Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 113


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat. Dan kini usia kandungan Naya sudah memasuki bulan ke sembilan. Kira-kira sekitar dua minggu lagi Naya akan melahirkan, jika dilihat dari HPL nya. Akan tetapi hari perkiraan lahir itu bisa berubah kata dokter. Terkadang bisa maju paling banyak dua minggu, ada pula yang mundur paling lama dua minggu.


Bersyukurnya posisi bayi dalam kandungan Naya tetap aman dan terletak normal. Naya sudah rutin memeriksakan kandungannya ke dokter hampir tiap minggunya, demi menghindari posisi bayinya akan sungsang lagi. Dengan begini akhirnya Naya bisa berpikir rileks, karena kesempatan untuk melahirkan secara normal itu bisa dilakukan.


Selama memasuki kandungan sembilan bulan, Naya tinggal di rumah orang tuanya lagi. Khawatir ketika Naya kontraksi, Gino sedang tidak ada di rumah. Gino juga ikut tinggal di rumah mertuanya. Rumah mereka terpaksa kosong, hanya sesekali Gino datang untuk membersihkannya atau ketika sedang ingin mengambil keperluan lainnya.


Dari semalam tidur Naya tidak bisa nyenyak gara-gara perutnya tiba-tiba bermasalah. Bolak-balik wanita itu keluar masuk kamar mandi untuk BAB. Padahal seharian Naya tidak makan makanan yang memicu perut tidak baik. Entahlah, rasanya tersiksa sekali harus bolak-balik ke kamar mandi dengan kondisi perut yang semakin besar.


Gino yang melihat itu tentunya ikut prihatin. Andai posisi itu bisa digantikan olehnya, tentu Gino mau. Saat ini ia hanya bisa ikut menemani dan mengantar Naya yang sering terbangun tidurnya karena mules-mules.


"Besok pagi harus periksa ke dokter," saran Gino ketika waktu sudah menjelang subuh, mereka berdua memilih tidak tidur lagi.


"Tidak usah ke dokter, Mas, ke bidan saja tidak apa-apa," sahut Naya.


Naya meminta ke bidan karena rumah bidan cukup dekat dengan rumah ini. Kalau masih harus ke dokter prosedurnya masih lama dan akan mengganggu pekerjaan Gino juga.


"Baiklah," setuju Gino. Yang terpenting sekarang adalah periksa dan dapat obatnya.


"Lain kali makannya hati-hati," pesan Gino.


"Aku tidak makan pedas, tidak makan yang asem juga. Cuma kalau makanku banyak itu kan karena yang makan bukan aku saja, anak kamu di sini juga ikut makan," seru Naya sambil mengusap perutnya.


Gino ikut mengusap perut besar Naya, kemudian menciumnya berulang-ulang. Rasanya sudah tidak sabar menunggu buah cinta mereka terlahir ke dunia. Kira-kira lebih mirip siapa wajahnya. Karena Naya pernah terang-terangan meminta ingin alis anaknya mirip dengan Gino. Memang bentuk alis Gino terbilang rapi dan tebalnya tidak berlebihan. Dari bagian wajah Gino, Naya paling suka alisnya. Semoga saja nanti alis bayinya mirip papanya.


Tak lama kemudian kumandang adzan subuh terdengar dari toa masjid. Gino langsung beranjak untuk mengambil wudhu, kemudian pria itu berangkat ke masjid untuk berjamaah di sana. Sedangkan Naya memilih sholat di rumah saja. Dan lagi kebetulan Lala terbangun subuh itu.

__ADS_1


Hingga menjelang sarapan pagi, mood Lala masih rewel. Bocah itu dari bangun tidur tadi seperti tak mau ditinggal oleh Naya walau satu jengkal pun. Untuk dirayu Gino, Lala tumben menolak. Bocah itu tetap mau bersama mamanya saja. Dan ketika sarapan pagi dimulai, bocah itu masih terus nempel kepada Naya.


"Lala mau ikut papa jalan-jalan tidak? Mama papa hari ini mau pergi kontrol, kita lihat adek di perut mama, mau ikut?" ucap Gino kepada Lala.


Tak disangka ternyata bocah itu mengangguk setuju. Tanpa mengulur waktu lagi mereka bertiga kemudian berangkat ke rumah bidan dengan menaiki motor, karena lebih praktis dan tidak terhalang dengan macetnya suasana pagi di jalan raya.


