Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 67


__ADS_3

Gino keluar dari kamar Naya dengan perasaan yang entah. Jujur, ujiannya terlalu banyak hingga sampai malam spesial pernikahannya pun juga membutuhkan kesabaran ekstra. Saat mendengar pengakuan Naya yang baru haid dua hari kemarin, tentu ia harus menunggu beberapa hari lagi untuk bisa menikmati indahnya pernikahan. Ah, nasib... Nasib!


Selesai Gino mengambil wudhu, ternyata ada Naya yang menunggu mengganti kamar mandi. Wanita itu juga ingin bersih-bersih badan termasuk membasuh make up pengantinnya.


Setelah Naya juga selesai membasuh bersih make-up nya, barulah ia menyusul Gino lagi ke kamar.


Lala, bidadari kecil Naya, saat ini terpaksa di tidurkan di kamar Rahma. Itupun karena Rahma yang memaksa Naya sebelumnya. Meski Naya merasa tak tega karena baru kali ini ia tidur terpisah dengan anaknya, tetapi demi menghargai suami yang malam ini seharusnya menjadi malam pertamanya, maka Naya dengan berat hati membiarkan Lala tidur terpisah dengannya.


Saat Naya masuk ke kamarnya, rupanya Gino masih belum beranjak dari tempat sholatnya. Entah apa saja yang dibaca suaminya itu selesai beribadah. Tetapi Naya sudah tidak heran, karena ia sendiri sering mendapati Gino seperti itu tiap kali ibadah di masjid bersama Naya.


Naya menunggu Gino menyelesaikan kegiatan istiqomah nya itu sambil duduk di tepian ranjang. Jujur, melihat pemandangan seperti itu hati Naya merasa adem dan tenang. Memiliki pasangan hidup yang selalu istiqomah beribadah, siapa yang tidak suka?


Akhirnya kemudian Gino selesai dengan ibadahnya. Pria itu menoleh ke keberadaan Naya, kemudian tersenyum manis kepadanya.


"Kalau sudah capek nggak pa-pa tidur dulu, Dek," ucap Gino merasa kasihan sendiri melihat sorot mata istrinya yang kentara kelelahan.


Naya bergeming saja. Tetapi senyum hangatnya juga terulas kepada suaminya.


Setelah itu Gino ikut duduk disamping Naya. Mereka saling berhadapan. Sama-sama menatap lekat pada sosok yang kini telah menjadi pasangan hidupnya.


Perlahan Gino mencondongkan wajahnya kepada Naya. Kemudian kecupan hangat itu mendarat di kening Naya. Cukup lama Naya memejamkan matanya, merasakan betapa hangatnya rasa sayang yang diungkapkan suaminya itu lewat kecupan nya.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Dek, sudah memilihku untuk menjadi suami kamu," ucap Gino sambil membelai lembut pipi Naya.


"Aku juga terimakasih, Mas. Kamu sudah memilihku menjadi istri kamu dengan kondisi aku yang begini," balas Naya dengan full senyum bahagia.


"Eh, sekarang kita halal berpelukan."


Setelah mengucap itu Gino langsung memeluk Naya dengan erat. Rasanya luar biasa bahagia. Memeluk begini saja sudah membuat hatinya menjadi tenang. Apa yang telah menjadi impiannya untuk menikahi Naya telah dikabulkan oleh Tuhan. Meski masih ada satu permintaannya yang belum dikabulkan oleh Tuhan, yaitu luluhnya hati Nani untuk mau menerima Naya sebagai istrinya.


Berada dalam pelukan Gino membuat Naya merasa nyaman. Hingga tak terasa mulutnya mulai menguap, efek lelah dan juga ngantuk. Gino yang menyadari itu kemudian melepas pelukannya. Terkekeh kecil, karena dirinya hampir lupa kalau saat ini Naya sedang menahan kantuk.


"Ayo tidur, Dek," ajak Gino kemudian.


Mereka sudah berbaring pada bagiannya masing-masing. Naya langsung saja memejamkan matanya karena memang sudah tidak tahan ingin cepat tidur. Sedangkan Gino kebalikannya. Kedua matanya seperti tidak mengantuk sama sekali. Baru kali ini Gino tidur bersama seorang wanita, yang pastinya membuat perasaannya tidak aman sedari tadi. Namun sayangnya wanita yang saat ini berbaring disampingnya masih belum boleh disentuh. Ah, benar-benar ujian pengantin baru.


