Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 32


__ADS_3

Selesai sholat ashar Naya bersama Rahma duduk santai di teras samping rumah sambil menemani Lala yang sedang makan. Wanita itu mengatakan kepada ibunya jika setelah ini Gino akan datang menjemputnya.


"Iya, tidak apa-apa, biar Lala sama ibu di sini," kata Rahma mengijinkan Naya.


"Aku-- merasa gimana gitu bu, kayak merasa senang-senang sendiri dan lupa anak," ucap Naya dengan sendu.


Dari semalam ia kepikiran dengan Lala. Dirinya seorang wanita yang sudah memiliki anak, tetapi kesannya seperti orang pacaran yang sedang kencan yang lupa dengan anaknya di rumah. Makanya setelah Gino mengatakan akan menjemputnya lagi, sebenarnya Naya kepikiran Lala lagi. Ingin sekali rasanya Naya juga membawa Lala bersama, toh Gino sendiri sudah tahu kalau dirinya seorang janda yang sudah beranak.


"Bukan melupakan anak, Nay. Tapi kamu sama Gino itu kan masih sebatas calon. Menurut ibu jangan dulu lah bawa Lala keluar bareng. Pikirkan perasaan Gino dulu. Dia itu masih bujang, jangan langsung dilatih jadi bapak. Dengan kamu tidak membawa Lala kamu bisa bicara tenang sama dia, tanpa bingung ngurusin Lala. Bisa saling mengenal, manfaatkan saat berdua untuk saling bercerita satu sama lain," ucap Rahma.


Naya mencerna ucapan Rahma yang memang ada benarnya. Memang Gino semalam menanyakan Lala untuk diajak keluar bersama, tetapi ia harus sadar diri untuk tidak seenaknya sendiri menjadikan Lala sebagai anaknya Gino juga. Walau bagaimana pun, posisi Lala di sini hanyalah sebagai calon anak tiri untuk Gino.


"Nay, kamu tidak mau siap-siap? Buruan mandi, entar Gino sampai datang gimana?" ucap Rahma mengagetkan Naya yang sedang termenung.


"Ee... ee... Tunggu bentar lah, Buk. Ini Lala belum selesai makannya. Lagian masih mau setengah empat."


Lalu Naya kembali melanjutkan menyuapi Lala. Terlihat jelas jika sebenarnya Naya masih berat meninggalkan Lala lagi. Jika semalam ia lancar saat keluar bersama Gino, tetapi tidak tahu sekarang. Saat ini Lala ada di rumah, biasanya bocil itu selalu merengek minta ikut kalau melihat Naya berdandan rapi.


Lalu Rahma masuk ke rumahnya. Tinggal Naya dan Lala berdua saja di sana. Tetapi tak lama setelah itu terdengar suara motor masuk ke halaman rumah Naya. Wanita itu menoleh untuk melihat, rupanya Gino yang datang lebih awal dari jam yang sudah ditentukan.


Gino mulai turun dari motornya dan kemudian mendekati Naya yang masih belum selesai menyuapi Lala makan.


"Assalamu'alaikum, Dek," sapa Gino kepada Naya.


"Wa'alaikumsalam." jawab Naya.


Lalu Gino ikut duduk jongkok, menyamakan posisinya dengan tubuh Lala.


"Hei cantik, kita belum kenalan nih," sapanya kepada Lala. Tangannya mulai membelai gemas pipi Lala yang chubby.


"Lala, dia om Gino namanya," kata Naya kepada Lala.


Lala hanya menoleh sekilas, lalu bocah itu kembali fokus dengan mainan yang dipegangnya.


"Dia cuek kalau masih belum kenal," ucap Naya takut Gino merasa tidak disukai oleh Lala.

__ADS_1


Gino hanya tersenyum tipis menanggapinya. Ia bisa maklum dengan sikap Lala yang begitu, dan itu sudah wajar. Baginya untuk mengambil hati anak kecil memang butuh kesabaran ekstra. Apalagi yang akan diambil hatinya saat ini adalah calon anak sambungnya. Menaklukkan hati ibunya saja responnya masih abu-abu, apalagi untuk bisa mengambil hati anaknya.


"Katanya mau jemput jam empat, kok sudah datang?" tanya Naya mengingat dirinya masih belum siap apa-apa.


"Iya, memang sengaja datang awal. Mau lihat kamu belum mandi seperti apa, ternyata tetap aja cantik," seloroh Gino sambil terkekeh membuat Naya langsung salah tingkah.


"Heem... Gombalnya ketahuan bohong!" Naya ikut tertawa kecil.


