Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 61


__ADS_3

Pagi hari keadaan di rumah Gino mendadak mencekam karena Agus yang mengatakan telah memulangkan Wulan ke rumah orang tuanya. Saat ini seluruh keluarga Suryo sudah duduk bersama di ruang tengah, sedang membicarakan permasalahan Agus. Sedangkan kedua anak Agus tetap berada dalam kamarnya, karena Nani yang meminta mereka untuk tetap berada di sana.


"Sebenarnya masalahnya apa, kenapa tahu-tahu kamu memulangkan Wulan ke rumahnya?" tanya Suryo yang memang tidak tahu menahu dengan duduk permasalahan rumah tangga Agus.


"Tidak perlu diceritakan lagi, Yah. Kesalahan dia sudah fatal dan tidak bisa aku maafkan," ucap Agus, nada bicaranya masih kentara menyimpan amarah.


Nani diam saja mendengar Agus yang memulangkan Wulan, anggaplah saat ini Wulan sudah di talak oleh Agus. Ia pun juga tidak ingin bertanya apa penyebab Agus bertindak seperti itu, karena setelah tahu apa yang pernah dilakukan Wulan kepada Gino, Nani sudah tidak menyukai Wulan lagi.


Sedangkan Gino yang saat itu juga ikut duduk bersama, reaksinya juga sama seperti Nani. Sama sekali tidak tertarik ingin bertanya apa penyebabnya, walau sejujurnya ia merasa prihatin dengan kakaknya yang harus gagal dua kali dalam membina rumah tangga.


"Setiap orang itu pasti pernah melakukan kesalahan, Gus. Masa iya sudah tidak bisa dimaafkan? Wulan sudah melakukan apa sama kamu?" tanya Suryo lagi.


Posisi Suryo yang sebagai kepala keluarga di rumah itu sudah pasti diharuskan bersikap yang bijak terhadap keluarganya agar tidak bertindak gegabah dalam mengambil keputusan. Apalagi ini urusan perceraian, yang dampaknya akan berpengaruh pada dua keluarga, juga pada mental kedua anak Agus. Maka wajar saja kalau Suryo bertanya lagi, demi tidak ingin adanya emosi sesaat yang dirasakan Agus, yang nantinya hanya akan berujung rasa penyesalan.


Bukannya menjawab pertanyaan Suryo, Agus malah melirik kepada Gino. Cukup lama saling beradu lirikan, sehingga Suryo dan Nani ikut melirik kepada Gino.


"Kamu tahu penyebabnya, Gi?" tanya Suryo to the point kepada Gino.


Gino terhenyak kaget.


"Ah, tidak!" kata Gino sambil menggeleng kepala.


"Jangan tanya sama Gino, dia tidak tahu apa-apa." Agus ikut bersuara.


Entahlah, Agus juga tidak bisa menyalahkan Gino yang diam-diam disukai oleh Wulan. Adiknya itu memang memiliki paras yang rupawan juga hidup yang mapan jika dibandingkan dengan dirinya. Apalagi setelah mendengar tempo hari Gino yang bercerita kepada Nani tentang perlakuan Wulan, suami mana yang tidak akan murka mendengar istrinya sampai bertingkah sehina itu?


Maka kemudian Agus memutuskan untuk mentalak Wulan, meski Wulan tidak langsung terima sehingga terjadilah pertengkaran sengit semalam. Keputusan Agus sudah bulat. Ia akan lebih memilih saudara yang sudah nyata baiknya terhadap anak-anaknya, daripada terus hidup bersama Wulan yang telah menjadi istri penghianat.


Sejenak Suryo menghembus nafas beratnya. Ia pun teringat dengan sikap Wulan yang terkadang suka aneh kepada Gino. Mungkin Agus sudah menyadari hal itu sehingga memutuskan untuk menceraikan Wulan. Padahal kenyataannya lebih parah dari itu kejadiannya, tetapi Suryo memang belum tahu cerita yang sebenarnya.


"Apa kamu sudah benar-benar yakin ingin menceraikan Wulan?" tanya Suryo ingin memastikan lagi.


Agus mengangguk dengan tegas.


"Segera urus prosesnya," ucap Nani akhirnya ikut bersuara juga.


Agus mengangguk lagi.


"Huuh... Yang satu mau urus proses perceraian, yang satu mau urus daftar pernikahan. Yassalam..." Suryo berkata sambil memijiti pangkal hidungnya karena mendadak pening.

__ADS_1


Mendengar itu seketika Agus menoleh kepada Gino.


"Kamu mau nikah, Gi?" tanyanya kaget kepada Gino.


Gino mengangguk mengiyakan.


"Kapan?"


"Bulan depan tanggal tujuh belas," jelas Gino.


"Selamat ya, semoga lancar," ucap Agus.


"Iya, aamiin... Terimakasih do'anya, Mas."


Nani yang merasa Agus seperti ada di kubu mereka mulai merasa jengah. Kemudian wanita itu berdiri dari tempatnya.


"Ayo sarapan!" ucapnya ketus, yang kemudian beranjak pergi untuk memanggil Putra dan Roby agar ikut sarapan bersama.


Kemudian mereka semua sudah kumpul bersama di ruang makan.


"Ibu Wulan mana?" tanya Roby dengan polosnya.


