
"Kamu jangan kaget gitulah, Yang! Sekarang buruan kamu telpon bang Wahyu, aku pingin ngomong langsung ke dia tentang ini," sungut Fifi melihat Irwan yang melongo mendengar saingan Wahyu ternyata berat juga.
"Iya, iya, sabar, Sayangku." Lalu Irwan mulai mendial nomor hape Wahyu, tetapi yang ada telpon Wahyu malah sedang tidak aktif.
"Nggak aktif, Yang."
Wajah Fifi nampak memberengut.
Irwan tak pantang menyerah terus mencoba menghubungi Wahyu didepan Fifi. Tetapi lagi-lagi hanya dapat balasan suara operator yang mengatakan tidak aktif.
"Duh, gini nih... Pas lagi dibutuhin malah ngilang! Entar kalau udah terlanjur kejadian tinggal nyesel doang, kapok!" umpat Fifi sangat kesal sekali dengan Wahyu yang tumben-tumbenan ponselnya tidak aktif.
"Sabar, Sayang. Nanti aku sampein langsung ke bang Wahyu deh. Kamu tenang aja ya?" Irwan merangkul pundak Fifi untuk menenangkannya.
Fifi menghembus nafas beratnya. Kemudian kembali menengguk minuman dinginnya hingga habis tak tersisa.
"Sayang, bang Wahyu itu sebenarnya kerja apa sih?" tanya Fifi tiba-tiba penasaran dengan pekerjaan tetap Wahyu. Karena seharusnya pria dewasa seperti Wahyu sudah memiliki pekerjaan tetap menurut Naya.
"Kerjanya nggak mesti, Yang. Dia ada kerjaan apapun dilakoni."
"Jadi intinya nggak ada pekerjaan tetap gitu?"
Irwan mengangguk mengiyakan.
Fifi menghela nafasnya lagi.
"Mungkin karena itu mbak Naya masih ragu sama bang Wahyu ya, Yang?" Fifi berkata sesuai instingnya saja.
Irwan ikut berpikir. Wanita dewasa seperti Naya, apalagi sudah pernah memiliki pengalaman berumah tangga tentu mengharapkan lelaki mapan untuk menjadi pasangan hidupnya. Bukan lagi memikirkan wajah rupawan seperti kebanyakan anak muda.
"Aku sebenarnya kasihan juga sama bang Wahyu, Yang," ucap Irwan kemudian.
"Kasihan kenapa, Yang? Emang apa yang sebenarnya terjadi sama bang Wahyu?" Fifi mulai kepo.
"Ya nggak kenapa-napa sih. Kasihan aja karena nasib cintanya nggak pernah mulus setahuku."
__ADS_1
Lalu Irwan mulai menceritakan tentang perjalanan cinta Wahyu, yang mana selalu gagal tak pernah mulus sesuai harapan. Kadang ditolak mentah-mentah, terkadang terhalang restu orang tua. Ternyata memiliki wajah tampan yang kata kebanyakan orang mirip artis penyanyi Afgan, tak sesuai dengan realita cintanya. Mungkin benar kata Fifi, alasan tidak memiliki pekerjaan tetap itu yang membuat wanita yang didekati Wahyu selalu ada saja penghalangnya.
"Sayang, antar aku pulang yuk," ajak Fifi setelah mendapati jam menunjukkan pukul tiga sore.
Irwan mengangguk setuju. Lalu duo sejoli itu pergi dari taman kota, kemudian naik motornya dan melaju pergi menuju rumah Fifi.
"Sudah, sudah, aku turun di sini saja, Yang," kata Fifi setelah sampai di gang masuk menuju rumah.
Irwan menepikan motornya di bahu jalan. Lalu Fifi turun dari motornya dan buru-buru pergi meninggalkan Irwan tanpa banyak bicara lagi. Irwan hanya bisa menghela nafas panjangnya melihat situasi seperti ini selalu terjadi. Beginikah rasanya backstreet sama bapak Abdul? Sungguh tidak mengenakkan!
Ternyata di saat Fifi berboncengan dengan Irwan itu, Abdul tak sengaja melihatnya dari kejauhan. Dari ini, Abdul semakin dibuat geram dengan tingkah Fifi. Ketiga anak kandung Abdul tidak pernah bertingkah seperti Fifi setahunya. Naya saat masih gadis dulu sangat penurut ucapan orang tua. Riki pun juga. Farhan meskipun masih SD tapi selalu patuh dengan segala ucapannya.
Akhirnya Abdul ikut pulang ke rumah, tetapi sesampainya di sana Abdul tidak banyak bicara. Pura-pura tidak tahu dengan kejadian yang dilihatnya. Mungkin Abdul akan menambah hukuman menyita handphone Fifi saja. Sampai Fifi datang memohon nanti kepadanya.
