Naya mana, Buk?" tanya Riki karena tidak melihat Naya saat masuk rumahnya.


"Nggak ada. Mbakmu lagi keluar," jawab Rahma.


"Dasar mulut ember!" kesal Riki sambil menghentak nafasnya.


"Ada apa? Kamu ada masalah sama mbakmu, Ki?" Rahma langsung salah paham melihat Riki yang seperti itu.


Riki langsung menepuk mulutnya. "Bukan, Buk. Bukan! Aku cuma lagi kesal sama mpok Tun," ucap Riki.


"Mpok Tun kenapa emangnya?"


Rahma mengikuti Riki yang berjalan ke arah dapur. Di sana pria remaja itu minum air putih hingga habis dua gelas.


"Mpok Tun fitnah mbak Naya, Buk," kata Riki kemudian, setelah selesai minum.


"Fitnah bagaimana, Ki?"


Abdul yang saat itu juga berada di dapur ikut bertanya penasaran. Lalu kemudian Riki menceritakan semuanya kepada Rahma dan Abdul.


Setelah tahu duduk masalah kekesalan Riki, Abdul hanya bisa menghembus nafasnya. Berbeda dengan Rahma yang langsung merasa kepikiran dengan Naya. Belum apa-apa fitnahnya sudah heboh sekali.


"Gimana ini, Pak?" tanya Rahma dengan sorot gelisahnya.

__ADS_1


"Mau bagaimana? Kita tidak bisa menutup mulut tetangga, Buk. Biar saja mereka mau bicara apa. Yang penting anak kita tidak salah. Mereka hanya masih belum tahu saja siapa Gino," ucap Abdul.


"Aku kok jadi takut Gino tidak kuat dengan omongan tetangga sekitar sini ya, Pak? Aku takut mereka yang tidak suka dengan kita, tidak suka melihat kita bahagia, jadi memfitnah Gino entar."


"Jangan terlalu jauh berpikir ke itu, Buk. Kamu cukup do'a saja. Minta sama Allah semoga keluarga kita dijauhkan dari orang-orang yang dzolim dengan kita."


"Aamiin... Iya, Pak."


Perasaan Rahma perlahan mulai tenang setelah mendapat jawaban dari suaminya. Sedangkan Riki yang tidak tahu apa-apa siapa Gino, hanya terbengong heran mendengarnya. Karena memang selama ini Riki jarang nimbrung dengan orang rumah karena sibuk dengan tugas sekolahnya.


Rahma beranjak untuk ke kamar Naya, karena Lala sudah tertidur dalam gendongannya. Sedangkan Riki masih diam di tempat.


"Riki, lain kali kalau mpok Tun tanya lagi kamu jawab saja. Itu tunangannya mbak Naya. Gitu!" pesan Abdul agar para tetangga tidak asal omong lagi, terutama wanita bernama mpok Tun itu.


"Tunangan? Kapan mbak Naya tunangan, Pak?" Riki bertanya heran, tidak tahu menahu tentang itu.


"Kalau sekarang masih calon, karena masih minggu ini mbakmu yang mau tunangan," jelas Abdul.


"Sama yang katanya mpok Tun orang kaya itu ya, Pak?" pekik Riki malah kepo dengan perkataan mpok Tun yang menyinggung Lala akan punya ayah kaya raya.


"Hus! Sudah, jangan ladeni omongan mpok Tun itu." Lalu Abdul memilih beranjak dari tempatnya.


"Duh! Mbak Naya minggu ini tunangan. Di rumah pasti ada acara. Berarti aku harus ngomong sama Irul."


***


Saat ini Naya dan Gino sudah ada di sebuah mall terbesar yang ada di kota mereka tinggal. Mereka berjalan beriringan, tanpa saling bergandengan tangan layaknya muda-mudi yang lagi kencan. Walau betapa ingin Gino melakukan itu, tetapi Gino masih menahannya. Ia tidak mau membuat Naya tidak nyaman. Karena ini masih jadi kencan pertama mereka.


Lalu tibalah mereka di toko perhiasan yang ada di mall itu. Gino dan Naya langsung disambut ramah oleh pegawai di toko itu.


