
Gino tiba di rumah hampir pukul sembilan malam. Sengaja pria itu tidak langsung pulang ke rumah setelah tadi mengantar Budi dan Yuli ke klinik, pria itu masih mampir ke angkringan tempat biasa ia ngopi untuk mengulur waktu pulang, karena sebenarnya Gino sendiri malas untuk pulang ke rumah.
Setelah Agus, kakak lelaki Gino menikah lagi tiga bulan yang lalu, dari saat itulah Gino merasa malas pulang ke rumah. Sebenarnya tidak masalah bagi Gino kakaknya membawa istrinya pulang ke rumah, akan tetapi sikap Wulan, istri baru Agus itu yang membuat Gino enggan pulang akhir-akhir ini.
Wulan kerap kali bersikap caper kepada Gino. Awalnya Gino menganggap Wulan mendekatinya karena hanya ingin saling mengenal saja sebagai saudara ipar. Tetapi semakin hari sikap Wulan semakin membuat Gino risih sendiri. Karena Wulan seperti lebih memperhatikan dirinya daripada Agus yang sebagai suaminya.
Satu lagi yang membuat Gino tidak begitu menyukai Wulan ialah karena Wulan tidak begitu menyayangi anak-anak Agus. Agus sebelumnya adalah duda cerai beranak dua. Anak Agus yang pertama sudah SMP, sedangkan yang paling kecil masih kelas lima SD. Sedangkan Wulan sebelumnya berstatus janda yang ditinggal mati suaminya.
Gino sangatlah menyayangi dua ponakannya itu. Gino sering membantu biaya sekolah kedua ponakannya tiap kali Agus sedang terhimpit soal uang. Dari tiga bersaudara Gino lah yang memiliki pekerjaan enak dibanding dua saudara lainnya. Agus, kakak Gino buruh di pabrik kayu, yang mana gaji dari pabrik itu terkadang tidak mencukupi untuk biaya hidup maupun untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Sedangkan Vita, adik perempuan Gino hanya sebatas ibu rumah tangga. Suaminya Vita juga sama seperti Agus, buruh di pabrik kayu.
"Assalamu'alaikum, Buk," salam Gino begitu melihat ibunya yang sengaja menunggu kedatangannya sambil duduk di teras depan rumah.
"Wa'alaikum salam," jawab Nani, ibunya Gino.
"Pulang telat kok nggak ngabarin orang rumah, sengaja?" cerca Nani cukup kesal.
"Maaf, Buk, hapeku mati." Gino terpaksa berbohong.
Nani hanya bisa menghela nafas dengan kasar. Sejujurnya Nani sudah tahu perubahan sikap anaknya belakangan ini, setelah adanya Wulan di rumah ini. Tetapi Nani memilih pura-pura tidak tahu, walau sebenarnya diam-diam Nani mencari salah Wulan agar Agus bisa menceraikan Wulan nanti.
Nani begitu menyayangi Gino, karena bagi Nani hanya Gino yang patuh dan penurut kepadanya dibanding dengan Agus dan Vita. Dulu Agus sering membangkang kepada Nani, sehingga Agus terpaksa putus sekolah SMA terkena drop out karena pergaulannya yang meresahkan pihak sekolah. Sedangkan Vita orangnya keras kepala. Pilihannya selalu bertentangan dengan kedua orang tuanya, termasuk masalah jodoh. Hanya Gino lah satu-satunya harapan Nani. Semoga kelak Gino memiliki pasangan hidup yang bisa membahagiakannya. Wanita sholihah, wanita yang menyayangi Gino dengan tulus.
"Ayah mana, Buk?" tanya Gino usai bersalaman dengan ibunya.
"Sudah tidur. Kamu lihat sekarang jam berapa?" Nani masih ketus dengan Gino.
"Ya maaf, Buk. Aku ke kamar, Buk," pamit Gino langsung.
"Ibu panasin sop dulu, Gi," kata Nani sambil berjalan beriringan dengan Gino masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Nggak usah, Buk, aku sudah makan barusan," tolak Gino, lagi-lagi terpaksa berbohong.
Di angkringan tadi Gino hanya minum kopi. Malam ini Gino melewati makan malamnya karena sedang tidak berselera saja.
"Makan di mana?" tanya Nani lagi.
"Sama teman di warung," dusta nya lagi.
Nani menyentuh pundak Gino, sehingga pria itu menghentikan langkahnya.
"Kalau sudah ada calon kenalkan ke ibu," bisik Nani.
Gino tersenyum tipis menanggapinya.
"Do'akan saja, Buk. Tapi sementara ini aku masih belum ada calon," balas Gino dengan tenang.
"Dari sekian banyak teman perempuan kamu di kantor, masa nggak ada yang cocok sama kamu? Atau jangan-jangan kamu memang nggak niat mau nikah ya, Gi? Mau jadi bujang karatan seumur hidup?"
"Mau menikah lah, Buk," sahut Gino sambil kembali melangkah menuju kamar.
"Mu menikah tapi usaha cari calonnya nggak ada. Sama aja bohong!" sungut Nani yang kemudian ikut beranjak menuju kamarnya.
"Ada apa, Nan, kok ribut?" tanya Suryo, ayahnya Gino, begitu melihat Nani masuk ke kamar.
