Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 91


__ADS_3

Gino dan Naya sudah selesai melaksanakan kewajiban empat rakaatnya dengan berjamaah dalam kamar itu. Buru-buru Naya melepas mukenahnya, melipatnya, kemudian meletakkan kembali ke tempat semula. Akan tetapi Gino masih betah duduk di atas sajadahnya, entah do'a apa yang sedang ia panjatkan sekarang, karena terasa agak lama untuk orang yang sudah tidak sabar pulang seperti Naya.


"Ayo pulang, Mas!" ajak Naya langsung, setelah melihat Gino selesai dari do'anya.


"Iya, bentar lagi, Dek," sahut Gino dengan sabar.


Pria itu masih melipat sendiri sarung dan sajadahnya, sedangkan Naya hanya duduk menonton dari tepian kasurnya.


"Aku kepikiran Lala," ucap Naya mulai membawa nama Lala sebagai senjata untuk Gino mau bergegas pulang.


"Iya, aku tahu. Aku juga kepikiran Lala. Entar kita mampir beli oleh-oleh buat Lala ya, Dek?" balas Gino yang mendapatkan respon anggukan kepala dari Naya.


Selesai merapikan diri, kemudian mereka keluar bersama dari kamarnya. Terlihat di atas meja makan sudah tertata macam-macam masakan.


"Jangan keburu pulang dulu, ayo makan dulu, Nak Naya," sapa Suryo kepada Naya.


"Ee... Aku--"


"Ayo makan dulu, Dek. Tadi kamu cuma makan di rumah," ucap Gino yang langsung menarik tangan Naya untuk kemudian duduk di kursi makan itu.


Gino turut duduk menemani Naya. Sedangkan Naya menatap satu persatu masakan yang ada didepan matanya. Sejujurnya semuanya masakan itu enak, tapi entah mengapa seleranya terasa hambar.


"Aku ambilin ya?" tawar Gino perhatian sekali, melihat Naya yang hanya diam memandang makanan di meja itu.


"Nggak usah, Mas, aku bisa ambil sendiri," sahut Naya sambil mengambil piring yang dipegang Gino.


Seandainya tidak sedang ada Suryo di sekitar mereka, tentu Naya akan sok-sok manja merengek minta pulang, bukan malah makan seperti sekarang.


"Nasinya ditambah, Dek. Itu ada ikan bandeng."


Ketika Gino akan mengambilkan ikan yang disebutnya itu untuk Naya, tiba-tiba Naya menjauhkan piringnya pertanda menolak. Meski begitu Gino tidak masalah. Pria itu pun mengembalikan ikan itu ke piringnya lagi. Dan ikut makan lagi menemani Naya, padahal barusan dari acara nikahan Agus ia sudah makan juga.


Entah mengapa setelah mencium bau ikan itu perut Naya tiba-tiba bergejolak. Tiba-tiba eneg. Beruntung tidak sampai muntah. Melihat Naya yang bertambah tidak selera makan, Gino menghentikan sejenak makannya.


"Kenapa, Dek?" tanya Gino.


"Nggak pa-pa," dusta Naya.


Terpaksa tidak jujur. Pokoknya harus pulang setelah ini. Titik!


"Kok kayak nggak selera gitu makannya?"


Biasanya Naya tidak pernah absen makan ikan tiap kali makan. Ikan laut termasuk makanan favorit Naya selain sayur-sayuran. Tetapi kali ini Naya menolak makan ikan saat Gino menawarkannya tadi. Dan Gino mengira Naya tidak selera makan karena tidak menambah ikan dalam menunya.


Diam-diam Nani memperhatikan gelagat Naya yang seperti itu. Wanita itu semakin curiga jika anak menantunya itu saat ini kemungkinan sedang mengandung.

__ADS_1


Dan akhirnya Naya bisa menghabiskan makanannya dengan penuh perjuangan, lantaran sambil menahan eneg sedari tadi. Setelah itu tak mau berlama-lama lagi, Gino dan Naya pamit pulang.


"Dek, mau mampir apotik nggak?" tanya Gino saat mereka sudah ada dalam perjalanan menuju pulang.


Naya menggeleng tegas. Buat apa coba ke apotik?


"Tapi aku perhatikan sepertinya kamu beneran nggak sehat."


"Kata siapa? Aku baik-baik saja kok," elak Naya, yang memang merasa tubuhnya kembali normal, tidak eneg lagi.


"Kamu kalau urusan obat memang paling anti ya. Sudah nggak mau periksa, nggak mau makan obat lagi," gemas Gino mendapati istrinya yang sangat keras kepala bila menyangkut urusan itu.


"Aku nggak butuh obat, sudah ada kamu yang menjadi obatku, Mas," balas Naya sedikit ngegombal.


Gino langsung terkekeh. Ada-ada saja gombalannya.


"Eh, Mas, stop!" pekik Naya heboh sendiri, setelah melihat didepan ada orang penjual kembang gula.


Gino akhirnya menepikan mobilnya.


"Ada apa?" tanya Gino terheran-heran.


"Aku mau beli itu," tunjuk Naya pada pedagang kembang gula itu.


Setelah itu Naya kembali lagi dengan membawa empat bungkus kembang gula di tangannya.


"Banyak sekali, Dek? Buat siapa aja? Lala mending jangan kasi itu, entar giginya bisa rusak kebanyakan makan manis," protes Gino.


