
Naya sudah dipindah ke ruang perawatan. Kondisi Naya sebenarnya baik-baik saja, tetapi tetap harus mengikuti prosedur rumah sakit jika ingin pulang. Setidaknya besok pagi Naya sudah boleh pulang, setelah dokter benar-benar memastikan kondisi Naya dan bayinya benar-benar sehat.
Dalam ruang kamar kelas satu itu sudah ramai oleh keluarga dari Naya. Ada bapak ibunya, dua adik-adik Naya. Dan yang paling heboh adalah Lala. Bocah kecil itu setelah melihat sendiri seperti apa adiknya terus bernyanyi riang. Nyanyi ciptaannya sendiri yang berjudul adik. Terdengar sangat lucu karena bahasanya random dan asal keluar dari mulut Lala yang masih agak cadel, sehingga semua orang yang ada di ruangan itu ikut tertawa senang melihatnya.
Gino sendiri sebenarnya sudah mengabari kedua orang tuanya kalau Naya sudah melahirkan. Mereka ikut senang, terutama Suryo yang kesampaian keinginannya memiliki cucu perempuan. Akan tetapi entah mengapa hingga sore tiba satu pun keluarga dari Gino tidak ada yang datang.
Sebenarnya hati Gino merasa sedih mendapati keluarganya tidak ada yang datang, tetapi pria itu hanya memendamnya dengan tetap tersenyum walau hatinya menyayat perih. Setidaknya ada kabar saja dari mereka mengapa tidak datang secepatnya itu bisa membuat perasaan Gino tidak sedih sendiri. Tetapi nyatanya tak satupun dari mereka memberi kabar atau sekedar memberi alasan.
Abdul dan Rahma sebenarnya juga menyadari adanya kejanggalan dari keluarga besannya. Apakah mereka tidak mau menerima kelahiran cucu mereka, sehingga tidak antusias sama sekali mendengar darah daging keluarga mereka telah terlahir? Tetapi sikap Abdul dan Rahma memilih diam juga. Meski hati mereka kembali teriris membayangkan rumah tangga Naya yang tetap begini saja dengan mertuanya.
"Dek, aku tinggal ke musholla dulu, sekalian mau nunggu adzan maghrib," pamit Gino kepada Naya. Padahal waktu maghrib masih kurang sekitar satu jam lagi.
"Iya, Mas," sahut Naya langsung mengijinkan, karena di kamar itu dirinya sudah ada yang menemani.
"Papa, Yaya ikut!" pekik Lala tiba-tiba ingin ikut Gino pergi.
"Hei, Lala tetap di sini saja. Papamu cuma mau sholat dulu," bujuk Rahma.
Beruntungnya Lala langsung patuh. Seharian ini mood Lala sedang baik, tidak rewel lagi seperti kemarin-kemarin saat Naya masih hamil besar.
Setelah berpamitan, Gino langsung keluar dari ruang kamar Naya. Sambil berjalan menuju musholla yang ada di rumah sakit itu, tangan Gino tak hentinya terus mencoba menghubungi Agus. Tetapi hingga panggilan telponnya yang ke tiga, Agus tidak menjawabnya.
Gino kelimpungan sendiri. Ingin rasanya menangis dan berteriak sekeras-kerasnya, menghadapi kenyataan keluarganya yang membuatnya terluka seperti ini. Tetapi Gino terus saja menahan rasa sesak itu. Menekannya kuat-kuat. Sadar diri jika saat ini dirinya sedang ada di tempat umum.
Sebuah pesan singkat akhirnya Gino ketik untuk Agus.
[Mas Agus]
[Istriku sudah melahirkan, Mas]
[Anakku perempuan]
[Dia sangat lucu dan sehat]
[Nggak nyangka sekarang aku sudah jadi bapak, Mas]
__ADS_1
Pesan singkat itu berhasil terkirim ke handphone Agus. Masih belum dibaca oleh Agus. Tetapi sudah bercentang dua abu-abu. Dengan begitu berarti handphone Agus menandakan sedang aktif, cuma masih belum sempat terbaca.
Gino mengusap air matanya yang lolos menitik dari pelupuk matanya. Berulang kali menghela nafas dalam-dalam, agar terlihat tetap baik-baik saja saat kembali ke kamar Naya nanti. Sekarang Gino sudah sampai di musholla yang ada di rumah sakit itu. Pria itu lekas mengambil wudhu, meski tahu kalau waktu maghrib masih kurang lima puluh menitan.
Sambil menunggu maghrib, Gino terus saja memandangi ponselnya. Berharap pesannya dibaca oleh Agus. Saat sudah mulai putus asa karena Agus tak kunjung membaca pesan darinya, maka lebih baik Gino akan menonaktifkan saja ponselnya. Tetapi belum juga itu ia lakukan, sebuah panggilan telepon masuk dari Agus untuknya.
"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Gino dengan suaranya yang gemetar efek perasaannya yang sudah campur aduk.
"Wa'alaikumsalam. Maaf, Gi, aku baru pegang hape. Dari tadi aku sibuk sama pak dewan," tutur Agus yang menyebut nama juragannya dengan nama pak dewan, meski memiliki nama yang asli.
