Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 48


__ADS_3

"Lala, sini sama mama."


Naya yang sudah tidak tega melihat Lala menangis, mengambil Lala dari Rahma. Wanita itu membawa Lala masuk ke kamarnya. Ia menidurkan Lala di kasurnya, kemudian mengambil boneka beruang yang pernah Gino belikan untuk Lala.


"Lala kalau kangen sama om Gino peluk boneka ini saja," kata Naya yang berhasil membuat Lala berhenti menangis.


"Om ke mana, Ma?" tanya Lala lagi.


"Om tidak ada, Sayang. Om di rumahnya sekarang."


Lala diam saja. Jari mungilnya mulai mencubit kecil pada hidung boneka beruangnya.


"Kapan om datang?" tanyanya lagi.


"Mm... Besok-besok mungkin. Sekarang Lala jangan menangis lagi ya? Mama sedih kalau Lala nangis kayak tadi," seru Naya.


Hatinya sangat teriris mengingat Lala menangis bingung mencari Gino. Dengan begini membuat Naya dilema lagi. Hati yang tadi sudah ingin menyerah dengan Gino, kini dibuat sedih setelah melihat anaknya yang mulai nyaman bersama Gino, sehingga bocah itu menanyakannya sampai menangis sesenggukan seperti tadi.


"Sekarang Lala maem lagi ya, setelah ini Lala harus minum obat," ucap Naya lagi.


Lala mengangguk. Perhatian bocil itu mulai teralihkan dengan mainan bonekanya. Kemudian Naya keluar dari kamarnya untuk mengambil nasi punya Lala.


"Lala sudah tidur, Nay?" sapa Abdul begitu melihat Naya keluar kamar.


"Belum, Pak," sahut Naya yang kemudian berjalan ke dapur untuk mengambilkan Lala nasi.


Sekembalinya Naya dari dapur, Naya disapa lagi oleh Abdul.


"Kalau Lala sudah tidur, bapak ingin bicara sama kamu, Naya," katanya.


Naya hanya mengangguk. Dalam hati ia sudah mengira pasti orang tuanya itu akan bertanya kejadian tadi. Tetapi biarlah! Semuanya memang harus dibicarakan sebelum kemudian hanya tinggal penyesalan.


Setelah itu Naya dengan ketelatenan nya menyuapi Lala lagi. Herannya kenapa disaat Gino yang menyuapi Lala, makan bocil itu jadi lahap. Sedangkan ketika disuapi dirinya yang notabene ibu kandung Lala sendiri, bocah itu selalu rewel.


Kemudian setelah Lala selesai makan dan juga selesai meminum obatnya, bocah itu mulai merasa ngantuk. Maka Naya mulai menidurkan nya.


Sekitar setengah jam kemudian, saat Lala sudah benar-benar tertidur, maka Naya keluar dari kamarnya untuk menemui bapak ibunya yang sedang menunggu.

__ADS_1


Saat Naya sedang bergabung dengan Abdul dan Rahma, kedua orang tua Naya itu sedang berbincang soal siapa saja keluarganya yang akan diajak ke rumah Gino minggu depan.


Abdul dan Rahma juga kebingungan untuk mencari pinjaman mobil untuk acara minggu depan.


"Nggak usah bawa orang banyak-banyak, Pak. cukup kita-kita saja," seru Naya ikut nimbrung.


"Nggak enak, Nay. Masa iya kita nggak ngajak ustadz Arif sama istrinya juga?" balas Rahma.


"Kalau cuma ustadz Arif nggak pa-pa. Tapi nggak perlu ajak saudara yang lain juga lah," imbuh Naya terkesan enggan.


Sebenarnya tujuan Naya tidak ingin mengajak saudaranya yang lain karena ia tidak ingin mereka tahu dengan yang sebenarnya terjadi. Karena Naya rasa momen minggu depan bukanlah hari spesialnya lagi, melainkan hari yang membuat Naya merasa entah.


"Naya," Rahma meraih tangan Naya, kemudian mengusapnya lembut.


"Yang sabar, Nak. Ibu tahu kamu pasti kepikiran ibunya Gino kan?" ucap Rahma yang seketika membuat hati Naya merasa sedih lagi.


"Kita ikuti saja dulu, minggu ini kita tetap datang ke rumah Gino. Setelah itu bapak serahkan ke kamu, Nay," ucap Abdul.


Dari nada bicaranya Abdul juga merasa putus asa untuk Naya bisa sampai menikah dengan Gino. Entahlah! Ia hanya tidak ingin melihat putrinya bersedih lagi. Jika memang bersama Gino Naya masih akan bersedih, mungkin lebih baik putus tunangan daripada sampai ke jenjang pernikahan dan pada akhirnya akan membuat Naya berpisah lagi dan menjadi janda kedua kalinya. Abdul tidak mau itu!


