Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 122


__ADS_3

Di saat Suryo pergi dari rumah, kebetulan di rumah sedang tidak ada siapa-siapa. Agus dan Mila saat itu sedang pergi kontrol kandungan ke klinik bidan. Sedangkan Putra dan Roby juga sedang tidak ada di rumah. Jadilah Suryo dan Nani terlibat adu mulut dengan bebas sore itu.


Perdebatan oleh pasangan suami istri yang tak lagi muda itu dipicu karena kemarahan Suryo terhadap Nani. Pria itu sebelumnya sudah berusaha bersikap sabar kepada Nani. Ia selalu mengulur waktu demi bisa berangkat berdua dengan Nani untuk melihat cucu mereka, anaknya Gino. Nyatanya hingga kelahiran cucu mereka sudah hampir satu bulan lamanya, Nani tetap keras kepala dan selalu beralasan yang sudah tidak jelas tiap kali diajak menjenguk cucu mereka.


Padahal hampir setiap hari Gino selalu mengunggah story WA dengan memamerkan wajah bayi lucunya. Entah karena Gino sedang merasakan bahagia sehingga selalu mengunggah foto anaknya, atau karena Gino sengaja melakukan itu agar bisa dilihat oleh keluarganya, terutama Nani.


Dan saat ini Suryo sudah tiba di depan rumah Gino. Tetapi kondisi rumah itu gelap, lampunya hanya menyala bagian depannya saja. Tidak ada mobil maupun motor Gino di teras rumah itu. Suryo baru ingat kalau Gino tinggal bersama mertuanya lagi, membuat pria itu berpikir sejenak untuk lanjut pergi ke rumah besannya.


Tentunya Suryo harus memiliki alasan yang masuk akal jika nanti ditanya oleh besannya ataupun oleh Gino mengapa Nani tidak ikut. Hal itulah yang saat ini Suryo pikirkan. Dan setelah menemukan jawaban yang menurutnya tepat, akhirnya Suryo pergi ke rumah besannya. Pria itu sudah tidak sabar ingin segera menggendong cucu pertamanya.


Bertepatan dengan waktu maghrib tiba, saat Suryo sampai di rumah besannya. Abdul dan Rahma saat itu sedang pergi jamaah sholat maghrib di masjid, Gino pun juga. Jadilah di rumah itu hanya ada Naya saja.


"Assalamu'alaikum," salam Suryo sambil mengetuk pintu rumah itu.


Naya yang mendengar ada ucapan salam di depan, beranjak keluar dari kamarnya untuk melihat siapa yang datang.


"Wa'alaikum salam," jawab Naya sambil membukakan pintunya.


Sejenak Naya tertegun melihat siapa yang datang kali ini. Sedangkan Suryo langsung memasang senyumnya, tetapi kedua netranya seperti mengembun menatap Naya.


"Silahkan masuk, Yah," kata Naya mempersilahkan Suryo masuk yang sebelumnya sudah bersalaman lebih dulu kepada ayah mertuanya.


Meski sudah tahu kalau Suryo datang seorang diri, tetapi Naya sama sekali tidak ingin bertanya mengapa ibu mertuanya tidak ikut serta. Rasanya Naya sudah benar-benar kebal hati dengan hal seperti ini.


"Di mana yang lain, Nak?" tanya Suryo karena mendapati kondisi rumah yang sepi.


"Masih belum datang dari masjid, Yah," sahut Naya.


"Gino ada kan?" tanya Suryo memastikan kalau Gino tidak ke mana-mana.


"Ada, Yah. Mas Gino juga lagi jamaah di masjid," sahut Naya.


"Nak Naya, ayah ingin melihat cucu ayah, Nak," ucap Suryo to the point, tetapi nada suaranya terdengar gemetar, seperti sedang menahan tangis.


Naya hanya tersenyum tipis. Apalagi setelah melihat dengan jelas sorot mata Suryo yang seperti itu, Naya sangat tahu kalau sesungguhnya Suryo sangat menyayangi dirinya dan juga Nana. Kemudian Naya beranjak masuk ke kamarnya untuk mengambil baby Nana. Saat Naya menggendong baby Nana, Lala yang saat itu juga sedang ada di kamar ikutan keluar kamar.


