
"Mas, susu coklatnya dapat?" tanya Naya tiba-tiba.
Gino tergelak mendengarnya. Setelah itu menepuk keningnya sendiri karena lupa.
"Maaf, aku lupa, Dek. Tunggu aku buatkan ya?"
"Aku mau susu coklat dingin ya, Mas," pinta Naya.
Gino nampak berpikir sebentar. Sudah malam istrinya minta es susu coklat, nggak bahaya tah?
"Ya udah, aku aja yang buat."
"Eh, jangan, jangan!" Gino mencegah Naya untuk turun dari kasurnya.
Maksud Naya ingin buat sendiri karena tidak mau merepotkan suaminya.
"Kamu diem duduk anteng di sini, biar aku yang buat. Oke!" ucap Gino kemudian pria itu segera beranjak untuk membuatkan susu coklat permintaan Naya.
Merasa jenuh hanya duduk-duduk di kamar, akhirnya Naya pergi menyusul suaminya. Kondisi tubuhnya sudah tidak begitu lemas, malah sekarang perutnya merasa agak lapar karena habis terkuras tadi.
Gino yang masih sibuk membuat es susu coklat tanpa sadar kalau istrinya sudah ada di dapur juga. Dan Naya yang merasa lapar membuka tudung saji di meja makan. Akan tetapi di sana ada sisa ikan goreng yang mungkin Gino masak tadi untuk makan malam Lala. Naya yang tidak suka dengan bau amis ikan itu perutnya tiba-tiba bergejolak lagi. Dan...
"Uweekk..."
Gino langsung menoleh ke sumber suara. Betapa kagetnya ia melihat Naya sudah ada di dapur juga.
"Dek, kok malah ke sini?"
"Aku lapar," jawab Naya sambil mengapit hidungnya agar tidak mencium bau ikan itu.
Gino melirik ke meja makan. Dari sini Gino bertambah paham kalau akhir-akhir ini Naya jarang makan ikan karena bawaan bayinya.
"Ayo duduk di sana." Lalu Gino menuntun Naya untuk duduk di ruang tengah saja. Dan Gino kembali melanjutkan membuat es coklat yang belum selesai.
Es coklat sudah selesai dibuat. Sebelum itu Gino mengambil sisa ikan goreng itu dan kemudian membungkusnya ke dalam plastik. Besok pagi ikan itu rejeki kucing yang tiap hari menunggu didepan pagar rumah. Dan Gino menyimpannya di tempat lain, agar baunya tidak tercium oleh Naya lagi.
Gino mendekati Naya yang sedang asyik menonton film malam di TV. Di tangannya sudah ada es coklat untuk Naya.
__ADS_1
Naya menerimanya dengan mata yang berbinar. Rasanya seger, manis, Naya suka.
"Jadi kenapa kamu belakangan ini suka makan yang manis-manis apa itu karena ngidam, Dek?"
"Bisa jadi," sahut Naya dengan santai sambil terus menikmati es coklatnya di depan Gino.
"Tapi kalau bisa kurangi lah, entar kalo diabet gimana?"
Naya melirik horor pada Gino. Ia juga tahu efek keseringan makan yang manis-manis juga tidak baik untuk kesehatannya. Tapi apa boleh buat, sementara ini yang bisa diterima dengan baik masuk ke perut Naya adalah yang manis-manis.
Melihat tatapan Naya yang seperti itu Gino memilih diam saja. Takut salah omong yang nantinya akan bikin Naya cemberut lagi. Walau merasa cemas, tapi ambil sisi positifnya saja. Anggap saja itu cuma hawa ngidam yang nantinya akan berhenti sendiri.
"Mas nggak mau es coklat?" tawar Naya karena saat ini wanita itu sudah masuk porsi gelas ke dua.
"Nggak, malam-malam minum es dingin, Dek, kecuali kalau kamu mau tanggungjawab menghangatkan setelah ini," jawab Gino dengan matanya sengaja mengerling.
"Hem... Laki mah itu mulu ujung-ujungnya," balas Naya dengan cuek.
Gino terkekeh sendiri mendengar sahutan Naya.
"Dek, ibu sudah tahu belum kalau kamu hamil?" tanya Gino.
Naya mengangguk mengiyakan. Dan Gino tersenyum lebar melihatnya. Meski dengan begini rupanya dirinya bukan orang pertama yang tahu kabar ini, tetapi Gino sama sekali tidak masalah.
