
Sore hari Gino pulang dari kantor. Kebetulan sore itu Fifi belum pulang dari rumah Naya, maka Gino yang sudah tahu jika di rumah sedang ada Fifi, pria itu mampir terlebih dahulu untuk membeli oleh-oleh makanan untuk orang rumah. Ada terang bulan dan juga martabak telor, tak lupa roti bakar sebagai oleh-oleh wajib karena makanan itu kesukaan Lala.
Setibanya di rumah pria itu langsung disambut riang oleh Lala. Bocah itu tiap sore memang selalu menunggu kedatangan Gino pulang kerja sambil bermain di teras rumah. Beruntungnya saat ini ada Fifi yang menemani Lala bermain.
"Papa..." pekik Lala menyapa Gino yang baru datang.
"Hei, anak papa sudah wangi rupanya," balas Gino yang kemudian pria itu langsung menggendong Lala, setelah sebelumnya memarkir motornya dengan aman.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah, Fifi pun ikut nyusul sambil berjalan dibelakang mereka.
"Mbak Naya gimana, Fi?" tanya Gino kepada Fifi.
"Alhamdulillah sudah enakan, Om. Mbak Naya sekarang lagi mandi tuh," tunjuk Fifi pada arah kamar mandi yang sedang berbunyi kucuran air.
"Fi, ini aku beli terbul sama martabak, kamu makan ya? Kalau roti bakar ini spesial punya Lala," ucap Gino sambil menunjukkan bungkusan kresek yang ia pegang kepada Fifi dan Lala.
Lala langsung mengambil satu bungkus roti bakar kesukaannya dari Gino dengan ekspresinya yang senang sekali.
"Terimakasih, Om, entar lagi aku pasti makan kok," sahut Fifi.
Dari awal kenal dengan Gino, Fifi masih tetap memanggil Gino dengan sebutan om. Meski urutan yang sesuai adalah memanggil kakak atau mas, tetapi Fifi lebih suka memanggil Gino dengan sebutan om. Dan Gino sama sekali tidak mempermasalahkan sebutan dari Fifi itu. Asal tetap sopan, semuanya tidak masalah.
Lala meminta turun dari gendongan Gino, lalu segera beranjak duduk di karpet bulu depan TV. Fifi ikut duduk menemani Lala, sambil kemudian menyalakan TV nya dan mereka menonton serial film kartun kesukaan Lala yang tayang tiap sore begini. Bocah itu terlihat anteng menonton TV sambil menikmati roti bakar. Sesekali tertawa cekikikan setelah tontonannya terasa lucu baginya. Sedangkan Gino langsung beranjak ke dapur untuk memindah oleh-oleh yang dibawanya ke dalam piring. Belum selesai Gino di dapur, Naya sudah keluar saja dari kamar mandi.
"Mas, beli makanan apa?" tanya Naya yang kemudian mendekat kepada Gino untuk bersalaman.
"Aku beli terbul spesial untuk kamu," kata Gino sambil menatap aneh pada Naya yang hanya mengenakan kimono handuk.
Naya langsung mengambil satu potong kue terang bulan itu. Kemudian memakannya dengan nikmat.
"Gimana, sudah enakan sekarang?" tanya Gino sambil mengusap ujung bibir Naya yang belepotan karena coklat dari kue yang dimakan Naya.
Naya hanya mengangguk. Mulutnya sibuk mengunyah kue yang belakangan ini menjadi makanan favoritnya setelah hamil.
__ADS_1
"Ganti baju gih," ucap Gino, tetapi tubuhnya malah merapat kepada Naya.
"Iih... Apaan sih, Mas. Jangan mesum, ada Fifi!" timpal Naya yang kemudian mendorong pelan dada Gino untuk lebih berjarak.
"Di kamar yuk?" ajak Gino ngadi-ngadi.
"Kamu kesambet apa? Pulang-pulang malah minta jatah. Apa kurang semalam aku kasih dua ronde?" kata Naya yang kelepasan bersuara agak keras saking gemasnya pada tingkah Gino.
"Sssttt... Pelan-pelan ngomongnya!" Sekarang giliran Gino yang malu sendiri. Pria itu yakin kalau Fifi juga mendengar omongan Naya barusan.
Naya langsung membungkam mulutnya sendiri. Sekilas menoleh ke arah Fifi berada, gadis itu rupanya sedang terlihat asyik menonton TV. Tak tahunya, yang sebenarnya Fifi mendengar obrolan meresahkan itu. Ah, apa yakin dirinya bisa kuat hidup bersama orang-orang bucin seperti Naya dan Gino. Ngalamat akan jadi obat nyamuk berkepanjangan setelah ini.
