
Abdul menaruh curiga begitu Gino pamit mau ke kamar mandi. Segera pria itu ikut beranjak dari tempatnya saat Gino sudah melangkah masuk. Sebelumnya Abdul membawa Lala masuk ke kamar Naya, tak lupa Abdul berpesan kepada Lala untuk tetap di dalam kamar sambil menjaga adik Nana yang sedang bobok. Tujuannya agar bocah itu tidak mendengar perdebatan yang mungkin akan semakin menjadi setelah ini.
Dan benar saja, ketika Abdul keluar dari kamar Naya, tiba-tiba ia mendengar obrolan antara Gino dan Rahma yang tidak mengenakkan. Buru-buru Abdul ikut nimbrung dengan cara mencegahnya agar nantinya tidak berlanjut dengan pertengkaran sengit antara menantu dan ibu mertua.
"Rahma, cukup!" bentak Abdul dengan suaranya yang lantang.
Spontan Rahma, Gino dan Naya langsung menoleh ke arah Abdul berada. Tatapan mata pria paruh baya itu sudah nanar menatap pada mereka bertiga.
Sejenak Abdul menarik nafasnya dalam-dalam, teringat jika saat ini adalah bulan suci Ramadhan dan dirinya sedang berpuasa. Tentunya ia harus bisa menahan emosi diri sendiri meski rasanya akan sulit bila melihat wajah Rahma yang seperti juga ikut marah kepadanya.
"Naya, Gino, berangkatlah!" titah Abdul dengan tegas.
"Pak?!" Rahma menatap tajam kepada Abdul dengan perasaan sangat kecewa.
Abdul tidak mempedulikan bagaimana Rahma. Baginya yang terpenting sekarang Abdul tidak ingin merusak rencana baik yang sudah direncanakan oleh Naya. Karena Abdul yakin, dengan mau seperti ini saja pasti Naya sudah terbebani jauh-jauh hari.
Naya langsung masuk ke kamarnya. Berencana akan mengambil Nana. Wanita itu tetap dengan keputusannya untuk akan datang ke rumah mertuanya sekarang juga. Sebenarnya menjadi seperti simalakama buat Naya. Bila memilih tetap datang ke rumah mertua dengan membawa Nana, bisa jadi setelahnya hubungan mereka lebih baik dan tentram. Akan tetapi yang dipertaruhkan kali ini adalah perasaan Rahma. Semoga saja kemarahan Rahma tidak berlanjut lama meski Naya sekarang memilih tidak menuruti permintaan Rahma.
Sedangkan Gino tetap berada di tempatnya. Pikiran pria itu sudah tentu kacau. Ia juga tidak bisa menyalahkan Rahma kenapa sikapnya menjadi seperti ini. Karena Gino sadar semua itu bermula dari sikap Nani, ibunya.
"Naya!" sapa Rahma sedikit membentak ketika melihat Naya keluar kamar sambil menggendong Nana dan menggandeng tangan Lala.
"Jangan bawa Lala!" pekiknya sambil mendekati Naya dan kemudian melerai tangan Naya yang sedang menggandeng tangan Lala.
Bocah itu yang paham jika dirinya dilarang ikut mamanya oleh Rahma tentunya langsung menangis histeris. Gino berlari mendekati Lala. Kedua tangan pria itu memegangi pundak Lala bermaksud ingin menenangkan tangisannya.
__ADS_1
"Cup... Cup... Cup... Nggak usah nangis, Nak. Ayo kita berangkat," ajak Gino dengan menahan sesak di dadanya karena tidak tega melihat Lala menangis seperti itu.
"Tidak usah! Ibu bilang tidak usah bawa Lala!" tolak Rahma sudah benar-benar tega, meski mendengar tangis cucu kesayangannya semakin histeris.
"Tapi Lala anakku, Buk." Naya memohon dengan sendu.
"Lala memang anakmu, tapi dia bukan cucu mertua kamu. Cucu kandung sendiri enggan dilihat, apalagi melihat cucu tiri?"
Pernyataan Rahma itu tentunya membuat sudut hati Gino seperti tertusuk. Rasanya perih, tetapi sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi karena kenyataannya memang seperti itu.
