Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 128


__ADS_3

Gino membangunkan Naya ketika waktu subuh masih kurang sekitar satu jam lagi. Seperti biasa, bila Naya tak lekas bangun Gino akan terus mengusel-usel hidung Naya menggunakan ujung hidungnya. Sesaat Gino tersenyum sendiri melihat wajah lelap istrinya yang masih anteng tidur. Semalam ia memang begitu semangat bercinta dengan Naya efek lama libur, hingga sampai dua ronde dengan durasi yang lebih lama. Jadi wajar saja jika Naya masih nampak nyenyak sekali.


Melihat Naya yang tak kunjung bangun, akhirnya Gino memilih beranjak lebih dulu dari kasurnya. Akan tetapi begitu Gino akan membuka pintu kamarnya, Naya menggeliatkan tubuhnya pertanda sudah bangun. Gino mendekat lagi, dan memilih duduk jongkok tepat di samping Naya berbaring.


"Mau mandi bareng nggak?" sapa Gino saat Naya sudah membuka matanya.


"Ini sudah jam berapa, Mas?" tanya Naya dengan nada malas bangun.


"Masih jam setengah empat," sahut Gino dengan tangannya yang merapikan rambut Naya yang menghalangi wajah Naya.


Jika tidak ingat kedua orang tua Naya malam ini menginap di rumah ini, tentunya Naya mau mandi bareng Gino. Hal seperti ini memang sering mereka lakukan. Tentunya ketika Lala sedang tidur.


"Kamu duluan, Mas, aku masih capek," ucap Naya sambil memegangi pinggangnya.


Gino melihat ke arah tangan Naya memijit pinggangnya.


"Maaf ya, karena aku kamu begini," ucap Gino lagi-lagi sambil membelai pada pipi Naya, merasa sudah keterlaluan mengingat semalam Naya sampai memohon meminta berhenti saat mendapatkan serangan rudal yang bertubi-tubi.


Meski begitu sebenarnya Naya suka dengan kelakuan suaminya. Semalam Gino benar-benar berhasil membuat Naya meraih puncak berkali-kali. Seperti ajang pelampiasan rindu bercinta buat mereka berdua.


"Ayo aku bantu jalan," kata Gino tiba-tiba.


Naya langsung merengut. "Aku masih bisa jalan," elaknya walau sebenarnya tidak yakin.


"Yakin? Semalam aja ngomongnya awas--"


Naya langsung membungkam mulut Gino dengan telapak tangannya, agar Gino tidak mengatakan sesuatu yang sudah lacknat keluar dari mulut Naya semalam. Perkataan yang sungguh memalukan untuk Naya.


Gino hanya terkekeh kecil melihat wajah istrinya yang sudah merona.


"Udah, buruan kamu mandi," seru Naya sambil mendorong kecil pada bahu Gino.


"Ya udah." Lalu kemudian Gino keluar dari kamarnya untuk menuju kamar mandi.


Saat Gino belum selesai mandi, Naya mencoba bangun dari tidurnya. Sesuatu inti miliknya terasa sedikit ngilu, membuat Naya sedikit meringis saat melangkah. Segera wanita itu mengambil pakaiannya yang ternyata oleh Gino sudah diletakkan di tempat gantungan baju. Kalau semalam, pakaian miliknya dan milik Gino berserakan di lantai akibat ulah brutal Gino yang sudah diambang naffsu.

__ADS_1


Sebelum keluar kamar, Naya bercermin dulu, memastikan ada tidaknya bekas kissmark Gino di tempat yang terbuka. Beruntungnya bekas itu tersembunyi dibagian dalam, dengan begini tentunya aman untuk Naya bila nanti berkumpul dengan kedua orang tuanya.


Bersamaan dengan Naya keluar dari kamarnya, rupanya Rahma juga keluar dari kamarnya sambil menggendong Nana yang sudah bangun. Segera Naya menghampiri Rahma, akan tetapi cara jalannya yang sedikit aneh membuat Rahma tak sadar senyum-senyum sendiri.


Bukannya Naya tidak peka dengan senyuman Rahma, cuma mau apalagi? Meski sebenarnya sangat malu, tetapi seharusnya Rahma paham dengan urusan beginian.


"Apa Nana tidurnya rewel, Buk?" tanya Naya saat Nana sudah ada dalam gendongannya.


"Tidak, Nana pengertian kok," sahut Rahma yang entah mengapa dalam pendengaran Naya terasa berupa sindiran.


"Emang Nana nggak bangun minta mimik, Buk?"


"Bangun cuma dua kali, habis itu bobok lagi."


"Makasih ya, Buk, sudah mau repot-repot tidur sama Nana," ucap Naya tak enak sendiri. Walau Rahma adalah ibu kandungnya, tetapi tidak seharusnya pula ia seenaknya membiarkan orang tuanya kerepotan mengurus Nana yang masih bayi.