Malam hari usai sholat isya dan makan malam, seperti biasa semua orang rumah berkumpul jadi satu sambil menonton TV di ruang keluarga. Kecuali Fifi yang oleh Abdul disuruh masuk kamar untuk belajar yang rajin. Fifi langsung menurut tanpa protes, setelah mendapati sorot mata dingin Abdul kepadanya.
"Pak, jangan begitu lah. Nanti Fifi mikirnya kamu benci sama dia," ucap Rahma melihat Fifi yang berwajah tidak baik saat masuk ke kamarnya tadi.
"Biar saja, Buk. Biar dia rajin belajar, nggak main pacaran terus. Kewajiban dia itu sekolah dan belajar bukan malah pacaran. Aku tadi lihat sendiri dia diantar pacarnya turun di gang depan. Mungkin takut aku depak kalo nganter sampai rumah," kesal Abdul.
"Lala sudah tidur, Nay?" tanya Abdul memastikan.
"Sudah, Pak," sahut Naya dengan kalem.
"Bagaimana, apa kamu sudah ada jawabannya, Nay, tentang lamaran itu?" tanya Abdul terkesan sudah tidak sabar ingin tahu jawaban Naya.
"Biar Naya pikir-pikir dulu, Pak. Ini masih dua hari," kata Rahma ikut bicara.
"Nggak enak sama ustadz Arif, Buk. Besok aku harus memberi jawabannya. Kalau iya katakan iya, kalau tidak bilang tidak. Jangan lama-lama menggantung harapan orang," kata Abdul.
"Mm... Bapak sama ibu apa kalian tidak tahu kalau sebenarnya pekerjaan mas Gino itu pegawai Bank?" tanya Naya kemudian.
Abdul dan Rahma mengangguk bersama.
"Jadi kalian sudah tahu?"
__ADS_1
"Kenapa, Nay? Kamu tidak suka dilamar sama orang kantoran?" tanya Rahma sekedar tes.
Naya hanya diam. Pantas saja Abdul dan Rahma tadi pagi waktu Naya tak sengaja mendengar obrolannya mengharapkan ia menerima lamaran Gino.
"Jadi apa jawaban kamu, Nay?" tanya Abdul sekali lagi.
Naya menghela nafasnya sebelum berucap.
"Aku mau, Pak, Buk. Tapi aku punya satu syarat," ucap Naya tanpa ragu lagi. Baginya ia hanya tidak ingin mengecewakan harapan Abdul dan Rahma.
Wajah Abdul dan Rahma langsung berbinar mendengar pernyataan Naya yang setuju dengan lamaran Gino.
"Aku tidak mau buru-buru menikah. Aku ingin kenal mas Gino dulu seperti apa," kata Naya mengatakan yang menjadi syaratnya.
"Baiklah. Tentang itu bapak juga setuju. Bapak akan sampaikan sama ustadz Arif permintaan kamu itu," ucap Abdul langsung setuju syarat yang diminta Naya.
"Terimakasih, Nak. Ibu lega sekali akhirnya kamu mau membuka hati kamu lagi. Ibu akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk kamu dan juga Lala," kata Rahma sambil merangkul pundak Naya penuh kasih.
"Tapi-- Apakah kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu ini, Nay?" tanya Abdul ingin memastikan lagi.
Naya mengangguk meyakinkan. Dalam hati selalu mengucap bismillah, semoga Tuhan meridhoi keputusannya.
Memang hati dan perasaan Naya masih biasa saja kepada Gino. Akan tetapi apa salahnya mencoba menerimanya? Syarat yang diminta Naya juga tidak memberatkan Gino. Karena dari itu mereka bisa saling mengenal dulu sebelum kemudian lanjut ke tahap pernikahan.
***
Keesokan harinya Abdul pergi ke rumah Arif. Di sana Abdul menyampaikan jawaban yang memang sudah ditunggu-tunggu oleh Arif, terlebih oleh Gino. Abdul juga menyampaikan syarat yang diinginkan Naya. Dan Arif tidak mempermasalahkan syarat itu.
"Alhamdulillah... Saya ikut senang dengar kabar baik ini, Pak. Nanti kalau Gino sudah jam istirahat saya akan telpon dia. Saya yakin Gino pasti sangat senang dengar berita ini," kata Arif dengan wajah full senyum.
"Iya, Ustadz. Saya juga tidak menyangka kalau Naya mau menerimanya. Sambung do'a, Ustadz, semoga mereka bisa jadi jodoh yang terbaik, jodoh dunia akhirat."
"Aamiin...." Arif langsung mengamini ucapan Abdul.
*
__ADS_1