
Secepat kilat Lala sudah ada dalam gendongan Gino. Senyum bocah itu seketika riang sambil kedua tangannya bergelayut di leher Gino.
Naya yang melihat pemandangan itu menjadi semakin entah. Jujur, hatinya ikut bahagia melihat Lala riang seperti itu. Tetapi akankah semua ini akan terus berlanjut?
"Tunggu, Lala masih belum selesai makan kan?" tanya Gino kepada Lala, tetapi matanya melirik kecil kepada Naya.
Lala hanya mengangguk. Senyum kecilnya terus saja terbit.
"Mau om yang suapin nggak?"
Lala mengangguk lagi.
Kemudian Gino mendekati Naya. Pria itu mengulurkan tangannya meminta piring yang berisi makanan Lala kepada Naya. Saat Naya memberikan piringnya, Gino sengaja menahannya.
"Apa kabar, Dek?" tanyanya, sedangkan tatapan matanya menatap lekat ke netra Naya.
Naya tidak menjawab, tetapi ia membalasnya dengan tersenyum tipis kepada Gino.
"Loh, ada nak Gino?" sapa Abdul yang kebetulan baru pulang kerja.
Gino menoleh sambil menganggukkan kepala dengan takdzim.
"Iya, Pak," jawabnya.
Pria itu kesulitan untuk bersalaman dengan bapak mertuanya, karena Lala yang terus menempel dan tangan satunya memegang piring.
"Tidak usah, Nak, lagian tangan bapak kotor baru pulang kerja," kata Abdul sambil menunjukkan tangannya yang ada bekas kotoran semen.
"Masuk ke dalam, jangan di luar," lanjut Abdul mempersilahkan Gino masuk ke rumah.
"Di sini saja, Pak. Bisa sambil nemenin Lala makan," sahut Gino.
Sekilas Abdul melirik kepada Naya. Pria itu seakan memberi kode untuk Naya ikut membujuk Gino agar mau masuk ke rumah. Tidak seperti tamu yang tidak dipersilahkan masuk oleh tuan rumah kalau ada di luar begini.
"Mm... Bapak ke dalam dulu ya," pamit Abdul kemudian.
"Oh iya, Pak. Silahkan."
Sejenak suasana kembali hening. Beruntung saat ini ada Lala bersama mereka. Jadinya sedikit teralihkan menghadapi perasaan mereka yang sama-sama sedang galau.
"Di dalam saja, Mas," sapa Naya dengan singkat.
"Lala, ayo kita makan di dalam, Sayang," sapa Naya kepada Lala, tetapi bocah itu malah semakin nempel kepada Gino.
"Wih, manjanya anak cantik. Anaknya siapa nih cantik sekali?" goda Gino kepada Lala.
__ADS_1
"Yaya anaknya mama Aya," sahut Lala dengan tersenyum senang.
"Ah iya, cantiknya juga sama kayak mama Naya. Coba om cium pipinya dulu, boleh nggak?"
Lalu bocah itu menyodorkan pipinya kepada Gino. Pria itu pun mencium pipi Lala di depan Naya. Setelah itu Gino berjalan menuju teras depan. Naya ikut menyusulnya.
"Sini piringnya, Mas," kata Naya yang kemudian mengambil piring itu dari tangan Gino, karena takut pria itu akan kesulitan saat akan melepas sepatunya dengan Lala yang masih gelendotan kepadanya.
Kemudian mereka masuk ke ruang tamu. Tetapi saat Lala diturunkan dari gendongan Gino, tiba-tiba saja bocil itu berlari ke arah ruang tengah tempat untuk menonton TV. Gino pun ikut menyusulnya tanpa sungkan lagi, tentunya sambil membawa piring makanan Lala juga.
Setelah itu Gino dengan telatennya menyuapi Lala sambil duduk santai di depan TV.
Rahma yang baru selesai sholat ashar langsung menuju ruang tengah karena mendengar ada suara Gino. Setelah melihat sendiri menantunya itu sedang menyuapi Lala makan, senyum tenang Rahma langsung terulas.
"Semalam dia rewel, nak Gino," sapa Rahma kepada Gino.
"Rewel kenapa, Buk?"
"Nanyain kamu terus. Mau makan saja bingung cari kamu. Lihat tuh, begitu kamu yang suapin dia lahap sekali makannya," seru Rahma.
"Lala cuma caper, Buk. Omongan Lala nggak perlu diseriusin," sahut Naya yang seketika Gino menoleh kepadanya.
