
Saat ini Gino dan Naya sudah sampai di tempat tujuan. Bangunan rumah minimalis tetapi masih terkesan mewah untuk sebuah keluarga kecil, sudah berada di hadapan mereka.
"Ini rumahku, Dek," tutur Gino sambil kemudian membuka kunci pagar rumah itu.
Setelah pagar itu terbuka, mereka berjalan untuk kemudian membuka pintu utama rumah itu.
"Assalamu'alaikum," salam Gino setelah pintu rumahnya terbuka lebar.
Gino meraih tangan Naya, menuntunnya untuk masuk ke rumah itu.
"Besok, kalau kita sudah menikah, kita akan tinggal di sini, Dek. Tempat ini tidak begitu jauh dari kantor. Mm... Bagaimana menurut kamu tentang rumah ini?"
"Bagus! Sempurna, Mas! Perabot nya sudah lengkap."
"Ada juga yang belum aku beli perabot nya," ucap Gino.
Lalu pria itu menarik tangan Naya, membawanya ke dapur.
"Dapur ini masih kosong, nggak ada perabotan nya sama sekali. Aku ingin kamu yang memilihnya nanti mau yang seperti apa. Karena ini bukan wilayah kekuasaan ku," tutur Gino sambil sedikit terkekeh di kalimat terakhirnya.
Naya bergeming saja. Hatinya semakin terenyuh setelah tahu betapa besar harapan Gino untuk bisa hidup bersamanya nanti. Ah, andai saat ini hubungan mereka tidak terhalang restu Nani, mungkin akan sangat menyenangkan membahas pernikahan saat ini.
"Ayo, Dek, kita lihat kamar kita nanti," ajak Gino semangat sekali.
Satu kamar utama telah terbuka pintunya. Di dalam kamar itu ada kamar mandinya, dan Naya suka dengan desainnya.
"Kamu bisa request ganti warna cat kamar. Mm... Kamu suka warna apa kamarnya, Dek?"
"Ini sudah bagus, nggak perlu ganti cat lagi," kata Naya.
Gino diam saja, meski menurutnya jawaban Naya itu tidak memuaskan. Menurutnya pasti Naya juga memiliki warna favorit, cuma tidak mau mengaku saja.
"Oh iya, aku juga mau tunjukkan kamar tidur Lala."
Dari seriusnya Gino kepada Naya, sampai-sampai pria itu juga sudah menyiapkan kamar khusus untuk Lala.
"Gimana, bagus nggak, Dek?" tunjuk Gino pada sebuah kamar yang dindingnya full dengan wallpaper gambar kartun.
__ADS_1
"Waaah... Kalau kamarnya seperti ini Lala pasti suka, Mas," pekik Naya merasa takjub.
Gino tersenyum puas mendengarnya.
"Besok-besok kita ajak Lala juga main ke sini ya, Dek?"
"Boleh!" sahut Naya langsung setuju.
Mereka berdua kembali berjalan ke ruang tamu.
"Mas, ayo pulang! Aku sudah tahu rumah kamu, sekarang waktunya kamu antar aku pulang," ucap Naya.
Tanpa banyak bicara Gino langsung menyetujui ajakan pulang Naya. Mereka berdua kembali berada dalam mobil, bersiap melaju pergi.
Tetapi belum jauh mereka pergi dari rumah itu, ponsel milik Gino berdering. Sekilas Gino melirik pada layar ponselnya untuk melihat siapa yang menelepon. Rupanya itu adalah panggilan telepon dari Nani.
Gino menjawab panggilan telepon itu dengan mengeraskan volume loudspeaker nya karena kebetulan sedang menyetir. Jadilah Naya juga bisa mendengar suara Nani juga.
"Gino, kamu sudah di mana?" tanya Nani dari seberang sana.
"Masih di jalan, Bu," jawab Gino.
Naya langsung menggeleng kepala, isyarat untuk mengatakan tidak ada dirinya kepada Gino. Jujur, Naya ingin tahu apa yang akan dikatakan Nani jika Gino mengatakan tidak sedang bersama Naya.