"Ibu Wulan pulang ke rumahnya." Suryo yang menjawab.


"Kenapa?" Roby masih penasaran.


"Ibunya sakit, jadi ibu Wulan harus merawat ibunya." Gino ikut bersuara dengan harus berbohong.


Lalu Roby tidak bertanya lagi. Alasan yang dikatakan Gino cukup membuat Roby paham. Sedangkan Putra, anak sulung Agus tidak peduli mau Wulan ada atau tidak. Adanya Wulan sebagai istri Agus, tidak membuat Putra merasakan adanya seorang ibu. Rasanya sama saja seperti tidak memiliki ibu. Karena Wulan hanya menyayangi mereka saat Agus ada di rumah, tetapi jika Agus sudah tidak ada di rumah, sikap Wulan akan berubah drastis menjadi cuek dan tidak mau peduli dengan Putra dan Roby.


"Oh iya, Gi. Nanti pulang dari kantor mampir ke rumah Naya ya?" ucap Suryo kemudian.


Gino langsung mengangguk semangat. Tetapi reaksi Nani langsung melirik jengah kepada Gino.


"Ayah mau titip-titip sesuatu. Tolong berikan pada bapak mertua kamu nanti ya?" tambah Suryo.


"Mau titip apa?" Nani menjadi kepo.


"Uang sumbangan untuk pernikahan Gino," jujur Suryo.

__ADS_1


"Berapa?"


"Tidak banyak, Nani."


"Iya berapa uangnya?"


"lima puluh juta."


"Banyak sekali! Itu terlalu banyak hanya untuk seorang janda yang menggelar pernikahan," sungut Nani. Merasa keberatan jika harus menyumbang sebanyak itu untuk keperluan pernikahan Gino.


"Yang menikah juga anak kamu, Gino. Uang segitu kamu perhitungan sekali." Suryo mendadak sensi juga.


Dulu saat menggelar pernikahan Agus, Suryo merogoh uang yang tidak sedikit untuk pesta pernikahan Agus dengan istri pertamanya. Meski Agus adalah anak tirinya, tetapi Suryo tidak pernah keberatan. Dan sekarang saat akan menyumbang untuk pernikahan Gino yang anak kandungnya, tentu ia langsung sensi ketika mendengar Nani yang keberatan dengan nominal yang tidak seberapa jika dibandingkan dengan biaya pernikahan Agus dulu.


Andai tabungan Suryo lebih banyak dari itu, tentu Suryo akan memberikan semuanya. Sayangnya Suryo juga harus menyisihkan tabungannya untuk modal di sawah yang selama ini menjadi sumber mata pencaharian keluarganya. Tetapi jika tiba saatnya panen nanti, Suryo berniat akan memberikan sebagian laba nya untuk Gino, anggaplah sebagai hadiah pernikahan.


Suasana seketika menjadi hening. Seharusnya momen sarapan bersama terasa nikmat, kali ini mendadak tidak berselera begitu saja. Suryo beranjak lebih dulu dari tempatnya, untuk kemudian pergi masuk ke kamarnya. Sedangkan Gino juga ikut menyudahi sarapannya.


"Ayo, Putra, Roby, om antar kalian ke sekolah," ucap Gino kepada Putra dan Roby.


"Tidak perlu, Gi, aku yang akan antar mereka ke sekolahnya," cegah Agus yang langsung mendapat pekikan bahagia dari Putra dan Roby yang memang jarang sekali mereka diantar ke sekolah oleh Agus.


Gino ikut tersenyum senang melihat wajah riang dua ponakannya. Kemudian Agus, Putra, dan Roby, keluar dari rumah untuk kemudian berangkat ke sekolah naik motor bonceng tiga. Sedangkan Gino masih berpamitan dulu kepada Nani.


"Ibu, aku berangkat ya," katanya yang kemudian bersalaman kepada Nani.


Nani bergeming saja. Tetapi ia juga tidak menolak saat Gino mencium tangannya bersalaman.


Saat Gino sudah bersiap akan masuk ke mobilnya, Suryo memanggilnya. Di tangan pria itu sudah ada amplop coklat yang kemudian menyerahkannya kepada Gino.


"Tolong berikan ini kepada bapak mertuamu. Sampaikan salam permintaan maaf ayah karena ayah hanya bisa membantu sedikit," ucap Suryo.


"Ibu sepertinya keberatan, Yah. Mm... Ayah boleh mengurangi lagi, nanti aku tambah tabunganku," kata Gino memberi solusi lain demi mengurangi rasa keberatan Nani.


"Tidak usah. Tabungan kamu, kamu simpan. Nanti kamu akan butuh keperluan yang banyak untuk urusan rumah tangga kamu. Maaf, Gi, ayah hanya bisa memberi sedikit, tidak bisa memberi pesta yang meriah untuk pernikahan kamu. Tabungan ayah adanya cuma segitu, semuanya kena pakai modal di sawah," jelas Suryo yang memang selalu terbuka kepada Gino.


Akhirnya Gino menerima pemberian ayahnya. Kemudian pria itu bersalaman juga kepada Suryo, dan setelah itu ia berangkat pergi dari rumah menuju kantor tempatnya bekerja.


*

__ADS_1


__ADS_2