"Buat aku," sahut Naya sambil membuka satu bungkus kembang gula itu dan kemudian memakannya dengan sangat nikmat.


Mendengar itu Gino melongo saja. Tumben gitu?


Setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan. Dan Gino memutuskan membelikan Lala oleh-oleh berupa makanan snack dan minuman susu.


"Mama... Papa..." pekik Lala melihat kedatangan mereka.


Bocah itu langsung berlari kepada Gino, karena melihat Gino menenteng sesuatu di tangannya. Sudah kebiasaan Gino tiap datang selalu membawa oleh-oleh untuk Lala, jadinya Lala sangat antusias dengan itu.


Usai mandi dan mengganti pakaian, akhirnya mereka pamit pulang kepada Abdul dan Rahma.


***


Beberapa hari kemudian...


Saat Naya perjalanan pulang dari menjemput Lala di sekolahnya, tanpa sengaja ia bertemu dengan Yuli yang saat itu tengah duduk di bengkel karena motornya yang bermasalah.

__ADS_1


"Eh, kita ngobrol di situ yuk, sekalian makan mie ayam," ajak Yuli sambil menunjuk pada warung bakso dan mie ayam yang tak jauh dari bengkel itu.


Naya langsung menggeleng menolak. Tiba-tiba saja perutnya terasa eneg lagi hanya karena ngomong mie ayam.


"Jangan di situ, aku nggak mau makan mie!" tolak Naya dengan tegas.


"Lah trus, masa mau ngobrol di sini aja, Nay? Sudah jarang ketemu juga," sungut Yuli.


"Kita cari makanan yang manis-manis, yang seger gitu," sahut Naya sambil matanya celingukan mencari penjual makanan manis yang diinginkannya.


Entah mengapa belakangan ini Naya lebih suka makan yang manis-manis. Ia sudah jarang makan ikan lagi karena tidak kuat dengan baunya yang membuat perutnya selalu eneg. Meski begitu Gino tidak curiga apa-apa, lantaran Naya tetap terlihat baik-baik saja. Tidak ada perubahan yang sangat kentara didepan Gino, kecuali hanya mengurangi makan ikan setahu Gino.


Lalu kemudian mereka memutuskan untuk meninggalkan motor Yuli di bengkel. Mereka boncengan bertiga bersama Yuli juga untuk mencari makanan manis yang di mau Naya. Yang akhirnya Naya memutuskan untuk makan es buah saja. Beruntungnya warung penjual es itu masih tidak terlalu jauh dari bengkel.


"Nah, ini baru seger dan manis," ucap Naya dengan riang ketika semangkuk es buah itu sudah tersaji didepan mata.


"Nay, kamu hamil?" tanya Yuli tiba-tiba.


Naya tercekat sejenak mendengar pertanyaan Yuli. Kenapa akhir-akhir ini banyak yang menanyakannya dirinya hamil? Kemudian Naya meneliti tubuhnya sendiri. Tidak ada yang berubah menurutnya.


"Nggak, Yul. Kamu sendiri gimana?" Naya balik tanya.


Yuli menggeleng dengan mulut manyun.


"Belum juga. Mana sudah berhenti kerja, katanya biar nggak kecapean gitu, tapi belum isi juga," jelas Yuli dengan sendu.


"Yang sabar, Yul. Apa-apa itu ambil hikmahnya aja," Naya mengatakannya sambil mengusap tangan Yuli untuk menyemangatinya.


Yuli mengangguk sambil tersenyum. Kemudian mereka menikmati es buahnya.


"Tumben kamu nggak cepet isi, Nay. Dulu aja pas hamil Lala kamu cepat isinya. Cuma nunggu tiga bulan kalau nggak salah. Sekarang sudah enam bulan ya?" ucap Yuli yang memang sudah tahu betul bagaimana Naya dulu.


Naya menanggapinya dengan tersenyum saja. Wajar saja Yuli heran, karena ia memang tidak tahu jika sebelumnya Naya diam-diam pakai KB. Andai Naya mau membuka rahasia itu kepada Yuli, pasti temannya itu akan heboh mendengarnya. Syukur-syukur tidak diumpat karena sebal. Jadi Naya memutuskan untuk tetap merahasiakan hal itu walau kepada siapapun.


"Kamu nggak coba periksa ke dokter, Nay?"


Naya menggeleng.


"Mas Gino sabar kok. Dia nggak pernah nanya-nanya kapan aku hamil," jelas Naya yang merasakan sikap Gino yang tak pernah menuntut atau menekan apapun kepadanya.


"Emang dia orangnya sabar banget, Nay. Mas Budi sering cerita kalau suami kamu itu orangnya penyabar."


Naya hanya tersenyum kecil menanggapi pernyataan Yuli yang benar adanya. Gino adalah sosok pria penyabar dan penuh kasih sayang. Dalam urusan membantu pekerjaan rumah tangga saja Gino sering membantu. Meski seharian sudah sibuk di kantor, tetapi pria itu tidak segan-segan ikut menyapu, mengepel, cuci baju, cuci piring, dan juga memasak. Semua itu membuat Naya semakin mencintai lelakinya. Memiliki pasangan hidup yang bisa di kompromi merupakan rejeki terbesar selain uang.


*

__ADS_1


__ADS_2