Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 92


__ADS_3

Sepulang bertemu dengan Yuli, Naya tidak langsung pulang ke rumah. Ia dan Lala masih mampir main ke rumah Rahma, tentunya setelah mendapat ijin dulu dari Gino.


Hari sudah sangat terik saat Naya tiba di rumah orang tuanya. Lala yang sudah terbiasa tidur siang tentunya mulai mengantuk dan Naya segera menemaninya tidur. Begitu Lala sudah tertidur lelap, Naya keluar dari kamarnya karena merasa perutnya tidak enak.


"Kenapa, Nay?" tanya Rahma karena melihat Naya yang nengusap-usap perutnya.


"Perutku nggak enak, Buk," sahut Naya, yang kemudian mereka berdua duduk di ruang tengah.


"Nggak enak gimana?"


"Ya nggak enak," jawab Naya ambigu.


"Pergi periksa sana," titah Rahma yang sudah bisa ditebak kalau Naya pasti menolak.


Dan benar saja, Naya menggeleng kepala pertanda menolak usulan Rahma.


"Ada minyak angin nggak, Buk?"


Sambil mendengus kesal karena Naya selalu mengentengkan kesehatannya, akhirnya Rahma beranjak untuk mengambilkan Naya minyak angin.


Setelah Rahma datang Naya langsung memolesi perutnya dengan minyak angin itu. Ia pikir setelah diolesi minyak angin perutnya akan membaik, yang nyatanya tetap tak ada perubahan.


"Mau minum obat maag tidak?" tawar Rahma yang ia pikir anaknya itu ada masalah dengan lambungnya.


Naya menggeleng. Wanita itu terus saja mengusapi perutnya, berharap bisa segera membaik. Rahma yang masih berada bersama Naya hanya bisa memandang cemas, takut terjadi apa-apa dengan kesehatan Naya.


Lalu kemudian Naya beranjak dari tempatnya duduk dan lalu masuk ke kamarnya lagi. Sesampainya di kamar, Naya mengambil ponselnya kemudian memberitahu kepada Gino jika ia kemungkinan pulang telat ke rumah karena masih ingin pijat. Setelah mendapat balasan ijin dari Gino, kemudian Naya keluar lagi dari kamarnya.


"Ibu, aku titip Lala ya, aku mau ke rumah mbah Sumi," pamit Naya kepada Rahma.


"Iya, hati-hati," jawab Rahma langsung mengijinkan Naya untuk pergi ke rumah tukang pijat langganan keluarga mereka, yang rumahnya masih satu kampung dengan Naya.


Maka kemudian Naya berangkat ke rumah mbah Sumi sambil menaiki motornya. Motor milik Naya kali ini bukan motor butut lagi yang dulu pernah ia pinjam dari jasa pegadaian. Motor miliknya itu adalah pemberian dari Gino. Walau tidak baru, tapi tampilannya masih sebelas dua belas dengan motor baru.


Tak lama kemudian Naya sudah tiba di rumah mbah Sumi. Kedatangannya langsung disambut ramah oleh wanita berusia tujuh puluh tahunan itu.


"Sehat, Mbah?" sapa Naya kepada mbah Sumi.


"Alhamdulillah sehat, Nduk. Kamu gimana? Kelihatannya tambah subur setelah menikah lagi," ucap mbah Sumi.


"Tambah subur dari mana, Mbah? Tubuhku tetap aja nggak tambah gemuk."


Mbah Sumi hanya senyum-senyum sambil matanya memandang ke arah dada Naya. Naya yang merasa ditatap seperti itu ikut-ikutan memandang dadanya sendiri.

__ADS_1


"Kenapa, Mbah?"


"Apa kamu sekarang hamil, Nduk?" tanya mbah Sumi.


Naya tercengang mendengarnya. Setelah itu Naya hanya terkekeh salah tingkah di depan mbah Sumi.


"Nggak, Mbah. Emang kalau orang hamil ininya gede ya, Mbah?" ucap Naya sambil memegangi dadanya.


"Iya, ada yg seperti itu," jawab mbah Sumi.


Entahlah, dulu saat Naya hamil Lala, ia tidak begitu memperhatikan perubahan pada bentuk tubuhnya. Tahu-tahu sudah positif hamil karena sudah telat haid semingguan.


Tunggu! Naya baru sadar jika bulan ini seharusnya ia sudah haid. Setelah mengingat tanggal hari ini, itu artinya Naya sudah telat haid seminggu. Apalagi jika dikaitkan dengan dirinya yang suka eneg dengan bau ikan belakangan ini, jangan-jangan itu pertanda hamil.


"Mbah, aku mau pijat perut," ucap Naya kemudian.


"Perutnya kenapa?"


Mbah Sumi yang juga di kenal sebagai dukun beranak di kampung itu tentu sedikit tahu dengan persoalan perut.