Pria itu tambah yakin kalau Naya sedang dingin kepadanya. Setelah ini Gino pastikan akan membicarakan semuanya, bila perlu Gino akan mengaku jika hubungan mereka saat ini masih ditentang oleh ibundanya. Tetapi meski begitu Gino sangat berharap Naya untuk tetap bersama dengannya, sama-sama berjuang untuk bisa bersatu dalam mahligai pernikahan.
Lalu Naya segera berlalu. Rahma mengikuti ke mana Naya pergi.
"Kamu jangan ketus begitu lah bicaranya," tegur Rahma.
Wanita itu sampai ikut kaget saat Naya mengatakan jika Lala hanya cari perhatian kepada Gino. Layaknya anak yang kekurangan kasih sayang seorang bapak.
Naya bergeming saja.
"Setelah ini temui Gino, bicara baik-baik sama dia. Ibu tidak pernah mengajari kamu untuk tidak menghargai tamu yang datang," ucap Rahma penuh penekanan.
"Iya, Buk. Aku mau mandi dulu," sahut Naya yang kemudian masuk kamar mandi padahal sebelumnya sudah mandi sejam yang lalu.
Lala selesai makan. Gino membawa masuk Lala ke dapur sambil sekalian meletakkan piring kotornya dan cuci tangan. Sedangkan Rahma dan Abdul terlihat sedang duduk santai sambil saling mengobrol di teras samping.
Pintu kamar mandi itu terbuka perlahan. Muncul Naya dari dalamnya.
"Butuh ambilkan pembalut lagi, Dek?" sapa Gino yang pastinya membuat Naya terjingkat kaget.
"Astaghfirullah! Kok kamu di sini, Mas?" tanya Naya sambil mengusapi dadanya efek kaget.
"Cuci tangan," jawab Gino.
__ADS_1
"Sudah, kamu ke depan sana! Aku mau keluar!" ucap Naya.
Karena memang saat ini Naya hanya mengenakan sarung yang dililit sebatas dada. Wanita itu sedari tadi hanya menongolkan kepalanya saja.
"Kamu nggak lagi tel4nj4n9 kan, Dek?" tanya Gino ngadi-ngadi sekali.
"His, mesum! Udah cepat ke depan sana!" umpat Lala kesal sendiri.
Gino terkekeh saja. Tetapi kemudian ia kembali ke ruang tengah lagi bersama Lala, kembali nonton TV.
Ternyata untuk masuk ke kamar Naya harus melewati ruang tengah itu. Awalnya Naya mengira Gino akan duduk di ruang tamu, makanya Naya keluar dari kamar mandi tetap dengan pakaiannya yang tadi.
"Mama!" sapa Lala mengagetkan Naya yang mengira Lala ada bersama Gino di depan.
"Astaghfirullah....." rutuk Naya pada diri sendiri setelah tahu kalau Gino juga menatapnya tanpa berkedip.
Segera Naya berlari masuk ke kamarnya. Menutup pintu kamarnya dengan keras, sehingga Abdul dan Rahma yang sedang ada di luar juga ikut kaget mendengarnya.
"Hihi... Mama nggak tau mayu," ucap Lala sambil terkekeh, menganggap perbuatan Naya sebuah lelucon.
Gino terkesiap mendengar ocehan Lala. Pria itu pun menggelengkan kepalanya, seperti ingin membuang pikiran mesum yang tiba-tiba melintas di benaknya.
"Lala, kita di luar saja yuk," ajak Gino kemudian.
Sekitar lima belas menit kemudian Naya keluar dari kamarnya. Wanita itu segera menemui Gino di luar.
"Mas, kita harus bicara," kata Naya menyapa Gino.
Gino mengangguk.
"Tapi tidak di sini."
Gino mengangguk lagi.
"Kalau begitu kita ke angkringan yang itu, Dek. Ajak Lala juga," usul Gino.
"Jangan ajak Lala, dia masih tahap pemulihan," tolak Naya yang memang benar adanya.
Sekilas Gino menatap Lala. Betapa inginnya pria itu pergi keluar bersama Lala juga, tapi sayangnya sepertinya masih belum ditakdirkan.
"Lala sama nenek dulu ya, mama sama om mau keluar dulu," bujuk Naya sambil menggendong Lala.
Tetapi yang ada bocil itu jadi mewek.
"Nanti om datang lagi kok. Lala mau minta oleh-oleh apa?" Gino ikut membujuk Lala.
__ADS_1
"Mau dibelikan balon tidak?" Bersamaan Naya dan Gino berbicara.
*