
"Ee-- A-- aku-- mau mandi, Mas," ucap Naya terbata-bata.
Gino terbengong mendapati Naya yang tidak nyambung dengan pertanyaannya. Tetapi kemudian tersenyum simpul setelah melihat rona merah itu di pipi Naya.
"Dia ngelamunin apa sih sampai kayak malu gitu?" batin Gino terheran-heran, tetapi sangat gemas melihat Naya yang seperti itu.
Lalu Naya segera masuk ke rumahnya begitu saja. Meninggalkan Gino bersama dengan Lala berdua saja, membiarkan Gino yang membereskan piring kotor bekas pakai Lala.
Bukan sengaja Naya membiarkan Gino berbuat seperti itu, tetapi wanita itu seperti tidak memiliki muka lagi untuk bertatapan dengan Gino saat ketahuan sedang melamun sambil menatapnya. Buru-buru Naya masuk ke kamar mandi begitu saja, menutup pintunya dengan cepat, membuat Rahma yang sedang ada di dapur langsung heran, ada apa dengan Naya?
"Nay, kamu kenapa?" tanya Rahma sambil mengetuk pintu kamar mandi itu, tetapi Naya tidak menjawab.
Hingga ketukan yang kedua, tetapi Naya tetap tidak merespon. Sedangkan wanita itu di dalam sana sedang sibuk mengatur ritme nafasnya yang tiba-tiba ngos-ngosan. Kenapa semudah itu pria itu bisa membuat hati Naya berdebar seperti ini?
"Aneh!" gumam Rahma sambil kemudian menemui Gino di luar sana.
"Loh, sudah selesai makannya?" kaget Rahma melihat Gino berhasil membujuk Lala makan sampai habis, padahal sebenarnya Lala paling rewel soal makan.
"Iya, Buk. Sepertinya lauknya cocok sama selera Lala," sahut Gino.
Padahal lauk yang dimakan Lala sudah hampir tiap hari ada, yaitu ikan goreng dan sayur bening.
Rahma tersenyum mendapati calon menantunya itu bisa menerima Lala juga.
"Buk, ada tissue basah nggak? Tadi aku minta sama dek Naya, tapi tiba-tiba aku ditinggal masuk," ucap Gino.
"Ooh... Ada! Tunggu ibu ambilkan ya." Lalu Rahma masuk ke dalam untuk mengambilkan tissue basah yang ada di kamar Naya.
Gino yang merasa tangannya lengket butuh cuci tangan memberanikan diri masuk ke rumah itu. Tak lupa Gino membawa Lala masuk juga. Tetapi tak disangka saat Gino sedang cuci tangan di wastafel, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
"Ibu, aku minta tolong ambilkan pembalut dong?" seru Naya tanpa memperhatikan siapa yang di dapur, karena yang nongol cuma kepalanya saja. Wanita itu baru kedatangan tamu bulanannya, makanya Naya tidak siap apa-apa dulu barusan.
"Mama!" pekik Lala memanggil Naya.
Naya langsung menoleh ke arah suara Lala, dan betapa kagetnya ia begitu tahu kalau juga ada Gino di dapur itu.
"Mampus aku!" rutuknya pada diri sendiri.
__ADS_1
Brakk!!
Spontan Naya menutup pintunya dengan keras. Membuat Lala langsung terkesiap kaget dan hampir mewek, beruntung ada Gino yang langsung sigap menenangkan Lala sehingga bocil itu tak jadi nangis.
Rahma dan Fifi berlarian dari dalam rumah untuk melihat apa yang terjadi di dapur.
"Ada apa?" tanya Rahma kepada Gino.
"Ee... Dek Naya butuh pembalut, Bu," sahut Gino dengan santainya.
"Hah?" Berbalik Rahma yang dibuat melongo saat mendengarnya.
Fifi yang mendengar ucapan Gino itu sudah tidak tahan untuk tidak tertawa. Ia menebak jika Naya barusan mengatakannya karena mengira yang ada di dapur adalah Rahma.
Tetapi Rahma segera menepuk lengan Fifi untuk berhenti tertawa seperti itu. Gadis itu langsung menurut, tetapi bukan berhenti tertawanya melainkan mengecilkan volume tawanya saja.
Kemudian Rahma mengambilkan pembalut yang diminta Naya di kamarnya. Sebelum itu ia memberikan tissue basah yang diminta Gino. Pria itu dengan telatennya membersihkan muka dan telapak tangan Lala menggunakan tissue itu. Membuat Fifi yang melihatnya langsung baper, seakan lupa jika ia tidak begitu menyukai Gino sebelumnya.
"Eh, Lala sudah mandi belum sih? Coba om cium dulu wanginya," kata Gino sambil mencium pipi Lala.
