Terpikat Cinta Janda

Terpikat Cinta Janda
Eps 123


__ADS_3

Hingga sampai Suryo pamit pulang, rupanya Gino tidak menanyakan kenapa Nani tidak ikut serta. Biarlah saja Gino tidak tahu alasannya apa. Yang terpenting sekarang hati Gino sudah bahagia karena masih ada ayahnya yang selalu menjadi pendukung utamanya.


Sedangkan Abdul dan Rahma yang sedari tadi berbincang-bincang dengan Suryo, juga sama sekali tidak bertanya kenapa besan perempuannya tidak ikut. Hal ini tentunya membuat Suryo tidak perlu berbohong dengan memasang alasan yang sudah ia karang sebelumnya, jika nantinya mereka menanyakan Nani.


Semua keluarga Naya sudah seperti kompak untuk tidak lagi bertanya tentang Nani. Bahkan kali ini pernyataan Rahma sangat membuat Abdul kaget saat mendengarnya.


"Aku tidak rela kalau nanti Nana dibawa ke rumah mereka! Aku akan melarang Naya membawanya. Biar saja dia tidak tahu seperti apa rupa cucunya. Kalau memang mbah kungnya kangen Nana, dia bisa datang ke sini menemui Nana. Aku tidak sudi cucuku dibawa ke sana. Padahal neneknya di sana tidak mau tahu dengan Nana!" ucap Rahma, meluapkan emosinya yang sudah lama ia pendam sendiri selama ini.


Saat ini mereka berdua sedang berada dalam kamarnya. Tentunya obrolan itu tidak dapat didengar oleh siapa-siapa.


Abdul yang mendengar ungkapan Rahma sebenarnya juga merasakan yang sama. Tetapi ia tidak bisa berbuat banyak. Selain mendoakan yang terbaik untuk nasib Naya ke depannya.


"Sabar, Buk. Kita pasrahkan semuanya pada Allah," ucap Abdul mencoba menenangkan hati Rahma agar tidak bertambah emosi.


"Pasrah! Pasrah! Aku sudah cukup sabar, Pak! Selama ini kita seperti diinjak-injak oleh mereka. Kita dianggap seperti tidak punya harga diri karena kita hanya diam saja dengan sikap dia. Apa karena anak kita janda, dia menganggap anak kita tidak ada nilainya? Apa karena kondisi kita dibawah mereka, sehingga kita harus diam saja dibeginikan? Sudah saatnya kita harus tegas, Pak! Pokoknya aku tidak akan membiarkan Naya atau pun Gino membawa Nana ke sana. Tidak akan!"


"Pelankan suaramu, Buk, nanti ada yang dengar akan tambah masalah," ucap Abdul sambil mengusap punggung Rahma untuk bisa lebih tenang.


"Biar saja Naya atau Gino dengar. Aku memang ingin mengatakan ini sama mereka. Kalau suatu saat nanti mereka ingin pergi ke rumah ibunya Gino, silahkan! Aku tidak akan melarangnya. Asal jangan pernah membawa Nana ke sana. Aku tidak ikhlas!"


Sungguh emosi Rahma saat ini sudah tidak bisa ditahan lagi. Sehingga Abdul hanya bisa beristighfar sembari terus mengusap pada punggung Rahma.


"Istighfar, Buk. Istighfar!" seru Abdul dengan sabar.


Lalu Rahma akhirnya menghentak nafas beratnya dengan kasar. Setelah itu, wanita itu memilih berbaring di kasurnya, tanpa mau bicara apa-apa lagi. Meski sudah berhasil diam, tetapi sejujurnya hati Rahma masih disulut api emosi.


Sedangkan Gino dan Naya yang saat itu berada dalam kamarnya, sebenarnya mereka mendengar jika orang tua mereka sedang ribut. Cuma mereka tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang sedang diributkan. Naya memilih seperti tak mendengar apa-apa sambil menyusui baby Nana yang saat itu akan tidur. Sedangkan Gino terus berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Beruntungnya saat itu Lala sudah tidur, karena jika tidak tentunya bocah itu akan langsung bertanya penasaran.


Setelah baby Nana benar-benar tidur, Naya beranjak akan turun dari kasurnya.


"Mau ke mana, Dek?" tanya Gino penasaran. Takutnya Naya malah kepo dengan perdebatan orang tuanya barusan.


"Mau pipis," sahut Naya yang kemudian berjalan keluar dari kamarnya.


Diam-diam Gino mengikuti Naya. Meski ternyata istrinya tidak berbohong dan benar-benar pergi ke kamar mandi, Gino memilih menunggu Naya dari depan kamar mandi itu.


