Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 19


__ADS_3

Naya masih menundukkan wajahnya saat Abdul dan Rahma bertanya tentang bagaimana pendapatnya tentang lamaran itu. Pikirannya masih sangat kaget, sama sekali tidak menyangka jika Gino benar-benar serius seperti yang pernah Budi dan Yuli katakan sebelumnya. Lantas mengapa Gino tidak langsung bicara saja dengannya jika ingin melamarnya saat datang ke sini kemarin?


"Naya," Abdul menyapa lagi, dan Naya akhirnya mengangkat wajahnya menatap Abdul.


"Bagaimana menurut kamu, Nak? Apakah kamu mau menerima lamarannya? Kalau kamu juga mau menolak tidak apa-apa, katakan saja, jangan cuma diam," kata Abdul penuh bijak.


"Kamu boleh pikir-pikir dulu, Nay, tapi jangan lama-lama. Soalnya ustadz Arif juga menunggu jawabannya. Kalau kamu masih ragu kamu bisa sholat istikharah dulu. Ibu sama bapak cuma bisa dukung apa keputusan kamu." Rahma ikut bersuara.


Naya mengangguk pelan. Ia memang tidak bisa memberi keputusan secepat ini. Seandainya yang datang melamarnya sudah tahu kalau lelakinya tidak baik, mungkin Naya akan langsung menolaknya tanpa harus berpikir lama. Tetapi yang datang melamar kali ini adalah Gino, lelaki yang Naya anggap patut untuk dipertimbangkan.


Sedangkan Abdul dan Rahma sengaja tidak memberitahu Naya tentang pekerjaan asli Gino. Mengingat alasan Gino menutupinya karena ingin mencari wanita yang mau menerima dirinya apa adanya. Bukannya Abdul dan Rahma tidak percaya jika Naya bukanlah wanita matre, tetapi biarlah semuanya berjalan sesuai alur yang Gino inginkan.


Entah mengapa setelah Abdul dan Rahma sama-sama merenung tadi selepas sholat maghrib, mereka merasa tidak keberatan memiliki menantu seperti Gino. Bukan karena sudah tahu apa pekerjaan Gino yang sebenarnya. Tetapi ucapan Sholeh dan hinaan orang yang dibawa Sholeh saat itu yang membuat Abdul dan Rahma merasa sayang jika harus menolak lamaran Gino.


Jujur, hati dan perasaan kedua orang tua Naya masih panas mengingat hinaan Sholeh kepadanya. Dan sepertinya balasan untuk membungkam mulut Sholeh itu adalah memiliki menantu seperti Gino. Karena semua tipekal mapan itu sudah ada pada sosok Gino.


Mereka tahu, memiliki hati dendam itu tidak baik. Tetapi sepertinya kali ini alam tengah berpihak kepadanya. Hanya tinggal menunggu keputusan Naya saja. Dan semoga Naya mau menerima lamaran Gino. Begitulah harapan Abdul dan Rahma.


Sebenarnya mereka bisa saja bilang kepada Naya jika mereka setuju dengan Gino. Tetapi kejadian perjodohan Naya yang pertama dulu, yang membuat mereka sedikit jera memaksakan kehendak kepada Naya lagi. Mereka tidak mau membuat Naya bersedih lagi seperti yang dialami pada perjodohan yang pertama, saat dilamar oleh ayahnya Lala.

__ADS_1


Fifi yang ternyata diam-diam sedang menguping obrolan mereka tentu sangat kaget mendengarnya. Gadis itu tiba-tiba kepikiran nasib Wahyu setelah ini. Bagaimana jika akhirnya Naya mau menerima Gino? Ini tidak bisa dibiarkan. Fifi harus segera memberitahu Wahyu kabar ini.


"Ah, sial!" umpat Fifi kesal sekali, setelah ingat jika handphone miliknya masih disita oleh Abdul gegara kejadian tempo hari yang pergi ke gunung Bromo tanpa berpamitan.