"Sepertinya Fifi nggak denger, Mas," ucap Naya sambil cekikik sendiri.
Setelah itu Gino dan Naya sama-sama masuk ke kamar mereka. Dan pikiran mesum itu tiba-tiba melintas di benak Fifi.
"Ah, nasib jomlo! Sepertinya aku harus tutup mata dan telinga rapat-rapat setelah tinggal di sini," batin Fifi bermonolog. Entah mengapa ia sangat yakin kalau dirinya akan diijinkan untuk tinggal di sini oleh Abdul maupun Rahma.
"Mas, ada yang mau aku omongin soal Fifi," ucap Naya kepada Gino, ketika pria itu sedang melepas bajunya bersiap mandi.
Kemudian Naya menceritakan keinginannya itu kepada Gino. Dan beruntungnya Gino langsung setuju saja tanpa perlu berpikir lama. Karena baginya keberadaan Fifi di sini nantinya akan sangat membantu Naya. Karena Gino sendiri tidak bisa full time membantu Naya di siang hari lantaran sibuk di kantor.
"Terimakasih ya sudah mau menerima usulan ku," ucap Naya sambil memeluk pada tubuh Gino yang sedang bertelanjang dada.
Gino merespon dengan tersenyum manis sekali. Apapun itu, selama demi kebaikan, Gino pasti akan setuju.
"Urusan kita tinggal membicarakan ini sama ibu bapak," ucap Naya kemudian.
"Biar aku yang ngomong langsung sama bapak, Dek. Tapi aku yakin, bapak ibu pasti mengijinkan Fifi tinggal di sini."
"Iya, Mas. Jadi kapan kamu mau ngomong ke bapak, Mas?"
"Setelah ini mungkin. Kita kan masih harus nganter Fifi pulang, nanti di rumah aku sekalian ngomong sama bapak."
__ADS_1
Naya melebarkan senyumannya. Rasanya senang sekali membayangkan dirinya tidak akan jenuh lagi setelah ini, karena akan ada teman ngobrol di siang hari.
"Tapi kasih aku semangat dulu dong, aku sudah capek pulang kerja, jadi mana semangatnya buat aku?"
Naya langsung paham maksud modus di balik ucapan suaminya itu. Kemudian wanita itu pun berjinjit kaki untuk mencium bibir Gino. Pria itu langsung menyambut ciuman Naya dengan gerakan liar. Sehingga mereka berdua menghentikannya saat merasa sama-sama butuh ambil nafas.
"Kurang lagi," kata Gino tak lama kemudian.
"Iih... Cukup! Kamu nggak mau mandi apa?"
"Mimi dulu," kata Gino sok-sok merajuk mirip bocil.
"Jangan deh, Mas. Entar yang ada kebablasan bikin repot. Mana udah mau maghrib lagi," sungut Naya menghadapi suaminya yang tiba-tiba omes.
"Dikit doang. Nyicip aja lah, mumpung belum ada ASI nya," ucap Gino semakin ngadi-ngadi.
"No! No! No!" tolak Naya dengan tegas sambil menyilangkan tangannya di dada, melindungi buah kenyalnya yang kebetulan tidak sedang menggunakan pelindung beha.
"Ya sudah! Nggak boleh sekarang berarti entar malem wajib!"
"Terserah!" sahut Naya sudah pasrah. Yang penting tidak sekarang saja.
Sebelum keluar Gino menyentil dagu Naya, mencium bibir Naya lagi dengan singkat. Dan Naya hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri melihat kelakuan suaminya yang makin ke sini makin bikin gemas.
Baru saja Gino keluar kamar, tiba-tiba saja pria itu masuk kamar lagi. Membuat Naya memandang heran atas kemunculannya yang berwajah seperti orang kaget.
"Kenapa balik lagi, Mas? Ada yang ketinggalan?" tanya Naya.
"Aku lupa kalau ada Fifi di rumah ini," sahut Gino sambil garuk-garuk kepala.
Saat keluar kamar tadi Gino hanya mengenakan handuk saja. Sedangkan dadanya terekspos seperti biasanya. Sungguh pria itu benar-benar lupa jika ada wanita lain di rumah ini. Apalagi ketika tatapan heran Fifi yang memergoki Gino seperti itu, sungguh membuat Gino malu sendiri dibuatnya.
"Lain kali diingat, Mas. Fifi akan tinggal bareng kita setelah ini," ucap Naya yang kemudian mengambilkan Gino kaos oblong untuk dikenakannya.
__ADS_1
Dasar sudah kebiasaan Gino tiap mau mandi selalu bertelanjang dada dan hanya dengan mengenakan handuk sebatas lutut saja. Tetapi kebiasaan itu bisa berubah ketika sedang berada di rumah mertuanya saja.
*