Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 99


__ADS_3

Suryo turut mengantar kepulangan besannya hingga ke pintu utama rumah sakit. Pria itu bahkan menyampaikan jika ia sangat merindukan Lala. Abdul dan Rahma hanya bisa tersenyum senang mendengar ucapan Suryo.


"Semoga saja nanti anak Gini perempuan," ucap Suryo yang memang sangat menginginkan cucu perempuan.


Di rumahnya sudah ada dua cucu laki-laki, jadi wajar saja jika Suryo mengharapkan anak dari Gino adalah perempuan.


"Wah, padahal saya pinginnya dapat cucu laki-laki, Pak, karena cucu saya di rumah sudah perempuan," sahut Abdul sedikit terkekeh.


"Karena Lala itu saya jadi sangat menginginkan cucu perempuan. Nanti besarnya pasti menggemaskan juga seperti kakaknya," balas Suryo dengan wajah berbinar.


Lala tumbuh menjadi bocah riang dan cerdas. Rasa humor bocah itu juga tinggi sehingga mampu menghilangkan rasa penat di saat sudah bergurau dengannya. Suryo pernah merasakan momen itu. Berulang kali Suryo juga pernah meminta Gino untuk membawa Lala saat berkunjung di rumah, tetapi Gino tidak pernah mengabulkannya sekalipun.


"Apalagi jarak usia mereka tidak terlalu jauh. Pasti nanti akan lucu sekali jika ada dua cucu perempuan," lanjut Suryo dengan tersenyum senang membayangkannya.


"Yang terpenting nanti Naya sama bayinya sehat dan selamat. Urusan laki-laki apa perempuan itu terserah Tuhan. Pasti ada hikmahnya sendiri buat kita." Rahma ikut bersuara.


Suryo dan Abdul kompak mengangguk dengan mulut mengucap lafadz amin untuk keselamatan Naya dan calon bayinya.


Saat ini mereka sudah berada di parkiran rumah sakit. Abdul dan Rahma berpamitan untuk yang kesekian kalinya. Setelah itu mereka berpisah di sana. Karena Suryo kembali masuk ke dalam rumah sakit.


"Nak Mila," sapa Suryo kepada istrinya Agus yang saat itu menjaga Nani di kamar pasien.


"Iya, Ayah," sahut Mila.


"Kamu sudah telpon Agus?"


Sebelumnya Suryo menyuruh Mila untuk menelpon Agus agar menjemputnya. Suryo tidak tega melihat kondisi Mila yang lagi hamil muda begitu ikut capek menjaga Nani.


"Sudah, Ayah."


"Kenapa lama?"


"Mas Agus masih mampir beli soto dulu, Ayah. Mungkin antri belinya."


Suryo mengangguk lega. Setelah itu pria itu duduk di dekat Nani. Tak disangka ternyata Nani terbangun karena Suryo tak sengaja menarik kursinya agak keras.


"Gino mana?" Nani langsung menanyakan keberadaan Gino.


"Gino pulang, nanti kembali lagi," sahut Suryo.


"Ibu mau minum tidak?" tawar Mila kepada Nani.


"Tidak."


"Kamu duduk saja, Nak Mila, jangan ikutan berdiri," ucap Suryo khawatir Mila tiba-tiba pusing.


Mila beranjak dan kemudian duduk di sofa yang ada di kamar itu.


"Barusan ada orang tua Naya ke sini, tapi kamu lagi tidur," ucap Suryo menyampaikan salam dari Abdul.

__ADS_1


Reaksi Nani hanya bergeming saja. Dan Suryo hanya bisa menarik nafas panjang tiap kali melihat reaksi Nani yang seperti itu.


Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Rupanya ada Gino dan Agus yang datang bersamaan.


"Ayah, aku belikan ayah soto ayam. Jangan lupa dimakan," ucap Agus yang kemudian meletakkan bungkusan kresek yang dibawanya ke atas meja.


"Iya, Gus, nanti ayah makan."


Sedangkan Gino meletakkan tas kecil yang dibawanya didekat Mila duduk. Nani yang melihat bawaan Gino itu langsung bertanya penasaran.


"Kamu bawa apa, Gi?"


"Pakaian buat ke kantor besok," jawab Gino benar adanya.


"Kamu mau menginap di sini lagi?" Pertanyaan Suryo terkesan bernada tak setuju.


Gino hanya mengangguk.


Agus dan Mila sama-sama melirik kepada Gino. Sebenarnya Mila tahu kalau Naya juga sedang mengandung karena tadi tidak sengaja mendengar obrolan antara Suryo dan Abdul. Dan Mila yakin nada bicara Suryo yang seperti itu pasti karena kepikiran Naya takut tidak ada yang mendampingi di sana.


Kemudian Gino mendekati Nani. Sedangkan Suryo terus saja menatap tajam kepada Gino.


"Dek, kamu mau makan soto tidak?" tawar Agus kepada Mila.


Boro-boro mau makan soto, saat Agus membuka bungkus soto itu saja Mila sudah mual-mual. Maka kemudian Mila berlari masuk ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya di sana, tentunya dengan didampingi Agus juga.


Gino yang melihat pemandangan seperti itu tentu langsung teringat Naya. Tiba-tiba ia kangen Naya. Ingin pulang menyusul Naya, tetapi hati masih berat untuk meninggalkan ibundanya.