"Tapi kalau aku lihat ayahnya Gino baik-baik saja. Aku perhatikan hanya dia yang wajahnya berseri tadi," lanjut Rahma.


Pria itu bisa merasakan betapa besarnya rasa cinta Gino kepada Naya. Makanya ia tidak ingin membuat Gino sedih sebelum hari-H itu terlaksana.


"Kamu dengar ucapan bapak, Nay?" tanya Abdul, karena Naya hanya diam saja dari tadi.


"Iya, Pak. Aku dengar pesan bapak," sahut Naya dengan wajahnya yang tertunduk.


Kemudian Abdul beranjak dari tempatnya. Ia pergi ke dapur untuk kemudian pindah duduk di teras samping rumah.


"Naya, ceritakan sama ibu apa yang kamu rasakan sekarang. Tolong jangan dipendam sendiri. Ini mumpung belum terlambat, Nay," ucap Rahma tak lama kemudian.


"Aku-- Aku ingin menyerah, Buk. Tapi kalau aku ingat betapa baiknya mas Gino kepada kita, aku dilema. Jujur aku tidak ingin janda lagi, Buk. Aku takut! Aku takut hanya akan jadi beban pikiran bapak ibu." Naya mengungkapkannya dengan berlinang air mata.


"Sudah, jangan menangis lagi! Ibu nggak mau lihat kamu nangis begini. Semoga ini hanya ujian di awal, Nay. Semoga nanti ada jalan yang terbaik dari Tuhan untuk kamu dan Gino."


Naya bergeming saja. Tangisannya lebih cepat reda daripada yang tadi. Mungkin karena hati itu perlahan mulai ikhlas. Ikhlas menerima kenyataan jika pada akhirnya ia ditakdirkan akan berpisah dengan Gino.

__ADS_1


***


"Fifi, hari ini mbak nggak nganter kamu ya, kalau kamu mau pake motor mbak bawa aja," ucap Naya saat seluruh keluarga sedang berkumpul sarapan bersama.


"Mbak Naya emangnya nggak kerja?" tanya Fifi.


Naya hanya menggeleng. Hari ini rasanya Naya ingin berada di rumah saja seharian full. Itu saja!


"Mbak Fifi aku saja yang anter, biar motor mbak Naya dipinjam aku," seloroh Riki menawarkan diri.


"Aku butuh motor buat nanti kerja kelompok bareng teman. Masa iya mau nebeng Irul terus, sekali-kali bawa motor sendiri lah kan?" jelas Riki.


"Iya lah... Terserah kamu!" sahut Fifi agak jengah, karena gagal akan keluyuran nanti sepulang sekolah.


"Fi, ini hape kamu," kata Abdul kemudian menyerahkan handphone milik Fifi yang disita olehnya.


Wajah Fifi langsung berseri. Ia mengelus-elus ponselnya di depan semuanya. Seperti orang yang sedang kangen dengan pasangannya yang sudah lama berpisah.


"Tapi kalau aku lihat kamu tidak mau berubah, bapak pastikan bukan hanya hape kamu yang bapak sita. Tapi lebih baik berhenti sekolah saja. Nikah aja sekalian sama pacar kamu itu!"


Deg.


Reaksi Fifi langsung berubah pucat. Apa yang sudah terucap dari mulut Abdul dipastikan itu bukan gertakan semata. Abdul selalu serius bila sedang menasehati anak-anaknya. Jadi, apakah setelah ini ia harus putus dengan Irwan? Ah, tidak!!!!


"Ayo, mbak Fifi, berangkat yok!"


Lamunan Fifi dikagetkan oleh suara Riki yang mengajaknya berangkat sekolah.


Setelah itu bergantian Riki, Farhan, dan Fifi bersalaman kepada Abdul dan Rahma. Kemudian Abdul juga ikut pamit untuk pergi berangkat kerja.


Semua orang sudah kembali ke aktifitasnya masing-masing. Naya yang mager lebih memilih kembali ke kamar. Ia mulai memainkan ponselnya sambil rebahan. Ada pesan masuk dari Gino untuknya yang terkirim dari subuh tadi, tetapi sampai sekarang belum Naya balas pesan itu.


Tak disangka handphone Naya kemudian berdering, muncul nomor asing kemarin yang Naya tebak itu pasti Wahyu.


"Assalamu'alaikum," sapa Naya sudah tidak ragu lagi menjawab telpon dari Wahyu.


"Wa'alaikumsalam. Naya, aku--"

__ADS_1


*


__ADS_2