Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 129


__ADS_3

Selesai ziarah kubur, dalam perjalanan pulang Gino menyempatkan bertanya kepada Naya soal permintaan Nani.


"Bagaimana, Dek? Apakah kamu bersedia datang? Kalau nggak bersedia nggak pa-pa, aku bisa cari alasan buat ibu," kata Gino yang memang tidak akan memaksa Naya mau selagi hati Naya sendiri tidak ikhlas.


Bukannya Gino senang membiarkan hubungan antara Naya dan Nani seperti ini. Pria itu sudah merasa lelah untuk memperjuangkan itu. Semenjak memutuskan memilih Naya dan menikahinya, dan hingga kini mereka sudah dikaruniai seorang anak, tetapi tetap saja tak membuat Nani mau menerima Naya dengan tulus. Pernah sesekali sikap Nani berubah biasa saja kepada Naya, yang Gino pikir akan seterusnya seperti itu terhadap Naya. Nyatanya begitu bertemu lagi sikap Nani berubah dingin lagi.


Dan satu hal yang membuat Gino tak habis pikir sampai sekarang ialah keangkuhan hati Nani yang seakan tidak mau melihat seperti apa rupa cucunya. Misalnya saja Nani tidak bisa melihat Nana karena alasan sakit parah, Gino bisa memaklumi itu. Tetapi nyatanya kondisi Nani sendiri selama ini sehat wal afiat. Sedangkan kebanyakan di luaran sana para kakek dan nenek akan menyambut riang kehadiran cucu mereka, walau dalam kondisi renta sekalipun, mereka akan tetap berusaha meminta bantuan yang lebih muda untuk bisa melihat cucu mereka.


"Mm... Apa kata nanti saja, Mas," sahut Naya tiba-tiba kembali gamang.


Padahal tadi merasa sudah yakin untuk menerima permintaan Nani datang ke rumahnya. Tetapi setelah mendengar ucapan suaminya, mendadak hatinya kembali goyah.


Naya tahu, jika Gino selalu berusaha untuk menjauhkan dirinya dari sesuatu hal yang bisa membuat hatinya bersedih. Walau itu urusannya dengan Nani, tetapi Gino benar-benar menjaga perasaan Naya untuk tidak lagi membuatnya bersedih hati.


Sedangkan Gino yang mendengar jawaban Naya yang seperti itu memilih diam saja. Kali ini mereka sudah tiba di rumah Rahma, untuk kemudian membawa pulang Lala dan Nana yang sebelumnya mereka titipkan di rumah Rahma.


"Nay, buka puasa pertama makan di sini ya?" ajak Rahma tiba-tiba.


Naya dan Gino seketika saling memandang. Kaget pastinya, karena kebetulan sekali bersamaan dengan ajakan Nani kepada mereka.


"Puasa hari ke dua juga nggak pa-pa," Abdul ikut berbicara.


"Kalau memang kalian ingin buka pertama di rumah kalian berarti buka puasa yang kedua kalian makan di sini ya?" Rahma merubah permintaannya.


"InsyaAllah, Buk," sahut Naya dengan lega hati.


Mungkin ini sudah kode alam dari Tuhan untuk Naya mau datang mewujudkan permintaan ibu mertua. Sebab Rahma dengan suka rela merubah permintaan yang sebelumnya kepadanya.


Tiba-tiba saja Naya teringat dengan pesan Rahma tentang larangannya membawa Nana ketika akan datang ke rumah mertuanya. Tiba-tiba jadi galau lagi. Antara mengaku kalau baru saja ia bertemu dengan mertuanya, atau lebih baik jangan cerita saja. Katakanlah Naya akan datang ke rumah Nani dengan diam-diam dari Rahma. Tapi bagaimana dengan Lala? Haruskah lusa ia juga membawa Lala ke rumah Nani? Ah, sedangkan terhadap Nana saja yang notabene adalah cucu kandung sendiri Nani masih terkesan tidak peduli, apalagi dengan Lala yang hanya sebagai cucu tiri?


"Ayo kalau mau pulang, Dek!"


