
"Hah?"
Naya sampai menghentikan kegiatan cuci piringnya hanya karena kaget mendengar pertanyaan Nani yang to the point.
"Kamu hamil?" tanya Nani sekali lagi dengan kening yang berkerut, membuat Naya agak takut untuk melihat parasnya itu.
Lalu Naya menggeleng kepala, karena memang ia tidak sedang hamil.
Akan tetapi Nani masih tetap saja memandangi Naya, lebih tepatnya memandangi body Naya. Membuat Naya seketika merasa minder sendiri, ada apa dengan tubuhnya sekarang? Sehingga ibu mertuanya itu menatapnya seperti itu. Apa penampilannya tidak cocok, kelihatan mirip babu di mata Nani? Tapi apa kaitannya dengan pertanyaan hamil dengan penampilannya? Ah, Naya jadi bingung sendiri.
"Ibu," suara Gino tiba-tiba muncul di dapur.
Naya akhirnya bisa bernafas lega, karena Nani akhirnya membalik badan kepada Gino. Demi menutupi rasa gugupnya Naya memilih melanjutkan kegiatannya yang belum selesai.
Sedangkan Gino sebenarnya curiga dengan adanya ibunya berdua dengan Naya di dapur. Apalagi setelah melihat wajah Naya yang tertunduk dihadapan Nani tadi, membuat perasaan Gino semakin tak karuan. Ingin sekali rasanya Gino bertanya langsung kepada Nani apa yang dibicarakan bersama Naya barusan, tetapi selalu tertahan di lidah tiap kali mau bertanya.
"Kamu sudah makan, Gi?" tanya Nani kepada Gino, mereka berdua masih ada di dapur.
"Sudah di rumah tadi, Bu," jawab Gino.
"Itu kan di rumahmu, beda masakannya sama di sini," balas Nani yang terasa agak tajam di telinga Naya.
"Aku makan nanti saja, Bu, aku masih kenyang," sahut Gino. Mata pria itu terus menatap kepada Naya yang memunggungi mereka karena memang sedang cuci piring.
Nani yang menyadari jika tatapan Gino terus memandangi Naya, lalu wanita itu memilih berlalu dari tempat itu. Kemudian Gino ingin mendekati Naya, tetapi keburu ada istrinya pak lek Hadi yang masuk ke dapur juga dan langsung menyapa Naya.
"Lah, Nduk, kok di sini?" heran bu lek melihat Naya ada di dapur.
"Lagi cuci piring bu lek," sahut Naya sambil tersenyum tipis.
"Sudah jangan dilanjutkan. Biar diteruskan sama orang suruhan ibumu. Sekarang ayo kumpul di depan," ajak bu lek dengan ramah. Karena memang hari ini Nani mempekerjakan orang untuk bantu-bantu di rumahnya.
Gino tetap ada di tempatnya berdiri, dan Naya masih belum tahu dengan keberadaannya. Tetapi setelah mendengar suara Suryo memanggil Gino, lalu Naya menolehkan badan, ia melihat punggung suaminya sudah beranjak dari ambang pintu.
"Ayo, Nduk!" ajak bu lek sekali lagi.
"Mm... Biar aku teruskan ini dulu, Bu lek," kata Naya yang kemudian melanjutkan kegiatannya yang hampir selesai.
Melihat itu akhirnya istrinya Hadi itu ikut membantu Naya. Tatapan matanya terasa hangat menatap Naya. Ah, andai ibu mertua Naya seperti bu lek, pasti Naya bahagia sekali sekarang.
__ADS_1
Selesai cuci piring Naya memilih betah ada di dapur, rasanya untuk ikut gabung ke depan mendadak minder, takut Nani menatap seperti tadi di depan semua orang.
"Kamu sudah isi, Nduk?" tanya Bu lek malah ikut-ikutan duduk menemani Naya di dapur.
"Belum, Bu lek," sahut Naya sambil menundukan kepala.
Seharian ini sudah dua orang yang bertanya Naya sudah hamil apa tidak. Apakah kalau Naya hamil akan merubah keadaan Nani bersikap hangat kepadanya? Andai benar, tentunya Naya ingin hamil secepatnya. Sayangnya itu hanya khayalan Naya saja.
"Tapi aku perhatikan kamu kayaknya sudah isi," ucap Bu lek dengan yakin.
