
Pagi menjelang. Mulai dari subuh tadi Nani sibuk sendiri di dapur karena semalam Gino yang mengatakan akan pulang pagi-pagi sekali. Nani sibuk untuk membuatkan Gino dan Naya sarapan, meskipun sudah tahu jika mereka tidak bisa ikut sarapan bersama. Sedangkan Naya tidak bisa membantu karena semalam tubuhnya tiba-tiba demam, efek kehujanan membuat Naya masuk angin.
Hari ini Gino masuk kerja. Berhubung semua perlengkapan kerjanya ada di rumah, maka Gino masih harus mampir ke rumah dulu untuk mengambilnya. Belum lagi masih mau menjemput Lala ke rumah neneknya. Jadilah pagi ini menjadi pagi yang sibuk untuk Gino.
"Gino, ini bekal sarapan untuk kamu," ucap Nani yang sudah menyiapkan satu kotak bekal untuk Gino.
"Yang ini bisa dimakan istrimu," katanya lagi, menyerahkan satu tas yang berisikan macam-macam lauk yang sengaja Nani buatkan untuk Naya.
Nani memang masih tidak banyak bicara dengan Naya, akan tetapi jauh di lubuk hatinya ia sudah menerima Naya sebagai menantunya. Makanya begitu tahu Naya sedang kurang sehat, ia membuatkan Naya sarapan juga. Katakanlah sama-sama canggung untuk saling mengakrabkan diri antara Nani dan Naya.
"Terimakasih, Bu," ujar Gino.
Pria itu kemudian berpamitan kepada Suryo dan Nani, disusul kemudian Naya yang ikut bersalaman kepada mereka. Setelah itu keduanya lekas menuju motornya, dan kemudian segera melaju menuju rumah Rahma untuk menjemput Lala.
Suryo tetap berdiri di teras rumahnya meski Gino sudah pergi jauh. Bibir pria itu terus tersenyum bahagia begitu mendapati perlakuan Nani yang sudah menghangat kepada Naya. Dengan begini artinya Nani sudah mau menerima Naya.
"Nani, kandungan Naya itu sudah tujuh bulan, berarti bulan ini dia harus tingkepan. Kita harus menyiapkan keperluannya," ucap Suryo.
"Iya," sahut Nani dengan singkat.
Suryo tersenyum lagi, meski jawaban Nani sangat singkat.
Saat ini Gino sudah tiba di rumah Rahma. Berhubung kondisi Naya yang kurang sehat, maka Gino membiarkan Naya untuk beristirahat di rumah Rahma. Dan Lala sendiri tetap berangkat sekolah dengan diantar Fifi.
"Kamu bawa apa, Nay?" tanya Rahma setelah Gino pulang.
__ADS_1
"Ini dari ibu, sarapan buat aku," jawab Naya yang kemudian mengeluarkan kotak itu dan meletakkannya di atas meja makan.
"Apa artinya ibu mertua kamu sudah biasa saja sama kamu, Nay?" tanya Rahma setelah melihat Naya sampai dibuatkan sarapan oleh Nani.
Naya mengangguk. Karena kenyataannya selama Naya menginap semalam, Nani biasa saja kepadanya.
"Alhamdulillah kalau begitu, Nay. Ibu lega mendengarnya," timpal Rahma dengan tersenyum lega.
Kemudian Naya menikmati sarapannya dengan ditemani Rahma yang ikut duduk bersamanya.
***
Sore hari Gino datang untuk menjemput Naya. Rencananya sore ini mereka akan datang lagi ke dokter karena kemarin mereka tidak jadi kontrol kandungan. Kali ini Gino datang sambil menaiki mobilnya, karena juga akan membawa Lala dan Fifi.
Saat ini Gino dan Naya sudah menunggu di ruang tunggu di klinik dokter itu. Sedangkan Fifi dan Lala menunggu mereka dari dalam mobil saja. Tibalah giliran Naya untuk diperiksa, mereka berdua kemudian sama-sama masuk ke ruangan dokter obgyn itu.
