Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 132


__ADS_3

Naya dan Gino datang ke rumah orang tua Naya untuk menjemput Lala, sekaligus memberi tahu kabar baik tentang sikap Nani yang sudah membuka hatinya untuk keluarga kecil mereka.


"Aku mau jemput Lala, Buk," ucap Naya begitu sudah bersapa dengan Rahma.


"Lala sudah tidur, biar saja dia menginap di sini," sahut Rahma masih bersikap dingin kepada Naya.


"Besok Lala harus sekolah, Buk." Gino ikut berbicara.


"Libur satu hari kan bisa? Dulu saja sekolahnya sering libur." Gino turut terkena imbas sikap dingin Rahma.


Sejenak Gino menghela nafasnya, sambil melirik kepada Naya.


"Baiklah kalau begitu," ucap Gino kemudian.


Mungkin bukan malam ini mereka akan menyampaikan kabar itu. Mungkin besok, setelah kondisi perasaan Rahma mereda.


"Tapi, Mas?" protes Naya sambil menatap heran kepada Gino.


Gino hanya tersenyum tipis kepada Naya, lalu mengangguk kecil. Tetapi wajah Naya tetap cemberut, merasa aneh dengan Gino yang main setuju dengan permintaan Rahma. Padahal yang Gino lakukan adalah demi tidak menyakiti perasaan Rahma lagi. Biarlah malam ini Rahma puas dulu dengan kemauannya. Tetapi besok, Gino akan datang lagi untuk menjemput Lala pulang.


"Ayo, Dek," ajak Gino kepada Naya.


Naya tetap saja menatap tajam kepada Gino. Sedikit kesal, tetapi malas berdebat di depan Rahma.


"Kita pamit pulang ya, Buk," ucap Gino kepada Rahma.


"Hem!" Rahma hanya menyahut dengan gumaman.


Kemudian Gino meraih tangan Rahma untuk bersalaman, diikuti juga oleh Naya yang sebenarnya merasa kesal sendiri. Saat mereka datang kebetulan Abdul sedang tidak di rumah. Entah ada di mana pria itu.


Lalu akhirnya Naya dan Gino tetap pulang meski tidak berhasil membawa Lala pulang bersama mereka. Di tengah perjalanan, belum sampai keluar gang depan, mereka berpapasan dengan Abdul. Segera Gino menghentikan laju mobilnya untuk menyapa Abdul.


"Lala tidak ikut?" tanya Abdul begitu melihat ke dalam mobil tidak ada Lala.


"Lala sudah tidur, Pak. Kasihan kalau harus dibangunkan. Besok pulang kerja aku jemput Lala," sahut Gino berusaha menutupi sikap Rahma barusan.


Tetapi Abdul kemudian melirik kepada Naya yang hanya diam. Terlihat jelas jika sorot mata Naya sedang kesal dengan seseorang.


"Bagaimana dengan ibumu?" tanya Abdul to the point kepada Gino.

__ADS_1


"Ibu--"


"Iya, ibu kamu." Abdul memperjelas kalau yang dimaksudnya adalah Nani.


"Alhamdulillah, ibu menyambut kita dengan baik, Pak," sahut Gino sambil tersenyum bahagia.


Abdul melirik lagi kepada Naya, tetapi yang dilirik tetap cuek. Gino mengikuti arah Abdul melirik, setelah itu balik tersenyum kepada bapak mertuanya.


"Bahkan ibuku menyuruh kita membawa Lala juga, Pak," jelas Gino dengan begitu bangga.


"Alhamdulillah..." seru Abdul bahagia mendengarnya.


"Nay!" Abdul menyapa Naya. Dan Naya hanya menoleh tanpa mau bersuara.


"Kenapa cemberut begitu? Seharusnya berbahagialah!" kata Abdul kepada Naya.


"Ibu melarangku membawa Lala pulang, Pak," sahut Naya pada akhirnya.


"Oooh..." Abdul hanya ber-oh panjang.


"Soal itu biar bapak yang bicara sama ibukmu. Serahkan sama bapak," kata Abdul meyakinkan Naya yang sedang dilanda gelisah karena sekarang yang berubah dingin kepadanya adalah ibu kandungnya sendiri. Episode kehidupan Naya seakan berganti judul. Jika dulu tentang sikap dingin sang ibu mertua, sekarang malah kebalikannya.


Setelah itu, akhirnya Naya dan Gino pulang. Begitu pula dengan Abdul.


Sesampainya di rumah, ternyata Lala sedang menangis dalam gendongan Rahma. Bocah itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan meminta pulang. Abdul langsung mengganti Rahma yang sedang menggendong Lala. Meski bocah itu saat ini usianya sudah empat tahun, tetapi kakek dan nenek itu masih suka menggendong Lala.