Gino semakin melebarkan senyumnya. Rasanya sangat bahagia sekali melihat Naya tertawa. Sepertinya hidupnya setelah ini akan benar-benar lengkap bersama dengan Naya. Apalagi dengan adanya bocah perempuan manis disampingnya yang secara tak langsung menjadi penonton mereka.


"Lala juga cantik kok," sapa Gino sambil menyentuh pipi Lala.


Tak disangka ternyata bocah itu ikut tertawa kepada Gino.


"Iih... Gemes, Dek."


Refleks Gino langsung mengangkat tubuh Lala dalam gendongannya. Ternyata bocah itu tidak menolak. Malah semakin tertawa ketika dengan sengaja Gino mengunyel-ngunyel pipi chubby nya.


Naya yang melihatnya hanya bisa tersenyum terharu. Entahlah! Tiba-tiba hatinya merasa baper melihat Lala yang senang digendong seperti itu oleh Gino.


Tawa riang Lala membuat Rahma ikut keluar melihatnya. Rahma pun sama terharunya melihat adegan itu. Dalam hati terselip do'a, semoga apa yang dilihatnya itu adalah awal dari kebahagiaan Naya dan Lala bersama Gino.


"Oh iya, Lala mau om yang suapin? Biar mama mandi dulu. Mau?"


Lalu Gino menurunkan Lala dari gendongannya, kemudian mengambil piring yang dipegang Naya.


"Jangan, Mas. Biar aku lanjutkan," cegah Naya tak enak sendiri.


"Nggak pa-pa, Dek. Itung-itung latihan jadi papanya Lala. Ya nggak, La. Tos dulu yuk?"


Lala dan Gino saling tos tangan. Keduanya kembali tertawa dengan riang. Sejenak Gino menoleh ke belakang, karena seperti melihat ada orang lain yang ternyata memang sudah ada Rahma di sana.


"Eh, ibu," sapa Gino yang kemudian beranjak mendekatinya untuk bersalaman.


"Bapak didalam, Bu?" tanya Gino menanyakan Abdul.

__ADS_1


"Bapak belum pulang kerja. Biasanya jam setengah lima datangnya," jawab Rahma.


"Nay, buatin minum sana," titah Rahma kepada Naya.


Naya langsung mengangguk patuh. Wanita itu masuk ke rumahnya untuk membuatkan Gino minuman, Rahma ikut masuk juga.


"Nay, aku lihat Gino sepertinya suka anak kecil ya?" ucap Rahma sesuai dengan kesan pertamanya melihat sikap Gino kepada Lala.


Naya hanya tersenyum tanpa bisa menimpali, karena menurutnya tidak cukup satu kali untuk menilai Gino seperti apa aslinya.


Sedangkan di luar sana Lala sama sekali tidak rewel disuapi oleh Gino. Sepertinya bocah itu sudah mulai nyaman dengan Gino. Dan lagi dari dulu Gino sudah terbiasa ikut merawat dua ponakannya dari kecil. Pria itu memang penyayang anak kecil. Siapapun bocahnya, apalagi masih saudara sendiri, Gino akan sangat menyayanginya tanpa pilih kasih.


Fifi diam-diam memperhatikan Gino dan Lala dari jendela dalam rumah. Dalam hati kecilnya ia ikut senang melihat Lala sebahagia itu bersama Gino. Tetapi tetap saja Fifi tidak terima dengan pria itu. Gadis itu terlanjur menandai Gino sebagai perebut Naya dari Wahyu. Karena yang lebih dulu mendekati Naya adalah Wahyu, bukan Gino.


Terlihat Naya keluar membawa secangkir kopi susu dan meletakkannya ke atas meja yang ada di teras itu.


"Ini kopinya, Mas," ucap Naya kepada Gino.


"Terimakasih, Sayang," jawab Gino tanpa menoleh kepada Naya karena asyiknya menyuapi Lala yang sudah tinggal satu kali suapan.


Dag deg dag deg


Naya seketika mematung di tempat. Detak jantungnya terasa berdegup melebihi batasnya. Saat mendengar Gino memanggilnya dengan sebutan sayang. Jika ada cermin, mungkin ia bisa melihat wajahnya semerah apa saat ini. Malu parah!


"Alhamdulillah... Makannya sudah habis, sudah selesai," pekik Gino dengan senang.


"Duh, pipinya jadi cemong."


Lalu Gino menengok ke belakang.


"Dek, ada tissue nggak?" sapanya kepada Naya yang masih bengong.


Gino lantas berdiri. Kemudian menjentikkan jarinya didepan Naya.


"Hei, ngelamun ya?"

__ADS_1


"Ah, apa, Mas?"


*


__ADS_2