"Sudah?" tanya Gino saat Naya sudah keluar dari kamar mandi.


Naya mengangguk. Wanita itu pikir Gino akan ganti masuk ke kamar mandi itu, tak tahunya malah mengikuti Naya kembali ke kamar.


"Loh, kamu nggak jadi ke kamar mandi, Mas?" tanya Naya heran.


"Nggak, aku memang nggak mau ke kamar mandi," jawab Gino.


"Jadi?" Naya menatap semakin heran kepada Gino.


"Aku ngikutin kamu," sahut Gino jujur.


"Buat apa?" Naya sedikit terkekeh.


"Ya nggak pa-pa."


"Lagi nggak ada kerjaan, Pak?" kata Naya menggoda Gino sambil menaikkan kakinya untuk kembali berbaring di kasur.

__ADS_1


"Iya. Aku emang lagi gabut. Mau itu-itu masih lampu merah," sahut Gino sengaja berbicara agak mesum karena memang ingin mengalihkan suasana yang sempat tegang barusan.


Naya langsung terkekeh mendengarnya.


"Sabar, Mas ku," kata Naya yang masih tak henti tertawa.


"Iya, aku cukup sabar kok," sahut Gino yang kemudian langsung memijiti kaki Naya meski tanpa diminta ataupun disuruh.


"Dek, kapan kita mau tinggal di rumah kita lagi?" tanya Gino tiba-tiba.


Bukannya tidak betah tinggal serumah bersama mertua, tetapi yang namanya tinggal di rumah sendiri, walau sekecil apapun rumahnya, tetap akan terasa nyaman.


"Tunggu kalau aku sudah selesai nifas ya, Mas," jawab Naya yang sebenarnya juga sudah ingin kembali tinggal di rumahnya sendiri.


Gino berpikir sejenak. Saat ini bayinya sudah berusia hampir sebulan. Berarti sudah kurang lebih dua atau tiga minggu lagi mereka akan pindah ke rumah mereka.


"Baiklah," ucap Gino setuju dengan permintaan Naya.


***


Waktu berjalan dengan cepat. Tak terasa saat ini tibalah saatnya acara aqiqah baby Nana. Acara itu bertepatan dengan selesainya masa nifas Naya juga. Kemungkinan besok mereka akan kembali pindah ke rumah mereka sendiri. Sebenarnya Rahma merasa berat hati membiarkan mereka kembali tinggal di rumah itu. Perasaan takut Naya nanti diam-diam membawa baby Nana ke rumah Nani terus saja mengusik pikiran Rahma.


"Nak Gino, antar ini ke rumah ayahmu!" ucap Rahma kepada Gino sambil menyerahkan beberapa bungkus makanan tasyakuran aqiqah.


Belakangan ini sikap Rahma agak ketus dengan Gino. Entahlah, setiap melihat wajah Gino, Rahma selalu seperti melihat wajah Nani. Padahal selama ini Gino selalu menjadi menantu yang baik untuknya.


"Iya, Buk," sahut Gino dengan patuh.


"Kamu tidak perlu ikut, Nay. Biar suami kamu sendiri yang ke sana. Kamu tetap di sini bantu-bantu ibu," ucap Rahma memperingatkan Naya untuk tidak ikut suaminya pergi.


Rahma sudah pernah bilang kepada Naya tentang larangannya membawa Nana ke rumah mertuanya. Meski saat itu Naya tidak merespon apa-apa, tetapi melihat sorot mata ibunya yang sudah nanar membuat Naya hanya bisa mengangguk patuh ucapannya.


Lalu Gino pamit pergi kepada Naya. Pria itu lebih memilih naik motor meski bawaannya agak banyak. Semoga saja di perjalanan Gino tidak kebut-kebutan. Karena biasanya pria itu akan melajukan kecepatan motornya dengan cepat ketika sedang dilanda pikiran yang kacau.


"Ibu ijinkan kamu tinggal di rumah kamu lagi asal kamu mau berjanji sama ibu untuk tidak akan membawa Nana ke rumah neneknya," ucap Rahma saat di dapur itu hanya ada mereka berdua.


Naya bergeming saja mendengar permintaan Rahma. Sejujurnya Naya berpikir sendiri setelah mendengar permintaan Rahma yang sudah dikatakan hampir berulang-ulang kepadanya. Jika ia memilih menuruti permintaan Rahma, bagaimana nasib dirinya ke depannya? Bagaimana jika akhirnya Gino marah karena dirinya yang menuruti kemauan Rahma? Jalan terburuknya, bagaimana jika sampai mereka berpisah lantaran sama-sama tak ada yang mau mengalah?


Tidak! Naya tidak mau jadi janda lagi! Naya tidak mau menjadi janda ke dua kalinya. Tidak!


