
Gino dan Naya keluar dari toko perhiasan itu dengan membawa sepasang cincin untuk acara pertunangan mereka nanti.
"Dek, mampir beli minum dulu yuk?" kata Gino saat melihat cafe yang tidak begitu ramai yang ada di mall itu.
Naya melongo ke cafe itu, kemudian menggeleng kepala. Gino menganggap penolakan Naya karena tidak suka dengan tempatnya, maka ia pun tidak mempermasalahkan dan kemudian lanjut jalan.
Tepat saat Gino lewat di depan counter penjual HP pria itu tiba-tiba menarik tangan Naya untuk masuk ke toko itu.
"Ada hape yang seperti ini nggak?" kata Gino kepada pegawai toko itu sambil menunjukkan handphone miliknya.
"Ada, Kak. Ditunggu sebentar ya," Lalu pegawai itu mencari handphone yang persis seperti permintaan Gino.
Naya yang tidak tahu apa-apa mengapa Gino membawanya ke sini hanya diam tanpa mau bertanya.
Setelah itu pegawai yang tadi kembali sambil membawa jenis handphone yang diminta Gino. Gino menerimanya, kemudian meneliti barangnya.
Sedangkan pegawai itu mulai menjelaskan kelebihan handphone yang dipegang Gino itu. Sebenarnya Gino tidak perlu penjelasan itu, karena ia sudah tahu kelebihannya. Cuma ia membiarkan pegawai itu menjelaskan agar Naya bisa mendengarkan. Karena sebenarnya Gino berniat membelikan Naya handphone dengan tipe yang sama seperti miliknya.
"Kameranya bisa dicoba kok, Kak," ujar pegawai itu lagi.
"Boleh. Sini fotokan sama kami," kata Gino meminta pegawai itu memfoto dirinya dengan Naya.
Kamera sudah mengarah pada mereka. Dan dengan santainya Gino merangkul pundak Naya. Senyum lebarnya terpampang jelas di bibirnya. Tetapi Naya hanya tersenyum tipis, malu lebih tepatnya.
"Wah, hasilnya benar-benar bagus!" kata Gino sok kagum dengan hasil kamera dari handphone itu. Padahal aslinya ia senang melihat foto dirinya yang sedang merangkul Naya.
"Oke! Aku ambil ini ya." Lalu Gino mengeluarkan dompetnya, memberikan sebuah credit card kepada pegawai itu.
Dalam hati Naya merasa heran, handphone nya masih bagus kok malah beli lagi?
Setelah selesai transaksi pembayarannya, lalu Gino menggandeng tangan Naya untuk keluar dari toko itu.
Naya tidak lagi canggung digandeng tangannya oleh Gino. Mungkin karena hatinya perlahan mulai terbuka, tepatnya belajar membuka hati menerima Gino sebagai calon tunangannya.
"Mas beli hape lagi?" tanya Naya memberanikan diri. Sebenarnya bukan kepo, cuma biar ada komunikasi saja.
Gino mengangguk sambil tersenyum.
"Sekarang waktunya cari makan. Biasanya kamu kalau makan diluar di mana, Dek?" tanya Gino. Pria itu ingin tahu di mana biasanya Naya nongkrong.
__ADS_1
"Aku-- nggak biasa makan di luar, Mas," sahut Naya dengan pelan.
Memang semenjak menikah sampai menjadi janda Naya sudah tidak pernah makan di luar. Pribadinya mendadak menjadi pendiam dan tertutup. Selalu minder dengan status jandanya. Apalagi dulu Naya memiliki suami yang tidak romantis dan sering perhitungan, jadi jangan berharap akan ada momen seperti makan di cafe. Makan di warung pun tidak pernah.
Gino sedikit kaget mendengarnya. Tetapi ia mencoba berbaik sangka saja, bisa jadi wanitanya itu memang benar-benar tipe wanita rumahan.
"Dulu waktu masih sekolah apa tidak pernah nongkrong sama teman? Jajan-jajan diluar, di angkringan misalnya." Gino bertanya lagi.
"Ya pernah sih," sahut Naya mengiyakan.
"Kalau begitu ayo kita ke tempat biasanya kamu ke sana," ajak Gino dengan semangat.
"Tapi, Mas--"
"Ini masih tidak terlalu malam kok," kata Gino menduga Naya akan menolak dengan alasan ingin segera pulang.
Padahal sebenarnya Naya ingin memberitahu kalau angkringan yang biasa Naya dulu kunjungi bersama teman-teman sekolahnya tempatnya sangat sederhana. Jauh dari kesan istimewa. Dan lagi Naya sudah lama sekali tidak pernah pergi ke tempat itu lagi. Semoga saja angkringan nya masih buka.
