Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 46


__ADS_3

Rombongan keluarga Gino tiba di rumah Naya. Mereka telat sekitar dua puluh menit dari jam yang disepakati. Wulan langsung melongo begitu tahu bagaimana rumah Naya. Wanita itu pikir Naya adalah orang cukupan, ternyata hanya orang biasa saja.


Nani tidak banyak bicara meski sudah tahu bagaimana rumah calon besannya. Wanita itu tidak begitu mementingkan kaya tidaknya calon menantunya, cuma masalah status janda itu yang saat ini masih sulit ia terima.


Suryo tersenyum bahagia saat mulai bersalaman dengan Abdul dan beberapa keluarga besar dari Naya yang menyambut kedatangannya. Ada Arif juga yang turut hadir sebagai pembawa acara lamaran yang terkesan sederhana itu.


Saat semua rombongan keluarga Gino sudah duduk tenang dalam rumah Naya, kemudian Naya keluar dari kamarnya untuk menemui mereka. Wanita itu memakai baju couple dengan Gino. Tatapan mata Nani, Wulan, dan Vita, langsung menyorot tajam kepadanya.


"Lumayan juga," batin Nani tidak menampik kecantikan Naya.


"Cantik juga sih, tapi sayang sudah janda," batin Vita ikut bermonolog.


"Sialan! Sok cantik! Cuma modal make up doang!" umpat Wulan dalam hatinya.


"MasyaAllah... Cantiknya!" puji seorang wanita paruh baya dari keluarga Gino kepada Naya.


Naya hanya tersenyum tipis. Ia terlalu malu untuk menatap satu persatu keluarga Gino yang ikut datang. Sedari tadi wajahnya terus tertunduk, tentunya dengan degup jantung yang ikut nervous.


"Nak, itu ibu mertua kamu, dan itu ayah mertua kamu," ucap wanita tadi, kemudian Naya mengangkat wajahnya untuk melihat ke arah wanita itu menunjuk.


Deg.


Degup jantung Naya seakan berhenti berdetak saat melihat adanya wanita yang pernah menghinanya di mall, sedang duduk berdampingan dengan calon ibu mertuanya.


Siapakah wanita itu sebenarnya? Apakah ia masih saudara dengan Gino? Lantas mengapa saat itu ia menghina Naya? Apakah itu artinya sebenarnya keluarga Gino tidak sepenuhnya menerima pertunangan ini?


Berbagai macam pertanyaan itu terus berputar di benak Naya. Jemarinya tak terasa saling memilin, gugup luar biasa, saat wanita itu menatap Naya dengan tatapan tajamnya. Kentara sinis dan mengejek.


Tetapi Naya kemudian beranjak juga untuk bersalaman dengan calon mertua. Meski hati dan perasaan Naya sudah tidak karuan, tetapi hal itu tetap ia lakukan. Bersyukurnya Nani mau menerima uluran tangan Naya saat bersalaman. Tetapi reaksinya sangat dingin, tak terucap satu kata pun yang keluar dari mulut Nani untuk sekedar menyapa Naya.


Selanjutnya Naya bersalaman dengan Suryo. Pria itu langsung mengusap pundak Naya saat Naya membungkuk untuk bersalaman.

__ADS_1


Senyum pria tua itu terus terulas hangat menatap Naya.


Setelah itu Arif membuka acara pertunangan itu. Acara berlangsung dengan khidmat dan lancar. Hingga pada saat pemakaian cincin semuanya berjalan lancar tanpa ada drama apapun.


Acara dipungkasi dengan sesi foto-foto. Satu persatu dari keluarga Naya dan Gino bergantian untuk foto bersama. Tetapi yang membuat Gino penasaran mengapa ia tidak melihat Lala sama sekali.


"Dek, Lala mana?" tanya Gino sambil berbisik kepada Naya.


Naya bergeming saja. Ia sendiri juga tidak tahu Lala ada di mana. Kemudian Naya melambai tangan memanggil Fifi yang saat itu sedang sibuk jadi fotografer dadakan.


"Fi, Lala di mana?" tanyanya sambil berbisik juga kepada Fifi.


"Di belakang, Mbak, sama umi," jawab Fifi yang mengatakan kalau Lala sedang bersama ibu kandung Fifi.


Naya mengangguk kecil. Ia pun tidak menjelaskan kepada Gino, karena Gino juga mendengar omongan Fifi barusan. Entahlah! Tiba-tiba hati Naya berubah resah, setelah melihat sendiri bagaimana reaksi tiga wanita yang datang bersama keluarga Gino itu.


