Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 127


__ADS_3

Akhirnya Gino dan Naya tiba lagi di rumah setelah sempat mendapati omelan Naya saat di perjalanan tadi. Bagaimana tidak, Gino terus saja menggoda Naya dan berpura-pura ingin belok ke arah hotel sehingga membuat Naya tak henti-hentinya menghujani pinggang pria itu dengan cubitan kecilnya. Enak saja mau cek in hotel, terus si bayi mau ditinggal begitu saja? Pikir Naya tak habis pikir dengan ajakan Gino, yang sebenarnya sekedar bergurau saja.


Naya turun dari motornya dengan wajah yang cemberut, sedangkan Gino sedari tadi tak henti mengusapi pinggang bekas cubitan Naya sambil memasukkan motornya ke dalam garasi. Mereka sempat berhenti berdebat karena kebetulan sedang ada Abdul yang duduk di teras rumah mereka. Tetapi bukannya Abdul tidak peka dengan wajah cemberut Naya, pria itu mengira kalau pasti ada sesuatu antara mereka saat di luar tadi.


"Belum tidur, Pak?" sapa Gino kepada Abdul dan kemudian ikut menemani Abdul duduk di sana. Sedangkan Naya sudah main masuk rumah begitu saja.


Sebelum menjawab, Abdul melongokan kepalanya melihat ke dalam rumah.


"Naya kenapa?" tanyanya to the point kepada Gino. Sehingga lupa tidak menjawab pertanyaan Gino sebelumnya.


Bukannya menjawab, Gino malah menyeringai saja kepada Abdul.


"Hem... Jadi lagi mode merajuk?" goda Abdul menanggapi seringai Gino.


"Biasa... Perempuan emang suka gitu kan, Pak?" sahut Gino.


Sejenak mertua dan menantu itu saling tertawa. Baru kali inilah setelah menjadi menantu Abdul, Gino berbicara yang sedikit random. Biasanya antara mereka kalau mengobrol masih suka sungkan.


"Sudah, buruan rayu biar nggak kebawa sampai besok," seru Abdul menyuruh Gino untuk segera menyusul Naya.


"Bapak kok belum tidur?" tanya Gino sekali lagi.


Pria itu sekedar ingin memastikan kalau Abdul merasa betah menginap di rumahnya. Pria itu takut dengan Abdul yang masih belum tidur itu karena merasa tidak betah berada di rumahnya.


"Sebentar lagi bapak tidur. Bapak masih ingin merokok dulu," kata Abdul yang kemudian menyulut satu puntung rokok di tangannya.


Gino mengangguk mengerti. Gino bukan perokok, jadi tidak akan sungkan untuk Gino pamit masuk dulu karena memang tidak bisa menemani bapak mertuanya merokok bersama.


Gino segera masuk ke kamarnya. Terlihat Naya yang duduk di tepi ranjang masih dengan wajahnya yang bertekuk. Lalu kemudian Gino ikut duduk disamping Naya.


"Kok Nana nggak diambil, Dek?" tanya Gino karena memang tidak melihat bayi mereka ada di kamar mereka.

__ADS_1


"Tauk tuh ibu!" jawab Naya bertambah manyun.


"Ibu kenapa? Kamu bete sama ibu?" selidik Gino, tentunya sambil mengusap kepala Naya supaya bisa lebih adem.


Yang ada Naya hanya menghentak-hentakkan kakinya sendiri, mirip bocil yang lagi ada maunya.


"Kenapa sih? Coba ngomong sama aku? Ini soal yang tadi? Aku nggak akan maksa, Dek, kalau kamu merasa nggak ikhlas dan nggak nyaman," kata Gino setengah menduga jika murungnya Naya campuran dari rasa dongkolnya pada dirinya ditambah pada Rahma.


"Ibu pingin tidur sama Nana. Barusan aku mau ambil Nana tapi sama ibu nggak dibolehin," jelas Naya pada akhirnya.


Gino terdiam sejenak. Sedikit bersyukur karena ternyata Naya sudah tidak lagi merajuk karena gurauannya yang tadi.


"Trus gimana nanti kalau Nana mau nyusu?" lanjut Naya dengan rasa khawatirnya kepada Nana yang baru kali ini lah mereka harus pisah tidur.


Gino menghentak nafasnya sejenak. Mungkin dengan Rahma tidak memperbolehkan Nana saat diminta Naya itu karena Rahma memang benar-benar sayang kepada Nana. Begitulah dugaan Gino. Dan lagi jika memang Rahma memintanya hanya untuk malam ini saja sebenarnya itu tidak masalah. Soal bagaimana kalau Nana minta mimik, Rahma tinggal mengambil stok ASI yang memang sudah ada di kulkas.


Lalu Gino merangkul pundak Naya, mengusapnya dengan lembut di sana.


"Ayo, sholat isya dulu. Siapa tahu setelah ini ibu mau ngasih Nana," ajak Gino kepada Naya.