Ajakan Gino membuat lamunan Naya hilang seketika. Abdul mencurigai ada sesuatu yang dipendam Naya, tetapi pria itu memilih menyimak saja takutnya akan membuat sesuatu yang seharusnya tidak masalah akan menjadi masalah gara-gara terlalu di seriuskan.


Lalu Naya dan Gino berpamitan kepada Abdul dan Rahma.


***


Sahur pertama untuk keluarga kecil Gino dan Naya. Mereka berdua makan sahur dengan nikmat karena kebetulan Lala dan Nana tidak ada yang bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Kalau merasa tidak kuat puasa jangan puasa dulu, Dek. Kamu itu menyusui, aku khawatir kamu yang sakit. Kalau Nana kan bisa bantu sufor selama kamu puasa," ucap Gino saat mereka sudah selesai santap sahur.


"Makanya karena Nana dibantu sufor itu aku nggak mau punya hutang puasa banyak. Bismillah aja, semoga Nana nggak rewel. Aku dan Nana bisa sama-sama kuat selama puasa ini," sahut Naya yang sudah bertekad bulat mencoba ikut puasa meski usia Nana masih tiga bulan.


Gino tersenyum tipis. Ia hanya bisa mendukung saja apa yang sudah menjadi keputusan Naya. Karena berpuasa Ramadhan itu memang sudah menjadi kewajiban setiap muslim. Memang hukum agama memberi keringanan terhadap ibu menyusui tentang berpuasa, tetapi yang namanya mengganti hutang puasa itu urusannya berat dan harus tahan godaan iman. Disaat yang lainnya asyik makan dan minum dengan bebas, kita yang memiliki hutang puasa harus menggantinya. Selama Naya mampu berpuasa dengan kondisi menyusui, selama itu Naya akan berusaha.


"Jadi nanti bukanya jadi di rumah ibu apa nggak jadi?" tanya Gino kemudian.


Naya mengangguk dengan mantap. Sudah ia pikirkan matang-matang semalam, kalau ia akan datang dengan membawa kedua anaknya juga. Urusan Nani suka atau tidak, Naya tidak mau memikirkan itu. Selama tidak menghina Lala di depan Lala atau dirinya, begitulah harapan Naya.


Gino merangkul pundak Naya sambil tersenyum bahagia. Semoga saja nanti sikap Nani akan berubah setelah melihat wajah cucunya.


"Nanti aku usahakan pulang lebih cepat. Kamu di sini siap-siap sama Lala juga," ujar Gino yang seketika membuat hati Naya merasa terenyuh karena ternyata Gino juga ingin Lala ikut nanti.


"Tapi aku nggak mau nginep loh, Mas," seru Naya tiba-tiba.


"Iya, nggak usah nginep," jawab Gino langsung setuju dengan permintaan Naya.


Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sore pun tiba. Naya sudah siap untuk berangkat ke rumah mertua. Kali ini wanita itu disibukkan dengan menguncir rambut Lala sambil menunggu kedatangan Gino dari kantor. Sedangkan Nana tidur dengan anteng di box bayi.


"Kita mau ke mana, Ma?" tanya Lala penasaran.


"Horeeee... Yaya mau ke rumah mbah kung Uyo!" pekik Lala dengan riang.


Hubungan antara Lala dan Suryo memang sudah dekat. Tiap kali Suryo datang ke sini, mereka kerap main bersama.


Terdengar bunyi mesin motor yang berhenti di depan rumah mereka. Sepintas bunyi mesin motor itu mirip dengan bunyi motor milik Abdul. Naya beranjak dari tempatnya bermaksud ingin memastikan siapa yang datang. Sedangkan Lala tetap di tempatnya sekalian menjaga Nana takut nanti bangun tidak ada orang didekatnya.


Rupanya benar, yang datang adalah Abdul dan Rahma. Kedatangan mereka sama sekali tidak disangka sebelumnya, karena memang tidak memberi kabar apa-apa kepada Naya.


"Sudah rapi begini mau keluar, Nay?" tanya Rahma begitu melihat penampilan Naya saat membukakan pintu pagar untuk mereka.