Suryo yang sebenarnya belum begitu terlelap, mendengar dengan jelas ucapan Nani yang terakhir barusan.
"Anakmu itu! Heran aku, mau nunggu sampai umur berapa mau nikah? Padahal teman-teman seusianya sudah pada punya anak. Ada yang sudah mau punya anak dua. Nah, Gino? Tiap kali aku singgung jawabnya minta do'akan mulu," ngomel Nani didepan Suryo.
"Ya sudah cukup di do'akan. Kamu kan ibunya, do'anya lebih mustajab," timpal Suryo dengan santai.
__ADS_1
Suryo sosok yang sangat penyabar. Meski Agus yang notabene adalah anak tirinya selalu berbuat ulah saat muda dulu, tetapi Suryo tetap telaten menghadapinya.
Suryo menikah dengan Nani dengan status Nani yang saat itu janda beranak satu. Saat Suryo menikahi Nani usia Agus sudah enam tahun. Satu tahun setelah menikah mereka dikaruniai Gino sebagai anak mereka. Tujuh tahun kemudian lahirlah Vita sebagai adiknya Gino.
Kedua anak Suryo dan Nani sudah sama-sama berumah tangga. Tinggallah Gino seorang yang masih betah membujang. Dari itu tentu menjadi beban pikiran Suryo dan Nani. Mereka berdua ingin anak-anaknya hidup bahagia bersama pasangannya, sebelum nanti ajal datang menjemput.
Lalu Suryo dan Nani sama-sama terdiam. Mereka berpikir tentang Gino lagi. Jujur, mereka sebenarnya takut Gino akan trauma mencari jodoh setelah gagalnya pertunangan Gino dengan wanita pilihannya tiga tahun yang lalu.
Tiga tahun lalu Gino pernah memiliki kekasih. Karena usianya yang sudah cukup matang, akhirnya Gino melamar kekasihnya itu. Awalnya berjalan dengan baik, karena lamaran Gino diterima oleh kekasihnya. Tetapi siapa sangka sebuah insiden mengejutkan datang kepada Gino saat rombongan keluarganya sudah siap mau berangkat ke rumah kekasihnya itu. Keluarga kekasihnya itu mengabari jika anak mereka menggagalkan pertunangan itu karena merasa gengsi dengan pekerjaan Gino.
Memang Gino berbohong dan tidak mengakui pekerjaan aslinya kepada kekasihnya itu. Tujuannya untuk ingin melihat seberapa tulus ia menerima Gino dengan segala kekurangannya. Tetapi Gino berencana akan jujur setelah acara lamaran. Ternyata ia lebih dulu dikejutkan dengan penolakan mendadak dari kekasihnya itu. Dan Gino yang merasa harga dirinya sebagai lelaki terinjak-injak oleh kekasihnya itu, akhirnya Gino memutuskan dengan menyetujuinya juga.
Hingga sampai tiga tahun berlalu, Gino dan mantan kekasihnya itu tidak pernah bertemu lagi.
Sedangkan Gino yang saat ini tengah berbaring di kasur empuknya, tak kunjung merasa mengantuk. Pikirannya tiba-tiba tersita tentang Naya. Jujur, Gino tumbuh penasaran ingin mengenali Naya lebih jauh. Ah, andai wanita itu memiliki hape, pastilah Gino akan memulai basa-basi chat dengannya.
Dari dulu selera Gino adalah perempuan yang sederhana. Dan Gino merasa Naya termasuk kriteria itu. Ia sudah tidak peduli lagi dengan status Naya yang sebagai janda.
"Apa aku main ke rumahnya saja?" gumam Gino seorang diri.
"Ah, pasti dia kaget kalau aku tiba-tiba main gitu aja. Kenal aja masih tadi. Aaargh..." Gino sampai menggaruk-garuk kepalanya.
Tiba-tiba Gino teringat akan satu hal. Pria itu seketika duduk, sejenak kemudian beranjak ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Pria itu ingin menunaikan sholat istikharah. Karena hanya dengan sholat itu, segala kegalauan hatinya akan terjawab.
Usai melaksanakan sholat istikharah itu, Gino menengadahkan kedua tangannya untuk berdo'a.
"Ya Allah ya Robb dzat yang maha tahu segalanya. Aku memohon kepada-Mu datangkanlah jodohku sesegera mungkin. Aku ingin membahagiakan ayah ibu, aku tidak ingin mengecewakannya. Jika dia adalah jodohku yang terbaik dari-Mu, maka mudahkanlah jalanku untuk menghalalkannya. Tetapi jika ia bukan jodohku, jauhkanlah. Jangan pertemukan aku dengannya lagi."
Dalam do'a panjangnya itu, hanya wajah Naya yang terus terlintas dalam bayangan Gino. Wanita itu benar-benar mampu mengusik ketenangan hati Gino. Padahal mereka hanya saling bertemu tadi saja. Apakah ini yang dinamakan jatuh cinta pada pandangan pertama?
__ADS_1
Tiba-tiba Gino menyentuh dada kirinya yang berdetak dengan kencang. Setiap kali bayangan wajah Naya terus saja menari-nari didepannya.
*