"Perutku nggak enak, Mbah. Di bawah sini kayak ada yang keras gitu, Mbah," jelas Naya sambil menekan pelan perut bagian bawahnya.


"Ooh..." Mbah Sumi ber-oh saja.


Kemudian Naya segera berbaring di kasur tempat mbah Sumi biasa memijit pelanggannya di sana.


Naya tercengang mendengarnya. Kaget.


"Lebih baik kamu periksa ke dokter biar makin jelas, Nduk," ucap mbah Sumi lagi, tetapi Naya masih termenung dengan pikirannya sendiri.


Hamil? Apa iya?


Naya tak langsung percaya apa yang dikatakan oleh dukun beranak itu. Entahlah, ia harus senang apa sedih mendengar ini. Perasaannya langsung dilema. Bayangan ibu mertuanya seketika melintas di benaknya.


"Nduk, nduk Naya!" Mbah Sumi sampai mengguncang lengan Naya karena ketahuan Naya sedang melamun.


"Mbah nggak berani mijit perut kamu karena sudah ada janinnya. Maaf ya, Nduk," ucap mbah Sumi.


Naya akhirnya mengangguk pasrah. Percuma saja meski mau dipijit, karena ternyata semua rasa tak enak di perutnya itu karena sudah isi janin.


Kemudian Naya pamit dari rumah mbah Sumi. Akan tetapi di perjalanan Naya masih pergi ke apotik untuk membeli testpack. Yap, Naya ingin menguji benar tidaknya tebakan mbah Sumi itu.


Setelah selesai membeli testpack nya, Naya langsung kembali ke rumah Rahma.

__ADS_1


"Tumben lama, Nay, antri ya?" sapa Rahma karena memang Naya agak lama keluarnya.


Naya mengangguk berbohong. Kemudian wanita itu segera masuk ke kamar mandi untuk segera mencoba testpack yang baru saja dibelinya. Sebenarnya testpack itu lebih efektif jika digunakan pada pagi hari atau setelah bangun tidur, tetapi kali ini testpack itu dicoba menjelang sore oleh Naya.


Tak menunggu lama, setelah testpack itu dicelupkan ke urin Naya, rupanya dua garis merah itu muncul dengan jelas. Karena tak percaya, Naya mencobanya lagi dengan testpack yang baru. Yang ternyata hasilnya tetap sama, Naya positif hamil.


"Ini--"


Tangan Naya sampai gemetar melihat testpack di tangannya. Masih tidak percaya, walau bukti itu sudah nyata di depan mata.


"Nay, Naya!"


Terdengar suara Rahma memanggil Naya dari balik pintu kamar mandi. Wanita itu curiga dengan apa yang dilakukan Naya dalam kamar mandi karena tidak ada bunyi apa-apa sedari tadi.


"Kamu ngapain di dalam? Jangan bilang kamu diem-diem nangis lagi," ucap Rahma asal ngomong.


Naya kaget mendengar ucapan Rahma. Daripada ibunya mengira dirinya ada masalah dengan rumah tangganya yang akhirnya akan membuat Rahma kepikiran, kemudian Naya membuka pintu kamar mandinya.


"Kirain lagi nangis," ucap Rahma begitu saja setelah melihat Naya keluar dari kamar mandi.


Akan tetapi Rahma masih bisa melihat jika ada sesuatu yang mungkin sedang dipikirkan Naya saat ini. Terlihat dari sorot mata Naya yang berbeda.


"Naya," panggil Rahma.


Naya membalik badan untuk menoleh kepada Rahma.


"Kamu kenapa? Apa ada masalah sama suami kamu? Tolong jujur sama ibu," tanya Rahma.


Wanita itu sampai sekarang terus kepikiran dengan Naya dan Gino yang masih abu-abu dengan restu Nani.


"Tidak, Buk. Aku sama mas Gino baik-baik saja," sahut Naya sedikit lemas.


"Tidak tapi kok suara kamu lemas gitu. Ayo, jujur sama ibu, Nay."


Sungguh Rahma tidak akan berhenti bertanya sebelum Naya mengaku sekarang.


Naya menghela nafasnya dalam-dalam. Mungkin orang pertama yang akan tahu tentang kehamilannya adalah ibunya. Dan itu menurut Naya tidak salah meski ibunya yang akan tahu lebih dulu sebelum Gino. Maka Naya akan mengakuinya sekarang.


"Ibu, Aku--"


Perlahan Naya mengambil dua testpack yang sebelumnya disimpan dalam saku celananya. Kemudian menunjukkannya kepada Rahma.


Rahma mengambilnya. Wanita itu kemudian tersenyum senang melihatnya.

__ADS_1


"Alhamdulillah... Kamu hamil, Nay?"


*


__ADS_2