
Naya dan Gino saat ini sudah ada di mall setelah tadi sempat berhenti sejenak di masjid karena Gino yang akan menunaikan sholat maghrib.
Keduanya sudah ada dalam butik, Gino meminta Naya untuk memilih beberapa jenis pakaian yang ia suka. Memang dasar Naya yang tidak pernah membeli pakaian di butik, ia dibuat melotot begitu tahu harga-harga pakaian yang dijual di sana.
"Mas, nggak jadi beli di sini," bisik Naya.
"Kenapa? Nggak ada yang cocok?"
"Mahal!" kata Naya dengan mantap.
Gino seketika terkekeh. Pria itu kemudian mengambil satu pakaian yang barusan dipegang Naya tetapi oleh Naya langsung dikembalikan lagi ke tempatnya.
"Yang ini bagus loh, Dek, kamu nggak suka?" tanya Gino sambil menunjukkan gaun berbahan satin berwarna soft yang menurut Gino akan sangat cocok bila nanti dipakai Naya.
Sekali lagi Naya mengintip lagi label harga pakaian itu dan kemudian menunjukkannya kepada Gino. Tanpa bicara apa-apa Naya malah menggeleng lagi.
"Kenapa?" Gino semakin terkekeh heran melihat reaksi Naya yang begitu.
Lagi-lagi Naya hanya menggeleng tanpa mau menjawab.
Gino paham mengapa Naya menggeleng kepala, mungkin kaget dengan harga pakaian itu yang mendekati angka satu juta. Tetapi nominal itu tidak penting buat Gino. Maka ia pun memutuskan untuk membelinya tanpa setahu Naya.
"Mbak," Gino memanggil karyawan di butik itu.
"Aku ambil yang ini ya," kata Gino yang kemudian menyerahkan pakaian itu kepada karyawan butik.
"Mas, kamu jadi beli?" Naya bertanya heran.
"Iya, aku suka warna sama modelnya. Aku ingin berikan itu pada orang spesialku," jawab Gino sedikit mengerlingkan matanya.
Naya manggut-manggut saja. Ia mengira orang spesial Gino itu mungkin orang lain.
Di butik itu juga menjual sepatu sandal dan beberapa tas branded juga. Gino meminta Naya memilih sandal yang ia suka. Tetapi lagi-lagi reaksi Naya langsung geleng-geleng kepala saat tahu harga sandal di sana sama mahalnya dengan harga pakaian yang dijual di sana. Belum lagi saat Naya melihat harga tas kecil yang memang terlihat bagus dan mewah. Rupanya harganya juga tak kalah mewah bagi seorang Naya yang memang selalu hidup sederhana.
Tanpa banyak tanya Gino langsung mengambil sandal dan tas yang tadi dipegang Naya, dan menyerahkannya lagi kepada karyawan butik itu. Setelah itu Gino melakukan transaksi pembayaran karena Naya mengajaknya untuk membeli di tempat lainnya saja.
__ADS_1
Mereka keluar dari butik itu sambil menenteng tiga paperbag di tangan Gino. Hari ini cukup membeli ini saja, mengingat Gino tadi hanya menggunakan motor. Besok Gino akan datang lagi ke rumah Naya. Masih banyak yang perlu mereka persiapkan untuk acara pertunangan yang sudah kurang tiga hari lagi.
"Mas, kamu beli ini semua untuk siapa?" tanya Naya tiba-tiba ingin tahu orang spesial Gino itu siapa.
"Buat kamu," sahut Gino sambil tersenyum.
"Hah!" Naya seketika menghentikan langkahnya, kaget saat mendengarnya.
"Kenapa kaget?" Gino ikut menghentikan langkahnya.
"Bukannya tadi kamu bilang itu untuk orang spesial kamu?" ucap Naya dengan polosnya.
Gino tertawa kecil. Lalu dengan santainya merangkul pundak Naya, mengajaknya untuk berjalan lagi.
"Orang spesialku itu kan kamu, Dek," ucap Gino seketika membuat perasaan Naya kembali berdesir hangat.
Naya terdiam seketika. Lidahnya seketika terasa kelu untuk sekedar protes soal nominal harga yang dibelanjakan Gino, yang menurutnya sangat berlebihan jika memang itu untuknya.
"Dek," Gino tiba-tiba menghentikan langkah kakinya begitu melihat ada toilet di depannya.
"Mm... Aku-- ke toilet dulu ya," ucap Gino yang tiba-tiba perutnya terasa mules.
