Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 58


__ADS_3

Suryo berantusias sekali untuk rencana pernikahan Gino. Pria itu pun mulai bertanya tanggal baik untuk pernikahan Gino kepada seorang kyai yang Suryo datangi dua hari kemarin. Maka kemudian ditentukan pernikahan Gino ialah pertengahan bulan depan. Yaitu satu bulan dari sekarang.


"Biar nanti ayah yang datang sendiri ke rumah Naya. Ayah yang akan bicara langsung sama Naya dan bapaknya. Kamu kabari saja mereka. Ayah takut setibanya di sana mereka malah lagi tidak di rumah," ucap Suryo sebelum Gino berangkat ke kantor pagi itu.


"Iya, Ayah, nanti aku kabari Naya kalau ayah mau ke sana," sahut Gino.


"Sementara ini kamu adem-ademin hati ibu kamu. Siapa tahu nanti pas hari-H ibu kamu bisa berubah pikiran," tambah Suryo.


Gino mengangguk patuh. Tak apalah meskipun bukan dirinya yang mengatakan itu. Dengan Suryo yang berbicara langsung mungkin saja Naya tidak menolak lagi dengan berbagai alasan, begitulah harapan Gino. Dan lagi sudah saatnya Gino memperbaiki hubungan dirinya dengan ibunya, sebelum nanti ia akan pergi dari rumah ini untuk tinggal di rumahnya sendiri setelah menikah nanti.


Lalu setelah itu Gino bersalaman kepada Suryo untuk kemudian pergi berangkat ke kantornya.


Di tengah perjalanan, Gino berusaha menelpon Naya untuk memberi kabar pesan ayahnya barusan. Tak lupa pria itu memasang Earbuds terlebih dulu karena saat ini sedang menyetir.


"Assalamu'alaikum calon istriku," sapa Gino saat Naya sudah menjawab panggilan telponnya.


"Wa'alaikumsalam calon imamku," jawab Naya. Saat ini Naya sedang ada di kamarnya, sedang berdandan bersiap berangkat kerja.


"Duh, ademnya hatiku dengar jawaban kamu, Dek," seru Gino.


Naya hanya mesem-mesem sendiri.


"Mas lagi di mana? Apa tidak kerja?" tanya Naya karena tidak biasanya Gino menelponnya di jam begini. Biasanya pria itu kalau menelpon Naya pagi setelah sholat subuh.


"Ini lagi di jalan," sahut Gino.


"Oh ya sudah, tutup dulu, bisa bahaya kalau telponan sambil nyetir," cemas Naya.


"InsyaAllah aman. Oh iya, Dek, nanti malam ayahku mau ke sana," tutur Gino.


"Jam berapa?"


"Mungkin jam 7. Bapak sama ibu ada kan, Dek?"


"Ada sih. Tapi ada apa ya, Mas, kok tumben ayah mau datang," kepo Naya.


"Katanya kangen ngobrol sama bapak."


"Beneran?"


"Emang kamu curiga ayah mau apa?"


Naya memilih diam. Entahlah, perasaannya mendadak resah mendengar ayah mertuanya akan berkunjung.


"Ya sudah ya, Dek, aku sudah mau sampai kantor," ucap Gino kemudian.

__ADS_1


"Eh, iya, Mas."


"Mm... Assalamu'alaikum istriku."


Kali ini Gino tidak menambah kata calon lagi seperti yang awal.


"Wa'alaikumsalam," sahut Naya agak lemas.


"Dek, ada yang kurang," sambung Gino lagi.


"Apa?"


"Kamu kurang kata suamiku barusan."


Naya tergelak mendengarnya.


"Heem... Wa'alaikumsalam suami," ucap Naya kemudian.


Sambungan telepon itu kemudian berakhir. Dan Gino sudah tiba di kantornya. Pria itu turun dari mobilnya dengan wajah yang berseri sekali. Bagai menemukan moodbooster yang paling ampuh setelah mendengar Naya menyebut kata suami kepadanya.


***


Usai maghrib Suryo berangkat seorang diri ke rumah Naya. Sebelumnya Suryo sudah mengajak Nani untuk ikut serta, walau jawabannya sudah bisa ditebak oleh Suryo kalau istrinya itu pasti menolak. Sedangkan Gino tetap berada di rumah seperti permintaan Suryo.


"Kenapa kamu tidak ikut ayahmu?" tanya Nani, sensi dengan Suryo tetapi imbasnya kena ke Gino.


Nani mencebik. Kemudian wanita itu duduk di kursi panjang yang ada di ruang tengah, Gino mengikutinya untuk duduk disampingnya.


"Ibu mau aku pijitin, di sini ya?" ucap Gino yang kemudian memijat pundak Nani meski ibunya belum mengiyakan.


"Kamu mau apa? Nggak usah pake modus mijitin ibu," kata Nani, tetapi ia juga tidak menolak Gino yang terus memijitinya.


"Nggak mau apa-apa. Nggak boleh emang anak sendiri mijitin ibu?"


