Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 90


__ADS_3

Naya sudah berbaring di dalam kamar Gino.


"Mas, jangan pergi!" ucap Naya begitu Gino beranjak berdiri dari sampingnya. Wanita itu menahan tangan Gino untuk tetap duduk menemaninya.


Gino akhirnya duduk kembali. Tatapan matanya sangat sendu menatap pada Naya.


"Pusing sekali ya?" tanya Gino mendapati istrinya yang mulai memejamkan mata. Tangan pria itu membelai lembut pada kepala Naya.


Naya menggeleng. Karena memang tidak terlalu pusing, setelah dibawa berbaring begini rasa pusingnya sudah mendingan daripada barusan.


"Aku ambilkan air minum ya?" tawar Gino.


Naya menggeleng kepala.


"Mau teh hangat?" Gino tak pantang menyerah. Perhatian pria itu memang selalu ekstra jika mendapati Naya kurang sehat begini.


Akan tetapi Naya tetap menggelengkan kepalanya.


Gino menghentak nafas beratnya. Tangannya terus saja digenggam erat oleh Naya.


Tetapi kemudian terdengar bunyi ketukan dari pintu kamar mereka. Gino menoleh ke arah pintu, dan Naya membuka matanya kembali, sama-sama menoleh ke arah pintu.


"Aku buka pintu bentar, Dek."


Gino melepas paksa tangan Naya yang menggenggamnya. Lalu pria itu beranjak untuk membukakan pintu kamarnya.


"Gimana Naya?"


Rupanya Suryo yang datang. Pria tua itu tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu kamar saja.


"Naya agak pusing, Yah," jawab Gino.


Suryo melongokan kepalanya untuk melihat Naya, tetapi wanita itu saat ini sudah kembali memejamkan mata, pura-pura tidur. Padahal Suryo ingin menyapanya, menanyakan kondisinya, tetapi melihat Naya memejamkan mata Suryo urung menanyakannya.


"Kita sudah mau berangkat, Gi. Kamu gimana?" ucap Suryo, memberitahu kalau keluarga mereka sudah siap berangkat menuju rumah calon istri Agus.


"Kalau kamu tidak ikut, ayah kasihan sama Agus. Dia sangat butuh dukungan dari keluarganya," kata Suryo lagi sambil menepuk pada lengan Gino.


Gino paham apa maksud dari perkataan Suryo, walau ayahnya itu tidak mau menjelaskan tentang Agus yang sama tidak direstui oleh Nani seperti dirinya. Lalu pria itu menoleh ke arah Naya, rasanya menjadi dilema untuk meninggalkan Naya sendiri di sini.


"Pamit dulu sebentar sama istrimu. Rumah calonnya Agus nggak jauh kok, selesai akad kamu bisa pamit pulang dulu," seru Suryo sangat berharap Gino untuk ikut serta.


Walau bimbang, akhirnya Gino menganggukkan kepala. Ia tahu bagaimana rasanya berada di posisi Agus seperti sekarang. Gino tidak mau egois, sebab dulu Agus juga ikut menghadiri pernikahannya dengan Naya.


Lalu Suryo beranjak dari tempat itu, Gino kembali mendekat kepada Naya.

__ADS_1


Pria itu kembali duduk disamping Naya. Belum sempat Gino bicara, Naya membuka mata dan menyuruh Gino untuk pergi bersama keluarganya.


"Pergi lah, Mas. Aku nggak pa-pa. Aku mau di sini," ucap Naya yang mendengar semua apa yang Suryo katakan barusan.


Tidak! Itu bukan keinginan Naya. Sejujurnya Naya tidak mau ditinggal tanpa Gino di rumah ini. Apa yang harus Naya lakukan setelah ini? Sebagai menantu yang tidak diharapkan oleh ratu di rumah ini, ia bisa apa? Rasanya ingin menangis, merengek agar Gino tidak pergi. Tetapi ia tidak boleh egois.


Gino tersenyum mendengar ucapan Naya.


"Kamu baik-baik ya. Tidur saja di sini. Nanti pulang dari sini kamu harus periksa. Aku takut kalau dibiarkan kamu jadi tambah sakit. Aku tinggal bentar ya, Dek?" pamit Gino pada akhirnya.


Naya mengangguk pasrah. Andai saat ini tubuhnya bisa di kompromi, tentu ia akan ikut juga bersama Gino.


Pria itu pun mengecup kening Naya, sebelum akhirnya beranjak keluar dari kamarnya.


Setelah Gino pergi, Naya bertambah tidak bisa tidur. Rasa pusing di kepalanya ia abaikan. Terus saja kepikiran Gino kapan datang, padahal suara mobil yang berangkat baru saja berlalu.


Pikiran Naya terus merambat ke mana-mana. Seketika ia merindukan Lala. Setitik air matanya langsung luruh tanpa ia sadari. Hatinya selalu merasa entah jika teringat Lala dan juga nasib dirinya yang belum jua mendapatkan restu dari ibu mertua.


Ceklek.


Tiba-tiba suara handle pintu kamar itu berbunyi. Naya langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Beruntung saat ini ia sedang memunggungi arah pintu. Jadi Naya bisa berakting sedang tidur, tanpa harus melihat siapa yang diam-diam masuk ke kamarnya.


Seseorang yang datang itu langkah kakinya semakin mendekat ke arah Naya. Itu tidak mungkin Gino, begitulah batin Naya bersuara. Sebab kalau suaminya, tidak mungkin mengendap-endap seperti ini. Lalu terdengar bunyi seperti orang itu meletakkan sesuatu di atas nakas samping ranjangnya. Setelah itu, orang itu berlalu. Menutup kembali pintu kamar itu dengan gerakan pelan.