"Bagaimana ini?" Fifi berjalan mondar-mandir dalam kamarnya. Berpikir keras bagaimana caranya agar ia bisa mengabarkan berita ini secepatnya sebelum terlambat.


Akhirnya setelah berpikir agak lama, Fifi mulai menemukan ide. Perlahan ia membuka pintu kamarnya, sedikit mengintip ke arah di mana Abdul, Rahma dan Naya masih duduk. Lalu kemudian keluar dari kamarnya pura-pura mau ke dapur.


Di dapur itu Fifi lanjut pergi ke teras samping rumah, karena di sana ia melihat Riki sedang duduk santai sambil memainkan ponselnya.


"Riki, pinjem hapenya dong," ucap Fifi to the point.


"Aaah... Riki! Kebiasaan deh kalau udah main nggak pernah dengerin orang ngomong," protes Fifi karena Riki memang sering begitu tiap kali sudah asyik bermain game.


"Apa, Mbak?" sahut Riki dengan santai, tetapi tatapannya masih fokus pada permainan kesukaannya itu.


"Aku pinjam hapenya bentar, aku mau nelpon temanku," kata Fifi alasan.


"Palingan mau nelpon cowoknya. Nggak usah alasan deh," Riki langsung menebak sesuai instingnya.

__ADS_1


"Nggak! Iiih... Nggak percayaan amat sih! Aku mau nelpon temanku karena aku mau nanya tugas sekolah. Ini penting, Riki! Jangan pelit-pelit aaah..." kesal Fifi.


"Bukannya mau pelit, Mbak, tapi paketanku nipis. Ini aja aku bobol sandi wifi tetangga." Riki mengatakannya sambil sedikit berbisik.


"Astaga! Kamu maling ya?" Fifi tercengang mendengar pernyataan Riki yang memang lumayan pintar perihal IT.


Lalu dengan santainya Riki beranjak dari tempatnya duduk. Berjalan masuk ke dapur dan terus masuk ke kamar. Sedang mata dan jari-jari tangannya dari tadi terus fokus pada layar ponselnya.


Fifi yang merasa tak dihiraukan itu tentu bertambah kesal rasanya. Niat hati ia ingin menelpon Irwan dengan meminjam hape Riki untuk memberitahu perihal Naya, dan akan meminta tolong Irwan yang menyampaikan berita ini kepada Wahyu. Karena Fifi cuma hafal nomor hape Irwan saja, nomor hapenya Wahyu gadis itu tidak hafal. Jika sudah begini, mau tidak mau Fifi masih harus menunggu besok saat di sekolah untuk bisa menyampaikan hal ini kepada Irwan.


Lalu akhirnya Fifi kembali lagi masuk kamarnya. Sebelum itu ia kembali melihat ke arah di mana tiga orang tadi belum ada yang beranjak satu pun dari tempatnya.


Setelah Fifi masuk ke kamarnya, barulah Naya ikut beranjak dari tempatnya. Wanita itu berencana akan ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah itu langsung menunaikan sholat isya yang belum ia laksanakan.


Setiap keresahan yang dirasakan manusia, jalan terbaik untuk menenangkannya adalah dengan berdo'a kepada Tuhan. Memasrahkan semua kehendak Tuhan dan menjalankannya dengan ikhlas. Dan berharap semoga apa yang menjadi takdirnya adalah yang terbaik dari Tuhan.


Naya memungkasi sholatnya dengan do'a yang tak pernah bosan ia panjatkan. Berserah diri hanya kepada sang Ilahi robbi. Sambil meminta agar keresahan hatinya saat ini dapat terjawabkan dengan segera. Jika memang Gino adalah seseorang yang Tuhan kirim untuk menjadi jodohnya, maka hilangkanlah rasa gelisah hati ini untuk meraguinya. Akan tetapi jika dia bukanlah jodoh yang terbaik dari Tuhan, maka jauhkanlah dengan cara apapun itu. Begitulah pinta Naya dalam do'anya.


*

__ADS_1


__ADS_2