Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 65


__ADS_3

Naya dan Gino tiba di rumah. Naya langsung masuk rumah dan menidurkan Lala dalam kamarnya. Setelah itu Naya keluar lagi untuk menemui Gino yang sudah duduk di ruang tamu.


"Mas, aku-- tinggal mandi dulu ya, tubuhku rasanya nggak enak banget. Maaf loh ya," ucap Naya tak enak sendiri. Tetapi meski begitu sudah ada Abdul yang duduk menemani Gino.


Gino mengangguk setuju. Setelah itu Naya pergi untuk kemudian mandi.


"Maaf ya nak Gino, kami sudah merepotkan kamu," kata Abdul menyapa Gino.


Gino tersenyum hangat. "Tidak apa-apa, Pak. Mm... Motornya dek Naya tadi aku suruh Riki yang bawa."


Abdul hanya mengangguk. Rasanya tak salah lagi ia memilih menantu perhatian seperti Gino.


"Mm... Begini, Pak. Sebenarnya tujuan aku ke sini karena ayah titip sesuatu buat bapak," kata Gino yang kemudian menyerahkan amplop berwarna coklat itu kepada Abdul.


Abdul menerimanya, kemudian mengintip isi dalam amplop itu.


"Ini terlalu banyak, nak Gino," kata Abdul yang kemudian meletakkan amplop itu di atas meja.


"Tolong terimalah, Pak. Ayah titip salam maaf karena cuma bisa menyumbang segitu."


Gino menyerahkan kembali amplop itu kepada Abdul. Akhirnya Abdul mau menerimanya walau sejujurnya merasa tidak enak sendiri. Sebelumnya Abdul sudah tahu kalau besannya akan menyumbang sejumlah uang untuk keperluan pernikahan Gino dan Naya. Tapi setelah tahu berapa nominalnya, itu termasuk besar untuk Abdul yang memang dari kalangan keluarga biasa.


"Baiklah, bapak terima, nak Gino. Sampaikan ucapan terimakasih bapak sama ayah kamu."


Gino mengangguk lega. Tak lama setelah itu Naya menemui mereka sambil membawa dua bungkus nasi goreng yang tadi dibeli oleh Fifi. Wajah wanita itu sudah segar meski tanpa make up sama sekali. Melihat Naya sudah duduk bersama, maka Abdul memilih beranjak, memberikan ruang untuk mereka berdua bisa mengobrol bersama.


"Mas, nasi gorengnya sudah dingin, tapi kalau nggak dimakan entar mubadzir," ucap Naya.

__ADS_1


"Ya udah, ayo makan. Perut aku juga sudah lapar," sahut Gino yang memang sudah merasa lapar.


Naya membuka satu bungkus nasi goreng itu untuk Gino. Tetapi saat Naya akan membuka bungkusan miliknya Gino mencegahnya.


"Makan berdua aja, Dek. Ini porsinya lumayan banyak. Yang itu bisa buat yang lain," ucap Gino.


Naya langsung mengiyakan. Kemudian mereka berdua makan dalam piring yang sama, sudah tanpa rasa canggung lagi.


***


Waktu berjalan dengan begitu cepat. Tak terasa pernikahan Gino dan Naya sudah mendekati hari-H. Sudah banyak sanak saudara yang datang ke rumah Naya untuk membantu acara pernikahan yang akan digelar tiga hari lagi. Sudah menjadi kebiasaan dilingkungan rumah Naya, setiap ada gelaran hajatan seluruh keluarga atau kerabat akan selalu guyub untuk saling membantu.


Pernikahan Naya terbilang cukup meriah bagi seorang janda sepertinya. Abdul sengaja mengundang grup musik gambus untuk memeriahkan acara pernikahan Naya. Sengaja Abdul tidak mengundang penyanyi dangdutan karena memang rumah Abdul berdekatan dengan masjid. Rasanya kurang etis saja mendatangkan biduan yang bergoyang-goyang sedangkan tak jauh dari sana ada tempat peribadatan.