"Ya Allah... Istighfar, Buk! Istighfar! Bulan puasa bukannya perbanyak pahala malah marah-marah," tegur Abdul dengan bijak.
Rahma hanya melirik menanggapi peringatan Abdul kepadanya. Lalu kembali menatap sengit kepada Naya.
"Kalau memang kamu mau membawa Nana, bawa saja! Ibu sudah tidak akan melarangmu. Lagian Nana masih bayi. Dia tidak akan tahu akan mendapatkan sambutan seperti apa di rumah neneknya. Tetapi Lala--"
"Lala sudah paham dan bisa menilai. Lala bahkan juga bisa mengingat perlakuan setiap orang kepadanya. Ibu tidak mau di sana Lala akan tersisih."
Di saat mengatakan itu, nampak mata Rahma yang mulai berkaca-kaca.
"Itu tidak mungkin terjadi, Buk. Ayahku menerima Lala dengan baik," sela Gino mencoba membela diri agar keluarganya tidak begitu buruk di mata Rahma.
"Itu ayahmu. Bagaimana dengan ibumu?"
Lalu Abdul beranjak menuju kulkas. Pria itu mengambil sebotol air dingin dan serta merta menyerahkannya kepada Rahma.
__ADS_1
"Minum!" seru Abdul menyodorkan air mineral itu yang tutup botolnya sudah terbuka.
"Apa-apaan sih, Pak!" Hampir saja Rahma akan menepis botol itu, tetapi tidak jadi karena terlanjur takut mendapati tatapan mata Abdul yang kentara menahan marah.
"Minum, Rahma! Biar perut kamu dingin. Lagian puasa kamu sudah batal karena marah-marah barusan," ujar Abdul dengan santainya.
Rahma langsung menghentak nafasnya. Ia tersadar jika kemarahan yang ia rasakan akan melewati batas jika tidak diperingati oleh Abdul. Lalu Rahma langsung menggendong Lala, mencium pipinya dengan sayang.
"Lala ikut ke rumah nenek. Di sana nenek ajak Lala beli-beli yang banyak," ucap Rahma mencoba merayu Lala agar berhenti menangis.
Kemudian wanita itu beranjak keluar rumah, tentunya masih sambil menggendong Lala. Dan Abdul lekas menyuruh Gino dan Naya untuk segera berangkat dan tidak membatalkannya hanya karena perdebatan barusan.
"Jangan hiraukan ibumu, biar bapak yang bicara nanti sama ibumu," ucap Abdul kepada Naya dan Gino.
"Kalian berangkat lah!" serunya lagi.
Kemudian Naya dan Gino pamit kepada Abdul. Mereka bertiga keluar dari rumah bersama-sama. Sesampainya di luar rumah, ternyata Rahma sudah berjalan jauh bersama Lala di ujung jalan, dan Abdul buru-buru mengejar mereka. Sedangkan Naya dan Gino langsung masuk mobil untuk kemudian mereka berangkat ke rumah orang tua Gino.
Selama dalam perjalanan itu, mereka berdua sama-sama diam. Apalagi Naya yang kentara sekali gelisahnya. Wanita itu terus saja kepikiran dengan Lala. Sama halnya dengan yang dirasa Gino. Pria itu juga kepikiran dengan Lala. Jujur, ia tak pernah mau membedakan status Lala di rumah orang tuanya. Lala harus setara statusnya dengan Nana, begitulah keinginan Gino.
Hingga tak terasa akhirnya mereka telah sampai di rumah orang tua Gino. Kedatangan mereka langsung disambut dengan pekikan Roby yang memang sangat merindui Gino karena memang sudah lama tidak berkunjung lagi ke rumah itu. Karena pekikan Roby itu, membuat seluruh orang rumah keluar untuk melihat.
Nampak jelas wajah Nani yang tersenyum bahagia begitu melihat Naya turun dari mobil sambil menggendong Nana. Wanita itu langsung menghampiri Naya sambil merentangkan kedua tangannya.
"Cucuku! Cucuku!" ucap Nani dengan sorot matanya yang mulai mengembun.
__ADS_1
*