"Kamu dengar ucapan ibu, Nay?" tanya Rahma mengejutkan lamunan Naya.


"Iya, aku dengar, Buk," sahut Naya. Meski sebenarnya hatinya masih enggan dengan permintaan Rahma itu.


***


Gino sudah sampai di rumah orang tuanya. Kebetulan saat itu ada Suryo yang sedang menyapu di halaman rumahnya. Melihat itu, Gino mengambil kesempatan untuk tidak masuk ke rumahnya. Dan hanya akan menyerahkan pemberian mertuanya itu melalui Suryo.


"Ada acara apa ini, Gi?" tanya Suryo setelah mencium ada aroma kuah gulai kambing dari yang dibawa Gino.


"Acara aqiqah nya Nana, Yah," jawab Gino.


"Kapan?"

__ADS_1


"Baru saja."


"Kenapa kamu tidak bilang?"


Kedua kalinya Gino tidak mengabari kabar penting dengan acara yang digelar di rumahnya. Pertama saat tasyakuran empat bulan kehamilan Naya. Kedua kalinya ialah sekarang ini.


"Acaranya sederhana saja kok, Yah," balas Gino terpaksa berbohong. Padahal sebenarnya yang datang untuk ikut mendoakan aqiqah Nana barusan hampir berjumlah seratus orang.


"Aku langsung pulang, Yah," ucap Gino yang kemudian langsung meraih tangan Suryo untuk kemudian bersalaman.


"Loh, tidak masuk dulu, Gi?" heran Suryo.


Gino hanya menggelengkan kepalanya.


"Kamu tidak akan menemui ibumu?" tanya Suryo.


Gino pura-pura tidak mendengar. Pria itu memasang helm nya lagi kemudian menstater motornya.


"Assalamu'alaikum," salam Gino yang kemudian melajukan motornya keluar dari rumah itu.


"Wa'alaikum salam." Suryo menjawab salam Gino dengan suaranya yang sudah gemetar.


Pria tua itu menyadari betul perubahan sikap Gino. Tetapi semua yang terjadi ini memang kesalahannya yang tidak bisa bersikap tegas kepada Nani. Jika sudah begini, ia sudah tidak berani berharap banyak untuk Gino akan rutin datang ke rumah ini seperti sebelumnya.


Di perjalanan, diam-diam Gino menangis. Sejujurnya, hatinya sangat merindui sang ibu. Sangat sangat rindu. Tetapi rasa kecewanya lah yang masih menghalangi langkah kakinya untuk menemui ibunya tadi.


Suryo masuk ke rumahnya, setelah sebelumnya sudah menenangkan hatinya terlebih dahulu setelah sempat sedih karena sikap Gino barusan. Nani yang melihat suaminya membawa sesuatu di tangannya langsung bertanya penasaran.


"Dari mana gulai kambing ini? Siapa yang memberinya?" tanya Nani kepada Suryo.


"Dari Gino," sahut Suryo dengan lesu.


Spontan Nani langsung berlari ke teras depan, berharap ada Gino di luar sana. Tetapi setelah melihat tidak ada siapa-siapa di sana, Nani kembali masuk ke dalam untuk bertanya lagi kepada Suryo ke mana Gino.


"Di mana? Di mana Gino?" tanya Nani dengan sedikit tak sabar.


"Sudah pulang."


"Pulang?"


Suryo bergeming saja.


"Gino datang ke sini tapi sengaja tidak masuk ke rumah, begitu?"


Suryo tetap bergeming.


Deru nafas Nani seperti mendidih. Ia tak habis pikir kalau Gino akan seperti ini. Anak yang begitu disayanginya ternyata sekarang sudah berubah sikap. Tak lagi mau tahu bagaimana kabar orang tuanya. Padahal Nani sangat berharap Gino datang ke sini sambil membawa anaknya. Begitulah mimpi Nani selama ini, yang tak berani ia ceritakan kepada siapapun, walau kepada suaminya sendiri.


"Kalau kamu ingin bertemu Gino, datangi rumahnya. Aku sudah tidak yakin Gino akan rutin datang ke sini lagi," ucap Suryo syarat pesan dan perintah telak untuk Nani.


Mendengar itu, Nani hanya diam. Sedangkan Suryo memilih kembali keluar rumah, untuk melanjutkan kegiatannya yang sempat terjeda tadi. Walau sebenarnya perasaan Suryo sedang memendam marah, tetapi dengan dibawa beraktifitas menyapu halaman rumah, tentunya akan sedikit mengalihkan rasa amarah yang ia rasakan sekarang.


*

__ADS_1


__ADS_2