Tak ayal pernikahan Naya yang seperti itu menjadi buah bibir para tetangga yang julid. Mereka yang menyukai Naya mengatakan kalau Naya wanita yang beruntung. Menikah dua kali, dua kali pula dirayakan pesta pernikahannya. Sedangkan pendapat tetangga julid seperti mpok Tun, langsung mengatakan kalau pesta Naya seperti tidak malu dengan anak. Sudah janda punya anak masih sok-sok-an bikin pesta pernikahan, begitulah ucapan mpok Tun yang sampai didengar oleh telinga keluarga Abdul. Tetapi meski begitu, keluarga Abdul menganggap omongan mpok Tun itu seperti angin berlalu saja.


"Nggak pa-pa, Nay. Keluarga Gino menyumbang nya cukup banyak, masa iya bapak mau biasa saja. Iya kamu sudah menikah kedua kalinya, nah, untuk Gino ini kan baru pertama? Bapak kasihan sama Gino, Nay. Pernikahannya sudah jadi satu di sini, jadi bapak ingin semuanya maksimal," jawaban Abdul waktu itu.


"Lagian kamu nggak perlu dengerin omongan orang. Biar saja mereka ngomongin apa tentang kamu. Ini sudah rejeki kamu, nikahnya dirayakan dua kali," tambah Abdul.


***


Sore menjelang. Naya bersiap untuk keluar rumah, meski tahu mungkin untuk mendapatkan ijin keluar akan sulit bagi calon pengantin seperti dirinya, tetapi sore ini Naya harus bisa keluar rumah.


"Buk, aku pamit ke apotik sebentar," pamit Naya kepada Rahma. Terpaksa berbohong, demi misi tercapai.


"Mau beli apa, Nay? Minta tolong Riki saja sana," Rahma tidak langsung mengiyakan.

__ADS_1


"Beli obat, Buk. Bentar doang kok, setelah ini aku nggak keluar lagi," seru Naya. Pokoknya harus bisa keluar saat ini.


"Ya sudahlah, jangan lama-lama pokoknya."


Akhirnya Rahma menyerah, mengijinkan Naya keluar rumah walau sedang dalam masa pingitan. Beruntung saat Naya keluar tidak ada Abdul di sana, jadilah Naya bisa bebas pergi tanpa banyak drama.


Siapa sangka ternyata Naya pergi ke rumah bidan. Setelah mengantri lima belas menitan, tibalah giliran Naya yang masuk ke ruangan pemeriksaan.


Ibu bidan itu langsung menyambut ramah kepada Naya. Setelah menanyakan apa tujuan kedatangan Naya, maka kemudian bidan itu segera melaksanakan kemauan Naya.


"Ini kartunya. Nanti ibu bisa kembali lagi sesuai tanggal yang tercatat di kartu ini," kata bidan itu kepada Naya.


"Baik, terimakasih Bu bidan."


Kemudian Naya keluar dari ruangan itu dan memilih segera pulang ke rumah. Tetapi sebelum itu Naya mampir ke apotik untuk membeli obat. Meski sedang tidak butuh membeli obat itu, tetapi demi mulusnya misi terpendam nya maka terpaksa Naya membeli obat tersebut.


Hampir maghrib Naya tiba di rumahnya lagi. Dan benar saja, Rahma yang penasaran Naya membeli obat apa langsung bertanya ketika Naya datang.


"Beli sirup paracetamol buat stok, Buk," ucap Naya sambil menunjukkan bungkusan obat itu kepada Rahma.


Naya yang memang biasa menyediakan obat paracetamol untuk Lala, maka Rahma memaklumi itu. Kemudian segera Naya masuk ke kamarnya, demi menghindari rentetan pertanyaan yang lain kepadanya. Sesampainya di kamar, Naya akhirnya bisa bernafas dengan lega.


Wanita itu mengeluarkan kartu kontrol dari bidan tadi. Sejenak menatapnya lekat-lekat. Jujur, Naya tidak mau melakukan ini. Tetapi semuanya terpaksa ia lakukan karena sikap Nani yang tak kunjung ada perubahan kepadanya.


Hayoo... Kira-kira apa ya yang Naya lakukan?


*

__ADS_1


__ADS_2