
"Assalamu'alaikum," ucap Vita dan suaminya secara bersamaan ketika membuka pintu kamar rawat Naya.
"Wa'alaikum salam." Naya tersenyum menyambut kedatangan adik iparnya.
Cuma, kenapa mereka hanya berdua? Di mana yang lainnya? Di mana ayah dan ibu mertuanya? Batin Naya bertanya-tanya sambil diam-diam mencuri pandang ke arah pintu.
"Waah... Assalamu'alaikum ponakan tante, cantik sekali sih. Lucunya MasyaAllah..." ucap Vita yang dengan sangat senang sambil mulai menggendong baby Nana.
Naya hanya tersenyum lagi mendengar pujian Vita itu.
"Kamu ke sini sama siapa, Dek Vita?" tanya Naya pada akhirnya.
"Aku sama mas Agus, Mbak. Tapi masih di belakang. Tadi masih ngobrol gitu sama mas Gino," jelas Vita.
Sebenarnya Naya juga ingin bertanya apakah mertuanya juga ikut, cuma tetap ia tahan karena tidak ingin perasaannya semakin kecewa.
Suaminya Vita meletakkan sesuatu ke atas nakas.
"Oh iya, Mbak. Itu dari ibu buat-- Eh, siapa sih nama ponakanku ini, Mbak?" tanya Vita yang tak jadi meneruskan perkataan yang semula.
"Nana," sahut Naya dengan singkat.
Vita tersenyum sambil memandangi wajah baby Nana yang sedang tertidur pulas. Kemudian Vita meletakkan baby Nana lagi pada box bayi. Setelah itu menyerahkan sesuatu yang katanya tadi dari Nani.
"Mbak, ini dari ibu buat Nana," kata Vita sambil menyerahkan itu kepada Naya.
Naya menerimanya dengan perasaan entah. Bukan sebuah pemberian hadiah yang Naya inginkan. Setidaknya lihatlah bagaimana rupa cucunya. Darah dagingnya. Bukan seperti ini yang Naya mau.
"Terimakasih," ucap Naya, menerimanya dengan suara pelan.
Sungguh Naya tidak penasaran apa yang diberikan Nani kepada bayinya. Wanita itu saat ini pura-pura menyibukkan diri dengan melihat isi tas yang sebelumnya sudah ia kemas. Sejujurnya dadanya merasa sesak sendiri, cuma tidak mungkin ia menangis di depan dua adik iparnya itu.
Tak lama setelah itu datanglah Agus dan Gino. Naya sudah malas bertanya lagi kenapa Mila tidak ikut juga hari ini. Sedangkan Gino menyadari ada sesuatu yang terjadi dengan Naya, terlihat dari bahasa matanya yang berbeda. Tetapi Gino memilih pura-pura tidak tahu dan tidak menanyakannya. Bukannya tidak peduli, hanya waktunya saja yang belum tepat untuk menanyakannya.
Lalu Gino mendekati Naya.
"Sudah beres semua, Dek?" tanya Gino sambil mengambil tas yang dipegang Naya.
__ADS_1
Naya hanya mengangguk, tanpa mau menatap kepada Gino. Melihat itu, Gino meraih tangan Naya untuk digenggam. Lalu mereka semua keluar dari kamar itu. Sedangkan baby Nana digendong Vita.
Mereka pulang ke rumah orang tua Naya. Di perjalanan Vita bertanya kenapa mereka tinggal kumpul dengan orang tua Naya lagi, padahal sudah punya rumah sendiri. Tetapi setelah dijelaskan oleh Gino, Vita akhirnya paham. Sedangkan Naya selama berada di perjalanan itu tetap bungkam. Ia bisa duduk dengan santai. Karena baby Nana terus digendong oleh Vita.
Tak lama kemudian mereka telah tiba di rumah orang tua Naya. Abdul dan Rahma yang melihat mobil besannya masuk ke halaman rumahnya tentu menduga besannya itu datang hari ini. Tetapi setelah melihat satu persatu yang keluar dari mobil itu, mereka harus menelan rasa kecewa lagi.
"Adeeeek...." pekik Lala melihat kedatangan adik bayinya.
Vita tertegun sejenak menatap kepada Lala. Begitu pun juga Agus. Karena memang baru kali inilah mereka bertemu dengan anaknya Naya.
"Lala, sini, Sayang," panggil Naya sambil melambaikan tangannya kepada Lala.
Lala mendekat kepada Naya, tak jadi menghampiri adiknya yang masih digendong oleh Vita. Saat ini hanya Lala lah yang menjadi penyemangat serta penguat hati Naya untuk menjalani kehidupan rumah tangganya yang tak kunjung membaik perihal ibu mertua. Setidaknya Gino masih tetap sayang dan peduli dengan dirinya dan Lala, bagi Naya itu sudah cukup. Naya sudah tidak mau lagi mengharapkan restu itu. Biar saja seperti air mengalir.
Naya mengajak Lala masuk ke kamar. Entahlah, rasanya Naya malas untuk duduk di ruang tamu saling mengobrol dengan ipar-iparnya itu. Biar Gino saja yang menemani mereka.
