Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 45


__ADS_3

Minggu pagi keadaan di rumah Naya sudah ramai dengan beberapa saudara dari Rahma yang ikut membantu untuk mempersiapkan acara lamaran Naya dan Gino. Tak lupa Yuli juga ikut datang membantu setelah ditelpon oleh Naya.


Tidak sedikit saudara-saudara Naya yang penasaran seperti apa Gino. Walau sudah ditunjukkan foto Gino oleh Naya kepada mereka, tetapi rasanya tidak puas kalau tidak melihat langsung dengan mata kepala sendiri.


"Hebat kamu, Nay, bisa dapat tunangan lebih cakep daripada bapaknya Lala," puji salah satu saudara Naya. Membandingkan wajah dan tubuh Gino dengan mantan suami Naya yang memang kalah jauh dengan Gino.


Naya hanya tersenyum tipis, tidak mau menimpali apapun. Biarlah mereka akan menilai seperti apa antara Gino dengan mantan suaminya. Itu hak mereka. Naya hanya merasa nervous hari ini. Karena hari ini ia akan bertemu dengan keluarga Gino. Ah, semoga saja keluarga Gino baik dan mau menerimanya dengan tangan terbuka. Begitulah harapan Naya sedari tadi.


"Nay, ibu lupa beli biji selasih, bisa belikan nggak?" ucap Rahma setelah mengecek bahan campuran untuk membuat es sebagai minuman tamunya nanti.


"Bisa, Buk." Naya langsung setuju.


Keluar rumah sebentar mungkin sedikit akan mengurangi rasa nervous nya. Akhirnya Naya pergi ke pasar seorang diri sambil menaiki motornya.


Setelah selesai membeli biji selasih nya, Naya segera menuju parkiran di pasar tradisional itu. Tak disangka saat di parkiran ia bertemu dengan salah satu saudara dari mantan suaminya.


"Naya," sapa wanita itu kepada Naya.


Naya hanya menoleh sambil tersenyum.


"Aku dengar kamu hari ini mau tunangan ya?" tanyanya to the point.


Naya tercengang sejenak. Dari mana ia tahu kabar ini?


"Aku nggak heran sih kalau kamu bisa tunangan secepat ini. Dengan kecantikan kamu akan mudah untuk mendapatkan lelaki bujang," katanya tanpa memikirkan banyak mata orang yang lewat menatap kepada mereka.


"Maksud mbak apa?"


Naya sedikit terhina dengan kata tidak heran yang dikatakan wanita itu. Apakah ia menganggap selama ini Naya mengobral kecantikannya demi memikat lelaki bujang seperti Gino.


"Kamu itu cantik, jadi mudah lah buat kamu dapetin calon laki yang kayak calon kamu," ucap wanita itu lagi dengan santainya.


Entahlah! Naya rasa itu bukan pujian untuknya, melainkan hinaan.

__ADS_1


Naya tersenyum getir menatap wanita itu. Jika dulu ia hanya mengelus dada saat ada seseorang yang menghinanya. Tetapi kali ini ia tidak mau tinggal diam. Apalagi yang bicara itu adalah saudara dari mantan suaminya.


"Mbak, aku rasa Tuhan maha tahu mana yang terbaik untukku. Aku tidak pernah jumawa, aku sadar kalau aku janda. Tapi jika Tuhan mendatangkan jodoh lelaki bujang yang mapan dan bertanggungjawab untukku, apakah harus aku tolak? Aku hanya wanita, Mbak. Kata mas Dafi kalau wanita itu cuma menunggu, nggak bisa milih kayak laki-laki. Cuma aku herannya kok mas Dafi bisa dapat janda anak satu ya? Bukankah kata mas Dafi laki-laki itu bisa bebas milih mau perawan atau mau yang seksi, daripada aku yang cuma bisa menunggu dilamar orang?"


Entahlah! Rasanya puas sekali Naya bisa mengatakan semua itu. Naya sengaja mengatakan semuanya yang pernah mantan suaminya katakan kepadanya saat hari terakhir berada di pengadilan agama dulu. Sehingga mulut wanita itu mendadak bungkam dan merasa ciut karena ucapan Naya.


Sebenarnya Naya sudah mendengar kabar kalau mantan suaminya yang bernama Dafi itu sudah memiliki calon istri. Mereka sudah tunangan sebulan kemarin. Herannya Naya tidak menyangka mendengar Dafi bisa dapat calon seorang janda yang sudah memiliki anak berusia enam tahun. Yang sangat membuat Naya penasaran seperti apa wajah calon istri Dafi itu. Mengingat sudah janda memiliki anak yang lebih besar daripada Lala, sudah bisa dipastikan kalau calon istri Dafi mungkin lebih tua darinya.


