
Usai melaksanakan sholat maghrib berjama'ah di masjid dekat rumah Naya, Gino disapa oleh seseorang yang kebetulan juga ada di masjid itu.
"Gino!"
Gino yang mendengar namanya dipanggil menoleh ke orang tersebut.
"Kamu Gino anak ekonomi itu kan?" Orang itu lebih mendekat kepada Gino.
Sejenak Gino menatap lelaki brewok yang saat ini mendekatinya.
"Hei, aku Arif. Kita pernah satu team dulu di kampus, kamu lupa denganku?"
Saat ini Gino dan lelaki bernama Arif itu memilih duduk santai di undakan teras masjid.
"Arif anak gang Lele?" Gino mulai ingat orang itu. Sial! Yang Gino ingat hanya Arif alamatnya di gang Lele, kalau fakultasnya Gino sudah lupa.
"Iya!" Lalu mereka berdua tertawa riang sambil berjabat tangan. Cukup lama mereka tidak pernah bertemu lagi setelah wisuda dulu.
"Waah... Kok bisa di sini?" tanya Arif.
"Iya. Barusan aku mampir ke rumah teman, trus nanggung maghrib jadinya sholat di sini," jawab Gino.
"Siapa nama temanmu? Di mana rumahnya?"
Gino hanya menunjuk ke arah jalan menuju rumah Naya. Sengaja tidak menjawab nama teman yang dikatakan olehnya.
"Kamu kok bisa di sini, Rif? Aku pangling lihat brewok kamu." Gino terkekeh saat mengatakannya.
"Hah, bisa aja kamu." Arif ikut terkekeh mendengar pengakuan Gino.
Sebenarnya Arif menjadi imam di masjid itu. Katakanlah sebagai ustadz di kampung tempat Naya tinggal. Cuma Gino kurang ngeh dengan penampilan Arif yang memang tidak terlalu condong dengan ciri khas ustadz.
"Aku ikut istri, Gi. Rumahku tidak jauh dari sini. Ayo mampir, Gi," ajak Arif.
"Duh, maaf, lain kali saja, Rif." Gino menolak karena sedang ada urusan penting setelah ini.
Urusan yang menyangkut masa depan Gino. Urusan yang menyangkut dengan hati. Yap, setelah ini Gino berencana akan menemui Yuli. Apa lagi tujuannya selain ingin mengorek info lebih banyak tentang Naya. Jujur Gino akui, hatinya telah terpatri pada pesona janda beranak satu itu.
"Oh ya, kamu sudah punya anak berapa? Aku sudah otw empat." Arif cekakakan sendiri mengakui kalau akan punya anak empat.
"Wow... Produktif sekali kamu, Rif?"
__ADS_1
"Yoi... Ada pepatah bilang, banyak anak banyak rejeki."
"Asal rajin kerja!" celetuk Gino yang kemudian mereka kembali tertawa ngakak.
"Kalau aku masih cari calon bini, Rif. Jadi jangan tanya anakku ada berapa. masih tahap pencarian," kata Gino kemudian.
"Jangan bilang umur segini kamu masih single. Serius, Gi?"
"Yaa... Beginilah."
Arif menepuk-nepuk pundak Gino.
"Mau bantu aku carikan tidak?" bisik Arif serius, tetapi Gino langsung menolak yakin.
"Aku sudah ada," aku Gino dengan pedenya.
"Kalau sudah ada buruan halalin lah. Tahun depan kalau nggak salah kamu sudah lewat kepala tiga." Arif cekakakan lagi.
"Tahu aja kau!" Gino ikut terkekeh.
Memang Arif dengan Gino seumuran. Gino kalah jauh dengan Arif yang sudah akan punya anak empat.
"Orang mana calonnya? Jangan-jangan orang sini juga?" Arif bertanya semakin kepo. Lama tidak bertemu, membuat mereka berdua betah mengobrol. Dulu Arif dan Gino pernah dekat, makanya saat ini mereka tidak sungkan lagi bicara serius masalah jodoh.
"Nah, benar kan dugaanku! Ayo ngaku, anaknya siapa calonmu itu. Aku siap jadi perantaranya. Siapa tahu kamu butuh comblang buat menyatakan keinginanmu ke orang tuanya," ucap Arif yang terkadang memang menjadi juru bicara kalau ada orang mau melamar.
"Serius, Rif?" Sorot mata Gino langsung berbinar senang.
Arif mengangguk meyakinkan.