Akhirnya mereka tiba di rumah bidan yang dituju. Kebetulan pagi itu tidak ada pasien lain yang sedang antri, hanya Naya saja yang pagi ini datang periksa. Begitu Naya masuk ke ruang periksa di rumah bidan itu, tak disangka Lala rewel lagi. Daripada hanya bikin ramai di ruangan itu, akhirnya Gino berinisiatif mengajak Lala keluar. Pria itu membawa Lala pergi ke sebuah minimarket. Terpaksa tidak menemani Naya periksa. Tetapi meski begitu Naya sama sekali tidak apa-apa walau tanpa ditemani suaminya saat ini.


Setelah mengatakan keluhan yang dialami Naya kepada bidan itu, ternyata si bidan meminta Naya untuk mengecek jalan lahir. Menurut bidan itu, bisa jadi mules semalam yang dirasakan Naya adalah gejala awal pembukaan.


"Tapi saya bukan mau melahirkan loh, Bu bidan. Saya cuma mau minta resep obat diare, kalau beli obat sembarangan di toko saya takut ada efeknya sama kandungan saya," ucap Naya terkesan tak percaya dengan alasan bidan yang mengkhawatirkan Naya sudah proses pembukaan.


"Kejadian seperti ibu pernah ada sama pasien saya. Awalnya bilang diare, nggak tahunya mau melahirkan. Makanya saya ingin periksa ibu juga, takutnya gejalanya sama seperti pasien saya yang sebelumnya," terang bidan itu.


Naya yang mendengar itu akhirnya mau saja dengan permintaan bidan nya. Kemudian Naya berbaring di kasur pemeriksaan, dan bidan itu perlahan mulai mengecek jalan lahir Naya.


"Ah, masa bu bidan?" kaget Naya, karena seingatnya hari perkiraan lahirnya masih kurang dua minggu lagi.


"Apa ibu tidak merasa mules-mules lagi?" tanya bidan itu setelah memperhatikan wajah Naya yang kaget seperti tak percaya.


Naya hanya menggeleng.


Memang setelah sarapan barusan perut Naya sudah sedikit mereda, tidak bolak-balik ke kamar mandi lagi.


"Berarti ibu kuat nahan sakit. Padahal itu sudah pembukaan dua loh."

__ADS_1


Naya diam saja meski bidan itu berkata seperti itu. Jujur, Naya masih agak tidak percaya kalau ternyata dirinya akan segera melahirkan.


"Tapi saya merasa baik-baik saja, bu bidan. Tidak merasa apa-apa, beda seperti mau melahirkan yang pertama," sanggah Naya masih ngeyel dengan ucapan bidan itu.


"Proses pembukaan itu memang ada yang lambat, ada juga yang super cepat. Untuk ibu ini sebenarnya ada tips nya kalau mau cepat lahiran."


Naya diam dengan serius, menunggu penjelasan lanjut bidan itu.


"Sering-sering kumpul bareng suami, Bu," ucap bidan itu dengan suaranya yang dibuat pelan.


Naya langsung maksud apa arti ucapan bidan itu. Akui, setelah hamil besar begini, hassrat Naya untuk bercinta dengan suaminya mulai berkurang. Entahlah, rasanya malas dan lelah untuk begituan. Bersyukurnya Gino bisa pengertian dengan Naya. Meski Naya tidak pernah menolak saat diajak bercinta, tetapi Gino sadar diri jika reaksi istrinya seperti kurang mood ketika diajak bercinta. Maka dari itu Gino juga sering libur mengunjungi dedek bayinya.


Naya keluar dari ruang pemeriksaan di rumah bidan itu, tetapi Gino dan Lala rupanya belum datang. Setelah beberapa menit ditunggu, akhirnya mereka berdua datang. Dengan tangan Lala yang sudah memegang balon, dan juga ada satu kresek penuh belanjaan Lala dari minimarket.


"Gimana kata dokter, Dek?" tanya Gino saat Naya akan duduk di jok motornya.


"Tidak kenapa-napa. Ini aku sudah dapat obatnya," jawab Naya yang sengaja tidak jujur kepada Gino karena takut akan membuat Gino panik.


Mengapa Naya tidak mengatakannya, karena yang dirasa Naya sekarang baik-baik saja. Perutnya sudah tidak merasa mules-mules lagi. Jika Naya mengatakannya dan akhirnya tidak ada apa-apa, Naya kasihan akan membuat suaminya panik berlebihan.


Nanti, jika akhirnya gejala itu muncul lebih sering, maka Naya akan menghubungi Gino. Untuk saat ini biarlah Gino berangkat bekerja dengan tenang.


"Ayo sekarang kita pulang," seru Gino menyapa Lala.


"Ayo!" Bocah itu memekik senang.

__ADS_1


Kemudian mereka bertiga pulang dari rumah bidan itu. Karena setelah ini Gino masih harus pergi ke kantor.


*


__ADS_2