"Kapan mau periksa? Mm... Besok malam ya, Dek, kita ke dokter spesialis," usul Gino, karena kalau siang pria itu tidak bisa menemani Naya periksa ke dokter lantaran sibuk bekerja, kecuali weekend. Tetapi kalau menunggu weekend rasanya terlalu lama untuk Gino tahu bagaimana kondisi janin mereka saat ini.
"Jangan dulu lah, Mas, kata orang pamali!" tolak Naya yang sejujurnya ia sendiri tidak begitu percaya dengan istilah pamali itu, sebenarnya Naya malas pergi periksa. Ah, dasar Naya!
"Ooh... Gitu ya?" Gino pasrah saja dengan ucapan Naya.
"Alhamdulillah... Kenyang juga," ucap Naya setelah habis dua gelas es coklat.
"Nggak mau makan nasi apa? Masa cuma minum es doang, Dek?" tawar Gino ingin melihat istrinya benar-benar fit setelah tenaganya terkuras karena muntah-muntah tadi.
"Sudah nggak muat. Perutku sudah kembung sama air," kata Naya sambil mengusap perutnya yang memang benar-benar kenyang karena air.
Wajah Gino terus saja berbinar. Ia sudah tidak sabar ingin membagi berita bahagia ini kepada kedua orang tuanya juga.
__ADS_1
"Mas," sapa Naya dengan serius.
"Hum,"
"Apakah ibu akan senang mendengar ini, Mas?" tanya Naya dengan wajah tertunduk karena tangannya sedang mengusap perutnya.
"Pasti, Dek. Ibu pasti bahagia mendengar aku akan punya anak," jawab Gino yang Naya rasa itu hanya bahasa penyemangat dari Gino saja. Karena Naya masih tidak yakin Nani akan bahagia apa tidak setelah tahu ini.
"Kalau aku minta kamu jangan beri tahu ibu dulu apa kamu bersedia?"
Gino langsung mengerutkan keningnya heran.
"Kenapa, Dek? Kenapa kamu melarangku memberitahu ini kepada ibu?" tanya Gino ingin tahu alasan pastinya.
"Aku tidak mau anakku dibenci oleh ibu karena ibu tidak menyukaiku."
Deg.
Jantung Gino serasa ditusuk belati setelah mendengar pengakuan Naya. Lidah pria itu seketika tercekat, tak lagi bisa berkata apa-apa setelah mendengar ucapan Naya yang mengiris hati. Bahkan perkataan untuk membela ibunya saja Gino sudah tidak bisa berkata lagi.
"Setidaknya aku ingin masa-masa kehamilan ku ini tidak terbebani karena ibu," ucap Naya lagi, menambah pilu di hati Gino yang mendengarnya.
Tetiba Gino merengkuh tubuh Naya dalam pelukannya. Ia bisa merasakan juga bagaimana perasaan was-was istrinya. Entahlah, tiba-tiba perasaannya ikut cemas juga jika teringat dengan ibunya. Seandainya sudah jelas Nani akan bahagia mendengar ini, itu tidak masalah bagi mereka. Akan tetapi jika nanti hanya akan menambah beban pikiran untuk Naya yang sedang mengandung, mungkin Gino akan memikir ulang untuk menyetujui permintaan Naya.
"Ayo tidur, Mas," ajak Naya karena suaminya hanya diam saja tanpa memberi jawaban atas permintaannya.
Gino mengangguk. Pria itu sudah bersiap akan mengangkat tubuh Naya dalam gendongannya, tetapi tertahan karena Naya protes.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas."
"Nggak pa-pa, Dek. Kalau malam kamu tidak boleh menolak pelayanan dariku. Karena kalau siang aku tidak bisa begini. Maaf ya, tidak bisa menemani kamu setiap saat," ucap Gino merasa bersalah karena tidak bisa maksimal menemani Naya yang sedang butuh perhatian ekstra jika sedang mengandung begini.
Naya tersenyum senang mendengarnya. Mungkin inilah balasan untuk Naya setelah sebelumnya pernah mendapatkan suami yang tidak peduli dengan dirinya disaat dirinya mengandung dulu.
Mengingat itu, benar kata pepatah.
Terkadang untuk bisa memperoleh suatu kebahagiaan, Tuhan menguji manusia dengan berbagai kesedihan yang menyakitkan. Karena Tuhan hendak melihat apakah kita pantas mendapatkan kebahagiaan yang sudah Tuhan siapkan untuk kita.
__ADS_1
*