"Mas, kamu tidak mau makan?" tanya Naya, karena semua tamu sudah pada menikmati makanannya.


"Mas," ucap Naya lagi sambil kemudian melepas tangan Gino dari tangannya.


"Aku-- mau ke belakang dulu," pamitnya.


Sudah tidak peduli dengan acara yang masih belum bubar. Naya hanya ingin menghindar sejenak. Dadanya terasa sesak sedari tadi. Apalagi saat mengetahui tidak ada Lala di dalam sana. Seakan keluarganya dengan sengaja ingin menyembunyikan Lala dari keluarga Gino.


Bukan seperti ini yang Naya inginkan. Jika mereka sudah tahu kalau status dirinya sudah janda dan punya anak, Naya ingin Lala juga ada di tengah-tengah mereka. Ikut merasakan momen bahagia ini. Ikut serta dalam foto bersama. Bukan seperti ini!


Begitu Naya sudah ada di dapur, ia melihat Lala sedang di pangku oleh ibunya Fifi. Segera Naya mengambil Lala dan kemudian menggendongnya. Diam-diam Naya menitikkan airmatanya, saat ia sedang mencium pipi anaknya.


"Loh, kenapa malah ke sini?" tanya ibunya Fifi, merasa heran.


"Aku mau pipis, Bu lek," dusta Naya.

__ADS_1


Kemudian ibunya Fifi mengambil Lala lagi, menyuruh Naya untuk segera ke kamar mandi agar bisa segera kembali ke depan berkumpul dengan tamu-tamu yang datang.


Tetapi begitu Naya ada di dalam kamar mandi, ia menangis. Naya menumpahkan segala yang membuat dadanya sesak dengan tangisan lirihnya. Tanpa dijelaskan Naya sudah feeling jika keluarga Gino tidak semuanya merestui nya. Hal itulah yang membuat Naya bersedih hati. Kecewa dengan diri sendiri. Andai cinta itu tidak tumbuh di hatinya kepada Gino, mungkin rasa kecewa yang Naya rasa saat ini tidak sesakit ini.


Tok tok tok


Bunyi ketukan pintu di kamar mandi membuat Naya seketika menghentikan tangisannya.


"Naya, sudah belum?"


Suara ibunya Fifi menyapa dari luar pintu.


"Ee... Tunggu sebentar, Bu lek," sahut Naya yang kemudian kebingungan sendiri untuk membersihkan air matanya.


Andai tidak sedang bermake-up mungkin bisa langsung cuci muka untuk menyamarkan kalau ia habis menangis. Sialnya saat masuk tadi Naya tidak membawa tissue untuk dibuat mengelap air matanya. Maka perlahan Naya membuka pintu kamar mandinya, bermaksud ingin meminta tolong ibunya Fifi untuk mengambilkan tissue untuknya.


Tetapi Naya dikejutkan dengan Gino yang ternyata sedang menunggu di depan pintu kamar mandi itu. Sedang apa dia di sini?


Rupanya Gino berpura-pura pamit ingin ke kamar mandi tadi. Yang ternyata itu hanya alasannya saja. Pria itu sebenarnya kebingungan karena Naya pamit ke belakang tapi tak kunjung kembali, yang akhirnya membuat Gino terpaksa menyusulnya dengan berpura-pura ingin ke kamar mandi.


Naya segera menutup pintu kamar mandinya. Dadanya tiba-tiba berdetak hebat, merasa kaget pastinya. Apakah Gino melihat kalau ia habis menangis? Ah, semoga tidak!


Sedangkan Gino sendiri tetap berdiri di depan pintu kamar mandi itu. Dadanya juga ikut bergemuruh melihat mata Naya yang sembab. Ia tahu kalau wanitanya itu pasti sedang menangis di dalam sana. Meski sangatlah ingin menenangkan perasaan Naya saat ini juga, tetapi ia harus melihat sikon. Ia tidak mau perbuatannya akan mengundang penasaran orang-orang yang melihatnya. Tetapi nanti setelah acara ini selesai, Gino pastikan akan berbicara dari hati ke hati bersama Naya.


"Dek, sudah belum?" sapa Gino sambil mengetuk pintu kamar mandinya.


Setelah itu pintu kamar mandinya terbuka. Naya keluar dari sana. Sejenak tatapan mereka saling bersirobok. Gino menggeleng pelan, tangannya terulur untuk memegangi pundak Naya.


Perlahan senyum kecil Naya terbit.


"Aku baik-baik saja, Mas," ucap Naya yang kemudian berlalu, agar Gino bisa masuk ke kamar mandi juga.

__ADS_1


*


__ADS_2