Saat ini mereka sudah keluar dari mall. Duduk anteng dalam mobil, bersiap berangkat ke angkringan tempat Naya biasa nongkrong bersama teman-temannya dulu. Dalam perjalanan itu Naya menunjukkan arah tempat yang dituju. Ternyata angkringan yang dulu Naya sering datangi saat ini sudah banyak perubahan. Lebih ramai dan tambah bagus.
"Ini tempatnya, Dek?" tanya Gino merasa kagum dengan angkringan yang bisa jadi recommended untuk Gino kalau ada meeting di luar kantor.
Lalu mereka berdua turun dari mobilnya. Dan lagi, Gino menggandeng tangan Naya untuk masuk ke angkringan itu. Gino memilih satu gazebo yang kosong. Mereka berdua duduk di sana.
Buku menu sudah ada di meja mereka. Dengan serius Gino memilih makanan dan minuman yang akan mereka nikmati. Naya juga memilih makanan dan minumannya. Setelah selesai memilih barulah Gino memanggil pelayan angkringan itu.
"Tadi di rumah yang perempuan itu adik kamu?" tanya Gino tentang Fifi, sambil menunggu pesanan mereka datang.
"Hem, adik sepupu. Namanya Fifi. Dia ponakannya ibu, tapi sudah kumpul di rumah dua tahun. Ibu bapak sudah anggap dia seperti anak kandung," kata Naya menjelaskan.
"Jadi di rumah kamu ada berapa orang?"
Gino bertanya karena sebenarnya ia ingin memesan makanan untuk dibungkus dibawa pulang. Dan lagi ia memang masih belum tahu satu persatu keluarga Naya yang tinggal di rumahnya.
"Ada tujuh orang, termasuk aku dan Lala."
"Tujuh orang?"
"Iya. Aku punya dua adik cowok. Satu sudah SMA, yang satu masih SD kelas lima."
__ADS_1
Gino hanya manggut-manggut, karena sama sekali belum pernah bertemu dengan adik-adik Naya.
"Berarti satu saudara yang cewek cuma kamu ya, Dek?"
Naya mengangguk.
"Pantas," kata Gino membuat Naya penasaran kelanjutannya.
"Pantas kamu cantik. Ternyata kamu memang bidadari dari dua pangeran bapak dan ibu."
Spontan Naya menepuk tangan Gino. "Bisa aja ngegombal nya, Mas."
"Siapa yang gombal? Aku serius kok! Kamu itu benar-benar cantik."
"Sudah, jangan ngomong itu terus," ucap Naya sudah dengan pipi yang bersemu merah. Bukan karena malu, tetapi merasa tidak pede di sanjung seperti itu dengan kondisinya yang biasa-biasa saja. No make up, no pakaian mewah.
Gino tertawa kecil melihat Naya yang seperti itu. Tak lama setelah itu pesanan mereka datang. Naya langsung melotot melihat banyaknya makanan yang tertata di mejanya.
"Banyak banget? Perasaan tadi aku nggak pesan ini," protes Naya.
"Nggak pa-pa. Itu tadi aku yang pesan. Penasaran aja sama masakan di sini. Kalau enak besok-besok kita ajak keluarga kamu ke sini," kata Gino dengan santai.
Lalu mereka berdua mulai menikmati makanannya.
Suara musik dari pengamen yang tiba-tiba masuk ke angkringan itu menjadikan suasana semakin nyaman. Coba saja di angkringan ini juga ada penyanyinya seperti di cafe-cafe, tentu Gino akan request lagu yang akan ia persembahkan untuk Naya.
Tiba-tiba saja Gino memiliki ide. Lantas ia melambaikan tangan memanggil pengamen itu.
"Request lagu dong," kata Gino setelah pengamen yang hanya modal pake gitar itu mendekat.
Gino membisikkan judul lagu yang direquest nya kepada pengamen itu. Si pengamen langsung mengangguk paham sambil tersenyum kecil, melirik kepada Naya.
Naya yang dilirik seperti itu malah melirik penasaran kepada Gino. Tetapi pria itu cuma mesam-mesem dan kembali menikmati makanannya.
"Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku, meski kau tak cinta kepadaku. Beri sedikit waktu biar cinta datang karena telah terbiasa."
Lirik lagu yang dinyanyikan pengamen itu persis seperti yang dirasakan Gino sekarang. Ia memang masih belum memiliki hati Naya, tetapi ia yakin jika ia bisa dengan segera mendapatkan hati Naya.
Sedangkan Naya yang mendengar lagu itu bukannya tidak peka dengan maknanya. Tetapi ia pura-pura tidak begitu mempedulikannya. Perasaannya tiba-tiba berdebar, seakan seluruh lirik lagu itu menjadi ungkapan hati Gino kepadanya.
__ADS_1
*