"Yaya mau yihat adek," kata Lala akan keluar lagi dari kamar, tetapi kemudian dicegah oleh Naya.
"Lala temani Mama, mama kangen sama Lala," ucap Naya dan berhasil membuat Lala urung keluar kamar.
Bocah itu ikut naik ke atas ranjang. Lalu berbaring dengan nyaman di sebelah Naya. Naya juga ikutan berbaring bersama Lala. Rasanya ingin menangis lagi. Perasaannya sangat sensitif sekali, sehingga mudah sekali baper.
"Yaya sayang mama," balas Lala.
Naya menghela nafasnya dalam-dalam. Tatapannya menatap kosong pada plafon kamar, dengan pikirannya yang sudah bercabang ke mana-mana.
Tak lama kemudian Rahma masuk ke kamar Naya dengan membawa tas bawaan Naya dari rumah sakit. Sengaja Rahma tidak bertanya apa-apa meski dengan jelas melihat ada kesedihan di mata anaknya. Karena sebenarnya Rahma juga merasakan hal yang sama saat ini.
"Kamu istirahat saja, Nay," ucap Rahma sebelum kemudian keluar dari kamar Naya.
Seakan Rahma paham dengan Naya memilih berada di kamar saja karena sedang malas berbicara apapun.
"Mama mau tidung?" tanya Lala, kepo setelah mendengar ucapan Rahma barusan.
Naya hanya mengangguk.
Lala beranjak duduk, seperti ingin keluar dari kamar itu, tetapi tatapan bocah itu seperti berat hati meninggalkan mamanya sendiri di kamar.
__ADS_1
"Lala mau tidur?" tanya Naya, sudah tidak tahu apa yang akan dibicarakan lagi bersama anaknya.
Lala menggeleng kepalanya. Karena ini masih pagi, jadi tidak mungkin Lala mau tidur lagi.
"Lala mau temani mama tidur tidak?" tanya Naya lagi.
Sungguh, Naya tidak mau Lala keluar kamar dan akhirnya menemui Vita dan Agus. Naya tidak mau keberadaan Lala di sana akan mendapatkan tatapan tak enak dari mereka. Cukuplah Naya yang merasakan ini semua. Jangan sampai Lala ikut merasakannya.
Akhirnya Lala berbaring lagi di samping Naya. Dan Naya mulai memejamkan matanya walau sebenarnya tidak mengantuk sama sekali. Tetapi baru saja mata itu terpejam, pintu kamarnya terbuka lagi. Terdengar tangis baby Nana, dan Naya langsung membuka matanya kaget.
"Dek, mungkin Nana haus," kata Gino sambil menggendong baby Nana.
Naya beranjak duduk, pun demikian dengan Lala. Bocah itu langsung girang karena adiknya dibawa masuk kamar. Apalagi ketika baby Nana sudah digendong oleh Naya, Lala langsung mengusap lembut pipi merah adiknya.
"Adek sayang," kata Lala menyapa adiknya.
Gino tersenyum kepada Lala. Tangan pria itu terulur mengusap pada pucuk kepala Lala. Sedangkan Naya tetap diam saja. Wanita itu seakan hanya fokus menyusu, tanpa mempedulikan keberadaan Gino didekatnya.
Sebenarnya Gino sadar dengan perubahan sikap Naya kepadanya. Tetapi Gino tidak bisa berbuat banyak untuk bisa menenangkan perasaan istrinya. Karena puncak dari diamnya Naya juga karena keluarganya, karena kedua orang tuanya. Tidak mungkin juga Gino mengemis kepada ayah ibunya untuk datang ke sini. Karena sejujurnya Gino sendiri sudah lelah dengan semua ini.
Saat Naya sedang menyusui baby Nana, Gino mengusap penuh kasih pada pucuk kepala Naya. Sedangkan Naya tetap diam, tanpa menoleh kepada Gino yang sedang menatapnya dengan sendu.
Perlahan Gino membungkukkan badannya. Pria itu mengecup dengan lama pada kening Naya. Setelah itu Gino memilih keluar dari kamarnya untuk menemui Vita dan Agus di ruang tamu. Tanpa Gino tahu, kalau Naya menumpahkan air matanya saat Gino sudah pergi dari kamar itu.
Yah, hanya Gino lah satu-satunya harapan Naya. Semoga saja suaminya itu tetap menjadi penguat hatinya untuk tetap setia membina rumah tangganya bersama. Dalam suka dan duka. Hingga mungkin sampai nanti hanya ajal lah yang memisahkan mereka berdua.
"Mama kenapa menangis?" tanya Lala penasaran.
"Adik nakal ya, Ma?" tanyanya lagi mengira Naya menangis karena baby Nana yang saat itu sedang asyik menyusu.
Naya segera menyusut air matanya. Lalu tersenyum tipis kepada Lala.
*
Hai readersku...
Maaf sekali kemarin othor libur up dua hari karena kesibukan real life yang masyaAllah sekali 🙏
__ADS_1
Tetapi semoga readersku tetap setia dengan karya othor ya☺
Terimakasih selama ini sudah mau mendukung karya othor yang masih jauh dari kata sempurna. Othor sayang kalian semua 😘