
Gino menatap nakal saat Naya mulai melepas kancing baju ke dua. Sebuah bukit kembar nan menantang kali ini akan ia lihat dengan jelas. Jujur, perasaannya sudah panas dingin. Tetapi sekuat hati ia tetap berada dalam kontrol, sadar diri istrinya masih belum boleh di sentuh. Yaa... Walaupun menyentuh bagian atas sah-sah saja, tetapi bagaimana kalau akhirnya bablas?
Saat Naya akan melepas kancing baju yang ketiga, Gino mencegah tangan Naya.
"Butuh nyalain kipas nggak?" tanyanya langsung mengalihkan ke hal lain.
Naya menggeleng.
"Aku nggak suka kipas angin. Lebih enak copot baju begini," kata Naya sudah tanpa maku melepas bajunya di depan Gino.
Gino hanya bisa menelan salivanya saat melihat dua bukit kembar itu di depan mata. Walau masih terbungkus beha, tetapi Gino bisa membayangkan bagaimana montoknya saat beha itu tidak menjerat nya nanti.
Naya yang tau persis kalau Gino sedang terpaku, pura-pura tidak peduli. Malah dengan santainya kembali berbaring di samping Gino, dan kembali memunggunginya dengan sengaja.
Tangan Gino melayang di udara, masih ragu-ragu untuk menyentuh punggung polos Naya. Padahal kalau mau peka, Gino bisa membuka kaitan beha itu. Sayangnya Gino terlalu takut tak bisa mengendalikan hawa naffsunya.
Naya yang sudah gemas sendiri mendapati reaksi suaminya yang lamban, kembali membalikkan badan berhadapan dengan Gino.
"Cicilan dibuka loh, Mas," kata Naya sudah pasang kode keras.
Gino masih tertegun. Tatapan matanya terus mengarah pada belahan diantara dua bukit kembar itu.
Perlahan Naya mencondongkan wajahnya ke wajah Gino. Mungkin memang dirinya yang harus agresif lebih dulu. Dan lagi memuaskan suami sendiri pahalanya lebih besar dari pahala yang lain. Tanpa canggung Naya mencium bibir Gino. Dan tak disangka, ciumannya disambut dengan agresif dari Gino.
Mereka berdua terlena dalam pagutan yang memabukkan. Perlahan tangan Gino mulai menjalar di punggung polos Naya. Mengusap-usap dengan lembut, masih dengan pagutan yang saling berbelit, mengeksplor indra perasa dengan liar.
Naya sengaja mengangkat satu kakinya untuk kemudian mengunci kaki Gino dengan kakinya. Tangan Naya dengan liarnya ikut meraba di dada Gino. Ia yang memang sudah berpengalaman, sangat mudah baginya untuk melepas satu persatu kancing baju Gino.
Gino yang merasa dadanya terbuka, ia menghentikan sejenak ciumannya. Pria itu duduk untuk kemudian melepas bajunya, melemparnya ke sembarang arah. Tetapi kemudian Gino menarik tangan Naya untuk duduk juga. Dan pria itu menuntun Naya untuk duduk di pangkuannya.
Saat Naya sudah duduk nyaman di pangkuannya, tangan Gino mulai berkenalan dengan bukit kembar itu. Meraba dengan lembut, meremmas nya, sehingga mulut Naya mendessah kecil karena perlakuannya.
"Kenapa masih bisa semontok ini?" tanya Gino di sela-sela menikmati kenyalnya buah dada.
__ADS_1
"Aku merawatnya, Mas," sahut Naya dengan suaranya yang terdengar nakal di telinga Gino.
"Caranya?"
Maklum saja kalau Gino penasaran. Karena biasanya, yang ia lihat seorang janda yang sudah memiliki anak, tentu bagian organ tubuhnya sudah ada yang berkurang kualitasnya, berbeda dengan gadis perawan yang belum pernah melahirkan anak.
Tetapi yang Gino lihat, punya istrinya itu masih montok tak ada kendor-kendornya sama sekali. Padahal Naya mengaku, kalau dulu ia menyusui Lala sampai bocah itu berusia satu setengah tahun.
"Mau tahu?" Naya sengaja bertanya balik, biar saja Gino penasaran.
Gino tersenyum saja. Sorot matanya sudah penuh hassrat menatap Naya.
"Itu rahasia perempuan," kata Naya, sengaja berbisik sambil menggigit kecil daun telinga Gino.
