Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 25


__ADS_3

Keesokan harinya Nani lagi-lagi tidak ikut sarapan bersama. Terpaksa Gino berangkat kerja tanpa berpamitan dengan ibunya. Sebenarnya Gino akan berpamitan kepada Nani, tetapi langsung dicegah oleh Suryo dengan alasan supaya tidak memperkeruh keadaan. Karena semalam Suryo belum berhasil membujuk hati Nani perihal Naya.


"Yang sabar dulu, Gi. Ayah yakin besok-besok ibu kamu akan luluh juga. Karena ayah percaya wanita pilihanmu itu pasti yang terbaik menurut kamu," ucap Suryo yang saat itu turut mengantar Gino sampai ke teras depan.


Gino mengangguk menyemangati diri sendiri. Semoga saja Nani segera dibukakan pintu hatinya untuk bisa menerima Naya sebagai menantunya. Begitulah harapan Gino dalam do'anya setiap waktu.


"Ayah ingin melihat kamu segera menikah dan memiliki anak. Cuma itu satu-satunya keinginan ayah sebelum ayah nanti meninggal," sambung Suryo.


"Ayah jangan bicara seperti itu. Aku sudah punya calonnya. Tinggal tunggu waktu yang tepat dulu untuk menikah," kata Gino berasa sedih jika mengingat kedua orang tuanya yang sudah lebih separuh baya, tetapi ia masih belum bisa mewujudkan keinginannya itu.


"Apa yang masih mau ditunggu? Restu ibu kamu? Ayah rasa itu soal gampang. Kamu menikahlah lalu punya anak. InsyaAllah nanti ibumu luluh juga lihat anak kamu," ucap Suryo dengan yakin.


Gino tersenyum tipis menanggapi masukan ayahnya itu. Sayangnya bukan hanya perihal restu yang membuat Gino harus bersabar menikah. Karena permintaan Naya lah yang membuat mereka harus menunda pernikahan yang diinginkan Suryo.


"Ayah, mungkin aku nanti pulang telat. Aku mau ke rumah Naya," kata Gino kemudian.


Suryo hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala.


"Rencananya aku mau ajak Naya beli cincin," lanjut Gino.


"Iya, hati-hati bawa anak orang. Ayah nanti sampaikan sama ibumu kalau dia tanya kamu," balas Suryo.


Lalu setelah itu Gino meraih tangan Suryo untuk bersalaman. Dan kemudian pria itu masuk ke mobilnya untuk kemudian berangkat kerja.


Melihat Gino yang sudah pergi, lalu Suryo masuk ke rumahnya. Tetapi rupanya ada Nani yang sedang menyorotnya tajam sambil melipat kedua tangannya di dada.

__ADS_1


"Kamu racuni apa Gino? Kamu ajari dia melawan aku ibunya?"


Suryo hanya berdecak kecil. Ibarat sudah tersulut api, maka harus dilawan dengan air untuk memadamkannya. Begitupun untuk menghadapi sikap amarah Nani. Yang mana Suryo terkena imbas kemarahannya itu.


"Buat apa aku hasud Gino? Dia anakku! Jadi wajar kalau buah jatuh tidak jauh dari pohonnya," balas Suryo dengan santai.


Mau bagaimanapun Gino, nasibnya mirip dengan Suryo. Yang berjodoh dengan wanita janda beranak satu seperti Nani dulu. Sayangnya Nani tidak mau flashback dengan kisah itu.


"Awas saja aku sampai dengar kamu hasud Gino. Aku tidak terima! Sampai kapanpun aku tidak ikhlas Gino menikah dengan janda itu! Sampai kapanpun!"


"Astaghfirullah... Nani! Istighfar, Nani!" Emosi Suryo terpancing juga menghadapi Nani.


"Capek-capek aku do'a tiap malam, tiap waktu, supaya Gino bisa mendapatkan jodoh yang mapan, tidak janda seperti wanita itu. Aku--"


"Ini bukan takdir dari Tuhan. Sama sekali tidak! Ini takdir yang Gino buat sendiri!"


