
Naya masih berdiri di dekat pintu kamar Gino. Matanya menyapu bersih kepada seluruh ruang kamar pria itu. Terlihat begitu rapi dengan nuansa warna bersih dan cerah. Biasanya jika seorang lelaki identik dengan cat kamar berwarna gelap, berbeda dengan Gino yang rupanya menyukai warna putih salju.
Gino yang melihat Naya mematung di tempatnya kembali lagi untuk kemudian menarik tangan Naya.
"Kenapa diem di sini, duduk dulu," kata Gino yang menuntun wanita itu untuk duduk di tepian ranjangnya.
"Mas, jangan lama-lama ya?"
"Baru duduk sudah bilang jangan lama-lama," balas Gino yang kemudian beranjak untuk membuka lemari pakaiannya.
"Nggak enak sama keluarga kamu, Mas. Apa kata mereka melihat kita berdua di kamar?" ucap Naya mengungkapkan kecemasannya.
Gino tak menyahut lagi. Pria itu sadar perbuatannya ini mungkin akan memperkeruh keadaan kepada Naya, tetapi hanya cara inilah satu-satunya yang menurut Gino bisa melindungi Naya dari serangan Wulan. Yah, hanya Wulan si iblis Jahannam yang harus dihindari.
"Mas, kamu dengar aku kan?" ucap Naya menganggap Gino sengaja tidak mendengarkan bicaranya.
"Iya, aku dengar. Tunggu bentar ya, aku cuma mau mandi," kata Gino kemudian.
"Ah, itu pasti lama! Kalau gitu aku tunggu di luar saja deh," ucap Naya sambil kemudian berdiri dari tempatnya.
"Eh, nggak jadi! Nggak jadi mandi, cuma ganti baju doang," cegah Gino dengan mengurungkan niatnya untuk mandi sebentar.
Lalu tanpa malu Gino membuka kancing bajunya di depan Naya. Seketika wanita itu melengos ke arah lain.
"Aku pake d4lem4n, Dek, nggak mungkin juga aku pamer perut sebelum kita halal," celetuk Gino sambil mesem-mesem gemas.
"Iih... Apaan sih! Siapa juga yang mau lihat kamu buka baju? Sudah cepetan deh, Mas!" sungut Naya, yang sebenarnya dirinya mulai nervous tetapi masih berusaha tetap tenang berdua dalam kamar bersama pria.
Sesaat keadaan menjadi hening. Entah apa yang dilakukan Gino, karena Naya terus saja memalingkan wajahnya dari Gino.
"Ayo, Dek!" ajak Gino kemudian.
Naya menoleh menatap Gino. Rupanya pria itu sudah mengganti atasannya dengan kaos simple yang enak dipakai. Kaos berwarna putih polos, tetapi sangat membuat aura ketampanan Gino semakin bersinar.
"Ya Allah... Cakep sekali calon suamiku," batin Naya bermonolog terpesona dengan ketampanan Gino.
__ADS_1
"Tadi minta cepetan, sekarang malah bengong," ucap Gino yang langsung membuat Naya terkesiap dari lamunannya.
Lalu mereka berdua keluar dari kamar itu, tetapi kemunculan mereka rupanya sedang ditunggu oleh Wulan dan Vita yang berdiri di depan kamar Gino.
"Huh, dasar wanita murahan! Nggak sabar nunggu kawin dulu? Baru cuma tunangan sudah main masuk kamar!" umpat Wulan bertambah nekat menghina Naya di rumah itu.
"Wulan!" bentak Suryo, yang seketika muncul dari arah dapur.
Wulan terjingkat kaget. Matanya langsung berubah pias, karena selama ia menjadi anggota keluarga di sini Suryo tidak pernah sekalipun membentak nya kecuali saat ini.
Sedangkan Suryo terus saja menatap Wulan dengan penuh kobaran amarah. Entah mengapa ia sangat ingin Agus segera menceraikan Wulan setelah kejadian ini. Karena Suryo pikir Wanita bermulut busuk seperti Wulan sudah tidak pantas untuk dijadikan istri dan juga seorang ibu yang akan mendidik anak-anaknya kelak. Sungguh, Suryo sangat menanti saat itu tiba.
Dan Vita langsung pergi begitu saja, anggap saja melarikan diri dari kemarahan Suryo karena sudah ikut-ikutan Wulan. Wanita itu memilih langsung masuk kamar dan juga mengunci pintunya rapat-rapat.