Gino yang di begitukan langsung bereaksi menggeliat geli. Bulu kuduknya berhasil meremang karena perlakuan Naya. Dan sesuatu yang menyelip di bawah sana, perlahan terjaga dari peraduannya.
Jujur, Naya sebenarnya hanya rajin mengkonsumsi jamu herbal untuk merawat tubuhnya. Selebihnya hanya sering berolahraga dengan mengayuh sepeda ke sana ke mari. Jadi tubuh Naya tetap terjaga dengan baik. Tetap langsing dengan perut rata mirip perempuan yang tidak pernah memiliki anak.
Perlahan Naya mulai meliuk-liukkan tubuhnya di atas paha Gino. Membuat Gino seketika mengerang, karena sesuatu miliknya telah benar-benar terbangun karena ulah Naya.
"Dek, hentikan! Atau kalau kamu ingin melihatku lepas kendali." seru Gino dengan suaranya yang serak.
Naya tidak peduli dengan ucapan Gino. Biar lobang yang bawah haram di terobos, tetapi mulutnya bisa menggantikannya. Dan itu urusan gampang untuk Naya.
Tetapi Gino yang sudah diambang hassrat yang tinggi, tentu tak bisa menolak lagi. Dengan brutalnya Gino melepas pengait beha yang dipakai Naya, menyisakan dua bukit kembar itu terpampang nyata dan jelas. Tanpa ragu, pria itu langsung menyesap pucuk coklat itu dengan rakus. Satu tangannya bermain pada bukit yang lain.
Naya kembali mendessah geli. Entah, sudah berapa lama ia tidak mendapatkan sentuhan seperti ini lagi setelah ia menjanda. Jujur, Naya merindukan yang seperti ini. Rindu mencapai puncak surgawi bersama. Sayangnya permainan ini tidak sepenuhnya maksimal. Ah, landasan... kapan kau akan bersih coba?
Bunyi decapan dari mulut Gino terdengar dengan jelas ketika pria itu selesai menyusu. Naya bertambah agresif, dengan mellummat kembali bibir Gino.
"Aku suka, Sayang. Kamu hebat!" puji Gino di sela-sela mereka mengambil asupan oksigen.
Kali ini mereka berdua kembali berbaring. Posisi Naya tetap berada di atas tubuh Gino, ia yang memimpin permainan ini. Puas mencumbu, Naya beralih mendarat di dada Gino. Pucuk coklat itu ia mainkan dengan ujung lidahnya, membuat Gino kembali mengerang karena geli-geli nikmat.
__ADS_1
"Ah, Sayang..." kata Gino dengan suaranya yang bertambah berat.
Gino membalik tubuh Naya, kali ini wanita itu berada di bawah kungkungan nya. Pria itu dengan laparnya kembali menyusu. Sepertinya hal seperti ini akan menjadi candu buatnya.
Tangan Naya mulai melepas pengait celana Gino, melepas resleting nya dengan sekali tarikan. Biar saja Naya akan dianggap perempuan liar oleh Gino, Naya hanya ingin memuaskan suaminya itu sekarang. Tanpa ragu Tangan Naya sudah menggenggam pusaka milik Gino dari balik semvak yang dipakai suaminya itu.
"Waw!" decak kagum Naya begitu menyadari milik suaminya itu mengeras dengan keras, juga ukurannya yang lebih besar dari genggaman tangannya.
"Dek, stop!" pinta Gino, tiba-tiba menyudahi kegiatannya. Sedang nafasnya sendiri masih tersengal-sengal efek menahan hassrat diri yang tinggi.
"Kenapa?" Naya nampak kecewa.
"Jangan, Dek!" mohon Gino dengan sangat.
Jujur, pria itu tak tahu lagi harus menuntaskan bagaimana caranya, padahal landasan surgawi nya sedang tutup.
"Aku bisa membantumu mengeluarkannya, Mas," kata Naya sambil menyentuh lagi pada pusaka suaminya.
Gino bergeming saja. Ia sudah tidak tahu harus berbuat apa dengan isi otak yang menuntut untuk segera menuntaskan hassrat nya saat ini juga.
Perlahan tangan Naya menarik celana Gino.
"Bantu buka dong?" seru Naya merasa kerepotan sendiri memeloroti celana Gino.
"Mau apa dulu?" kata Gino, tetapi ia melepas juga celananya.
"Diem deh, kamu tinggal menikmati saja."
Tanpa ragu Naya langsung memasukkan pusaka itu dalam mulutnya.
"Aaah... Sayang..."
*
__ADS_1