"Permisi, Mbak, aku pulang dulu," pamit Naya kemudian.


Naya kembali pulang ke rumah dengan wajah yang sudah berseri. Seakan lenyap semua rasa nervous yang tadi dirasakannya. Dihina seperti tadi membuat Naya semakin ingin pamer bojo didepan Dafi nanti. Atau paling tidak pamer sama saudara yang tadi saja. Hahaha...


Sungguh manusia tidak patut sombong dan merasa jumawa dengan dirinya sendiri. Karena semua yang mengatur takdir adalah Tuhan. Karena hanya Tuhan lah yang maha tahu, yang terbaik untuk kita yang seperti apa.


"Mmm... Yang mau tunangan habis dari pasar wajahnya seneng banget, habis diam-diam ketemuan ya?" goda Yuli begitu mendapati Naya senyum-senyum seperti itu.


"Nggak lah! Ngapain ketemuan diem-diem kalau sudah resmi tunangan," sahut Naya.


"Nah situ datang-datang mesem-mesem, ya wajar kalau aku curiga kamu habis ketemuan," celetuk Yuli.


"Heem... Iya paham calon nyonya Gino."


"Ah, sudahlah. Nanti aku pasti cerita ke kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui, aku bukan habis ketemuan siapa-siapa, tapi aku habis ngejek orang. Makanya sekarang ini hatiku sedang berbunga-bunga puas." jelas Naya dengan bersemangat.


"Wiih... Emang kamu bisa ngejek orang gitu?"


Wajar saja kalau Yuli penasaran dengan itu. Karena selama Yuli mengenal Naya ia tahunya kalau Naya adalah orangnya pendiam dan akan selalu memendam apa yang sedang dirasakannya.


"Nay," panggil Rahma yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah.


"Iya, Buk."


"Hape kamu dari tadi bunyi tuh. Lihat sana, siapa tahu telpon dari Gino," kata Rahma.

__ADS_1


Siapa tahu Gino mau memberi kabar lain tentang acara nanti menurut Rahma.


"Iya, Buk." Lalu Naya pergi masuk ke kamarnya.


Handphone Naya memang selalu ditinggal dalam kamarnya. Naya tidak seperti kebanyakan orang yang kemana-mana selalu pegang Handphone.


Naya segera mengecek handphonenya. Memang banyak panggilan masuk tetapi bukan dari Gino, karena itu nomor asing yang Naya tidak kenal. Ternyata tak lama setelah itu handphonenya berbunyi lagi, dan tetap dari nomor yang tadi.


Daripada penasaran akhirnya Naya menjawab telpon itu.


"Iya, assalamu'alaikum," sapa Naya kepada seseorang yang menelponnya.


"Wa'alaikumsalam. Naya, aku Wahyu. Tolong jangan ditutup dulu, aku ingin bicara sama kamu."


"Wahyu? Dari mana ia tahu nomor teleponku?" batin Naya bermonolog heran.


"Nay, bisakah kita bertemu sekarang?" kata Wahyu kemudian.


"Maaf, Wahyu, aku tidak bisa." Naya langsung menolak.


"Please, Nay, sebentar saja. Aku sekarang sudah ada di gang depan rumah kamu."


Deg.


"Wahyu di gang depan? Ya Allah... Bagaimana kalau dia nanti nekat datang ke sini? Bagaimana nanti aku akan menjelaskan sama bapak ibu kalau dia nekat datang?" batin Naya mendadak cemas dengan degup jantung yang gelisah.


"Nay, Naya!" sapa Wahyu lagi dari seberang sana.


"Maaf, Wahyu, aku tidak bisa bertemu sama kamu," tolak Naya sekali lagi.


Mungkin lebih baik begini saja, daripada meladeni bertemu dengan Wajo nanti yang ada akan timbul masalah lain, mengingat sebentar lagi Naya akan menjadi tunangan Gino.


"Oke, aku tahu kenapa kamu tidak bisa menemuiku sekarang. Tidak apa-apa, Nay. Besok, besok aku akan menunggu kamu lagi di sini. Di tempat ini. Aku harap kamu mau menemuiku besok. Aku tetap akan menuntut kamu untuk kita saling berbicara."

__ADS_1


Dari nada bicaranya, apakah Wahyu sudah tahu kalau hari ini Naya akan bertunangan?


*


__ADS_2