Naya hanya tersenyum getir mendengar pertanyaan Rahma.


"Ini ibu bawakan sayur nangka muda sama sambel teri," ucap Rahma sambil kemudian menyerahkan yang dibawanya itu kepada Naya.


"Tidak perlu repot-repot, Buk," sahut Naya sedikit canggung.


"Ibu buatnya banyak, memang mau buatin untuk kamu juga," jelas Rahma.

__ADS_1


Tak lama kemudian Gino datang dari kantornya. Melihat mobil Gino yang hanya diparkir di luar rumah, Abdul semakin yakin kalau Naya dan Gino kemungkinan merencanakan keluar setelah ini.


"Ayo, Buk, cepat pulang. Sepertinya Naya memang mau ada acara setelah ini," ajak Abdul kepada Rahma.


"Tunggu dulu, aku masih mau nyapa Lala sama Nana," tolak Rahma dengan halus.


"Nana tidur, Buk. Tapi aku panggilkan Lala ya?"


Tanpa menunggu jawaban Rahma, Naya masuk ke dalam rumahnya untuk memanggil Lala, sekalian meletakkan pemberian Rahma. Lala yang diberi tahu kalau ada kakek neneknya datang, bocah itu langsung lari kegirangan.


"Wah, cucu nenek rupanya sudah cantik. Mau siap-siap ke mana sih? Nenek boleh ikut tidak?" sapa Rahma kepada Lala yang sudah duduk di pangkuannya.


"Yaya mau ke yumah mbah kung Uyo," jawab Lala dengan jujur.


Rahma seketika tercengang dan langsung melirik kepada Abdul. Sedangkan Gino yang saat itu tengah duduk bersama mereka hanya tersenyum tipis, karena memang pria itu sampai sekarang tidak tahu menahu tentang larangan Rahma yang diucapkan kepada Naya.


Naya kembali gabung dan ikut duduk bersama mereka.


"Naya!" sapa Rahma sudah dengan tatapannya yang menakutkan untuk Naya.


"Ibu perlu bicara sama kamu!" ucap Rahma yang kemudian beranjak begitu saja untuk masuk ke dalam dapur di rumah itu.


Naya langsung menuruti ajakan Rahma. Sedangkan Abdul hanya bisa menghela nafasnya dalam-dalam, sudah tidak tahu harus berbuat apa menghadapi Rahma yang terlalu keras kepala bila sudah menyangkut dengan keputusan yang ia buat. Sedangkan Gino hanya bisa menatap penasaran atas sikap Rahma yang tiba-tiba berubah tidak enak. Jujur, perasaan Gino menyimpan adanya sesuatu yang tidak baik, sesuatu yang mungkin dirahasiakan dari dirinya oleh Rahma.


"Kamu lupa apa kata ibu, Nay? Kamu boleh datang ke rumah mertua kamu asal jangan pernah membawa Lala ataupun Nana. Beruntung ibu datang sekarang. Kalau tidak, mungkin kamu sudah memamerkan wajah Nana sama neneknya yang tidak mau tahu sama anak kamu. Ingat itu, Nay!"


Naya hanya tertunduk saat Rahma mencerca nya. Tetapi kemudian muncullah Gino yang tak sengaja mendengar ucapan Rahma, saat pria itu pamit mau ke kamar mandi kepada Abdul.


Menyadari akan kedatangan Gino, Naya langsung menoleh kepada pria itu.


"Ibu, kenapa ibu melarang kita membawa Nana ke rumah neneknya?" tanya Gino tak habis pikir dengan ucapan Rahma.


"Seharusnya kamu tidak perlu tanya itu, karena jawabannya ada sama ibu kamu!" sahut Rahma dengan sinis.


Jika selama ini Nani bisa menatap sinis kepada Naya, maka detik ini juga Rahma juga bisa sinis kepada Gino.


"Rahma, cukup!"


Abdul tiba-tiba muncul, mencegah adanya perdebatan sengit antara mereka di tengah bulan suci Ramadhan yang seharusnya menjadi ajang menahan segala sikap amarah kepada siapapun itu.

__ADS_1


*


__ADS_2