Suryo hanya bisa mengelus dadanya sendiri saat mendengar bicara Nani yang semakin meninggi.


"Bicara sama kamu itu sama aja!" sungut Nani bertambah kesal kepada Suryo.


"Ya memang sama. Aku sama Gino memang sama. Sama-sama jatuh cinta sama janda yang punya anak satu," tekan Suryo pada kalimat terakhirnya yang diucapkannya dengan santai. Bahkan Suryo menatap lekat pada Nani saat mengatakannya.


Nani terdiam seketika. Bukan seperti ini yang ingin ia dengar dari mulut suaminya. Jika dulu Suryo menikahi janda sepertinya, tidak seharusnya juga Gino akan bernasib sama seperti dirinya.


"Bedanya aku dulu saat memilihmu orang tuamu bangga memiliki menantu bujang seperti aku. Sayangnya nasib itu masih belum berpihak sama Gino. Tolong, Nani, aku minta satu hal sama kamu. Walaupun kamu masih sulit menerima Naya, setidaknya kamu tataplah anakmu Gino. Apa kamu tega menghancurkan kebahagiaan yang sekarang dia rasakan?"

__ADS_1


Setelah berucap itu Suryo memilih keluar dari rumahnya. Dalam situasi panas seperti ini mungkin menghindar sebentar itu lebih baik, daripada nanti akan semakin berkepanjangan jika tetap bertatap muka. Sedangkan Nani yang merasa tersentil dengan ucapan Suryo yang selalu menyamakan nasib Gino adalah karma dari orang tuanya tetap tidak membuat surut emosinya.


Wulan yang sedari tadi diam-diam menjadi penonton percekcokan mertuanya, perlahan mendekati Nani, setelah memastikan Suryo benar-benar pergi dari rumah.


Dengan tampang sok dibuat melas, Wulan memberanikan diri merangkul pundak Nani. Mengusap lembut lengan ibu mertuanya seakan ikut merasa iba pada apa yang terjadi.


"Ibu, yang sabar ya... Pelan-pelan aku akan bantu bicara sama Gino. Atau bila perlu aku akan bantu lewat cara lainnya agar Gino sadar dari pelet yang digunakan oleh wanita gatal itu," ucap Wulan.


Mendengar ucapan Wulan, Nani langsung menatap tajam kepadanya.


"Di mana kamu akan membantuku menyembuhkan Gino dari jampi-jampi wanita itu?" tanya Nani pada akhirnya tertarik juga dengan tawaran Wulan.


Wulan yang dengan sengaja memfitnah Naya menggunakan pelet untuk bisa mendapatkan Gino, padahal nyatanya saling kenal saja tidak. Telah berhasil meracuni pikiran Nani yang memang sudah kacau memikirkan Gino.


"Soal itu aku ada orang yang bisa bantu, Bu. Ibu tenang saja, serahkan semuanya sama aku," ucap Wulan dengan senyum devilnya.


Setelah itu Nani melepas rangkulan tangan Wulan dari bahunya. Wanita itu berlalu begitu saja dari hadapan Wulan tanpa berbicara apa-apa lagi kepada Wulan. Membuat Wulan yang melihat reaksi Nani yang kentara tidak begitu menyukainya semakin panas hati. Sepertinya ia memang harus pergi ke dukun untuk memelet Gino. Alih-alih ingin menyembuhkan Gino dari jampi-jampi, malah sebenarnya Wulan sendiri yang berniat menjampi Gino agar nanti berbalik mencintainya.


"Heh, lihat saja Gino! Aku akan membuatmu tergila-gila kepadaku! Dan akan ku buat ibumu menangis-nangis memohon kepadaku!" batin Wulan bermonolog penuh kelicikan.


Tetapi untuk mendapatkan itu semua Wulan harus membereskan Agus dulu. Bagaimanapun caranya Wulan harus bisa segera bercerai dengan Agus. Mungkin sekalian saja Wulan meminta bantuan orang pintar itu supaya Agus mau melepaskannya tanpa rasa beban sama sekali.


Ah, begitu licik hati seorang Wulan.


*

__ADS_1


__ADS_2