"Ah, iya, Bu."


"Kamu sudah makan, Nak?" tanya Nani karena ia tahu yang menjaganya dari kemarin hingga tadi pagi adalah Gino.


"Sudah, Bu." Dusta Gino.


Padahal dari pagi perut Gino hanya terisi satu cangkir kopi saja.


Setelah menjawab pertanyaan Nani, Gino kembali melihat ke arah kamar mandi, di mana Agus dan Mila belum keluar dari sana.


"Kalau mau pulang, pulang saja. Tengok istri sama anakmu. Mereka di sana juga butuh perhatian kamu. Tidak usah mencemaskan ibumu, di sini sudah ada ayah. Ayah yang lebih bertanggung jawab untuk menjaga ibumu. Sedangkan kamu bertanggung jawab untuk menjaga istrimu," ucap Suryo dengan jelas.


Gino tercekat mendengar ucapan ayahnya itu. Apa yang dikatakannya itu memang benar. Ia adalah seorang suami yang harus memperhatikan istrinya di rumah. Cuma sebagai anak, ia juga ingin berbakti dan ikut merawat orang tuanya ketika sakit begini.


"Pulanglah, Gi, ibu tidak apa-apa," ucap Nani kemudian.


Wanita itu tidak mau ada keributan di rumah sakit setelah melihat sorot mata Suryo yang nanar menatap Gino.


Terlihat Agus dan Mila sudah keluar dari kamar mandi. Mila dirangkul oleh Agus karena tubuhnya yang lemas efek isi perutnya habis terkuras barusan. Sedangkan Gino langsung peka untuk memindahkan bungkusan soto itu untuk menjauh dari Mila. Bertindak begini saja Gino teringat Naya lagi.


"Ayah, Ibu, kita pamit pulang," kata Agus kepada kedua orang tuanya.

__ADS_1


Nani dan Suryo sama-sama menganggukkan kepala.


Gino bersigap untuk membukakan pintu untuk Agus dan Mila. Setibanya di luar ruangan kamar itu, Agus mengajak Gino mengobrol sebentar.


"Selamat ya, Gi, aku baru tahu kalau istri kamu hamil juga," ucap Agus yang tentunya membuat Gino kaget mendengarnya.


"Nggak usah kaget begitu. Ibu nggak mungkin denger kok," kata Agus lagi. Karena memang saat ini mereka mengobrol di luar, yang tentunya pintu kamar inap Nani sudah tertutup rapat.


"Ah, terimakasih, Mas. Mas Agus juga selamat, sebentar lagi sudah mau punya tiga anak. Semoga bayinya cewek ya, Mas," ucap Gino juga.


"Aamiin..."


Agus yang memang mendambakan memiliki anak perempuan dari kehamilan Mila ini langsung mengamini ucapan Gino.


"Tapi-- Mas Agus tahu dari siapa kalau Naya hamil?"


"Dari Mila."


"Aku nggak sengaja dengar ayah sama bapak mertua kamu ngobrol, Dek Gino," ucap Mila menjelaskan.


"Bapak mertua?" kaget Gino.


"Iya, barusan bapak ibu mertua kamu datang menjenguk ibu ke sini," jelas Mila lagi.


Mendengar itu Gino semakin kepikiran Naya. Itu artinya saat ini Naya pasti hanya berdua dengan Lala di rumah. Jika ada apa-apa dengan mereka bagaimana?


"Hei! Kok malah bengong, Gi!" sentak Agus mengagetkan Gino.


"Ah, kalian pulanglah! Aku juga mau pulang," ucap Gino sudah tekad akan pulang menemui Naya.


"Loh, katanya mau nginep lagi mau jagain ibu?" ucap Agus.


Gino tidak menjawabnya. Pria itu langsung masuk lagi ke dalam kamar rawat Nani.


"Mau ke mana, Gi?" tanya Nani karena melihat Gino seperti orang terburu-buru.


"Mm... Ibu, Ayah, aku mau pulang. Aku kepikiran Naya," pamit Gino pada ayah ibunya.


"Iya, pulanglah!" sahut Suryo.


Pria itu pun kemudian meraih tangan kedua orang tuanya untuk kemudian bersalaman. Dan Nani, lagi-lagi hanya bereaksi dingin tiap kali Gino menyebut nama Naya di depannya.


Tatapan mata Nani terus saja menatap ke arah pintu, meski Gino sudah keluar dari sana.


"Naya juga lagi kurang sehat, Nani. Jadi biarkan saja Gino pulang untuk merawatnya. Gino lebih bertanggung jawab untuk menjaga istrinya. Kamu do'akan saja supaya Naya lekas sehat lagi," ucap Suryo.


"Memangnya dia sakit apa?" Nani penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Tetapi semoga saja ini pertanda baik. Siapa tahu ternyata Naya mengandung. Mengandung cucu kita, Nani. Anaknya Gino," kata Suryo, yang sebenarnya memasang kode kepada Nani.

__ADS_1


Ingin memberi tahu yang sebenarnya kepada Nani, tetapi Suryo takut istrinya itu akan perang dingin setelah mendengar ini. Jadi-- Biar saja tetap menjadi rahasia sementara.


*


__ADS_2