
"Wanita mana yang ingin kamu lamar, Gi? Pacar kamu?" Tiba-tiba saja Suryo bertanya.
Tadi saat Gino berbicara dengan Nani, Suryo sedang melaksanakan sholat isya di kamar itu. Sedikit banyak pastilah Suryo juga mendengar yang dibicarakan Gino kepada Nani.
"Kok ayah tidak pernah tahu kalau kamu sudah punya pacar lagi?" tanya Suryo lagi, karena seingatnya setelah gagal tunangan itu Gino diketahui tidak pernah memiliki pacar lagi.
"Aku sama dia tidak pacaran, Ayah. Mm... Kami baru kenal. Tapi aku sangat yakin kalau dia adalah pilihan yang tepat buatku. Dia--"
"Kalian ta'aruf?" tebak Suryo, memotong bicara Gino.
"Hmm... Mungkin anak kita lagi jatuh cinta pada pandangan pertama," celetuk Nani menduga Gino seperti itu. Wanita itu tersenyum sendiri. Seakan hilang rasa demam yang sedang menderanya.
Tetapi Suryo tetap berwajah serius. Masalah memperistri orang itu urusan penting. Bukan karena berwajah cantik dan bermodal cinta saja. Bagi Suryo calon menantunya itu haruslah jelas bibit bebet dan bobotnya. Soal keturunan orang kaya atau tidak, Suryo tidak begitu mementingkan. Suryo sendiri bukanlah orang matrealistis yang harus besanan dengan orang yang sepadan dengannya. Tetapi Suryo lebih mementingkan akhlak dan wanita yang beriman. Minimal wanita yang akan menjadi pendamping Gino itu adalah wanita yang berpendidikan. Apalagi Gino adalah anak sulungnya. Jadi sudah wajar Jika Suryo menginginkan yang terbaik untuk Gino.
Pengalaman dari saat Agus menikah yang pertama dulu. Dasar Agus yang memang suka hidup seenaknya sendiri dan tidak mau dinasehati orang tua. Anggaplah Agus salah pilih istri. Karena setelah Agus memiliki dua anak, tiba-tiba istri Agus yang dulu hamil lagi dengan pria lain. Yang akhirnya berujung perceraian antara Agus dengan istri pertamanya.
Dan sekarang Wulan, istri Agus yang kedua juga tidak jauh berbeda dengan yang pertama. Agus memperistri Wulan karena parasnya yang cantik. Bermodal naffsu karena Wulan janda kembang. Tetapi sikapnya di rumah ini tidak disuka oleh Suryo dan Nani. Karena Wulan yang sepertinya lebih menyukai Gino dari pada Agus, suaminya sendiri.
Sedangkan Gino mulai gelisah sendiri. Ia kebingungan akan mulai dari mana untuk berterus terang kalau yang menjadi pilihannya itu bukan seorang gadis. Wajah Gino yang tertunduk itu membuat Suryo dan Nani menjadi curiga dengannya.
"Coba katakan yang jujur sama kita, Gino. Kalau mau meminta restu ayah ibu, kamu harus jujur dulu. Ceritakan semuanya bagaimana wanita yang sudah memikat hatimu itu. Keluarganya, pendidikannya, pekerjaannya, dan seperti apa orangnya," ucap Suryo kemudian.
Sejenak Gino menghela nafasnya dalam-dalam. Lalu mengangkat wajahnya untuk kemudian bercerita kepada ayah dan ibunya.
"Dia namanya Naya. Usianya masih dua puluh dua tahun. Dia--"
Sekilas Gino menghentikan bicaranya, kentara gugup.
"Lanjutkan, tidak usah gugup. Kalau kamu yakin dia itu pilihanmu, seharusnya kamu sudah siap menceritakan ini sama ayah ibu," lanjut Suryo.
__ADS_1
"Dia janda," ucap Gino dengan mantap.
Nani langsung beranjak duduk mendengar ucapan Gino. Kaget pastinya. Sedangkan Suryo hanya diam saja, lebih meneliti ke mata Gino, mencoba mencari kesungguhan itu di sana.
"Janda? Apa sudah tidak ada lagi stok gadis di bumi, Gino? Dunia ini luas!" sargah Nani kentara kecewa.
Tangan Suryo menyentuh pundak Nani. Menggeleng kecil menatap Nani. Mengisyaratkan untuk tetap bersabar dan tidak tersulut emosi sebelum mendengarkan penjelasan Gino sampai akhir.