Naya membuka matanya lagi. Lantas langsung menoleh ke arah nakas dibelakangnya. Rupanya sudah ada segelas teh hangat di atas nakas itu. Siapa yang membawanya ke sini? Adakah seseorang yang tidak ikut menghadiri acara pernikahan Agus di rumah ini? Siapa orangnya?


Kepala yang pusing tambah berdenyut manakala diajak berpikir oleh Naya. Lalu akhirnya Naya memutuskan untuk berbaring lagi, coba tidur lagi, siapa tahu tiba-tiba terlelap. Dan begitu bangun nanti, ia sudah melihat Gino datang dan duduk di sampingnya. Itu harapan Naya sekarang.


***


Acara akad nikah Agus berjalan dengan lancar. Rupanya nasib Agus benar-benar mirip Gino, tidak diiringi oleh ibunda tercinta saat momen pernikahannya. Tetapi meski begitu tiada rasa sedih yang terpancar dari wajah Agus. Pria itu terlihat sangat bahagia bersama istri barunya. Dan sepertinya istri baru Agus yang ini terlihat welcome dengan kedua anak Agus. Semoga saja sikapnya selalu sama hingga nanti. Dapat menyayangi Putra dan Roby sebagaimana anaknya sendiri.


Awalnya Gino berencana pulang lebih dulu seperti ucapan Suryo tadi. Tetapi urung karena merasa tidak enak sendiri, sedangkan posisinya di sini sebagai adik dari Agus. Meski begitu tangan Gino sedari tadi sibuk dengan ponselnya. Menunggu balasan pesan singkat yang ia kirim kepada Naya, yang Gino lihat handphone Naya terakhir aktif saat ia pergi tadi.


Akhirnya rombongan pengiring pengantin pulang juga. Gino langsung pergi ke kamarnya begitu mereka sudah tiba di rumah kembali. Pria itu mendapati istrinya ternyata sedang tertidur nyenyak, sedangkan di atas nakas itu ada segelas teh yang belum diminum oleh Naya.


Melihat itu, bibir Gino langsung tersenyum lebar. Ia tahu siapa yang membuatkan teh itu untuk Naya. Itu pasti Nani. Karena di rumah ini hanya ada Nani dan Naya. Tidak mungkin juga Naya yang buat sendiri minuman itu.


Perlahan Gino ikut naik ke kasurnya, tidur tepat disamping Naya. Memeluk tubuh istrinya yang berbalut selimut. Lalu sengaja merusuh dengan menciumi pipi Naya.


Naya terbangun.


"Kenapa tehnya tidak diminum?" tanya Gino langsung, sambil kembali mencium gemas di pipi Naya.


Naya melirik pada teh itu. Gino beranjak duduk untuk mengambil teh itu, lalu memberikannya kepada Naya.

__ADS_1


"Ini ibu yang buat, khusus buat menantu tersayangnya," ucap Gino sambil tersenyum manis.


Naya melongo saja. Ibu?


"Hargailah buatan ibu. Ibu sebenarnya sayang loh, Dek, sama kamu, cuma masih gengsi nggak mau ngaku," kata Gino percaya diri sekali.


"Emang tadi ibu nggak ikut akad nya mas Agus?" kepo Naya. Jangan-jangan benar apa yang dikatakan istrinya pak lek Hadi tadi.


Gino menggeleng, tetapi wajahnya sama sekali tidak sedih, justru sedang murah senyum.


Lalu Naya mengambil teh dari tangan Gino kemudian meminumnya.


"Pahit!" kata Naya yang baru setengguk teh itu ia minum.


Gino mengerutkan keningnya curiga. Lalu pria itu pun ikut menyicipi teh itu.


"Manis kok, Dek," ucap Gino.


Sekali lagi Naya mencoba meminumnya. Siapa tahu cuma lidahnya saja yang lagi bermasalah.


"Hambar!" ucap Naya lagi yang kemudian langsung meletakkan teh itu ke atas nakas lagi.


Gino menatap Naya lekat-lekat. Setelah itu pria itu menyentuh kening Naya, memastikan suhu badan Naya yang rupanya tidak demam.


"Sekarang kamu masih pusing nggak?"


"Sudah nggak," jawab Naya sambil menggeleng kepala.


"Beneran?"


Naya mengangguk berulang-ulang.


"Sekarang ayo kita pulang, Mas," ajak Naya kemudian.


"Tunggu bentar lah, aku belum sholat dzuhur," cegah Gino.


Naya menarik tangan Gino, melihat pada jam tangan yang sedang dipakai Gino. Waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul satu siang.


"Ayo! Kamu pasti masih belum sholat juga kan?" ajak Gino kepada Naya.


Wanita itu mengangguk. Kemudian Gino lebih dulu turun dari kasurnya, disusul kemudian Naya. Akan tetapi ketika Naya mencoba berdiri, tiba-tiba kepalanya terasa pusing lagi. Beruntung Gino sedang tidak melihatnya, jadilah Naya berusaha terlihat baik-baik saja agar setelah ini bisa pulang.


"Kok pusing gini ya?" curiga Naya pada diri sendiri.


Karena tak biasanya Naya seperti ini. Sebelumnya ia tidak pernah memiliki riwayat penyakit apa-apa. Dan lagi Naya termasuk orang yang malas periksa ke dokter, termasuk urusan menelan obat Naya paling anti. Makanya Gino akan sangat perhatian begitu Naya sakit, karena sudah tahu bagaimana karakter istrinya yang begitu sulit dan penuh alasan jika diajak periksa ke dokter.

__ADS_1


*


__ADS_2