Entahlah, rasanya Gino sudah pasrah dan menyerah untuk membujuk Nani untuk mau merestuinya bersama Naya. Setidaknya untuk seterusnya Gino tidak mau lagi terlibat perseteruan dengan ibunya. Tetapi meski begitu Gino tetap akan menikahi Naya.


"Kenapa kamu membeli rumah sendiri, Gi? Apa kamu tidak mau tinggal sama ibu lagi?" ucap Nani setelah mereka berdua cukup lama saling diam.


Walau bangga Gino bisa membeli rumah sendiri, tapi hati kecil Nani tetap merasa tidak rela berpisah jauh dengan anak kesayangannya itu.


"Kalau ibu mau, ibu sama ayah bisa tinggal sama aku di rumahku," ucap Gino dengan mantap.


"Tapi kalau untuk tinggal di sini-- aku tidak bisa, Bu," lanjut Gino.


Nani paham apa alasan utama Gino tidak mau serumah di sini. Itu pasti karena ada Wulan. Sejujurnya Nani sendiri sudah sangat kecewa dengan Wulan, bisa dikatakan sudah mulai benci, setelah tahu bagaimana kronologi saat Wulan melecehkan Gino.

__ADS_1


Awalnya Gino tetap enggan untuk menceritakan itu, tetapi Nani terus memaksanya yang akhirnya Gino mau menceritakannya. Itupun karena Nani berjanji tidak akan menceritakan kejadian itu kepada yang lain. Cukup menjadi rahasia antara Gino dan Nani. Dan dari saat tahu cerita itu, Nani sudah tidak lagi berbicara dengan Wulan. Meski Wulan terus berusaha berbicara lagi dengan Nani, tanggapan Nani langsung pergi dari dekat Wulan.


"Ibu kalau mau tinggal sama aku nanti aku jamin ibu pasti langsung betah. Apalagi Naya baik kok, Bu. Dia sangat penyayang kepada siapapun. Juga dia selalu hormat dengan bapak ibunya, apalagi nanti sama ibu, pasti Naya juga menyayangi ibu."


"Nggak usah promosi!" sahut Nani sambil menggerakkan bahunya agar Gino menyudahi pijitannya.


Lalu pria itu duduk di lantai untuk kemudian mengangkat kedua kaki Nani untuk berselonjor di kursi panjang itu. Setelah itu Gino berpindah memijiti kaki Nani.


Di saat Gino dan Nani sedang diam, terdengar suara keributan dari dalam kamar Agus. Sepertinya Agus dan Wulan sedang bertengkar sengit, karena juga terdengar suara bising dari beberapa barang yang mungkin dilempar.


Putra dan Roby yang juga mendengar itu langsung keluar dari kamarnya. Mereka berdua berjalan mendekati Nani dan Gino, dengan wajah yang sangat ketakutan. Roby langsung saja memeluk kepada Nani saking takutnya.


"Kalian ikut om yuk, kita ngebakso di alun-alun," ajak Gino langsung.


Daripada membiarkan dua anak Agus mendengar pertengkaran kedua orang tuanya, lebih baik Gino mengajaknya keluar rumah saja.


"Tapi, Om?" Putra, anak sulung Agus menoleh cemas ke arah kamar Agus.


"Heem... Itu urusan orang dewasa. Ayo!"


Putra beranjak berdiri, tetapi Roby masih terus bersembunyi dalam pelukan Nani.


"Ibu, ayo ikut juga. Kalau tetap di sini nanti yang ada kita yang nggak tahu apa-apa kena juga."


Gino menarik tangan Nani. Dan siapa sangka Nani mau diajak keluar oleh Gino. Untuk saat ini mereka seperti sekubu untuk tidak mempedulikan Wulan lagi. Lalu setelah itu mereka berempat pergi ke alun-alun, yang jaraknya butuh dua puluh menitan untuk sampai ke sana.


Sesampainya di alun-alun mereka berempat langsung duduk di warung bakso langganan mereka.


"Kalau tempat kerja Naya di mana?" tanya Nani.


Gino terdiam kaget. Ini baru pertama kalinya ibunya menyebut nama Naya, bukan dengan sebutan janda lagi.


"Om Gino, nenek tanya," tegur Roby karena menduga Gino tidak mendengar pertanyaan Nani.


"Ah!" Gino celingukan sendiri.


"Ibu mau aku ajak ke warung bakso Naya kerja?" Gino balik tanya.


"Nggak!" Nani langsung menolak tegas.


"Atau apa kita pindah ngebakso di sana aja gimana?" usul Gino.


"Pindah ke mana, Om? Trus bakso yang ini siapa yang makan kalau kita pindah tempat," ucap Putra, karena memang pesanan bakso mereka sudah tersedia di meja.


"Ini dibungkus saja. Bisa buat kakek di rumah."

__ADS_1


"Sudah, makan di sini saja," ucap Nani yang kemudian menyendok baksonya walau sebenarnya tidak begitu doyan makan makanan itu.


*


__ADS_2