"Aku tidak tahu nama orang tuanya, Rif. Mm... Rumahnya tidak jauh dari masjid ini. Di dekat tikungan depan, rumah cat hijau," jelas Gino.
"Anaknya pak Abdul?" tanya Arif memastikan, karena rumah dengan ciri-ciri yang disebut Gino hanyalah rumah Abdul.
"Mungkin. Tapi dia sudah pernah menikah sebelumnya. Dia janda, punya anak satu."
"Iya, itu anak sulungnya pak Abdul. Namanya Inayah kan?"
Gino mengangguk. "Hem, namanya Naya."
"Kamu kenal di mana sama dia?" Arif bertanya serius. Karena Arif penasaran, setahunya Naya adalah wanita pendiam yang tidak memiliki banyak teman. Katakanlah tipekal introvert.
__ADS_1
"Dikenalkan temanku. Istrinya temanku itu temannya Naya."
"Kenapa kamu bisa tertarik dengan dia? Kamu bujang belum pernah menikah, tapi malah tertarik sama yang janda." Sengaja Arif bertanya seperti itu karena ingin menguji seberapa mau Gino dengan Naya.
Arif kenal dekat dengan Abdul. Dan juga sedikit tahu bagaimana Naya di kampung ini. Mendengar Gino ingin berniat baik kepada Naya, tentu Arif ikut senang. Tetapi ia masih ingin menguji dulu seberapa besar niat itu dari Gino.
"Masalah gadis atau sudah janda itu nggak seberapa penting buatku, Rif. Aku hanya ingin mencari wanita baik yang bisa menjadi pelengkap hidupku. Wanita baik yang aku yakini bisa menjadi ibu hebat untuk anak-anakku kelak. Dan-- Aku yakin Naya lah orangnya."
Arif menepuk-nepuk pundak Gino lagi. Tersenyum samar mendengar pengakuannya.
"Dia sepertinya penyabar. Aku suka wanita penyabar seperti dia. Dia sangat sederhana. Dan juga dia sangat telaten mengurus anaknya. Aku mencari wanita yang seperti itu, Rif. Kelak dia bisa mendidik anak-anakku dengan telaten juga."
"Kalau seperti itu perasaanmu kepadanya, InsyaAllah aku siap membantu menyampaikan niat baikmu itu sama pak Abdul."
Gino mengangguk setuju.
"Terimakasih, Rif. Mm... Aku minta nomor hapenya dong. Nanti lanjut bahas di telpon."
"Aku nggak bawa hape ke masjid, Gi. Kebetulan baru kemarin aku ganti nomor hape, jadi nggak hafal."
Lalu Gino menyerahkan kartu namanya kepada Arif.
"Itu nomor hapeku," kata Gino.
"Wiih... Kamu pegawai B#I?" takjub Arif melihat kartu nama Gino yang memang ada logo tempat Gino bekerja.
"Tolong jangan bilang sama keluarganya Naya soal pekerjaanku itu," mohon Gino dengan serius.
"Kenapa? Mereka perlu tahu pekerjaanmu. Mana ada orang mau melamar anak orang datanya masih tidak lengkap," seloroh Arif. Dipikir orang daftar kerja apa?
"Bilang saja aku ini tukang kebun. Aku terlanjur bilang seperti itu ke Naya."
"Tujuanmu apa tidak jujur saja sama dia?"
"Aku ingin melihat seberapa tulus dia menerimaku dengan pekerjaanku yang cuma sebagai tukang kebun."
"Keluarga pak Abdul itu bukan keluarga matre, Gi. Aku bisa jamin itu," sanggah Arif. Karena dengan pernyataan Gino yang tidak jujur dengan pekerjaannya, bisa jadi Gino takut mereka keluarga matrealistis.
Gino tersenyum saja. Semoga saja apa yang dikatakan Arif itu benar. Karena kebanyakan orang jika sudah melihat yang beruang, akan berubah semuanya. Termasuk merubah otak sehingga dengan mudah bisa dibeli dengan uang.
Tak terasa percakapan Gino dan Arif cukup lama, sehingga kumandang adzan isya menggema di masjid itu. Gino yang terlanjur ada di masjid itu tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya untuk meraih pahala yang banyak. Segera ia dan Arif beranjak dari tempatnya. Gino langsung berbelok ke arah toilet cowok.
__ADS_1
Tanpa Gino tahu, rupanya ada sepasang mata sedang menatapnya dari kejauhan. Membuat orang itu semakin curiga tentang siapa dan apa hubungannya Gino dengan Naya.
*