"Yaya mau pulang, Kek. Yaya mau pulang!" rengek Lala sambil tetap menangis.


"Iya, besok pagi kakek antar Lala pulang. Kalau sekarang sudah malam, Lala lebih baik tidur saja," kata Abdul mencoba merayu Lala.


Alasan Abdul mengatakan seperti itu demi menghindari angin malam, karena jika ia jadi mengantar Lala, tentunya harus menaiki motor dan itu tidak baik untuk tubuh kecil Lala.


"Yaya mau pulang!" bentak Lala khas anak kecil merajuk.


"Iya, Lala, tapi besok ya," ucap Abdul dengan sabar.


Sedangkan Rahma sudah masuk begitu saja ke dalam kamarnya. Entahlah, sesorean ini perasaan wanita itu tidak baik-baik saja. Dan Abdul terus saja dengan sabarnya merayu Lala, dengan menimangnya dan juga mengelus punggungnya agar kembali tertidur.


Beruntungnya Lala berhasil tertidur lagi setelah setengah jam kemudian. Abdul membawa Lala masuk ke kamarnya, menidurkan Lala tepat disamping Rahma berbaring.

__ADS_1


"Buk, aku ingin ngomong sesuatu sama ibu," ucap Abdul kepada Rahma yang kebetulan sedang tidak tidur.


Walau agak malas karena sudah tahu yang akan dibicarakan Abdul adalah tentang kejadian tadi sore, tetapi Rahma tetap menuruti permintaan suaminya.


Abdul mengajak Rahma keluar dari kamar, demi tidak mengusik tidur Lala karena suara mereka. Akhirnya mereka memutuskan untuk duduk di ruang dapur, karena di sana adalah tempat yang cukup aman jika ingin berbicara yang intern, karena agak jauh dari kamar Riki.


"Barusan aku papasan sama Naya di gang depan," kata Abdul memulai bicaranya.


"Naya ngadu sama kamu?" tuduh Rahma langsung.


Abdul menggelengkan kepalanya.


"Besok setelah Gino pulang kerja, dia akan menjemput Lala," sambung Abdul.


Rahma bergeming saja.


"Aku senang, Buk, akhirnya Naya bisa diterima sama ibu mertuanya," kata Abdul lagi.


Reaksi Rahma hanya melirik kecil.


"Bahkan kata Gino, ibunya menyuruh bawa Lala juga ke sana. Itu artinya mereka juga menerima Lala, Buk," terang Abdul dengan sorot mata yang berbinar, pertanda bahagia luar biasa.


"Kamu tidak percaya?" tanya Abdul melihat reaksi Rahma yang tetap diam.


"Entahlah, Pak!" sahut Rahma benar-benar entah dengan perasaannya kali ini.


"Jadi, besok kalau Gino datang menjemput Lala, biarkan! Kita sudah tidak berhak mengatur-ngatur kehidupan Naya. Dia sudah menjadi hak Gino sebagai suaminya. Sepatutnya kita bersyukur, Buk, karena Gino menyayangi Lala meski bukan anaknya sendiri. Apalagi setelah mendengar kalau besan perempuan kita akhirnya mau menerima Lala juga, rasanya aku bahagia sekali, Buk," pesan Abdul dengan penuh rasa haru.


"Apakah kamu tidak bahagia mendengar ini, Buk?" tanya Abdul memastikan bagaimana perasaan Rahma saat ini.


"Sejujurnya aku juga bahagia mendengar ini, Pak. Karena itu sudah menjadi keinginanku dari dulu, saat Naya bercerai. Aku ingin Lala memiliki ayah pengganti yang mau menerimanya dengan tulus. Dan Allah mengabulkan do'a itu dengan kehadiran Gino menjadi menantu kita. Meski pada akhirnya kita harus diuji dulu dengan sikap besan perempuan kita. Tetapi kalau memang seperti itu kenyataannya sekarang, aku bahagia sekali, Pak." Rahma mengatakannya dengan berderai air mata.


Abdul langsung merangkul pundak Rahma. Mengusap lengannya untuk menenangkan perasaan Rahma yang sedang emosional.


"Semoga saja ini menjadi awal kebahagiaan untuk keluarga kecil Naya ya, Buk. Setelah ini kita bisa fokus memikirkan Riki dan Farhan saja," seru Abdul.


Selama ini Abdul dan Rahma terus kepikiran tentang nasib rumah tangga Naya. Walau pernah mengatakan sudah tidak mau memikirkan itu dan sok bersikap cuek, tetapi yang namanya kepikiran tetap saja kepikiran.


Setelah saling mengobrol, akhirnya Rahma dan Abdul bisa tidur malam dengan perasaan yang tenang. Sebelum itu Abdul mengirim sebuah pesan singkat kepada Naya, memberitahu kalau Rahma sudah baik-baik saja.

__ADS_1


*


__ADS_2