"Ya Allah..." ucap Suryo sambil spontan berdiri dari tempatnya setelah melihat Naya datang sambil menggendong baby Nana.


Kemudian Suryo langsung menggendong baby Nana. Diciumnya pipi merah baby itu hingga berulang-ulang. Naya melihat jelas ada setetes air mata Suryo yang luruh dari mata tuanya. Membuat Naya ikut merasa terenyuh melihat pemandangan itu.


"Cucu mbah kung sudah besar," seru Suryo sambil tersenyum menatap wajah baby Nana yang sedang tertidur pulas.


Saat Suryo sedang menggendong baby Nana itu, Gino datang. Pria itu melihat sendiri kalau anaknya sedang berada dalam dekapan Suryo. Membuat senyum bahagia Gino seketika mengembang lebar setelah mendapati ayahnya datang untuk melihat bayinya.


"Ayah," sapa Gino yang saat itu sudah berdiri dibelakang Suryo.

__ADS_1


Suryo membalikkan badannya untuk menoleh kepada suara Gino yang memanggilnya. Dan Suryo langsung tersenyum lebar, manakala tatapan mereka saling bertautan.


"Anakmu cantik, Gi. Cucu ayah cantik," ucap Suryo dengan derai air matanya yang sudah tidak terbendung lagi.


Gino mendekat kepada Suryo. Pria itu pun ikut meneteskan air matanya. Sedih bercampur bahagia. Segera Gino memeluk kepada Suryo, dan Naya langsung mengambil baby Nana dari gendongan Suryo.


Dalam pelukan Suryo, Gino meluruhkan seluruh air matanya. Dan Naya langsung mengajak Lala untuk pergi dari tempat itu, agar bocah itu tidak bertanya-tanya mengapa papanya menangis.


"Papa kayak adek Nana, suka nangis, cengeng!" seru Lala setelah ia dan Naya berdua di dapur.


Naya hanya tersenyum tipis menanggapi celotehan Lala yang asal keluar. Semoga saja setelah ini Lala tidak kepo melihat papanya menangis seperti itu.


"Maafkan ayah, Gino," seru Suryo sambil mengusap punggung Gino.


"Ayah tidak perlu minta maaf. Kedatangan ayah sudah membuatku bahagia. Selama ini aku merasa seperti tidak punya siapa-siapa, Yah. Tapi saat ini ayah datang. Terimakasih, Ayah," ucap Gino.


"Iya. Tetapi ayah tetap bersalah sama kamu. Karena ayah sudah mengecewakan kamu. Membuat kamu bersedih karena menunggu kedatangan ayah."


Lalu Gino melepas pelukannya. Pria itu mengusap bersih air matanya. Dan tersenyum manis menatap pada Suryo. Gino sama halnya seperti Naya. Ia juga tidak ingin bertanya kenapa ibunya tidak ikut datang. Karena jika menanyakannya, Gino takut hatinya akan semakin terluka. Dan akan membuatnya menjadi anak durhaka nantinya.


"Ah, ayah masih belum sholat, Gi," ucap Suryo kemudian.


"Ayah mau sholat di sini apa di masjid?" tanya Gino.


Gino menoleh ke arah halaman rumah. Nampak Abdul dan Rahma yang baru datang dari masjid.


"Itu mereka, Yah," tunjuk Gino pada kedua mertuanya yang berjalan mendekati mereka.


"Kalau begitu ayah sholat di sini saja," ucap Suryo.


Setelah sesama besan itu saling menyapa sebentar, Suryo pamit untuk sholat dulu. Sedangkan Naya sudah kembali masuk kamarnya, karena sudah ada Rahma yang akan membuatkan minuman untuk Suryo. Gino pun ikut menyusul Naya ke kamar.


"Ternyata anakku masih dianggap cucu oleh mbah kungnya," celetuk Naya, sengaja mengatakan itu di depan Gino.