"Aku titip ini." Pria itu kemudian menitipkan handphone nya kepada Naya, lalu kemudian masuk ke toilet itu.
Naya menunggu Gino sambil duduk di kursi panjang yang memang tidak jauh dari toilet itu. Tanpa ia tahu sedari tadi dirinya tengah diintai oleh seorang wanita yang kebetulan juga ada di mall itu. Dari kejauhan wanita itu menatap nyalang kepada Naya. Rasa sakit hatinya seakan berkobar kembali setelah tahu seperti apa wanita yang sudah membuat Gino berani melawan restu ibundanya.
Melihat situasi yang aman tanpa ada Gino di samping Naya, wanita itu pun mulai mendekati Naya.
"Hei!" sapanya tidak ramah sama sekali.
Naya mendongakkan kepalanya menatap wanita itu.
"Kamu ada cermin nggak?" kata wanita itu dengan ketus.
Naya menggeleng saja, karena kemana-mana Naya memang tidak pernah membawa kaca kecil di tasnya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum mengejek kepada Naya, membuat perasaan Naya seketika was-was, ada apa dengan wanita ini?
"Pantas kamu tak tahu diri! Nih, aku kasih uang buat beli cermin! Segitu cukup kan?" Wanita itu melempari wajah Naya dengan uang lima puluh ribu.
Refleks Naya berdiri karena kaget dengan perlakuan wanita asing itu.
"Mbak! Ini ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba kasar sama aku?" Naya bertanya heran, tetapi syukur masih bisa kontrol emosi karena malu keberadaan mereka sudah memancing perhatian orang-orang yang lewat.
"Belum paham? Kamu beli cermin sana! Biar kamu bisa ngaca dengan jelas siapa kamu! Cih! Janda seperti kamu itu tidak pantas sama Gino! Sadar diri dong! Mana sudah punya ekor lagi! Mau numpang hidup nyaman sama Gino, hah!"
Deg!
Tubuh Naya langsung kaget dan gemetar saat wanita itu menyebut nama Gino. Itu artinya wanita ini berarti mengenal Gino. Siapa dia? Pacarnya Gino?
"Jauhi Gino!" ucap Wanita itu dengan lantang sambil mendorong bahu Naya.
"Atau-- kamu akan menyesal! Dan hidup kamu akan sengsara bersama dia! Camkan itu!"
Sekali lagi wanita itu mendorong bahu Naya, hingga membuat Naya hampir terhuyung ke belakang. Lalu setelah puas mencaci Naya, wanita itu pun langsung pergi dengan cepat.
Tubuh Naya seketika lemas dan langsung duduk di kursi panjang itu. Sedang derai air matanya seketika mengalir dengan deras. Seumur hidup ia tidak pernah dicaci sedemikian hina di muka umum seperti ini. Siapa wanita itu sebenarnya? Ada hubungan apa dia dengan Gino?
Tetapi kemudian Naya terpaksa menyusut bersih air matanya setelah melihat Gino keluar dari toilet. Gino yang melihat mata dan hidung Naya yang merah langsung menatapnya curiga.
"Kamu nangis, Dek?" tanyanya sambil merangkum wajah Naya dengan kedua telapak tangannya.
Naya diam saja. Tidak mengangguk, juga tidak menggeleng.
"Ada apa? Apa yang terjadi, Dek? Kamu dijahatin orang?"
Setetes air matanya lolos lagi. Sebenarnya Naya sangat ingin bertanya langsung siapa wanita tadi saat ini juga kepada Gino. Tetapi melihat sorot mata Gino yang menatapnya sendu, membuatnya tak berani untuk menanyakannya.
Seketika Gino membawa tubuh Naya dalam pelukannya. Pria itu mengusap punggung Naya dengan lembut. Membuat tangis Naya seketika pecah lagi dan semakin menjadi. Bahkan ia sudah tidak peduli dengan sekitarnya, yang sudah pasti menjadi tontonan orang-orang yang lewat.
"Ada apa denganmu, Nay? Kenapa kamu sampai menangis seperti ini?" batin Gino bertanya-tanya.
__ADS_1
Darah pria itu seketika mendidih begitu memiliki firasat jika sudah ada orang yang menyakiti hati Naya saat ia tidak ada. Dalam hati ia pun berjanji untuk tidak akan membiarkan siapa itu jika nanti Naya mau menceritakannya. Sungguh, Gino tidak terima siapapun itu yang membuat pujaan hatinya menangis. Siapapun itu!
*