"Ada apa ini?" Agus yang baru datang dari belakang bertanya curiga, setelah ikut merasakan suasana yang menegangkan.
"Ajari istri kamu untuk menjaga akhlak! Jangan senang menghina orang seakan lupa kalau dirinya juga banyak dosa!" ucap Suryo kepada Agus dengan tegas.
Agus hanya balik menatap kepada Wulan. Tetapi tatapan wanita itu malah menyorot tajam kepada Gino. Dari sini Agus timbul rasa curiga, kenapa Wulan sampai segitunya menatap Gino, padahal saat bersamanya tatapan istrinya itu tidak sedalam ini?
"Cukup, Mbak!" Gino ikut membentak kepada Wulan.
Sedari tadi Gino sudah berusaha bersabar untuk tidak meladeni Wulan, tetapi sepertinya kesabarannya sudah benar-benar habis sehingga ia pun ikut membentak nya.
Gino akhirnya menyeret tangan Naya untuk pergi ke belakang rumahnya. Pria itu ingin berpamitan kepada ibunya, sebelum kemudian keluar bersama Naya.
Nani bukannya tidak mendengar pertengkaran di dalam, tetapi ia memilih tidak ikut nimbrung walau sejujurnya hatinya teramat kecewa mendapati Wulan yang berani meninggikan suaranya kepada Suryo, yang notabene sebagai bapak mertuanya.
"Ibu," sapa Gino kepada Nani yang saat itu sedang duduk seorang diri di belakang rumah.
"Aku pamit mau nganter Naya pulang," ucap Gino.
Nani mengangguk, tetapi tatapannya berpaling ke arah lain, rasanya masih enggan untuk melihat wajah Naya.
Gino meraih tangan Nani, kemudian menciumnya takdzim. Bergantian Naya juga ikut bersalaman kepada Nani.
__ADS_1
"Mm... Aku pamit pulang, Buk," sapa Naya kepada Nani.
"Iya, pulanglah!" sahut Nani.
Bersyukur masih mau menjawab walau terkesan ketus. Dan itu telah membuat Naya sedikit lega. Setidaknya ibu mertuanya itu tidak sepenuhnya tidak menyukainya. Mungkin benar kata Gino, beliau hanya butuh waktu.
Setelah itu Gino dan Naya masuk lagi ke dalam rumah. Mereka berdua ingin berpamitan kepada Suryo. Wulan dan Agus sudah tidak ada di tempat yang tadi. Entah ke mana mereka sekarang.
"Ayah, aku pamit mau ajak Naya lihat rumah, sekalian langsung nganter Naya pulang," kata Gino kepada Suryo.
"Iya, hati-hati ya kalian. Salam sama bapak ibu kamu, Naya," ucap Suryo dengan santun.
"Iya, Ayah, akan aku sampaikan ke bapak ibu salam dari ayah," sahut Naya.
Naya memanggil Suryo dan Nani dengan sebutan ayah dan ibu karena saat kumpul keluarga tadi Suryo meminta Naya untuk merubah panggilannya. Biar cuma sebatas tunangan, tetapi Suryo sudah menganggap Naya seperti istrinya Gino.
Lalu kemudian Gino dan Naya pergi dari rumah itu.
"Mas, aku pikir ibu kamu itu sebenarnya baik loh," ucap Naya di saat mereka sudah ada dalam perjalanan menuju rumah baru.
"Aku bilang apa? Makanya aku memintamu berjuang sama-sama karena aku tahu ibuku seperti apa," balas Gino.
Karena jika Nani benar-benar membenci Naya, ibunya Gino itu pastinya akan langsung menghina Naya di mana pun berada.
"Ayah pernah ngomong gini ke aku, katanya kita lebih baik cepat nikah terus punya anak, ibu pasti akan langsung luluh hatinya," ucap Gino, sengaja melirik kecil kepada Naya. Sekedar ingin tahu saja bagaimana reaksi Naya jika disinggung soal menikah.
Tetapi yang ada reaksi wanita itu biasa saja. Sama sekali tidak terusik walau sudah dipancing dengan jurus lainnya jika ingin segera mendapatkan restu dari Nani.
"Dek," sapa Gino sekali lagi.
"Hem?"
"Jadi kapan baiknya kita menikah?" tanya Gino dengan serius. Walau ia sendiri tidak yakin kalau jawaban Naya akan sesuai ekspektasi.
"Tidak tahu. Jujur aku masih belum siap, Mas, kalau keadaannya masih seperti ini," jawab Naya dengan sejujur-jujurnya.
__ADS_1
*