"Mau cari perhiasan apa, Mas?" tanyanya kepada Gino.


"Mau cari cincin couple yang terbaru, Mbak," kata Gino yang kemudian mereka dituntun oleh pegawai itu menuju tempat cincin emas berkerlipan.


Setelah itu pegawai yang tadi menunjukkan tiga macam model cincin kepada Gino. Pria itu segera memasrahkan kepada Naya untuk memilihnya.


"Kamu suka yang mana, Dek?" tanya Gino.


"Terserah kamu saja, Mas," sahut Naya sedikit canggung karena pegawai toko emas itu dari tadi memperhatikannya.


"Jangan bilang terserah. Ini kamu yang mau pake loh. Atau kalau kamu nggak ada yang cocok kita cari model lain."

__ADS_1


Pegawai toko itu langsung peka dengan ucapan Gino, dan kemudian ia menunjukkan satu model lagi kepada Gino.


"Mungkin kalau yang ini mbaknya suka, Mas," kata pegawai itu.


Gino mengambil satu dari cincin itu.


"Dicoba, Dek," kata Gino yang kemudian langsung meraih tangan Naya, dan menyematkan cincin berpermata itu di jari manis Naya.


Naya yang diperlakukan seperti itu mulai merasa gelisah tak karuan. Seumur hidup baru kali ini ia diperlakukan seperti ini oleh pria. Jika dulu saat tunangan bersama ayahnya Lala jauh dari momen manis seperti ini. Sudah tidak romantis, pelit nafkah, egois, dan suka cemburu nggak jelas.


"Ah! Kenapa aku ingat dia lagi? Sadar Naya! Lelaki seperti dia jangan sampai masih sisa di otakmu. Lihat pria di depanmu sekarang. Tatap dia!" batin Naya seperti perangkat dengan dirinya sendiri.


Gino masih memegang tangan Naya yang memakai cincin itu. Perlahan kemudian, Naya memberanikan diri menatap lekat mata Gino. Pria itu tersenyum manis kepadanya.


"Ya ampun! Kenapa aku baru sadar kalau dia tersenyum begini manis sekali," batin Naya terpesona, sehingga tiada sadar bibirnya ikut melengkung membentuk senyuman.


"Kamu suka cincinnya, Dek?" tanya Gino ingin memastikan.


"Hah?" Naya langsung tergeragap.


"Kamu ngelamun ya?" Gino tergelak kecil melihat reaksi Naya itu.


Naya langsung menunduk, tetapi Gino bisa melihat jika pipi wanita itu merona merah.


"Aku memang mempesona kok, Dek. Jadi jangan malu untuk mengakuinya. Kalau nggak percaya tanya saja sama mbaknya. Benar nggak, Mbak?" kata Gino mulai berani merayu.


Spontan Naya mencubit kecil perut Gino. Memalukan!


"Aduh!" Gino pura-pura mengaduh kesakitan. Tangannya tidak mau membuang kesempatan untuk tidak menangkap tangan Naya yang sudah mencubit nya barusan.


Si pegawai toko itu hanya senyum-senyum sendiri melihat kelakuan Gino dan Naya. Yang mereka bisa menebak jika ini pasti masih pasangan baru.


"Aku pilih yang ini saja," kata Naya kemudian. Memutuskan memilih model cincin yang saat ini sedang dicobanya.


"Oke! Mbak, pilih yang ini ya?" kata Gino kepada pegawai itu.


"Baik, Mas. Mm... Apa tidak mau tambah perhiasan yang lainnya lagi, Mas?" tanya pegawai itu. Siapa tahu Gino mau membeli yang lain menurutnya.


"Kamu mau, Dek?" Gino malah balik tanya kepada Naya.


Naya langsung menggeleng menolak. Mungkin Gino sanggup membelikan Naya satu set perhiasan. Tetapi Naya tidak mau memanfaatkan kesempatan ini. Padahal ikatan diantara mereka masih sebatas calon tunangan. Jadi harus sadar diri.

__ADS_1


*


__ADS_2