Tetapi kemudian tatapan mata Gino teralihkan ke dua bukit kembar yang menonjol di dada Naya. Lumayan besar, dan Gino baru menyadari sekarang.


"Ah, otak! Jangan mesum dulu! Tunggu sampai boleh disentuh, baru kau sentuh!" rutuk Gino pada diri sendiri yang tiba-tiba saja merasa tertarik ingin coba main-main di buah kenyal itu.


Tetapi yang ada pikiran pria itu malah bertambah liar. Meski sudah berulang dicoba dengan mengatur nafasnya, tetapi belum berhasil juga. Maka kemudian Gino beranjak duduk, jadi frustasi sendiri. Mengusap-usap wajahnya dengan kasar. Kemudian berbalik menengok kepada Naya lagi.


Siapa sangka ternyata Naya malah membalikkan badan menjadi memunggungi Gino. Dengan begini cukup aman untuk otak mesum Gino. Maka kemudian Gino memilih berbaring lagi.

__ADS_1


Lima menit, sepuluh menit, hingga lima belas menit kemudian, ternyata mata itu terus saja berbinar. Gino benar-benar tidak bisa tidur meski semenit pun. Apa yang harus ia lakukan supaya bisa cepat mengantuk? Apa ia harus keluar kamar ikut nongkrong dengan bapak-bapak yang masih begadang di luar rumah Naya. Tetapi rasanya tidak mungkin hal itu ia lakukan. Karena pasti akan timbul tanda tanya dari orang-orang melihatnya keluar dari kamar pengantin.


Sekilas Gino melirik Naya lagi. Ia belum mencoba tidur sambil memeluk Naya. Mungkin dengan ini ia bisa segera terlelap juga. Hmm... Perlu di coba!


Perlahan Gino mrnggeser jaraknya untuk lebih merapat kepada Naya. Pelan-pelan juga Gino melingkarkan tangannya di pinggang Naya. Tak disangka pergerakan Gino itu membuat tidur Naya terusik. Wanita itu membuka matanya lagi dan hampir berbalik menoleh kepada Gino, tapi buru-buru ditahan oleh Gino untuk tidak membalikkan badan.


"Tetap begini, Dek," pinta Gino sambil semakin mengeratkan pelukannya dari belakang tubuh Naya.


Naya memilih menurut. Padahal sebenarnya jantungnya mulai tidak aman. Jedag jedug tak karuan dipeluk begitu oleh Gino.


Gino meminta Naya untuk tetap memunggungi nya karena satu hal. Ia takut dirinya khilaf dan tidak kuat mengontrol diri jika berpelukan dengan bertatapan muka.


"Tidurlah yang nyenyak, Sayang. Selagi kamu bebas dari terkamanku," seru Gino dengan sengaja.


Wuuuusshhh....


Rasanya seperti terkena terpaan angin semriwing saat Gino mengatakan itu. Bulu kuduk Naya seperti berdiri, resah dan gelisah bercampur jadi satu membayangkan ucapan Gino akan terjadi nanti.


Memang Naya bukan lagi gadis yang pertama kalinya akan melakukan belah duren. Meski sudah pernah merasakan nikmatnya surga dunia, tetapi kali ini akan bersama orang yang berbeda. Yang tentunya fantasinya juga akan berbeda. Ah, alamaakk... Kenapa jadi giliran Naya yang tidak bisa tidur? Padahal Gino sendiri sudah mulai mendengkur halus, pertanda sudah mulai nyenyak.


Ah, setidaknya untuk yang begituan masih beberapa hari lagi. Jadi masih bisa untuk Naya menyiapkan mental. Semoga saja dirinya bisa memberi pelayanan yang memuaskan kepada Gino nanti. Karena banyak lelaki hidung belang bilang, menikahi janda itu enak. Dilain sudah berpengalaman, tentunya juga bisa memuaskan hassrat pasangan. Aiiss... Membayangkan itu kenapa Naya bertambah begidik geli? Ampuuuuun....

__ADS_1


*


__ADS_2