Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 86


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Hari ini Naya dan Gino tengah bersiap-siap berangkat ke rumah pak lek Hadi untuk menghadiri undangan pernikahan anak bungsu beliau. Sepupu Gino itu sebenarnya sudah tercatat menikah sebulan yang lalu, dan hari ini adalah pesta pernikahannya.


Mereka bertiga berangkat bersama dengan mengenakan pakaian couple khas keluarga kecil yang bahagia. Penampilan Lala saat ini lebih menggemaskan dengan rambutnya yang dikuncir dua, pipi bocil itu juga semakin chubby efek nafsu makannya yang semakin meningkat. Sebenarnya Naya merasa tidak begitu pede membawa Lala pergi bersama, karena baru kali inilah, setelah menikah dua bulan lamanya bersama Gino, Naya membawa Lala bergabung dengan keluarga besar Gino yang lainnya. Walau tidak sedang mendatangi rumah mertuanya, tetapi rasa cemas itu sangat kentara di wajah Naya.


Sedangkan Gino terus menyemangati Naya untuk tetap tenang. Pria itu terus meyakinkan Naya untuk tidak gugup. Dan lagi Gino sangat tahu bagaimana pak lek Hadi dan keluarga lainnya, beliau tidak seperti Nani, beliau tidak mempermasalahkan Gino menikahi seorang janda, karena urusan jodoh itu sudah takdir dari Tuhan.


Saat ini mereka sudah tiba di rumah pak lek Hadi. Nampak Suryo langsung tersenyum lebar begitu mengetahui Gino akhirnya mau membawa Naya dan Lala untuk berkumpul dengan keluarga yang lainnya. Karena selama ini Gino memang selalu datang sendiri bila sedang berkunjung ke rumah orang tuanya. Bukan tidak mau membawa Naya, bukan karena malu pada tetangga karena istrinya adalah seorang janda yang memiliki anak, tetapi karena Gino tidak ingin menyakiti hati dan perasaan Naya, karena sikap Nani yang masih kentara tidak membuka hati untuk Naya. Itulah yang Gino hindari saat ini.


"Nah, begitu dong. Ayah senang melihat kalian begini," seru Suryo sambil menepuk-nepuk bahu Gino karena bahagia.


Gino hanya tersenyum tipis. Mata pria itu celingukan mencari keberadaan ibunya, dan Suryo langsung peka dengan itu.


"Ibumu di dalam, lagi ngobrol sama bu lek mu, temui sana," ujar Suryo.


Gino tak langsung mengangguk. Pria itu malah menoleh kepada Naya yang sedari tadi terus menundukkan wajahnya. Sedangkan Lala sendiri tahu-tahu sudah ada dalam gendongan Suryo.


"Kamu tambah gendut aja, mbah kung hampir tidak kuat gendong Lala lagi," kata Suryo menyapa Lala.


Lala hanya tertawa kecil saat pipi chubby nya di cubit gemas oleh Suryo. Kemudian Suryo sengaja beranjak dari tempat itu dengan membawa Lala pergi bersamanya, memberi kesempatan kepada Gino dan Naya untuk menemui Nani. Sengaja Suryo membawa Lala bersamanya karena pria itu tidak ingin mata polos Lala melihat kemungkinan kejadian yang tidak mengenakkan. Karena otak anak kecil lebih sensitif dan akan merekam dengan ingatannya apa yang pernah dilihatnya semasa kecil.


"Ayo, Dek," ajak Gino sambil menggandeng tangan Naya.


Akhirnya mereka berdua pergi menemui Nani.


Hadi yang melihat pemandangan seperti itu walau dari kejauhan ikut merasa terenyuh. Andai Gino adalah anak kandungnya, ia dan istrinya tidak akan mempermasalahkan dengan siapa Gino memilih pasangan hidup. Sebab dari sorot mata yang dipancarkan Gino saat ini, Hadi tahu betul rasa cinta itu teramat besar dan dalam kepada Naya. Dan Gino bahagia dengan itu.

__ADS_1


"Eh, mbak yu, ada Gino sama istrinya tuh," seru bu lek yang pertama kali melihat Gino dan Naya masuk ke rumah.


Nani menoleh ke mana arah iparnya itu menunjuk. Ekspresi Nani tetap seperti biasanya, flat! Tetapi bersyukurnya Nani mau menerima uluran tangan Naya saat ingin bersalaman dengannya. Walau sudah pernah ada momen masak bersama antara keduanya, tetapi entah mengapa hati Nani masih agak alot untuk bisa bersikap hangat kepada Naya.