"Lala masih belum mandi, Om." Fifi yang menyahut.
"Lala, sini sama tante Fifi." Kemudian Fifi mengambil Lala dari Gino.
"Nak Gino, diminum dulu kopinya. Biar Lala sama Fifi," ucap Rahma yang tiba-tiba sudah datang lagi.
Gino mengangguk patuh. Lalu ia berjalan menuju teras samping rumah, kemudian duduk di sana.
"Duduk di dalam saja, Nak Gino, jangan di sini," kata Rahma lagi merasa tidak enak sendiri seorang tamu dibiarkan duduk di teras.
"Tidak apa-apa, Buk. Enak duduk di sini. Bisa sambil lihat suasana lingkungan sini," jawab Gino yang kemudian pria itu mulai menikmati kopinya.
Rahma melihat ke ujung jalan, rupanya ada mpok Tun bersama satu ibu lainnya sedang memperhatikannya dari sana. Seketika Rahma memiliki feeling tidak enak, akan ada omongan apa lagi setelah ini tentang keluarganya?
Sekilas Rahma melirik kepada Gino yang sedang sibuk memainkan ponselnya. Perasaan Rahma semakin yakin, jika wanita kepo diujung sana pasti sedang memperhatikan Gino juga.
"Nak Gino, ibu masuk dulu ya... Kamu kalau merasa tidak nyaman di sini, masuk saja duduk di dalam," ucap Rahma.
__ADS_1
"Oh iya, Buk." sahut Gino tetap merasa betah duduk santai di teras itu.
Dua puluh menit kemudian, Naya sudah selesai dan bersiap pergi. Ia pun menemui Gino di teras samping.
Gino yang tahu Naya menghampirinya, langsung mematikan ponselnya beralih menatap intens kepada Naya. Seketika senyum kecilnya terbit manakala teringat Naya yang ketahuan malu saat meminta pembalut tadi. Naya pun sejujurnya tak kalah malu menemui Gino lagi. Tapi apa boleh dibuat, suatu saat jika mereka jadi berjodoh hal seperti itu akan biasa dijumpai.
"Sudah, Dek?" sapa Gino.
Naya hanya mengangguk.
"Perutnya baik-baik aja nggak?" tanya Gino karena biasanya yang ia tahu perempuan suka PMS kalau sedang menstruasi.
Naya menggeleng agak gugup, sampai tak terasa bibir bawahnya ia gigit kecil. Membuat Gino yang melihatnya seketika berdebar. Dan langsung memalingkan wajah takut imannya tidak kuat, karena godaan bibir itu membuat naluri Gino seketika berdesir.
Di ujung sana masih ada mpok Tun dan kawan-kawan yang betah memperhatikan mereka. Naya menghela nafas panjang melihatnya. Tetapi mau tidak mau mereka harus lewat didepan mpok Tun setelah ini. Ah, biarlah maumu apa mpok Tun!
"Lala mana, Dek?" tanya Gino karena sudah tidak melihat Lala lagi.
"Dibawa main sama Fifi."
Gino menghembus nafasnya kecewa lagi. Sepertinya ia masih belum ditakdirkan untuk membawa Lala juga.
"Aku hari ini bawa motor, Dek, kamu nggak pa-pa kan?"
"Nggak pa-pa, Mas. Aku malah lebih enak naik motor daripada naik mobil," ucap Naya.
Apalagi setelah melihat mpok Tun diujung sana yang secara tidak langsung menjadi CCTV kehidupannya, Naya bertambah minder karenanya. Tetangga satu itu entah mengapa dari dulu suka julid dengan keluarga Naya. Seakan tidak senang jika melihat keluarga Naya bahagia. Padahal kehidupannya sendiri juga tidak baik-baik saja. Tetapi manusia jenis mpok Tun itu memang pasti ada di seluruh penjuru dunia. Banyak malah!
Kemudian Naya dan Gino berpamitan dengan Rahma. Setelah itu mereka mulai naik motornya. Naya sengaja berboncengan menghadap ke samping walau saat ini sedang menggunakan celana. Rasanya malu dan malas ada mpok Tun yang dengan jelas menjadi CCTV nya.
"Permisi, Mpok," sapa Naya saat ia melewati mpok Tun.
Mpok Tun langsung mencebik.
"Buibu, lihat tuh, kemarin cowoknya Naya datang pake mobil, sekarang sudah ganti motor. Kalau aku tebak, mobil kemarin itu pasti dapat pinjam di rental. Heem... Sok-sokan belagu! Padahal aslinya sama aja!"
Mulut pedas mpok Tun mulai beraksi.
__ADS_1
*