Gino yang mendengar jelas ucapan itu hanya bisa menghentak nafasnya. Karena ia sendiri sebenarnya tidak menginginkan semua ini terjadi. Cuma karena ini sudah pilihannya, maka Gino harus mempertanggungjawabkan. Pahit manisnya, suka dukanya, harus bisa ia jalani itu.


"Kok ibu tidak ikut ya, Mas?"


Sengaja Naya bertanya seperti itu meski sejujurnya ia sudah malas membahas tentang Ibu mertua. Ia bertanya karena ingin memancing jawaban Gino akan seperti apa.


"Aku tidak tahu," jawab Gino jujur.


Naya menatap Gino heran.


"Kok nggak tahu? Kamu nggak nanya sama ayah kenapa ibu tidak ikut?"

__ADS_1


Gino menggelengkan kepalanya.


Dari reaksi ini, tiba-tiba Naya kepikiran kalau-kalau Gino marah dengan Nani. Karena semenjak ada Nana, Gino sudah tidak lagi pulang menemui orang tuanya. Padahal sebelumnya, Gino rutin datang ke rumah mereka setiap weekend.


"Jangan durhaka sama orang tua loh, Mas!" ucap Naya dengan serius.


Gino memicingkan matanya menatap Naya.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu?" tanya Gino lebih serius.


Sejenak Naya membuang mukanya ke samping. Lalu kembali bertatapan dengan Gino.


"Kamu tidak marah sama ibu kan?" tanya Naya dengan hati-hati, karena takut akan menyinggung perasaan Gino karena pertanyaannya.


Gino masih diam, belum mau menjawab pertanyaan Naya.


"Aku sudah nggak pa-pa meski ibu juga tidak menyukai Nana. Karena itu wajar. Dari awal ibu memang tidak menyukaiku. Tapi aku tidak mau menjadi benalu sehingga kamu menjadi anak durhaka kepada ibu."


"Apa maksud kamu, Dek? Kenapa kamu bicara seperti ini?" Gino langsung menyela bertanya.


Pria itu selalu sensitif jika mendengar ucapan Naya yang seperti itu. Jujur, Gino takut kalau Naya meminta mengakhiri semuanya karena sudah tidak sanggup menjalani mahligai rumah tangga bersamanya.


Naya yang melihat adanya perubahan sorot mata Gino, tentunya merasa takut suaminya akan salah paham terhadapnya. Perlahan Naya meraih tangan Gino, kemudian menggenggamnya erat.


"Kamu jangan marah sama ibu, meski ibu tidak datang melihat Nana. Biar bagaimana pun itu ibu kamu," ucap Naya kemudian.


"Aku tidak marah sama ibu," sahut Gino dengan tegas.


Memang tidak marah, hanya sedang memendam rasa kecewa.


"Syukurlah kalau begitu," balas Naya.


"Trus kenapa kamu nggak penasaran, kenapa nggak nanya sama ayah kenapa Ibu tidak ikut?" lanjut Naya.


"Kamu mau aku tanya itu sama ayah?" Gino balik tanya.


"Setidaknya dengan kamu menanyakan ibu itu artinya kamu baik-baik saja sama ibu."


Gino menghentak nafas kasarnya. Pria itu kemudian berdiri dari duduknya, kemudian mengambil baby Nana untuk dibawa keluar dari kamarnya.


"Aku mau ke ayah," kata Gino yang kemudian pergi begitu saja.


Giliran Naya yang menghentak nafas beratnya. Ia tahu kalau Gino mungkin sedang menghindari pembahasan tentang Nani. Tapi setidaknya Naya sudah memperingatkan agar Gino tidak jadi anak durhaka, anak yang membenci orang tuanya hanya karena tidak menengok Nana. Meski sejujurnya, kenyataan seperti ini tidak mudah untuk Naya abaikan. Mau dibuat santai bagaimana pun, tetap saja sikap Nani yang seperti ini selalu mengusik di benak Naya.


*

__ADS_1


__ADS_2