"Tidak, Bu. Ada apa ya, Bu?"
Dengan terpaksa Gino berbohong kepada Nani, karena ia pun juga penasaran kenapa ibunya bertanya seperti itu. Apakah akan ada cercaan jilid ke dua setelah ini?
"Ibu lupa tidak memberi uang kepada Naya pas pamit pulang tadi," ucap Nani yang tentunya membuat Gino dan Naya melongo heran saat mendengarnya.
Memang tradisi di lingkungan Gino tinggal seorang mertua akan selalu memberi sejumlah uang, katakanlah angpao, kepada menantu barunya sesaat setelah acara unjung mantu seperti tadi.
"Gino, kamu dengar ibu kan?" sapa Nani sedikit mengeraskan suaranya.
"Iya, Bu, aku dengar," sahut Gino kemudian.
"Ya sudah, karena sudah lupa besok-besok saja," lanjut Nani.
__ADS_1
"Mm... Apa mau pake uangku dulu, Bu?" usul Gino.
Pria itu pikir jika Naya pulang dengan tangan kosong, takut akan menimbulkan tanda tanya lebih besar kepada Abdul nanti.
"Katanya kamu sudah di jalan, jangan bilang kamu bohong sama ibu, Gi! Ayo ngaku kamu lagi di mana sekarang?!"
"Di jalan, Ibu. Gimana, Bu, kalau ibu mau aku bisa putar balik mumpung belum jauh."
"Ya sudah kalau kamu maunya begitu. Kasih saja ke Naya, bilang dari ayahmu," kata Nani yang masih gengsi mengakui kalau itu darinya sendiri.
"Iya, jadi ibu mau berapa uangnya?" pasrah Gino pura-pura menyetujui ucapan Nani yang menyuruhnya untuk berbohong.
"Satu juta!" ucap Nani dengan tegas dan yakin.
Gino tercekat sesaat. Bukan karena tidak punya jumlah uang yang diminta ibunya, tetapi pria itu kaget saja mendengar nominal itu. Kalau lumrah nya dilingkungan Gino tinggal paling tinggi mertua memberi angpao menantu sekitar lima ratusan saja, tetapi kali ini Nani meminta lebih dari nominal biasanya.
"Sebenarnya itu bilangan yang mahal untuk seorang janda seperti dia. Tapi kamu harus tetap memberinya itu, Gi. Katakan seperti yang ibu katakan, kalau itu dari ayahmu, bukan dari ibu."
"Hem, iya, Buk."
"Bisa nggak sih nggak usah ngungkit kata janda terusan?" kesal Gino dalam hati.
Setelah itu panggilan telpon itu pun berakhir.
Tak jauh dari tempat mereka saat ini berada, Gino melihat ada sebuah ATM di pinggir jalan. Segera pria itu menepikan mobilnya, yang lalu pria itu masuk ke dalam bilik mesin ATM itu.
Cukup lima menitan saja baru kemudian Gino keluar dari bilik ATM itu. Pria itu pun kembali masuk ke mobilnya dan segera menyerahkan beberapa lembar uang merah itu di tangan Naya.
"Aku rasa ini berlebihan, Mas."
Naya mengembalikan uang itu kepada Gino.
"Ambil saja, Dek, itu perintah ibu. Yaa... Walau kamu dengar sendiri aku disuruh berbohong untuk bilang itu dari ayah."
Gino menyerahkan lagi uang itu.
"Dek, kamu dengar sendiri kan, ibuku cuma gengsi saja, dia tidak sepenuhnya tidak menyukai kamu. Buktinya dia masih mau menyuruhku seperti barusan," ucap Gino berusaha terus memupuk rasa percaya diri Naya agar tak lagi goyah dan berpikir untuk menyerah lagi.
__ADS_1
Meski Naya mendengar sendiri ucapan Nani, tetapi entah mengapa hatinya masih meragu.
*