"Tapi ini masih bisa kembali lagi, Pak, Buk, karena usia kandungannya masih tujuh bulan. Jadi jangan panik. Ada caranya supaya bisa kembali semula," terang dokter itu yang kemudian menjelaskan kepada Naya dan Gino bagaimana cara yang dilakukan oleh ibu hamil supaya baby breech itu bisa kembali normal lagi.
Cara termudah dan aman untuk mengubah posisi bayi sungsang adalah dengan bersujud (Knee chest position). Dilakukan sehari dua kali selama sepuluh menit secara rutin. Biasanya setelah itu perlahan bayi akan berputar lagi ke posisi yang normal.
"Baik, Dokter, akan kami terapkan sesuai anjuran dokter," ucap Naya setelah mendengarkan penjelasan dari dokter tersebut.
"Apa penyebab kenapa bayi kami seperti ini, Dok?" tanya Gino.
"Penyebabnya ada banyak, tapi itu masih wajar karena kandungan usia tujuh bulan itu pergerakan bayi sangat aktif. Air ketuban banyak, ruangnya luas, berat badan bayi masih kecil, jadi mereka bebas bergerak. Dan lagi setelah saya lihat memang bayi kalian geraknya aktif sekali," jelas dokter itu sambil terkekeh kecil pada akhir kalimatnya.
__ADS_1
"Tapi jika sampai masuk sembilan bulan nanti posisinya tetap tidak kembali, saya sarankan untuk caesar saja, demi keselamatan ibu dan bayinya," lanjut dokter itu.
"Apakah tidak bisa diusahakan lahiran normal, Dok?" Kali ini Naya yang bertanya.
Entahlah, Naya selalu takut jika mendengar istilah caesar. Padahal itu juga termasuk perjuangan besar yang dilakukan ibu hamil untuk melahirkan buah hatinya.
Sebenarnya melahirkan normal maupun caesar sama-sama perjuangan yang besar. Jadi jangan pernah katakan seseorang yang melahirkan caesar itu belum merasakan menjadi ibu yang seutuhnya. Melahirkan secara caesar itu juga banyak resiko setelahnya. Karena apapun itu, seorang ibu rela berkorban mempertaruhkan nyawa demi melahirkan buah hatinya.
"Bisa, Bu, cuma resikonya besar dan prosesnya lebih lama," jawab dokter itu.
Setelah menerima resep vitamin dari dokter itu, kemudian Naya dan Gino keluar dari ruangan itu. Sedari tadi wajah Gino nampak gusar dan banyak diamnya, hingga sampai mereka kembali masuk ke mobil. Jelas Gino sangat kepikiran bagaimana dengan Naya. Sebelumnya Naya sering bilang jika ia ingin melahirkan dengan normal. Tetapi jika kondisinya seperti ini Gino mulai berpikir bagaimana jika Naya tetap kekeh ingin lahiran normal, padahal jika itu dipaksa akan membahayakan ibu dan bayinya.
Padahal yang dirasakan Naya sebenarnya sama cemasnya seperti yang dirasakan Gino. Jika anjuran dokter itu tidak berhasil maka mau tidak mau saat lahiran nanti ia harus caesar. Tetapi semoga saja nanti ada keajaiban, sehingga Naya tetap bisa melahirkan secara normal saat tiba waktunya nanti.
"Gimana, Mbak, hasil periksa nya?" tanya Fifi yang penasaran dengan hasil kontrol Naya.
"Alhamdulillah semuanya baik, Fi," sahut Naya menutupi kondisi yang sebenarnya kepada Fifi.
"Alhamdulillah," seru Fifi sambil tersenyum lega.
Sekilas Gino menatap kepada Naya, lalu mengusap perut buncit Naya.
"Sehat-sehat ya anak papa," ucap Gino setelah sedari tadi hanya diam.
Naya tersenyum kecil menatap kepada Gino.
__ADS_1
"Adek..." Lala ikut mengusap perut Naya. Bocah itu sangat senang mengajak bicara adiknya sambil menciumi perut Naya.
*