"Apa yang membuat kamu tertarik dengan dia?" tanya Suryo semakin serius.
"Karena dia wanita yang sabar. Sederhana dan baik," aku Gino sudah mulai bisa tenang.
"Cari yang gadis juga banyak yang seperti itu. Nggak harus janda juga kan?" Rasa kecewa Nani masih terlihat dengan jelas.
"Aku mencintainya, Bu. Aku mencintainya dengan tulus. Meski dia sudah memiliki anak, tetapi aku menerima dia apa adanya," ucap Gino sudah tidak ada keraguan lagi dengan perasaannya terhadap Naya.
"Sudah punya anak?!" Nani semakin dibuat kaget mendengar pernyataan itu.
"Astaghfirullah... Nani!" tegur Suryo dengan tatapan tajamnya kepada Nani.
Nani hanya melengos. Dadanya terlihat bergemuruh karena rasa kecewanya kepada Gino.
"Apa pekerjaan dia, Gino?" Suryo bertanya lagi.
"Dia hanya bekerja di warung bakso."
"Tuh kan! Apa aku bilang? Gino pasti sudah kena guna-guna sama dia! Ah, entahlah! Perempuan yang sepadan dengan kamu itu sebenarnya banyak, di kantor kamu juga banyak kan?" Lagi-lagi Nani ikut bersuara dengan keyakinannya yang menduga Gino terkena jampi.
"Nani, tolong jangan emosi dulu. Biar Gino cerita dulu sampai selesai. Aku yakin anak kita ini tidak terkena guna-guna apapun," tegur Suryo dengan bijak.
__ADS_1
"Alaah... Kamu itu selalu tidak percaya omonganku! Nanti kalau Gino ada apa-apa di belakang, baru kamu tahu rasa!"
"Astaghfirullah... Nani!" Sepertinya Suryo harus ekstra sabar menghadapi istrinya yang sudah terbakar emosi itu.
Entahlah! Emosi apa gengsi lebih tepatnya.
"Apa kamu sudah yakin dengan keputusanmu itu, Gino?" tanya Suryo dengan bijak.
Karena menikahi janda yang memiliki anak tanggungjawabnya lebih besar daripada hanya menikahi janda tanpa anak. Setidaknya ia juga harus menganggap anaknya seperti anaknya sendiri. Membiayai kebutuhan hidupnya dua kali lipat dari yang menikahi seorang gadis.
Sebab apa yang menjadi keputusan Gino ini mirip dengan Suryo dulu. Dahulu, Suryo menikahi Nani yang seorang janda beranak satu juga. Makanya Suryo tidak begitu kaget ketika Gino menceritakan yang sebenarnya.
"Apa perlu ayah yang melamarkan dia kepada orang tuanya?" tanya Suryo lagi yang seketika membuat Gino tercengang kaget.
Kebahagiaan Gino adalah segalanya bagi Suryo. Gino adalah lelaki dewasa. Pastilah ia sudah bisa bertanggungjawab dengan pilihan hidupnya. Suryo yakin jika Gino bisa berkomitmen dengan keputusannya itu.
Sekilas helaan nafas lega berhembus dari dada Gino. Dari pertanyaan ayahnya itu sudah dipastikan jika Suryo telah merestuinya.
"Sudah ada orang yang siap bantu aku untuk melamarnya, Ayah. Aku hanya ingin restu dari ayah sama ibu."
Suryo tersenyum menatap Gino. Berbeda dengan Nani yang betah membuang muka dari Gino.
"Aku mau istirahat, kamu bisa keluar dari sini," sargah Nani dengan ketus. Wanita itu kemudian berbaring lagi, tetapi dengan posisi memunggungi Gino.
Gino yang mendengar itu tentu sadar diri. Gino memaklumi jika Nani kecewa dengan pilihannya. Tetapi apa boleh di kata, hatinya sudah terlanjur terpikat dengan janda itu.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi ada seseorang yang dengan sengaja menguping obrolan mereka dari balik pintu kamar itu. Orang itu mengepalkan tangannya dengan erat. Merasa tersakiti mengetahui Gino ingin melamar pujaan hatinya. Walau sempat tersenyum saat Nani terang-terangan tidak merestui nya, tetapi kembali merasa sakit hati saat mendengar Suryo yang tidak keberatan dengan pilihan Gino itu.
Siapakah orangnya?
__ADS_1
*