Naya menatap Bu lek lekat-lekat, pikirannya teringat dengan pertanyaan Nani tadi. Tetapi kemudian wanita itu malah terkekeh kecil. Entahlah, ingin tertawa saja rasanya.
"Tadi ibu juga nanya itu ke aku," ngaku Naya pada akhirnya.
"Mungkin ibu kamu sudah tidak sabar ingin gendong cucu, anak kalian," balas Bu lek yang Naya anggap itu hanyalah perkataan yang sekedar untuk menenangkan hati Naya.
Naya hanya tersenyum tipis. Ia tidak mau terlena dengan perkataan Bu lek nya itu.
"Sudah makan belum?" tanya Bu lek.
"Masih kenyang, Bu lek," sahut Naya yang sebenarnya sudah hilang selera makan. Hambar!
Dan Bu lek pun lagi-lagi ikut duduk menemani Naya.
"Nduk, aku mau cerita, biar kamu nggak susah seperti sekarang," kata Bu lek yang langsung membuat Naya melongo mendengarnya.
Apa sekentara itu wajah murung nya, sehingga Bu lek bilang dirinya kelihatan susah? Ah, dasar Naya yang memang tidak pandai main drama.
"Di sini kamu nggak sendiri, calon istrinya Agus juga nggak direstui sama ibumu. Padahal yang aku tahu, calon istrinya Agus itu masih single loh, cuma-- perawan tua gitu," tutur Bu lek sengaja berbisik takut terdengar orang lain.
Naya ternganga mendengarnya. Apa ini tidak salah dengar? Yang perawan saja tidak direstui, jadi sangat wajar dirinya yang janda masih sulit mendapat restu itu. Kenapa rasanya Naya seperti punya satu team?
"Emang alasannya kenapa katanya, Bu lek?" Naya yang memang sudah kepo dari kemarin, tentunya tidak canggung lagi menanyakan itu.
Istrinya Hadi itu hanya menghedikkan kedua bahunya pertanda entah.
"Jadi kamu nggak usah sedih, setidaknya kamu akan ada temannya saling cerita nanti."
"Teman satu senasib ya bu lek? Hah!" Naya terkekeh sendiri saat mengatakannya.
__ADS_1
Bu lek tersenyum salah tingkah, tetapi tangannya mengusap punggung Naya untuk menyemangatinya.
"Bu lek do'akan semoga kamu cepat hamil, biar mata ibumu terbuka lebar nanti setelah kalian punya anak," ucap Bu lek dengan tulus.
Naya hanya tersenyum. Ia pun tidak mengamini ucapan Bu lek. Entahlah!
"Dek," tiba-tiba Gino datang lagi dan menghampiri mereka berdua.
Bu lek berdiri dari tempatnya, kemudian tersenyum hangat kepada Gino dan beranjak pergi dari sana.
Gino ikut duduk disamping Naya.
"Mau makan nggak?" tanya Gino sambil membelai pipi Naya.
Naya menggeleng lemah. Kemudian kepalanya ia sandarkan di bahu Gino. Pria itu langsung menyambut dengan melingkarkan tangannya, mendekap Naya.
"Kenapa? Bu lek ngomong apa saja sama kamu?" selidik Gino, mencurigai ada obrolan yang tidak mengenakkan antara Naya dan Bu lek nya barusan.
"Bu lek menghiburku," sahut Naya. Kepalanya masih bersandar nyaman di bahu Gino.
Gino akhirnya bernafas dengan lega. Ia percaya jika Bu lek nya itu tidak mungkin jahat kepada Naya.
"Jangan di sini yuk?" ajak Gino yang beranjak berdiri lebih dulu.
"Di luar mereka sudah siap-siap mau berangkat," lanjutnya.
Naya akhirnya berdiri dari tempatnya. Tetapi kemudian kepalanya tiba-tiba seperti berputar, membuatnya agak sempoyongan.
"Kenapa, Dek?" cemas Gino sambil menahan tubuh Naya agar tidak jatuh.
"Pusing," sahut Naya sambil memijit kepalanya.
"Ayo tidur di kamar."
Lalu Gino memapah Naya berjalan ke kamar. Saat mereka akan masuk ke kamar, mereka berpapasan dengan Nani.
"Kenapa?" tanya Nani yang entah ditujukan kepada Gino atau Naya.
"Naya pusing, Bu," sahut Gino. Kemudian membawa masuk Naya dalam kamarnya.
__ADS_1
*