"Nggak pa-pa, Mas," sahut Gino dengan kalem.
"Alhamdulillah ya ponakanku sudah lahir. Selamat ya, Gi," ucap Agus terdengar sangat senang dari nada suaranya.
"Iya, terimakasih, Mas." Bibir Gino mulai tersenyum tipis mendengar ucapan selamat dari Agus.
"Tap sayang aku masih belum bisa lihat sekarang. Aku masih mau pulang Isyak nanti, Gi. Besok pagi mungkin aku bisa lihat," ucap Agus.
Saat ini Agus memang sedang ada di luar kota, sedang menyopiri juragannya yang menjadi anggota DPR. Gino memaklumi itu.
"Tidak, Mas. Kita masih di rumah sakit. Besok pagi baru boleh pulang," tutur Gino.
"Kalau gitu aku saja besok yang jemput kalian," pinta Agus.
"Iya, boleh kalau gitu, Mas. Lagian tadi aku ke sini nggak bawa mobil."
"Loh, trus tadi kamu bawa Naya pake apa?" heran Agus.
"Naik motor, Mas," jawab Gino dengan sedikit terkekeh, teringat betapa hebohnya tadi saat Naya kontraksi di jalan sampai-sampai tangan Naya mencengkram baju Gino sebagai pegangan.
"Ya ampun... Kok bisa sih, Gi? Emang kamu sama Naya lagi di luar apa? Kok bisa-bisanya istri mau lahiran kamu bawa pake motor?"
Kemudian Gino menceritakan semuanya kepada Agus, mengapa akhirnya ia dan Naya memilih naik motor daripada naik mobil, padahal di rumah mobilnya lagi nganggur.
"Intinya yang penting selamat lah," ucap Agus akhirnya.
__ADS_1
"Iya, Mas."
Dari obrolan itu setidaknya sudah mengurangi sedikit kesedihan di hati Gino. Sengaja Gino tidak membahas kedua orang tuanya saat mengobrol dengan Agus. Untuk saat ini Gino hanya mau berpikiran positif dulu. Mungkin Suryo dan Nani tidak datang hari ini karena sedang ada kesibukan, mungkin mereka datang besok.
Sambungan telepon antara Agus dan Gino berakhir. Tak lama kemudian terdengar kumandang adzan dari dalam musholla itu. Nampak Abdul yang berjalan tak jauh dari musholla itu. Gino yakin kalau bapak mertuanya itu mau berjamaah sholat maghrib, seperti yang biasa Abdul istiqomah kan ketika di rumah.
Selesai sholat maghrib, Abdul langsung kembali ke kamar rawat Naya. Sedangkan Gino pamit kepada Abdul untuk membeli makanan agar bisa dimakan oleh keluarga yang menunggui Naya di kamar.
Sebelum itu Gino menelpon kepada Naya, menanyakan istrinya itu mau makan apa. Setelah mengatakan kalau Naya malam ini ingin makan nasi pecel lele, maka Gino segera mencari warung penjual makanan yang diminta Naya.
Gino kembali ke kamar rawat Naya sambil menenteng beberapa bungkus nasi untuk keluarga Naya dan juga untuk dirinya. Tak lupa Gino membeli dua bungkus roti bakar setelah tak sengaja melihat penjual itu tadi. Ia sangat ingat kalau roti bakar khas Bandung adalah makanan kesukaan Lala.
"Yoti ini punya Yaya semua!" pekik Lala posesif sekali dengan roti bakar miliknya.
"Om Farhan minta sedikit dong, La," rengek Farhan mencoba merayu Lala.
Om kecil itu sangat suka menggoda Lala. Mungkin karena sama-sama masih bocah. Farhan masih SD.
"Bagi sama om Farhan juga dong, Lala. Kalau punya lebih jangan lupa berbagi. Pahalanya gedde. Jaminannya masuk surga," bujuk Gino kepada Lala.
Padahal niat Gino membeli dua bungkus roti bakar itu untuk Farhan juga. Tetapi langsung direbut Lala.
"Tauk tuh. Perut kamu kecil. Mana muat makan dua bungkus roti. Entar perut kamu meledak mau?" Farhan mulai menakut-nakuti Lala.
Ekpresi Lala langsung manyun. Tetapi akhirnya memberikan juga satu bungkus roti itu kepada Farhan.
"Yeeii... Makasih Lala comel," ucap Farhan yang kemudian membuka bungkus kertas roti itu.
Lala tidak menyahut. Tetapi bocah itu mendekat kepada Farhan yang sedang membuka roti nya.
"Om, Yaya minta sedikit ya? Om kan nggak peyit," kata Lala dengan polosnya.
Tanpa menunggu persetujuan dari Farhan, Lala langsung mengambil satu potong. Padahal di tangannya juga sedang memegang satu bungkus roti bakar miliknya yang masih utuh. Meski begitu, tingkah Lala berhasil membuat semua orang yang melihatnya tertawa gemas.
*
__ADS_1