Bahkan Nani tidak bertanya kemana Lala. Wanita itu malah kembali menyibukkan diri membantu ibu-ibu yang sedang riweh di dapur. Istri pak lek Hadi yang melihat itu langsung menyuruh Gino dan Naya pergi ke depan, untuk bisa menikmati makanan. Maka kemudian Gino dan Naya keluar dari rumah itu, untuk menyapa pengantin dan lalu menikmati makanan yang sudah disediakan.


Saat Gino dan Naya sedang asyik menikmati makanannya, pak lek Hadi mendekati mereka. Sedangkan istrinya pak lek Hadi tetap ada di dalam rumah untuk merayu Nani agar tidak mengurung diri dalam rumah setelah kedatangan Gino dan Naya.


"Ditambah lagi, Nduk, masakannya ya cuma begini adanya," kata Hadi menyapa Naya.


Naya hanya mengangguk kikuk. Adik kandung Suryo itu terlihat sama ramahnya seperti Suryo.


"Sudah nabung nggak, Gi?" Giliran Hadi menyapa kepada Gino.


"Nabung duit?" tanya Gino asal.


Wajar saja kalau Hadi menanyakan itu, sebab pernikahan Gino sudah memasuki dua bulan, siapa tahu Naya sudah hamil menurut Hadi. Karena anak menantu Hadi yang saat ini duduk di pelaminan sudah hamil dua minggu, makanya bawaan pengantin perempuannya saat ini terlihat lesu seperti tidak bersemangat.


"Oh, belum pak lek, do'akan saja supaya aku segera diberi amanah momongan," sahut Gino santai sekali.


Berbeda dengan apa yang dirasakan Naya sekarang. Jujur, wanita itu merasa seperti memiliki dosa yang teramat besar karena selama ini tidak jujur kepada Gino soal KB yang dipakai Naya. Tetapi melihat ibu mertuanya yang belum kunjung ada perubahan, membuat Naya mengesampingkan rasa bersalahnya itu dengan berpura-pura biasa saja.


"Tuh, istrinya Ilham sudah hamil dua minggu, makanya orangnya pucat meski sudah di make-up," sambung Hadi.


"Wah, berarti termasuk cepat ya, Pak lek?" Gino sangat berantusias mendengar berita itu.

__ADS_1


"Ya, alhamdulillah, tak lama lagi mereka sudah jadi bapak ibu." Hadi mengatakannya dengan sorot mata yang berbinar bahagia.


Sedangkan Naya memilih bungkam. Bila sedang membahas momongan begini ingin rasanya Naya menghindar sebentar, agar hatinya tidak semakin merasa bersalah sendiri.


Melihat Naya yang banyak diamnya, Gino meraih tangannya untuk digenggam. Bermaksud agar Naya tidak tersinggung dengan ucapan Hadi karena membandingkan anak menantunya yang cepat hamil daripada Naya.


"Nggak pa-pa, Nduk. Pak lek bicara begini bukan untuk memanas-manasi kalian, sama sekali tidak. Yang pak lek rasakan sekarang adalah kebahagiaan yang berlipat ganda. Bahagia karena kehamilan istrinya Ilham, juga bahagia karena kamu mau datang ke sini. Lain kali main-main ke sini meski Gino tidak mengantar, bawa anakmu juga. Jangan sungkan-sungkan. Biar begini aku ini juga mertua kamu," ucap Hadi berusaha menenangkan perasaan Naya takut tersinggung karena ucapannya.


Naya merespon dengan tersenyum tipis. Gino pun sama. Tak lama setelah itu datanglah Suryo bersama Lala. Di tangan bocah itu sudah menggenggam dua balon yang dibelikan oleh Suryo.


"Mama... Papa..." pekik Lala memanggil kedua orang tuanya sambil berlarian.


Gino meletakkan piringnya ke meja. Tangannya langsung membentang menyambut Lala yang datang. Lalu setelahnya Lala sudah ada dalam pangkuan Gino.


"Lala mau makan tidak?" tawar Gino kepada Lala.


Bocah itu mengangguk senang. Kemudian Gino mulai menyuapi Lala dari piring makanannya. Bocah itu sangat lahap menikmati makanannya.


"Pantes saja pipimu tambah gembul, makannya pinter begitu," puji Suryo kepada Lala.


"Dia memang paling suka kalau disuapin mas Gino, Yah," kata Naya ikut menyahut.


Suryo tertawa ringan mendengarnya.


"Dari dulu Gino memang pintar mengambil hati anak kecil. Tuh si Putra sama Roby saja lebih akrab sama Gino daripada sama bapaknya sendiri," kata Suryo sambil tertawa senang.

__ADS_1


*


__ADS_2