Rahma hanya tersenyum menanggapi ucapan Naya. Setelah itu keluarlah Gino dari kamar mandi, tentunya dengan rambutnya yang sudah basah habis keramas. Sejenak Rahma melirik kecil kepada Naya, membuat Naya semakin salah tingkah sendiri.


"Nana sudah bangun, Dek?" tanya Gino sambil mendekat kepada Naya.


"Seperti biasa, kalau bayi emang suka bangun sebelum subuh," sahut Naya.


"Ya sudah, sini aku yang jaga Nana. Kamu buruan mandi sana," ucap Gino yang kemudian Naya langsung menyerahkan Nana kepada Gino, gantian dirinya yang masuk ke kamar mandi.


Hingga sampai tiba sarapan pagi bersama, di situ Gino menyampaikan tentang keputusannya menyekolahkan Lala ke sekolah yang full day, agar Lala tidak jadi dibawa oleh kakek neneknya. Bersyukurnya Abdul dan Rahma langsung setuju dengan keputusan Gino, merasa apa yang dilakukan pria itu bukan keputusan yang buruk, semata demi kebaikan Lala juga.


Berhubung hari ini adalah weekend, maka dengan tidak terencana sebelumnya, mereka semua memutuskan untuk wisata bersama yang tempatnya masih dalam kota. Hal itu tentunya langsung disambut riang oleh Farhan. Jadilah hari ini menjadi family time untuk mereka semua.


***


Satu bulan kemudian...


Baby Nana sudah memasuki usia tiga bulan. Tubuh bayi itu saat ini semakin montok ditambah kulitnya yang bersih. Semakin besar wajah Nana semakin dominan dengan Gino. Tetapi disaat bayi itu tersenyum tak ditampik senyumannya mirip dengan Nani.


Yah, hingga Nana sudah berusia tiga bulan, Nani masih belum mau melihat seperti apa cucunya. Berbeda dengan Suryo yang selalu datang ke rumah Gino bila sedang rindu dengan Nana.

__ADS_1


Bulan Ramadhan akan tiba dua hari lagi. Rencananya sore ini Naya dan Gino akan pergi nyekar ke makam keluarga mereka, suatu tradisi yang biasa dilakukan menjelang Ramadhan. Tentunya mereka tidak membawa Lala dan Nana ke kuburan, karena dilarang oleh Rahma yang katanya tidak baik membawa bayi atau balita ke kuburan.


Tak disangka ternyata saat Gino dan Naya akan berziarah ke makam kakek neneknya Gino, rupanya di sana mereka bertemu dengan Suryo dan Nani. Bukan direncanakan, karena ini murni kebetulan.


"Nana sama siapa, nak Naya?" tanya Suryo karena melihat mereka hanya berdua layaknya pasangan yang tidak memiliki anak.


"Aku titipkan sama ibu, Yah," jawab Naya.


Naya sengaja menghindari bertatapan dengan Nani, walau tadi sempat bersalaman dan Nani tidak menolak itu.


"Wah, padahal kami kangen sama Nana," seru Suryo tiba-tiba, sambil sengaja merangkul Nani didepan mereka.


"Kita tidak mungkin bawa Nana ke kuburan, Yah, takutnya entar kesambet," timpal Gino.


"Ayah sudah tadi?" tanya Gino karena melihat pusara kakek neneknya sudah ditaburi bunga.


"Iya, ini rencananya sudah mau pulang, nggak tahunya ketemu kalian," jawab Suryo.


Obrolan itu lebih banyak antara Suryo dan Gino. Sedangkan Naya dan Nani sama-sama diam tanpa ada yang mau membangun komunikasi lebih dulu antara mereka.


Hingga sampai Suryo pamit pulang dulu, dan sampai Gino dan Naya selesai bersalaman dengan mereka, disitulah Nani menatap Naya dengan tatapan yang sulit diartikan menurut Naya.


"Buka pertama makan bersama di rumah ya?" ucap Nani kepada Naya diluar dugaan.


Naya tercengang mendengarnya. Seakan bibirnya juga ikut kelu untuk menjawab permintaan Nani.


"InsyaAllah, Bu." Gino yang menjawabnya.


Setelah itu Suryo dan Nani akhirnya benar-benar pergi pulang. Dan Naya terus saja masih mematung di tempatnya berdiri, dengan pikirannya yang mulai gamang.


Jika ibu mertuanya memintanya untuk buka bersama di rumah mereka, bukankah ini sudah kode keras pintu restu itu sudah terbuka lebar untuknya?


Yah, Naya pikir sudah saatnya dirinya yang muda, dan yang posisinya sebagai menantu harus mengalah dengan Nani. Menurunkan egonya sendiri untuk tidak saling diam dengan Nani. Walau Gino tidak bertanya kepada Naya mengenai permintaan Nani itu, tetapi Naya setuju untuk datang. Bismillah. Semoga setelah ini hati Nani benar-benar terbuka setelah nanti Naya datang bersama Nana juga.


*

__ADS_1


__ADS_2