Meski melihat Nana yang juga berada di kasur mereka, tetapi Abdul membiarkan itu. Biarlah Naya dan Gino menikmati malam yang indah dulu malam ini. Tanpa diriwehkan dengan tangisan bayi mereka.


Selesai sholat, Naya segera turun dari tempat ibadahnya. Wanita itu mencoba sekali lagi mengetuk kamar yang ditiduri orang tuanya, tetapi hingga berulang-ulang rupanya tidak ada yang membuka.


"Mungkin bapak ibu sudah tidur nyenyak sekali, Dek," ucap Gino yang saat itu juga berdiri disamping Naya.


Naya mendengus pasrah. Lalu kemudian wanita itu berjalan ke arah kamar Lala, Gino ikut membuntuti nya. Gino pikir Naya akan mengajak Lala untuk tidur sekamar dengannya setelah tidak berhasil mengambil Nana, ternyata itu semua hanya dugaan Gino saja. Saat Naya sudah ada di kamar Lala, ia hanya ingin sekedar mencium pipi chubby anaknya, yang malam itu tidur bareng Farhan. Tak lupa Naya juga membelai dengan sayang pada kepala Farhan.


"Ayo tidur," ajak Gino kemudian.


Naya mengangguk patuh. Kemudian mereka berdua masuk ke kamar mereka. Tak lupa sebelum tidur Naya mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur yang bahannya cukup tipis tetapi tidak tembus pandang, Gino pun demikian. Setelah sama-sama selesai, barulah mereka sama-sama berbaring di kasur mereka.

__ADS_1


Segera Gino langsung memeluk pada Naya, maksudnya ingin mencoba menenangkan perasaan Naya yang tentunya sedang gundah malam ini. Dalam sekian menit mereka sama-sama diam. Berkutat dengan pikirannya masing-masing.


"Mas," sapa Naya tiba-tiba, yang Gino pikir kalau istrinya itu sudah tidur lebih dulu karena dari tadi cuma diam.


"Hem," sahut Gino hanya dengan gumaman.


"Apa kamu benar-benar pingin?" tanya Naya terdengar ragu. Sedangkan jari telunjuknya mengetuk-ngetuk kecil pada dada Gino.


Gino yang mendengar pertanyaan itu tentunya langsung berbinar. Rasanya tidak percaya. Semoga saja tidak salah dengar.


"Pingin apa?" tanya Gino pura-pura tidak paham.


Sejujurnya pria itu ingin langsung menerkam begitu saja, sudah kepalang gemes. Tapi untuk yang baru pertama coba setelah cukup lama libur akibat nifas, tentunya Gino tidak boleh membuat Naya merasa kapok karena ulahnya yang tak mau hati-hati.


"Masa nggak ngerti sih, Mas? Atau udah nggak jadi pingin?" Naya tiba-tiba merasa suaminya itu tak jadi pingin gara-gara meragukan ukuran lubang surgawi nya yang mungkin akan lebih longgar dari sebelumnya.


Tiba-tiba Gino mengecup bibir Naya. Hanya sebuah ciuman yang saling menempel.


"Sebenarnya pingin, tapi aku takut kamu masih belum benar-benar siap," kata Gino sambil tersenyum manis.


"Dicoba aja, asal pelan-pelan," sahut Naya benar-benar sudah memberi lampu hijau untuk Gino unboxing.


"Beneran? Entar selesainya bilang nyesel?" tanya Gino memastikan.


"Kan sudah beli kond0m, jadi aman lah. Lagian selama ini aku kepikiran kalau kamu lagi pingin kemarin-kemarin gimana nyalurin nya," kata Naya kemudian.


Gino hanya bisa tergelak mendengar ucapan Naya. Memang selama Naya masa nifas, Gino kelimpungan sendiri untuk bisa menyalurkan hassrat nya ketika tiba-tiba sedang on. Tetapi tidak mungkin juga Gino menceritakan kepada Naya jika selama itu ia memanfaatkan jari-jarinya untuk bisa meraih puncak.


Melihat Gino yang hanya diam, Naya sudah hampir membalik badan untuk memunggunginya. Akan tetapi langsung ditarik oleh Gino, dan secepat kilat bibir pria itu telah membungkam bibir Naya dengan ciumannya. Naya menyambut permainan suaminya itu dengan rasa rindu yang sama menggelora nya. Mereka pun kemudian tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Rahma dan Abdul yang membawa Nana tidur bersama mereka.


Malam itu menjadi malam yang panjang dan tentunya malam yang indah untuk pasangan suami istri yang sudah lama libur ninuninu. Bahkan mereka berdua sampai mengulanginya untuk yang kedua kalinya. Aji mumpung. Hahaha...

__ADS_1


*


Next episode akan menceritakan tentang Nani. Hayooo... Siapa di sini yang kangen Nani?


__ADS_2